
Aku mulai memetik sayur, ku buat beberapa ikat sayur bayam juga sayur kangkung. Ku kemas juga tomat dan cabe kedalam plastik kemasan kecil.
''Mama Hans saya mau beli sayur bayamnya 2 ikat, kangkung 3 ikat sama tomat dan cabe masing-masing 1 kemasan ya'' kata salah seorang tetanggaku.
''Baik bu'' jawabku sambil mengemas kedalam plastik pesanannya.
''Mama Hans, kemarin itu papanya Hans ya, pantas saja nak Hans tampan, papanya tampan mamanya cantik'' kata ibu itu lagi.
''Iya bu, terimaksih sudah belanja bu'' kataku.
Banyak tetangga yang datang berbelanja tak cukup 15 menit semua daganganku habis. Segera kubereskan meja tempatku berjualan, saat hendak mengangkat meja mas Hans datang dan langsung mengangkatnya, kubiarkan saja toh bukan aku yang memintanya.
''Papa...'' Hans ternyata sudah bangun dia berdiri di depan pintu sambil mengusap-usap matanya.
''Iya sayang kamu sudah bangun'' kata mas Hans menghampiri putranya.
''Bu, aku sudah lapar bisa kita makan sekarang?'' kata putraku.
''Iya nak, ibu cuci tangan dulu ya sayang'' kataku padanya.
Kami menikmati sarapan dalam diam, sesekali kulirik mas Hans, aku heran melihat dia sangat menikmati sarapannya padahal kami hanya makan nasi dan ikan kering.
.
Sesudah makan, aku segera memandikan putraku. Mas Hans kulihat sedang berjalan-jalan di sekitar rumah sambil sesekali meraba dinding rumahku yang terbuat dari bambu yang dianyam.
.
Siang hari aku duduk di teras depan rumah, kulihat ada 2 mobil yang sangat asing bagiku. Tapi jika dilihat mobil-mobil itu seperti mobil-mobil yang selalu terparkir di garasi rumah mewah mas Hans.
Mobil itu berhenti di halaman rumahku, tak lama ada beberapa mobil mewah lain yang ikut parkir.
Dikedua mobil yang pertama datang, kulihat kedua mertuaku juga oma turun dari sana. Sementara mobil-mobil yang lain turun para pengawal dari sana.
Aku jadi bingung tak tahu harus melakukan apa? Para tetangga sudah keluar dari rumah mereka, mungkin mereka penasaran siapa pemilik mobil-mobil mewah tersebut.
''Sayang, oma rindu padamu. Apa kamu tidak rindu pada oma? Kamu selama ini kemana?'' kata oma mas Hans sambil berlari kecil menghampiriku dan memelukku.
Aku menyambut mereka ku ajak masuk kedalam rumah, kugelar tikar dilantai agar mereka bisa duduk. Maklum di rumahku aku tak memiliki kursi tamu apa lagi sofa.
''Silahkan duduk, oma, pa, bu'' kataku pada mereka sedangkan para pengawal berada di luar katanya menjaga mobil.
''Terimakasih nak'' jawab ayah mertua.
__ADS_1
''Saya buatkan minum dulu'' kataku kemudian hendak berlalu.
''Nak, dimana cucu ibu?'' tanya ibu mertua.
''Hans ada di kamar bu, bersama ayahnya'' kataku.
Mereka bertiga kompak tersenyum.
''Jadi nama cucu ibu Hans, seperti nama ayahnya'' kata bapak mertua.
Aku hanya mengangguk kemudian berlalu ke arah dapur untuk membuat minum. Kuseduh tiga gelas teh dan beberapa gelas kopi untuk para pengawal di luar.
''Silahkan diminum pa, bu, oma. Maaf pelangi cuma bisa nyajiin teh'' kataku pada meteka sambil meletakkan nampan berisi minuman.
''Saya akan berikan kopi pada pengawal yang ada di luar'' kataku kemudian berlalu keluar rumah membawa nampan berisi kopi untuk para pengawal.
''Maaf tuan-tuan saya hanya bisa menyajikan kopi'' kataku pada mereka.
''Terimakasih nyonya'' jawab mereka semua.
''Sama-sama, silahkan dinikmati'' kataku kemudian hendak masuk kedalam rumah. Kudengar ada yang memanggil namaku, kucari sumber suara ternyata suara bu Ratna tetanggaku. Dia melambaikan tangannya mungkin ada yang ia ingin sampaikan. Kudatangi bu Ratna yang ada di samping rumahku, saat tiba disana aku kaget, karena hampir semua tetanggaku ada disana.
''Ada apa bu?'' tanyaku heran karena semua tetangga sudah ada disana.
''Itu siapa yang datang mama Hans? Kenapa banyak sekali pengawalnya?'' tanya bu Ratna.
