
Beberapa minggu telah berlalu semua masih berjalan dengan baik, orang-orang yang berjaga di depan kamarkupun masih ada. Jujur aku sangat salut kepada mereka, sangat jujur dan bertanggung jawab atas pekerjaan. Aku tak merasa kesepian selama ada mereka, meski aku tak mengenal mereka tapi menurutku mereka orang-orang yang enak untuk diajak berbicara. Jika aku pulang berkerja dan tidak terlalu lelah aku akan menemani mereka duduk-duduk di depan kamar sambil bersenda gurau.
Ngomong-ngomong soal pekerjaan, setiap hari selalu menjadi hari yang melelahkan karena begitu banyak pengunjung yang datang ke restoran. Baik itu yang hanya sekedar memesan minuman atau yang datang untuk memesan makanan. Tapi dibalik itu semua, aku terkadang dibuat kebingungan dengan tingkah beberapa pelanggan yang bertegur sapa denganku seperti orang-orang yang sangat mengenal dekat diriku.
''bisa ikut ke ruangan saya sebentar pelangi'' kata pak albert
''habis kau pelangi, hehehheehe'' ledek sandra kepadaku
''sudah sana tidak usah didengar si nenek lampir, mulutnya memang tidak ada remnya'' kata sari
''i..iya, kira-kira kenapa pak albert manggil aku ya, sar? tanyaku pada sari
''aku juga ngak tahu, tapi biasanya kalau sampai di panggil keruangannya ada yang penting sih'' kata sari sambil mengangkat kedua bahunya
.
Tok..tok..tok..
''permisi pak, apa saya bisa masuk?'' kataku berdiri di depan pintu ruangan pak albert
''masuk'' jawab seseorang di dalam sana, tapi kenapa suaranya berbeda dengan suara pak albert
krieeett
''permisi pak'' kataku saat pintu sudah terbuka
''selamat siang nona, masih ingat dengan saya?'' sapa seorang pria berbaju kaos warna biru yang sedang duduk di sofa di sudut ruangan
''se..selamat siang tuan'' jawabku gugup
''silahkan duduk nona, ada yang ingin saya bicarakan dengan nona'' sambil mempersilahkan aku duduk di sofa didepannya
''terimakasih tuan, ada yang bisa saya bantu?'' tanyaku
''saya ingin membahas tawaran pekerjaan yang saya sampaikan pada nyonya tempo hari? Bagaimana apa sudah ada keputusannya?'' jawabnya
ya ampun, kenapa aku bisa lupa memikirkan hal ini?sekarang kamu mau jawab apa pelangi? Haruskah aku menolak atau haruskah aku berpura-pura.
Ah, ya rasanya aku ingin membantunya tapi apa aku bisa, Tuhan tolong anakmu ini, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan?
''apa saya harus jawab sekarang tuan?'' kataku
''benar nona, sebelum......''
krieeetttt
bunyi pintu terbuka aku tidak menoleh tapi bisa kulihat pria yang tadi duduk di sofa berdiri kemudian membungkukkan badan
''selamat siang tuan'' katanya
hah?! tu.tu..tuan, apakah tuannya datang kemari? Aku harus apa?? pelangi coba berpikir, pakai otak kecilmu itu! aku bermonolog sendiri
''selamat siang indra, bagaimana apa kamu sudah menemukan calon istri saya?''
suara bariton dari arah pintu membuat jantungku memompa lebih cepat, tunggu..tunggu dulu apa tadi yang dia katakan calon istri, dan indra memanggilnya tuan? apa orang ini yang.... mungkinkah orang ini yang aku tolong tempo hari yang mengira aku calon istrinya? orang yang mengirim para pengawal ke kosanku? berbagai pertanyaan melayang-layang dalam pikiranku
''sudah tuan, apa tuan ingin bertemu dan berbicara dengannya? jika ia saya akan keluar'' kata indra
''baiklah indra tapi dimana dia sekarang? apa dia malu pada calon suaminya sendiri? apa dia bersembunyi? atau apa dia akan pergi meninggalkan aku lagi?'' kata pria yang indra panggil tuan tadi dengn suara sedikit serak
''tidak tuan dia ada disini'' jawab indra
''baiklah panggilkan dia saya ingin secepatnya bertemu dengannya, saya sangat rindu. Apa dia tidak rindu padaku kenapa dia bersembunyi dariku'' kata pria itu lagi
aku seperti seorang anak kecil yang sedang dihukum oleh ibunya tidak bisa berkata-kata bahkan untuk menelan air ludahku saja rasanya tenggorokanku tersumbat sesuatu yang sangat besar dan sepertinya pita suaraku juga sudah putus karena tak ada kata yang bisa terucap aku hanya diam membisu.
