PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
FIRASAT


__ADS_3

Hari sudah beranjak sore ketika aku membuka mataku, aku melihat mas Hans masih tertidur di sampingku sambil memelukku. Kami berdua tertidur setelah melakukan ritual tadi, meski aku tak melakukan apa-apa, karena mas Hans yang memimpin ritual, tapi rasanya aku cukup lelah.


Aku tersipu melihat tangan mas Hans memeluk tubuh polosku, kupandangi wajahnya yang tampan, sungguh rupawan ciptaan Tuhan di hadapanku ini, tak sadar aku melukiskan senyum di bibirku. Aku merasa bagian bawah tubuhku agak sedikit sakit, aku mencoba memindahkan tangan mas Hans dari atas tubuhku, aku ingin ke kamar mandi membersihkan diri, pelan-pelan ku angkat berharap mas Hans tidak bangun. Belum sempat tangannya ku pindahkan mas Hans sudah lebih dulu membuka mata dengan segaris senyum di bibirnya.


''Apa aku setampan itu saat tidur hingga kau terus tersenyum menatapku?'' kata mas Hans.


Hah? Apa tadi mas Hans katakan? Aku menatapnya? Apa sebenarnya dia sudah bangun tadi tapi berpura-pura tidur? Batinku berbicara.


''Aku...aku.. maaf mas, apa aku membangunkan mas?'' Tanyaku karena kupikir mas Hans terbangun karena aku menyentuh tangannya.


''Tidak sayang, sebenarnya mas sudah terbangun dari tadi, tapi mas tidak ingin meninggalkanmu sendiri jadi mas pura-pura tidur saja'' katanya sembari tersenyum.


Aku jadi malu mendengar perkataan mas Hans, berarti tadi mas Hans melihat semua yang aku lakukan karena sebenarnya tadi aku tidak hanya memandangnya tapi aku sudah mencium pipinya. Jika ada lubang di kamar ini, rasanya aku ingin masuk dan bersembunyi disana. Rasa maluku sudah berkali-kali lipat, tak mungkin aku bisa memandang wajah suamiku lagi karena mukaku sudah terasa seperti habis di gosok balsem, panas dan merah.


''Maaf mas, tadi aku sudah...'' Belum selesai kalimatku, mas Hans sudah mencium bibirku kembali. Namun aku bersyukur hanya sekilas dia menciumku karena jika tidak aku khawatir ritual kedua akan berlangsung.


''Tidak apa-apa sayang, mas malah suka kalau kamu mencium mas. Ayo kita bersih-bersih, terus kita makan siang, mas sudah lapar dan ini pasti sudah sore.''


Mas Hans menggendongku masuk ke kamar mandi, dia juga membantuku membersihkan badan, aku menolak tapi mas Hans kekeh, akhirnya kubiarkan saja, apa lagi yang harus aku tutupi, toh mas Hans sudah melihat semuanya tadi. Kami mandi cukup lama hampir satu jam karena mas Hans terus saja menggodaku, setelah mandi mas Hans menggendongku kembali ke atas ranjang, dia kemudian menuju kesebuah dinding. Saat mas Hans menekan salah satu sudut dinding, dinding itu bergeser dan tampaklah berbagai jenis pakaian tersusun rapi disana. Ada pakaian pria dan pakaian wanita, aku langsung berpikir jika pakaian itu adalah pakaian kekasih mas Hans dulu.


''Sayang, sekarang kamu pakai baju ini, baju ini mas yang beli, jika kamu tak suka nanti kita beli yang lain'' katanya sambil memberiku beberapa lembar pakaian.


Mas Hans kembali ke arah lemari kemudian mengambil beberapa pakaian pria untuk dia kenakan. Mas Hans menghampiriku, dia membuka handuk yang melilit di tubuhnya dihadapanku, aku yang belum terbiasa refleks menutup mata dengan kedua tangan mas Hans justru tertawa melihatku.


''Kamu kenapa malu sayang bukankah kamu sudah melihatnya tadi'' goda mas Hans

__ADS_1


Aku kembali tersipu malu segera kuselesaikan memakai pakaianku. Setelah rapi aku dan mas Hans keluar dari kamar, aku tertegun saat mendapati kedua mertuaku dan seorang wanita yang lebih tua duduk bersama mereka. Mereka bertiga memandang aku dan mas Hans bergantian kemudian mereka tertawa, mas Hans kulihat sedang tersenyum sambil menggaruk-garuk tengkuk lehernya, sementara aku hanya tersenyum pada mereka.


''Mama, papa, oma, apa sudah lama disini?'' kata mas Hans, ternyata wanita itu adalah oma mas Hans.


''Belum lama baru setengah jam, ibu juga belum berlumut'' jawab ibu mertua dengan bibir mengerucut yang terlihat lucu di mataku. Tak lama ia tertawa, kemudian menyuruhku duduk disampingnya tepatnya diantara ia dan oma mas Hans. Mas Hans membantuku turun dari kursi roda dan duduk di sofa.


''Bu, inilah Pelangi cucu menantu ibu, dia cantik bukan? Dia juga baik hati sama seperti ibu'' kata ibu mertua mengenalkanku pada oma mas Hans.


