PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
CLAUDY SAKIT


__ADS_3

Tak lama berselang setelah kami mengantarkan kak Nisa ke rumahnya, kami tiba di perumahan yang akan aku dan putriku tempati tinggal. Kami sempat singgah di salah satu supermarket untuk belanja beberapa keperluan yang sekiranya aku dan Claudy butuhkan di rumah itu, bukan aku yang turun berbelanja aku meminta kak Roni yang berbelanja.


''Ini alamat rumah yang ada di sertifikat ini dek. Rumah kakak ada disebelah kiri dari rumahmu dan rumah Hendrik ada di sebelah kanan. Jika butuh bantuan hubungi saja kakak atau Hendrik'' Ucap kak Roni saat mobil telah tiba di halaman sebuah rumah yang sangat mewah dan besar. Aku bahkan sampai tak berkedip karena terpukau akan kemegahan bagunan yang ada di depanku kini.


''Ayo masuk dek, kamu ada kunci rumahnya kan?'' Tanya kak Roni yang membuatku tersadar.


Aku mengangguk kemudian menyerahkan anak kunci pada kak Roni.


''Kenapa diberikan pada kakak? Kamu dong yang buka kan ini rumah kamu bukan rumah kakak, hehehehe''


Aku kembali meraih anak kunci tersebut dan kumasukkan kedalam lobang kunci setelah aku berdoa terlebih dahulu.


Ceklek


Suara anak kunci terputar dan tampaklah pemandangan di dalam rumah ini. Aku kembali dibuat kagum dengan isi didalam rumah peninggalan orang tuaku ini. Tak pernah terbayangkan olehku jika aku akan menginjakkan kaki di rumah sebesar ini, apa lagi sampai memilikinya.


''Dek, silahkan masuk ke kamar yang ada disana. Baringkan Claudy disana kakak akan menelpon dokter dikompleks ini agar datang memeriksa putrimu'' Ucap kak Roni menunjuk salah satu pintu kamar yang tertutup rapat, kemudian menghubungi seseorang.


''Iya kak'' Ucapku kemudian memapah Claudy masuk ke kamar tersebut. Saat baru saja membuka pintu kamar, pemandangan yang mengejutkan hati juga menyayat hati tampak di depan mataku. Bagaimana tidak di dalam sana aku melihat foto kedua orang tuaku yang tergantung dengan indah di salah satu dinding kamar.


''Ini kamar siapa ma?'' Tanya Claudy lirih saat aku sudah membaringkannya di atas ranjang yang berukuran besar atau orang biasa menyebutnya dengan istilah king zise.


''Ini kamar kita sayang. Ini kamar oma dan opa Claudy'' Ucapku sambil melihat figura yang tertata indah di atas nakas samping tempat tidur.


Claudy hanya menganggukkan kepalanya, kemudian menutup matanya perlahan. Aku kemudian menyentuh keningnya, kini ia tak demam lagi namun agak terasa dingin. Aku yang panik segera berteriak memanggil kak Roni, tak lama kak Roni datang bersama seorang perempuan yang ku perkirakan adalah seorang dokter. Terlihat dari pakaian yang dikenakannya.

__ADS_1


''Silahkan diperiksa dokter, dia ini ponakan saya. Dia sempat demam tadi, dan sekarang badannya terasa dingin'' Ucap kak Roni setelah menyentuh kening putriku.


Dokter itu mulai memeriksa putriku, raut wajahnya kelihatan sangat serius. Tak lama ia seperti menghubungi seseorang.


''Bu, anak ibu seharusnya di rawat di rumah sakit namun karena keadaan tak memungkinkan jadi kita akan merawatnya dirumah saja namun tetap dengan perawatan seperti dirumah sakit. Teman-teman saya sedang dalam perjalanan kemari'' Ucapnya sambil terus memeriksa setiap bagian dari tubuh Claudy.


''Ada apa dengan putri saya dok?'' Tanyaku.


''Menurut prediksi saya anak ibu terjangkit demam berdarah namun belum bisa dipastikan. Nanti perawat akan mengambil sampel darahnya kemudian kami periksa. Tapi putri ibu harus kami infus karena ia kehilangan banyak cairan, makanya ia merasa lemas''


''Lakukan apapun yang penting anak saya bisa sehat seperti semula dok. Masalah biaya berapapun pasti akan saya bayar, lakukan yang terbaik untuk putri saya'' Ucapku sambil terus mengusap-usap kepala putriku yang kini bibirnya agak pucat.