__ADS_1
Bisa kulihat di kaca lemari di depan tempatku duduk, pantulan pria yang baru datang itu sedang terduduk lemas di atas lantai sambil sesekali mengusap air mata yang keluar dari sudut netranya. Rasa iba seketika singgah didalam hatiku, rasanya ada yang tersayat didalam sana menghasilkan embun di kedua netraku.
''tidak tuan, diapun sama rindunya dengan tuan'' kata indra sambil membantu pria itu berdiri
kulihat dari kaca di depanku indra menuntun pria itu berjalan mendekat ke arahku. apa yang harus aku lakukan? apa aku harus berpura-pura sekarang? apa aku benar-benar akan melakukannya apa aku siap?
drap
drap
drap
deg...deg...deg..
suara langkah kaki keduanya bagai irama di film horor bagiku saat ini mereka berhenti hanya beberapa langkah dariku aku bingung karena aku tak tahu harus bagaimana menghadapi pria itu. Dia bahkan belum melihatku saat sudah sangat dekat denganku, kepalanya bahkan masih tertunduk lesu, mungkin karena tubuhku sangat kecil jadi tidak kelihatan bahwa sedang ada yang duduk di sofa, jika dilihat dari belakang.
''tuan bisa tunggu di sofa itu saya akan panggilkan nyonya''
''tidak indra, saya akan tetap berdiri disini sampai dia menemuiku, aku sangat merindukannya, bisa kau bawa dia sekarang''
indra mendekat ke arahku
''mohon bantuannya nona, beginilah kondisi tuan saya, dia sangat rindu pada calon istrinya. Saya mohon nyonya, seumur hidup saya akan berhutang budi sama nyonya'' kata indra saat sudah berada di sisi kiri sofa yang aku duduki
''aku harus bagaimana? apa yang harus kulakukan?'' kataku padanya
''nyonya cukup ikuti saja mau tuan, dia tidak akan menyakiti nyonya'' jawabnya
''baiklah''
hah!! ap kataku barusan baiklah?? aku setuju??? setuju untuk berbohong???? Tuhan ampuni anakmu ini. Entah kenapa aku langsung saja mengiakannya karena kasihan atau apa??. Indra segera menghampiri tuannya kemudian membawa tuannya berdiri di sisi sofa tempatku duduk
'' tuan, nyonya sudah ada disamping tuan, sudah menunggu tuan dari tadi'' jawab indra sambil menyuruhku berdiri dari sofa yang ku duduki
deg.
deg.
deg.
set..
kurasakan tubuhku menghangat, seperti sesuatu yang hilang telah kembali, aku menutup mata menikmati rasa yang tak bisa aku bayangkan seperti ada rasa nyaman dan tenang
''aku sangat merindukanmu sayang, apa kau tidak rindu padaku''
kata-kata itu membuatku tersadar aku membuka mata dan semakin membuat jantungku berdetak lebih kencang karena ternyata rasa hangat tadi adalah karena pelukan dari pria yang berdiri di sampingku tadi. Untuk pertama kalinya aku dipeluk oleh laki-laki lain selain mendiang ayahku yang membuatku hanya mematung ditempat tanpa merespon atau menolak pelukan itu.
Aku tidak berani mengangkat kepala melihat wajah pria yang sedang memelukku saat ini, ku lirik pada pintu banyak teman-teman yang sedang memperhatikan kami saat ini hal itu membuatku sangat malu dam semakin tertunduk.
''ada apa sayang, apa kau tidak suka aku memelukmu, jika boleh balaslah pelukanku sayang'' kata pria itu lagi sambil terisak
entah karena apa aku membalas pelukannya, sambil mengusap bahu sang pria, entahlah apa yang terjadi padaku sekarang dan apa yang akan teman-teman katakan padaku nanti, tapi aku tidak akan tega jika melihat orang lain menangis.
''terimakasih sayang'' katanya
setelah melepas pelukannya dia mengajakku duduk disampingnya diatas sofa yang tadi aku duduki.
Dia memperhatikanku agak lama dan terus menggenggam tanganku kemudian bertanya
''apa calon istriku tidak ingin melihat wajah calon suaminya?''
