PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
MASA LALU DAN MASA DEPAN


__ADS_3

''ibu akan pulang lebih dulu nak, ibu harus istrahat rasanya ibu lelah'' kata ibu mertuaku sebelum masuk kedalam mobilnya


''baiklah bu, sebentar lagi kami akan pulang juga'' jawab tuan hans


Hampir bersamaan kami semua meninggalkan halaman gereja, tapi anehnya sepertinya kami tak langsung pulang meski aku belum tahu arah rumah tuan hans tapi karena mobil yang kami gunakan berbeda arah dengan mobil rombongan keluarga tuan hans jadi aku berpikir kalau kami tak langsung pulang.


''kita tak akan langsung pulang, aku akan mengajakmu ke suatu tempat'' kata tuan hans padaku saat aku kebingungan


Aku hanya mengangguk mengiayakan saja karena aku masi malu untuk menatapnya atau menjawab ucapannya meski sekarang status kami sudah menikah. Kami tiba di sebuah tempat pemakaman, aku sendiri bingung kenapa kami harus kemari, tanpa kusadari tuan hans ternyata sudah ada di luar mobil dan sudah membukakan pintu mobil untukku.


''ayo turun sayang, ada yang ingin aku perkenalkan padamu'' katanya sembari mendekat kearahku


''iya tuan, maksudnya iya sweety'' jawabku seraya membuka sabuk pengaman dan ikut turun


dia mengulurkan tangannya dan segera kuraih hingga kedua telapak tangan kami saling menyatu, kurasakan ada yang aneh dalam debaran jantungku tapi aku tak tahu karena ap? Kami tiba di depan sebuah makam yang membuatku sangat terkejut, di atas makam itu ada sebuah foto yang wajahnya sangat mirip denganku. Apakah ini nona lutfiah orang yang sangat dia cintai? Apa dia membawaku agar aku tahu bahwa dia sangat mencintai kekasihnya meskipun dia sudah pergi jauh, berbagai prasangka-prasangka itu muncul dalam pikiranku.


''hallo fiah, aku datang lagi, aku datang kini tak sendiri, seperti janjiku saat itu aku akan datang jika sudah memiliki penggantimu, lihatlah aku sedang bersama seorang wanita yang aku cintai, maaf bukan maksudku melukai hatimu, semoga kamu tenang di alam sana'' katanya sambil mengusap foto di atas makam tersebut.


Dia terus menggenggam tanganku, dia melihatku dengan wajah tersenyum kemudian kembali memandang pada foto di atas makam itu


''perkenalkan dia pelangi, sekarang dan selamanya dia yang akan bersamaku sampai aku menutup mataku'' katanya lagi tapi dengan suara serak sepertinya sedang menahan tangis


''selamat siang nak hans, sudah lama nak hans tidak kesini?'' tanya seorang bapak di belakang kami


''iya om'' jawab tuan hans singkat sambil berbalik, berbeda denganku yang masih syok hanya menatap foto yang ada di atas makam


''kamu dengan siapa datang nak?'' tanya bapak itu


''saya datang dengan istri saya om, kami baru saja menikah, jika om berkenan datanglah kerumah nanti malam akan ada resepsi kecil-kecilan dirumah'' kata tuan hans sambil membalik tubuhku menghadap bapak itu


''i...ini...ini... kamu bawa apa ini hans, dia...diakan sudah mati'' kata bapak itu seperti sedang ketakutan melihatku, pasti bapak ini berpikir aku adalah nona lutfiah


''om bicara apa? ini istri saya om kami baru menikah tadi'' jawab tuan hans sambil megangkat tangan kami berdua memperlihatkan simbol ikatan yang melingkar indah dijari manis kami berdua.


''maaf nak... om pikir dia...... Apa kamu sudah tidak mencintai lutfiah bukankah kamu bilang kamu tak akan berpaling meski dia sudah tiada?'' kata bapak itu lagi


''maaf om lutfiah adalah masa laluku dan pelangi adalah masa depanku, ayo sayang kita pulang, kita istirahat nanti malam akan banyak kegiatan, kami permisi om'' kata tuan hans


''i....iya silahkan'' jawab bapak itu masih terus menatapku


Kami meninggalkan area pekuburan itu, saat tiba dirumah aku langsung disambut ibu mertua, aku dan tuan hans dipisahakan didepan pintu utama.


