
Mendekati sumur bercak darah semakin banyak.
''Awwww...'' terdengar lirih suara seseorang sedang menahan sakit.
Kulihat mas Hans sedang membersihkan kakinya yang penuh tanah dan darah. Aku langsung panik dibuatnya, segera kuhampiri mas Hans dengan air mata yang sudah mengalir di pipiku.
Segera kusobek ujung baju yang aku pakai, kugunakan untuk membalut luka mas Hans agar darahnya tak semakin banyak keluar. Kubantu mas Hans berdiri dan kupapah untuk masuk kedalam rumah.
Kubaringkan mas Hans diatas tikar, segera aku menuju dapur mengambil air hangat juga kotak obat didalam kamar. Kubersihkan luka dikaki mas Hans dari tanah. Air mataku tak berhenti mengalir, tak kupedulikan lagi jika mas Hans melihatku menangis karena aku benar-benar khawatir padanya.
Setelah bersih kubalut lukanya dengan pembalut luka yang sebelumnya lukanya sudah ku olesi obat merah.
Air mataku masih saja terus mengalir meski luka mas Hans sudah tak mengeluarkan darah lagi. Tak sadar aku memeluknya sambil menangis.
''Maafkan aku mas'' kataku sambil menangis memeluknya.
''Mas tidak apa-apa kamu jangan menangis'' jawab mas Hans tenang sambil mengusap air mataku. Aku masih terus terisak.
''Papa kenapa? Kenapa kaki papa berdarah?'' tanya Hans yang muncul dari balik pintu kamar.
''Papa ngak apa-apa, tadi papa jatuh. Hans jangan lari-lari ya nanti jatuh kayak papa'' kata mas Hans.
Hans memeluk papanya sebelum kembali kedalam kamar untuk bermain.
''Aku antar mas ke kamar ya, mas istirahat saja biar aku yang mengurus kebun'' kataku.
''Tidak usah sayang mas tidak apa-apa, kamu cukup temani mas disini mas ingin berbicara sama kamu'' kata mas Hans menahan tanganku yang hendak berlalu.
''Iya mas tapi aku harus buang dulu air kotor itu'' kataku menunjuk pada baskom yang aku pakai membersihkan kaki mas Hans tadi.
__ADS_1
''Baiklah sayang'' katanya.
Aku berlalu ke arah belakang rumah. Membuang air di baskom tadi, aku masih melihat darah mas Hans yang sudah mengering di atas tanah. Rasa bersalah menyelimuti hatiku, gegas aku masuk kembali kedalam rumah melihat keadaan mas Hans.
''Duduklah sayang mas ingin bicara'' kata mas Hans menepuk tikar disebelahnya.
''Berbaringlah mas, kaki mas masih sakit'' kataku saat mas Hans hendak bangun.
''Mas tidak apa-apa sayang, kamu jangan khawatir begitu'' kata mas Hans, aku membantunya duduk.
Awalnya kami hanya saling diam, tapi kemudian mas Hans membuka percakapan.
''Mas tahu kamu sangat kecewa sama mas, wajar jika kamu membenci mas, tapi apa mas tidak punya tempat lagi di hatimu? Apa sudah tidak ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita?'' tanya mas Hans.
Aku hanya diam, karena sesungguhnya akupun tidak tahu dengan perasaanku sekarang. Aku seperti sudah mulai bisa seperti dulu lagi tapi hatiku belum sepenuhnya terbuka lagi masih ada titik hitam didalam sana.
''Mas, aku.. aku..'' hanya itu yang bisa ku ucapakan lidahku kelu tak tahu ingin mengatakan apa.
Mas Hans menatapku, aku juga menatap dalam mata mas Hans tak kulihat kebohongan disana.