''Kamu benar nak, dia sangat cantik bagi oma. Kenalkan nak nama oma Maria, oma ini ibu dari bapak mertuamu'' kata oma


''Saya pelangi oma'' jawabku singkat


''Mah, pah, oma, apa ada yang penting sampai kalian semua ada disini?'' tanya mas Hans


''Tidak ada sayang, tadi mami dengar dari Indra bahwa Rosa datang, kebetulan kami dari bandara habis jemput oma, jadi kami semua kemari takut Rosa menyakiti pelangi'' kata ayah mertua.


''Apa kamu tidak memberi makan istrimu dari siang?'' kata ayah mertua


''Belum sempat pah'' kata mas Hans sambil terkekeh


''Ampun deh ini anak, kamu mau bikin cucu oma jadi kurus ya, emang ngapain aja kamu dari tadi sampai istrimu belum kamu kasih makan? Apa kamu tidak ingat dia lagi sakit!'' kata oma


Kulihat mas Hans hanya cengengesan mendapat omel dari oma, sebenarnya bukan salah mas Hans saja tapi aku juga karena aku juga ikut tidur tadi.


''Ya sudah, ayo kita pulang. Istrimu juga pasti sudah lapar'' kata ayah mertua.

__ADS_1


Mas Hans mendorong kursi rodaku, saat keluar ruangan kulihat Indra tersenyum dan mengancungkan jempol pada mas Hans. Mas Hans hanya terkekeh melihat tingkah Indra, ibu mertua satu mobil dengan ayah mertua dan oma, aku, mas Hans dan Indra satu mobil. Diperjalanan pulang tidak ada yang bersuara di dalam mobil hanya Indra dan mas Hans yang saling berbalas senyum kadang tertawa-tawa kecil, aku juga tak mengerti apa yang mereka tertawai.


Mobil sudah tiba di pekarangan rumah, kulihat mobil ayah mertua sudah terparkir di garasi, tapi ada satu mobil lain yang terparkir disana. Seperti waktu tiba di kantor tadi mas Hans menggendongku dari mobil dan mendudukkan aku di atas kursi roda kemudian mendorong kursi rodaku begitu juga yang ia lakukan sekarang. Saat hendak masuk ke rumah, mas Hans menghentikan langkahnya di pintu utama, aku menatap mas Hans tapi dia menatap kearah sofa ruang tamu, kuikuti tatapan mata mas Hans, kudapati Rosa dan dua orang sedang duduk disana.


Mas Hans kemudian mengalihkan tatapannya menatapku, kulihat ada tatapan tak suka melihat ketiga orang itu. Entah kenapa aku memiliki firasat buruk tentang kedatangan ketiga orang itu.


''Ada apa mas, apa ada masalah?'' tanyaku.


''Tidak sayang, ayo kita ke ruang makan mas sudah lapar'' kata mas Hans melanjutkan langkahnya mendorong kursi rodaku menuju meja makan, kulihat ketiga orang tadi menatapku tak suka. Rasanya aku mengenal kedua orang yang bersama Rosa tapi aku tak ingat jelas siapa mereka.


''Bi, kami mau makan, boleh tolong ambilkan tiga piring?'' kata mas Hans


Bi Asih datang membawa tiga piring juga gelas dan sendok. Indra juga ikut makan dengan kami, ternyata dia juga belum makan siang aku jadi kasian padanya.


''Kenapa kamu menatap Indra begitu sayang?'' tanya mas Hans


''Aku kasihan mas, dia belum makan siang karena kita'' kataku polos


Mas Hans dan Indra tertawa bersama-sama, tawa mereka bahkan mungkin terdengar sampai di luar. Kami makan siang bersama, sebenarnya bukan makan siang lagi tapi makan sore. Setelah habis makan Indra pamit karena ada urusan, mas Hans kembali mendorong kursi rodaku. Saat hendak menuju kamar, kami melewati sofa yang ternyata disana masih ada tiga orang tadi yang terus menatapku.


''Mas, jika mas ada urusan yang perlu mas lakukan aku bisa ke kamar sendiri'' kataku pada mas Hans


''Tidak sayang mas tidak ada urusan, ayo kita ke kamar''


''Hans, apa tante dan om bisa bicara sebentar'' kata laki-laki yang duduk di sofa.

__ADS_1


Mas Hans menatapku, aku hanya mengangguk saja agar mas Hans bisa menyelesaikan urusannya. Kulihat pintu kamar ayah dan ibu mertua terbuka, ayah mertua keluar dari kamarnya, dia juga menyerngitkan dahi, ia tampak heran menatap tiga orang yang duduk di sofa. Mas Hans mendorong kursi rodaku sampai dikamar.


''Mas keluar sebentar ya, kamu jangan pikir macam-macam, mas hanya mencintaimu saja'' kata mas Hans kemudian mencium keningku dan berlalu keluar kamar tapi dia tetap membiarkan pintu kamar terbuka, mungkin agar aku tetap bisa melihat sofa dimana ia akan duduk dan berbicara.


__ADS_2