Aku kagum melihat rumah keluarga tuan hans seperti sebuah hotel mewah degan banyak jendela, pilar-pilar yang menjulang tinggi.

__ADS_1


''hans, kamu dari mana saja ngak kasian sama istrimu pasti dia capek kamu ajak keluyuran mana belum ganti baju lagi'' semprot ibu mertuaku pada anaknya


''ya... ya maaf bu hehehe'' jawab tuan hans sambil terkekeh, aku tak kuasa menahan diri untuk tak melihatnya jika dia sedang tersenyum atau tertawa, tanpa sadar aku melirik kearahnya dan saat itu dia juga melirik ke arahku, kedua netra kami bertemu aku jadi salah tingkah jika tak sengaja kami saling bertatapan, segera aku memutuskan tatapan itu aku tak ingin terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta, entahlah aku jatuh cinta atau hanya sekedar mengagumi saja


''ngapain kamu pandang-pandang putri ibu, sudah sana kamu mandi terus istirahat, nanti malam kamu butuh tenaga lebih'' kata ibu mertuaku sambil terkekeh kecil


'' iya bu, tenang saja aku sudah fit bu, sudah kuat untuk nanti malam hahahaha'' kata tuan hans sambil berlari kecil menuju kamarnya mungkin takut mendapat marah lagi dari sang ibu


''ayo nak, kamu juga istirahat, kamu juga akan butuh banyak tenaga untuk menghadapi anak ibu'' kata ibu mertuaku


hah???? tenaga untuk apa? emangnya nanti malam ada apa? apa.......... Pikiranku jadi kemana-mana nih karena perkataan ibu mertua


'' iya bu terimaksih'' jawabku saat aku sudah sampai pada sebuh kamar yang mewah dan sangat besar, itu bagiku yang terbiasa hidup sederhana


''mandi terlebih dahulu kemudian istirahat nak, nanti ibu akan membangunkanmu jika sudah sore'' kata ibu mertua sebelum keluar dari kamar dan menutup pintu


.


Tok


Tok


Tok


'' ampun.. ampun bu, jangan cubit telingaku lagi bu sakit bu, ampun..'' suara seseorang seperti suara tuan hans


''sekarang kamu masuk kamar dan bersiap-siap sejam lagi acara di mulai dan ingat jangan ganggu putri ibu atau kamu akan ibu jewer lagi mau'' suara ibu mertua seperti sedang memarahi seseorang


''nak, kamu sudah bangun?'' tanya ibu kos dari luar kamar


''sudah bu, pelangi sudah bangun, silahkan masuk bu'' ucapaku seraya membukakan pintu


''apa tadi ada yang mengganggumu nak'' tanyanya


''tidak bu cuma tadi ada suara orang mengetuk pintu'' jawabku


''baguslah kalau begitu, ayo kita siap-siap nak, sejam lagi acara resepsi akan dimulai, putri ibu harus jadi yang paling cantik'' katanya sambil mengelus pelan rambutku


''tolong rias putri saya sebaik mungkin, sampai suaminya tak berkedip saat memandangnya'' kata ibu mertua pada penata rias


''tentu saja nyonya, anda tidak akan kecewa'' jawabnya


Setengah jam lebih aku dirias dan akhirnya aku siap, begitupun dengan ibu mertuaku. Dia terlihat sangat awet muda dan masih sangat cantik di umurnya yang sudah kepala lima.

__ADS_1


''putri ibu sangat cantik seperti putri dari negeri dongeng'' katanya saat memandangku


''tentu saja nyonya karena dia memang cantik alami'' jawab seorang penata rias


Aku hanya tertunduk malu mendengar ucapan mereka yang kurasa aku tidaklah sempurna seperti yang mereka katakan. Di kepalaku sebuah mahkota kecil bertengger indah, aku memakai gaun berwarna biru muda tanpa lengan yang melebar bagian bawahnya seperti baju-baju para putri di negeri dongeng.