''Itu mertua dan oma mertua saya datang bu'' kataku.
Mereka semua saling pandang kemudian ber-O ria.
''Sayang kamu sedang apa disitu?'' terdengar suara bariton mas Hans dibelakangku.
''Aku..'' kalimatku tak berlanjut karena mas Hans sudah melihat semua tetanggaku yang sedang senyum-senyum.
''Oh ada tetangga-tetangganya kamu sayang, ayo bu silahkan mampir'' kata mas Hans.
Ibu-ibu menatapku, aku kemudian menganggukkan kepala. Aku masuk kembali kedalam rumah bersama para tetanggaku. Mereka semua berkenalan dengan mertuaku, ada juga yang sibuk mengagumi para pengawal yang berjaga diluar dan itu jadi hiburan tersendiri untukku.
Sebuah sepeda motor berhenti di depan rumahku, kulihat ternyata pak lurah yang datang. Aku langsung panik, pikirku mungkin aku membuat masalah.
''Selamat siang bu Pelangi, apa bapak bisa pesan kue ulang tahun untuk besok?'' kata pak lurah.
''Bisa pak, untuk jam berapa?'' tanyaku.
__ADS_1
''Jam 3 sore saya ambil, ini uang mukanya'' kata pak lurah sambil menyerahkan 1 lembar uang merah.
''Terimaksih pak'' jawabku.
Pak lurah kemudian pamit pulang, ia bahkan sempat memeluk ibu dan ayah mertuaku. Aku jadi dibuat bengong sendiri.
''Dia adalah adiknya ibu'' bisik mas Hans. Karena kaget dengan kata-katanya refleks aku langsung berbalik ke arahnya yang membuat bibir kami saling bertemu. Aku menatap dalam mata mas Hans, tak ku ingat kalau bibir kami saling bertemu.
''Ehem...''
Suara deheman ayah mertua menyadarkanku segera kuakhiri tatapan itu, aku membalik badanku memunggungi mas Hans yang membuat semua orang di ruangan itu tertawa termasuk para tetanggaku. Aku jadi merasa sangat malu, kurasakan pipiku menghangat.
Kenapa hatiku kembali bergemuruh saat bibir kami tak sengaja bertemu tadi, bahkan aku sampai tak sadar dan menatap matanya dalam-dalam, ada apa denganku? batinku bertanya.
Setelah banyak pembicaraan, kedua mertuaku juga oma mertua ijin untuk pulang. Mereka semua kembali kerumah mas Hans yang ada di bagian selatan pulau dengan menggunakan pesawat. Aku, mas Hans dan juga anak kami mengantar mereka sampai di bandara. Sebenarnya mereka memintaku untuk ikut tapi aku belum bisa untuk kembali rasanya aku bahkan sudah nyaman disini.
''Mas, kenapa mas tidak pulang bersama ibu?'' tanyaku saat kami sudah di perjalanan pulang dari bandara.
Mas Hans menautkan alisnya.
''Kenapa? Kamu tak suka mas tinggal disni?'' katanya.
''Bukan begitu mas, aku hanya...''
Aku tak melanjutkan ucapanku tak tahu apa yang harus aku katakan. Mas Hans tersenyum memandangku, entah kenapa aku sudah mulai bahagia jika melihat mas Hans tersenyum. Padahal jika di ingat kemarin aku masih membencinya.
''Mas akan tetap tinggal disini sampai kamu dan Hans mau ikut mas pulang'' katanya.
''Jika aku tak ingin pulang?'' tanyaku.
''Mas akan tetap disini bersama kalian'' katanya mantap.
.
Dua minggu sudah berlalu semenjak kedatangan keluarga mas Hans. Mas Hans masih tetap tinggal disini, meski kadang aku bersikap acuh padanya dia tetap baik padaku.
Hari ini, aku mulai lagi membersihkan kebunku karena sayuran disana sudah mulai habis. Aku mengambil cangkul hendak membersihkan kebun yang sudah tak ada sayurnya agar bisa ditanami lagi.
''Biar mas bantu'' kata mas Hans mengambil cangkul dari tanganku.
Aku biarkan saja, karena aku juga lelah karena tadi habis membabat rumput yang tumbuh disamping rumah.
Kulihat keringat bercucuran dari kening mas Hans. Aku tahu dia tak pernah melakukan pekerjaan seperti ini. Aku masuk kedalam rumah kuambil gelas dan teko air untuk mas Hans.
__ADS_1
Saat kembali tak kudapati lagi mas Hans disana, aku berpikir mungkin dia lelah dan berhenti mungkin dia sedang mencuci tangannya di sumur.
Aku berjalan menuju sumur, kulihat banyak darah tercecer di atas tanah menuju kearah sumur. Aku langsung kepikiran mas Hans rasa khawatir menyelimuti hatiku.