PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
DATANG MEMBAWA LAMARAN


__ADS_3

Selama aku dirumah sakit tak pernah sekalipun kak Robin tak menjengukku, dia selalu datang saat selesai bertugas. Meski agak sungkan berbicara saat ada bu Dita, tapi lama kelamaan dia akrab dengan anakku dan bu Dita.


Seperti hari ini, kak Robin datang lagi menjengukku tapi kali ini dia datang tak sendirian, dia datang bersama dengan kedua orang tuanya. Aku yang sudah lama tak bertemu, agak sungkan pada orang tuanya, apalagi dengan status dan keadaanku sekarang. Aku berusaha untuk menyapa mereka, berusaha menetralkan degup jantung yang tidak karuan, karena syok belum siap bertemu dengan mereka.


''Selamat sore'' Sapa tante Dewi, ibunya kak Robin.


''Sore juga'' Balasku dan bu Dita serempak.


''Silahkan masuk bu, pak, nak Robin'' Kata bu Dita.


Kak Robin bersama kedua orang tuanya masuk kedalam ruang rawatku, senyum di bibir kak Robin selalu bisa membuat tenang saat aku melihatnya.


''Bagaimana keadaan kamu nak? Maaf mama baru sempat menjenguk kamu, mama juga baru tahu kalau kamu sakit nak. Robin baru kasih tahu mama, itupun mama paksa. Mama heran beberapa hari ini Robin sering senyum-senyum sendiri liat hape, terus kalau makan juga kadang makanannya cuma di aduk-aduk saja tidak di makan. Bahkan dia pernah mengingau manggil-manggil nama kamu nak. Awalnya mama pikir kalau dia sudah agak stress, hehehe, tapi ternyata mama salah, rupanya dia lagi jatuh cinta, hehehehe''


Hah?? Kak Robin jatuh cinta? Tapi jatuh cinta sama siapa? Baguslah jika kak Robin sudah jatuh cinta. Tapi kenapa hatiku malah terasa sakit mendengar kak Robin sedang jatuh cinta. Apa aku masih mencintainya? Tidak, aku tidak boleh mencintainya, lagian siapa aku yang berani-berani jatuh cinta pada kak Robin. Pelangi, sadar diri kamu itu siapa? Batinku.


''Nak?'' Bu Dita menyadarkanku dari lamunanku.


''Eh, iya. Kabar saya sudah lebih baik. Bagaimana kabar tante sekeluarga?''


''Kami baik nak'' Jawab om Jordi, ayah kak Robin.


Bu Dita dan orang tua kak Robin sibuk bercerita di sofa yang ada di ruangan ini. Sementara kak Robin duduk di kursi samping ranjangku bermain bersama Claudy. Rasa sesak di dada melihat Claudy tertawa lepas saat bermain dengan kak Robin. Maafkan ibumu ini nak, tak bisa membuat ayahmu menyayangimu sampai kau sudah sebesar ini.


Tes


Tanpa sadar air mataku menetes membasahi pipiku, terasa ada tangan yang sedang mengusap air mata di pipiku. Air mataku semakin deras mengalir dari kedua mataku, rasa bersalahpada Claudy semakin besar karena tak bisa memberikan keluarga yang utuh.


''Anggi, kamu kenapa menangis seperti ini? Apa aku sudah berbuat kesalahan?''

__ADS_1


Suara kak Robin terdengar parau, mengumpulkan kesadaran ku buka mataku. Kak Robin sedang mengusap air mata di pipiku dan Claudy sedang memelukku.


''Aku tidak apa-apa kak, aku cuma lelah menjalani semua ini'' Kataku lirih.


''Kamu tak boleh menyerah Anggi, kamu harus kuat demi anakmu, juga demi aku'' Katanya kemudian berlalu ke arah sofa. Kulihat ia sedang berbicara dengan bu Dita dan kedua orang tuanya.


Toktoktok


Toktoktok


Toktoktok


''Selamat sore'' Sapa seorang wanita cantik, ya, cantik, sangat cantik malah, tinggi, putih, langsing dan yang terpenting sopan. Dia datang bersama seorang anak kecil mungkin usia 2 tahunan dan seorang babysister. Aku tak mengenal siapa dia, tapi sepertinya kak Robin sekeluarga mengenalnya. Karena saat wanita cantik itu masuk kak Robin langsung menghampirinya. Wanita itu langsung menggandeng mesra kak Robin lengan kak Robin.


'Itu pasti istri dan anaknya kak Robin. Bodohnya kamu pelangi, kamu pikir kak Robin jatuh cinta padamu, lihat itu, ada wanita yang sangat sempurna yang mendampinginya sekarang, kamu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya. Kamu harus sadar diri Pelangi' Batinku.


''Ayo masuk sayang, ada mama sama papa juga'' Kata kak Robin.


''Ayo sayang aku perkenalkan pada Anggi''


Kak Robin menggandeng tangan wanita itu menuju ke ranjangku, rasa berdebar di dada melihat pemandangan di depanku harus bisa aku kendalikan agar tak menimbulkan masalah untuk kak Robin. Sedangkan sang babysister dan anaknya duduk bersama om Jordi, tante Dewi dan bu Dita, sementara Claudy sudah tertidur lelap di kasur lantai dekat sofa.