.


Aku didampingi ibu mertua saat berjalan menuju tempat resepsi yang ternyat diadakan di rumah ini juga hanya saja di bagian lain dari rumah ini di sebuah gedung yang tak kalah mewah dari rumah mereka. Aku terus merasa takjub dengan keluarga ini.


''kamu tunggu suamimu disini nanti kalian akan masuk beriringan'' kata ibu mertua kemudian masuk terlebih dahulu. Tinggallah aku di luar pintu bersama beberapa pengawal menunggu suamiku


''maaf sayang aku terlambat tadi aku sakit perut'' kata tuan hans yang datang dengan kening yang berkeringat mungkin dia buru-buru berlari kemari. Fyuhhhh..... ku buang nafas pelan karena aku baru saja melihat suamiku yang tampak sangat gagah dengan kening berkeringat membuatku memikirkan hal yang tidak-tidak.


''silahkan masuk tuan'' jawab seorang pengawal sambil membuka pintu utama ke gedung tersebut. Semua mata memandang kearah kami, aku yang sedikit merasa minder menundukkan kepala


''jangan tertunduk sayang apa kau malu bergandengan denganku'' kata tuan hans sedikit berbisik kemudian mengangkat wajahku agar tidak tertunduk


ku edarkan pandanganku kepada semua orang yang ada disana entah mengapa aku merasa sepertinya kedua orang tuaku ada disini dan mereka sedang berdiri di atas pelaminan dengan senyum manis menyambut kami


''inilah kedua pengantin baru kita BADAI HANS orang yang dikenal dingin, susah move on, tapi sekarang kita melihatnya sedang menggandeng tangan seorang gadis yang katanya sangat dia cintai, sang pengantin wanita PELANGI WIANDRA, gadis cantik yang mampu meluluhkan dan meredakan badai hehehe'' kata pembawa acara saat kami berjalan menuju ke atas pelaminan


Tak pernah terpikir olehku aku akan melakukan pernikahan seperti ini dan akan mengadakan resepsi sebesar dan semewah ini.


Saat kami baru saja duduk di atas pelaminan terdengar suara dua orang perempuan sedang mengamuk di depan pintu


''keluar kamu penipu'' kata seorang dari mereka yang ternyata adalah sandra teman kerjaku di restoran yang sepertinya sangat membenciku padahal aku tam tahu salahku apa?


Semua orang terkejut tak terkecuali kami berdua, ya, aku dan tuan hans


''dengar ya kalian semua, wanita yang ada di atas pelaminan itu dia seorang penipu'' katanya dengan tangan meninjuk ke arahku. Semua mata para tamu undangan menatapku heran begitupun aku yang juga merasa heran apa maksudnya


''ada apa sandra?'' tanyaku


''dengar ya tuan hans, wanita itu sudah menipumu dia bukanlah kekasihmu nona lutfiah dia pelangi cuma anak kampung, yang berniat hanya untuk mengambil hartamu'' katanya berapi-api pada tuan hans tanpa menjawab pertanyaanku, dadanya naik turun seperti sedang menahan emosi


''saya tahu dia bukan lutfiah dan saya tahu siapa dia, bisa dikatakan dia adalah orang yang sangat saya cintai melebihi cinta saya pada mendiang lutfiah'' jawab tuan hans sambil merengkuh pinggangku agar lebih rapat padanya


''dia tidak mencintai tuan dia cuma ingin harta tuan kalau tuan tidak percaya tanya saja pada bibinya'' kata sandra


Bibi.. apa bi ratna juga ada disni. Aku jadi merasa takut entah kekacauan apa yang akan dalakukan mereka berdua karena baik sandra atau bi ratna dua-duanya tidak menyukaiku.


#mohon maaf pada para pembaca, saya hanya bisa mengupdate 1 bab setiap hari karena saya hanya menulis saat malam, itupun harus sering terganggu maklum masih ada anak balita. Semoga selalu terhibur dan terimakasih sudah membaca

__ADS_1


__ADS_2