Tak lama terdengar suara mobil berjenti di depan rumah, aku yang masih trauma akan kejdian tadi membuat badanku bergetar kembali.


''Tenanglah dek, janagn khawatir mereka itu trman-teman dokter Yuli. Orang-orang jahat itu tak akan bisa masuk kesini, kalian aman disini'' Ucap kak Roni menenangkanku.


Dokter dan para perawat kemudian melakukan perawatan kepada Claudy, aku hanya menatap mereka melakukan tugas mereka. Kak Roni tetap setia menemani ku di kamar ini. Setelah hampir satu jam akhirnya dokter dan perawat telah selesai melakukan tugas mereka.


Dokter Yuli dan benerapa perawat kemudian pamit sementara dua orang perawat mereka tugaskan untuk tetap berada disini memantau keadaan Claudy. Kak Roni mengantarkan mereka sampai dihalaman, setelah terdengar suara mobil melaju meninggalkan halaman tak lama kak Roni kembali masuk ke kamar ini.


''Dek, jaga Claudy baik-baik ya, jika kamu butuh sesuatu beritahu saja pada kedua perawat itu. Aku mau ke rumah dulu bersih-bersih dan ganti baju setelah itu baru aku kembali ke sini'' Ucap kak Roni sebelum berlalu meninggalkanku dikamar ini bersma dua orang perawat.


''Jika butuh apa-apa ibu bisa beri tahu kepada kami berdua'' Ucap salah satu di antara mereka.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kepada mereka, ku lihat mereka masih terus berdiri di samping ranjang tempat Claudy. Rasa kasihan menelusup di relung hatiku, betapa sangat bertanggung jawabnya mereka berdua.

__ADS_1


''Bisa tolong lihat Claudy sebentar, saya mau ke dapur dulu'' Ucapku pada keduanya.


''Baik bu'' Jawab mereka hampir bersamaan yang kubalas dengan senyuman.


Bergegas aku ke dapur dan membuat teh hangat, kebetulan tadi kami singgah di supermarket membeli beberapa bahan makanan sebelum kesini.


Kubuat tiga gelas teh hangat dan menuangkan beberapa biskuit kedalam toples. Ku letakkan semuanya di atas nampan kemudian kubawa menuju kamar. Saat aku hampir tiba di ambang pintu, ku dengar derap langkah kaki mendekat, aku bersembunyi di balik lemari mengintip siapa yang datang. Hatiku begitu lega saat ku lihat kak Roni yang datang, ku teruskan langkahku membawa nampan ini ke kamar.


''Minum dulu sus'' Ucapku pada keduanya yang sedang duduk di kursi samping ranjang putriku.


''Terimakasih bu, tak perlu repot-repot'' Ucap mereka.


Aku meletakkan nampan di atas nakas samping mereka duduk kemudian aku duduk di sisi lain ranjang Claudy. Tak kusadari ternyata kak Roni sudah ada di kamar ini.


''Istirahatlah dek, sepertinya kamu juga sangat lelah, kamu harus istirahat karena tak ada yang merawat Claudy jika kamu ikut sakit'' Ucap kak Roni.


''Benar bu, ada kami yang akan menjaga Claudy'' Ucap perawat bernama Debi. Ya, perawat dikamar ini bernama Debi dan Irma.


Aku menatap kak Robin, ia menganggukkkan kepala, aku memang merasa sangat lelah namun mataku tak bisa tertutup banyak hal yang berkecamuk di dalam pikiranku.


''Kalian juga istirahatlah, sebentar saya ambilkan kasur dan bantal dulu agar kalian juga bisa istirahat. Atau kalian ingin tidur di kamar sebelah juga boleh'' Ucap kak Roni pada kedua perawat itu.


''Kami disini saja pak, kami juga belum ngantuk dan ini sudah tugas kami'' Ucap Debi dan di ikuti anggukan kepala oleh Irma.


Kak Roni bergegas keluar kamar dan tak lama kembali dengan membawa sebuah kasur yang lumayan besar, dengan Hendrik yang ikut membawa bantal dan selimut di belakangnya.

__ADS_1


Ia meminta kedua perawat itu istirahat, dia yang akan berjaga. Sementara aku sendiri tak tahu kapan aku tertidur, mungkin karena sangat lelah aku jadi cepat tertidur saat merebahkan kepalaku di samping Claudy.


__ADS_2