''ma..mama..maaf tuan saya malu'' jawabku tanpa mencoba memandangnya
''kenapa malu sayang, biasanya kamu selalu tersenyum memandangku tanpa berkedip, apa sekarang aku sudah tidak manis lagi?''
__ADS_1
''bukan.. bukan begitu tuan tapi.....''
''lihat aku sayang aku masih hans yang sama yang akan selalu mencintai dan menjagamu sepenuh hatiku'' katanya sambil mengangkat wajahku hingga kedua netra kami bertemu
Oooooo.... Tuhan begitu indah dan manis mahluk yng ada didepanku saat ini matanya yang indah hidungnya pipinya bahkan bibirnya sangat indah, senyumya sangat manis karena dua cekungan dipipinya, apa yang sudah aku lakukan, aku menipu orang yang sangat manis, tolong maaafkan aku Tuhan.
cukup lama kami saling menatap terlihat jelas ada sebuah sorot kerinduan dalam mata indahnya. Meski ku tahu itu bukan untukku tapi aku bisa menilai bahwa dia memang penyayang seperti yang orang-orang katakan.
''ayo kita keluar makan saya sudah lapar, indra ayo kamu juga harus makan'' kata hans
dia terus menggenggam tanganku sampai keluar ruangan bahkan saat banyak pasang mata yang melihat kami dia tetap tak melepaskan genggamannya.
''silahkan duduk sayang'' katanya sambil menarik sebuah kursi untuk aku duduk
''terimakasih'' jawabku
''teman-teman hari ini restoran tutup lebih awal, mari kita makan siang bersama dulu setelah itu kalian boleh pulang, jangan hawatir gaji akan tetap dibayar full juga akan ada bonus untuk kalian'' katanya pada teman-teman kerjaku
ehh...?? teman-teman tadi katanya, sebenarnya mereka temanku apa temannya
''yeayyyyyyyy, akhirnya pak bos kita sudah kembali'' sorak teman-teman kerja
''bos?''gumamku lirih
sementara pria tadi masih terus memandangku dengan senyum manisnya, aku masih terus menunduk, entah bahaimana wajahku sekarang mungkin sudah memerah seperti tomat matang karena merasa malu terus di tatap oleh seorang pria yang bahkan menganggap aku adalah orang lain seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan. Tapi bagaimnapun aku bukanlah dia, orang yang sangat ia sayangi.
Setelah tidak ada pengunjung restoran segera di tutup, kami makan siang bersama, seperti tidak ada jarak di antara mereka antara bos dan pegawai. Bahkan aku baru tahu bahwa restoran ini milik pria yang menganggapku calon istrinya.
''sayang, kalau sudah selesai makan aku akan mengantarmu pulang'' kata tuan hans
''terimakasih tuan'' jawabku
''sayang jangan panggil tuan dong, meski kamu bekerja disini kamu tidak boleh panggil saya tuan, panggil saya seperti dulu sweety''
''hah?? eh.he i..iiiya tuan.. maksud saya sweety'' kataku gugup. bukan gugup karena aku sedang jatuh cinta, tapi gugup karena semua mata memandangku bahkan sandra juga memandangku meski tatapannya berbeda dari teman-teman yang lain, dia menatapku seperti predator yang akan memerkam mangsanya.
''saya ambil tas saya dlu tuan.. eh.. sweety'' jawabku sambil berlalu menuju ke ruang ganti
''senang banget liat pak bos udah bangkit lagi, kita beruntung ada pelangi yang bisa mengembalikan pak bos kita menjadi seperti semula'' samar-samar kudengar percakapan teman-temanku didalam ruang ganti sebelum aku masuk.
krieettt
segera kubuka pintu
''terimakasih pelangi'' kata teman-temanku saat aku berada di ruang ganti mereka bergantian memelukku
''kamu memang pelangi bagi kami'' katanya lagi
setelah berbasa basi aku keluar ruang ganti untuk bersiap pulang
''sudah siap sayang?'' suara bariton milik tuan hans mengagetkanku
''su..sudah tuan hans..eh maksudnya sudah sweety'' jawabku
dia lantas menggandeng tanganku menuju ke sebuah mobil kemudian mengantarku pulang.
.
Tiba di depan kosku semua orang-orang yang berjaga disana membungkuk memberi hormat pada kami.
''selamat datang tuan dan nyonya''
''terimakasih'' jawab tuan hans
Tuan hans hanya mengantarku sampai di depan kamar kemudian pamit pergi karena katanya ada urusan penting
__ADS_1
''tolong jaga calon istriku dengan baik'' katanya sebelum berlalu pergi