''Halo Anggi, namaku Nisa'' Wanita bernama Nisa itu mengulurkan tangannya. Kusambut uluran tangannya dengan senyuman, meski ada yang terasa sakit di dalam sana melihatnya menggandeng tangan kak Robin.


''Halo kak, nama saya Pelangi tapi kakak bisa panggil saya Anggi, seperti kak Robin memanggil saya'' Kataku.


''Oh jadi ini yang bikin kamu susah makan, susah tidur, ngingau kalau tidur dan sampai satu kamar penuh lukisan dan foto ka........''


Belum selesai kak Nisa berbicara, kak Robin sudah menutup mulut kak Nisa dengan telapak tangannya. Aku hanya melongo mendengar ucapannya, apa iya kak Robin mikirin aku padahal dia sudah punya istri dan anak. Ku lihat pipi kak Robin yang putih kini berwarna merah, apa dia sedang tersipu malu?

__ADS_1


''Kakak, jangan ngomong gitu dong. Anggi maafkan kak Nisa ya, dia cuma bohong koq'' Kata kak Robin.


Oh jadi wanita cantik ini kakanya kak Robin.


''Aku tidak bohong kok Anggi, adekku ini sedang jatuh cinta sama kamu'' Kata kak Nisa lagi.


Kak Robin segera menarik tangan kak Nisa menuju ke arah sofa dan mendudukkannya disana. Kak Robin kembali menghampiriku ke ranjang.


''Anggi, aku pamit dulu ya, ada panggilan mendadak dari kantor. Ayah dan ibu juga kak Nisa masih disini koq''


''Iya kak, hati-hati''


Kak Robin tersenyum mendengar ucapannku, ia kemudian beralih kembali ke sofa sepertinya meminta ijin pada semua orang. Ia kemudian berlalu ke arah pintu, saat hendak membuka pintu, ia kembali lagi mendekati ranjangku, iya meraih tanganku mendekatkan ke wajahnya dan tanpa aba-aba.


Cup


Kak Robin mengecup tanganku, kemudian memandang wajahku agak lama, aku juga seperti terhanyut dalam tatapannya.


''Ehem'' Suara deheman om Jordi membuatku segera memutuskan tatapan kami, kemudian menarik tanganku dari genggaman kak Robin.


''Aku pamit ya'' Kata kak Robin kemudian benar-benar berlalu.


Tinggallah aku yang pasti akan menjadi bahan bullyan orang-orang disini. Aku tahu om Jordi dan tante Dewi pasti akan menggodaku setelah ini, dan betul saja setelah kak Robin menghilang dibalik pintu mereka semua seperti semut sedang menyerbu makanan. Mereka yang semula duduk di sofa, semuanya menuju ke ranjangku, terkecuali babysister dan anak kak Nisa. Mereka memandangku dengan senyum yang sulit aku pahami.


''Bu Dita sepertinya kita tak akan menunggu lama, sepertinya bunga kita juga sedang mekar sekarang dan kumbangnya juga sudah siap'' Kata tante Dewi.


''Betul sekali bu, mudah-mudahan semuanya sesuai harapan kita'' Kata bu Dita.


Aku mengerutkan kening mendengar ucapan keduanya, yang aku tak pahami sama sekali.

__ADS_1


''Sebelumnya om minta maaf nak, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk om membicarakan hal ini. Tapi om melihat kalian berdua seperti tadi, om jadi berpikir bahwa hal yang ingin om sampaikan ini tidaklah masalah bagimu'' Kata om Jordi yang belum aku pahami seutuhnya.


''Sebenarnya, sejak Robin sering main kerumahmu dulu, dia sebenarnya menaruh hati padamu nak. Akan tetapi ia tak berani mengatakannya, bahkan sampai kelas 3 SMA bahkan sampai kami pindah ia belum berani mengungkapkannya, Robin mengatakan jika iya ingin menjalin hubungan denganmu tapi om tak menanggapinya serius om pikir dia hanya main-main saja. Sampai akhirnya kami sekeluarga pindah, semasa kuliah banyak gadis yang mendekat padanya, namun semuanya ia tolak. Bahkan ada juga sebagian anak-anak teman om atau tante yang dikenalkan, dia juga tetap menolak. Saat kami tanya, dia selalu bilang kalau sudah punya pilihan sendiri. Saat kami menyuruhnya membawa pulang gadis pilihannya, dia selalu berkata kalau wanita pilihannya masih ada di tempat yang jauh. Om tak pernah berpikir bahwa itu kamu, sampai akhirnya om masuk ke kamarnya dan mendapati seluruh kamar penuh dengan foto-foto masa kecil kalian dan lukisan-lukisan dengan namamu disana. Ia juga membuat sebuah bingkai Foto besar berbentuk hati, yang ditulisi namamu dan Robin disana. Ia juga menulis di buku hariannya, bahwa ia hanya akan menikah denganmu saja, ia tak akan menikah jika itu bukan denganmu. Jadi om sudah berbicara dengan bu Dita, juga sudah menyampaikan maksud dan tujuan kami datang kemari adalah melamarmu untuk Robin, bagaimana menurutmu nak? Kami juga bahagia jika kau jadi bgian dari keluarga kami nak'' Kata om Jordi panjang lebar.


__ADS_2