''Mas selama ini mencarimu, tapi tak pernah ada yang memberi tahu mas kamu ada disini. Aku sempat ke panti tapi bu Asni tak mengatakan kamu dirumahnya. Sampai saudara ibu yaitu pak lurah mengunggah sebuah video acara syukuran disebuah rumah warga, ibu melihat unggahan itu karena om membagikannya di status fbnya. Ibu melihatmu dengan seorang anak kecil yang sedang makan es kelapa muda. Ibu segera menghubungi saudaranya dan menanyakan wanita di video itu dan ternyata ibu tak salah lihat. Kata om Andre pak lurah disini, kamu adalah salah satu warga di kampung ini yang tinggal berdua dengan anaknya. Aku memutuskan untuk datang kemari dan dengan bantuan om Andre aku bisa dengan mudah menemukan rumahmu'' kata mas Hans lagi.
''Maafkan aku mas'' kataku.
''Bukan kamu yang harus minta maaf sayang, harusnya mas yang minta maaf'' katanya sambil mengelus punggung tanganku kemudian menciumnya.
''Hans senang deh, sekarang punya papa juga, jadi kalau mama sakit lagi mama tidak akan menangis sendiri ada papa yang bisa bantu mama'' kata putraku yang duduk di depan pintu kamar, kemudian kembali masuk ke kamar.
Mas Hans menatapku, selama ini aku memang sering merasakan perutku sakit. Sebenarnya saat aku hamil Hans, kandunganku bermasalah karena aku sempat terjatuh saat mengandung Hans, dokter Lia sempat menyuruhku menggugurkan kandunganku karena bisa membahayakan nyawaku dan jika aku tetap mempertahankannya mungkin aku akan sering merasa keram pada perut, kecuali aku melakukan pengobatan rutin setelah habis melahirkan. Ya, saat aku menolong anak Rosa. Dia anak Rosa bukan anak mas Hans tapi anak Frans saudara kembar mas Hans. Ternyata Rosa pernah tidur dengan Frans padahal saat itu ia sudah bertunangan dengan mas Hans. Frans juga dijebak oleh Rosa seperti mas Hans.
__ADS_1
''Kamu sakit apa?'' tanya mas Hans.
Aku menatap matanya, ragu-ragu aku mulai menceritakan semua yang telah terjadi. Mas Hans menangis saat aku selesai bercerita.
''Maafkan mas sayang, mas benar-benar bodoh saat itu. Mas tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah?'' kata mas Hans disela-sela tangisnya.
''Tidak ada yang perlu dimaafkan mas, semuanya sudah berlalu'' kataku.
Mas Hans memelukku dan terus menangis, aku hanya mengusap punggungnya.
.
Sudah 2 bulan mas Hans tinggal bersama kami. Aku juga sudah mulai membuka hati kembali untuk mas Hans. Aku tak boleh egois, jangan sampai anakku yang menjadi korban jika aku egoia tetap membenci mas Hans.
''Mama, kata papa kita akan pindah rumah?'' tanya anakku yang sedang belajar menulis. Dia kadang memanggilku mama kadang ibu, tapi bagiku tak masalah toh artinya sama saja.
''Iya sayang, kita akan pindah ke rumah papa. Apa Hans suka?'' tanyaku.
''Jika mama bahagia, aku juga bahagia ma. Jika mama suka, aku juga pasti suka'' katanya polos.
Aku hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Setelah cukup lama iya mencoret-coret buku, yang katanya ia sedang belajar menulis. Hans segera menutup bukunya dan naik ke kasur tak lama ia tertidur pulas.
Mas Hans datang menghampiriku sambil tersenyum.
''Sayang mas sudah merindukanmu, apa kita bisa?''
Aku mengerti apa maksud perkataan mas Hans, hanya saja rasanya hati dan tubuhku belum siap menerima mas Hans kembali.
__ADS_1
Melihatku yang hanya diam, Mas Hans kemudian beralih duduk di depanku dan menatapku.
''Aku tidak akan memaksamu sayang sampai kamu mau dan ikhlas memberi untuk mas'' katanya kemudian tersenyum. Dia berbaring di atas kasur bersama anaknya, seperti dulu saat kedatangan mas Hans aku masih tidur di karpet.