PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
CIUMAN PERTAMA


__ADS_3

Sehabis menyelesaikan sarapan pagi, kami duduk di ruang keluarga sambil berbincang-bincang, sementara mas Hans kembali ke kamar untuk mengganti bajunya karena sudah kusut karena terus menggendongku tadi. Hanya 10 menit mas Hans sudah keluar dari kamar dan sudah mengganti bajunya.


''Ayo sayang kita berangkat, banyak orang yang ingin mengenalmu'' kata mas Hans


Aku duduk di kursi roda, kami pamit pada semua orang, mas Hans mendorong kursi rodaku sampai di samping pintu mobilnya. Saat hendak turun dari kursi roda, mas Hans tak membiarkan dia menggendongku masuk ke dalam mobil.


.


''Selamat pagi Anton, apa bisa menggantikan saya rapat dengan para dokter, saya harus ke kantor sekarang'' kata mas Hans menelpon seseorang.


''Ok, terimakasih'' katanya lagi kemudian memutuskan panggilan.


Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah mewah itu, didalam mobil ada mas Hans, aku dan Indra sebagai pengemudi.


''Ndra, kita ke kantor dulu ya sekarang'' kata mas Hans pada Indra


''Iya tuan, apa ada hal lain lagi?'' tanya Indra sambil tersenyum pada kami melalui kaca diatas kepalanya


''Hem.. apa bisa kau tutup mata dan telingamu'' kata mas Hans sambil membalas senyum Indra. Entah apa arti senyum mereka berdua, tak lama ada sekat pembatas terpasang antara tempat kami dengan bagian kemudi tempat Indra. Aku tak heran karena mobil yang kami naiki memang salah satu mobil mewah.


''Mas, kenapa ini ditutup?'' tanyaku pada mas Hans


''Tidak apa-apa sayang mas hanya tidak mau Indra melihat dan mendengar apa yang akan kita lakukan, kan dia nanti terbawa suasana diakan masih jomblo, hehehe'' kata mas Hans


''Maksudnya mas bagai....'' belum selesai ucapanku mas Hans sudah membungkam bibirku dengan bibirnya. Karena kaget segera kudorong tubuh mas Hans, dia hanya melepas ciumannya sebentar kemudian memelukku dan melanjutkan ciumannya lagi. Karena badanku yang cukup kecil tenagaku tak mampu melepaskan pelukan mas Hans. Aku hanya diam saja tanpa membalas atau menolak, toh sekarang kami sudah suami istri. Tapi entah kenapa air mataku menetes dan mengenai punggung tangannya. Mungkin karena ini ciuman pertamaku dengan seorang laki-laki.

__ADS_1


''Maaf.. maafin mas, apa mas menyakitimu?'' tanyanya setelah melepaskan pelukannya karena sadar ada air mata yang jatuh di tangannya.


''Tidak mas, aku tidak apa-apa, aku hanya belum pernah seperti ini'' kataku malu-malu


''Syukurlah, mas pikir mas sudah menyakitimu, apa mas bisa memelukmu lagi?''


''Boleh mas, maaf karena aku belum terbiasa dengan mas, belum bisa mengerti kemauan mas''


''Tidak apa-apa sayang, yang penting kamu harus sehat dulu, aku akan menunggu sampai kamu siap sayang'' jawab mas Hans sambil mengelus pelan rambutku.


Tidak butuh waktu lama kami sudah sampai di depan sebuah gedung pencakar langit yang menurutku sangat mewah, mungkin karena aku dari keluarga yang tak mampu dan di desa tak ada gedung seperti ini. Mobil berhenti di parkiran gedung, gegas Indra turun dan membuka bagasi, mengeluarkan kursi roda dan meletakkan di sisi mobil tempatku duduk setelah Indra membuka pintu. Mas Hans keluar lebih dahulu, menggendongku keluar dari mobil, kemudian mendudukkan aku di atas kursi roda.


Kami berjalan memasuki lobi kantor tersebut kulihat sangat banyak karyawan disana, setiap kami melewati mereka, mereka tersenyum sambil setengah membungkukkan badan. Sekiranya apa jabatan suamiku disini kenapa mereka membungkuk pada kami? Pertanyaan itu muncul dalam pikiranku.


Ting.


Ting.


Pintu lift terbuka, kami sampai pada sebuah lantai di gedung mewah ini, ku lihat hanya ada satu ruangan disini namun sangat luas. Mas Hans, mendorong kursi rodaku masuk kedalam ruangan itu.


''Sayang kamu mau duduk disini apa mau berbaring di kamar? Sebentar lagi mas akan mengikuti rapat bersama para pemegang saham, atau kamu mau ikut mas rapat?'' tanya mas Hans


''Apa aku boleh tidur saja mas, rasanya kakiku sedikit nyeri'' jawabku berbohong. Sebenarnya aku sangat malu, apalagi tadi mas Hans menciumku di dalam mobil jika terus bersamanya entah apa yang akan terjadi lagi.


''Baiklah sayang, kamu istirahat disini, mas akan rapat cuma sebentar hanya 30 menit, setelah itu kita lanjutkan yang tadi'' kata mas Hans sambil membantuku berbaring di atas ranjang. Ternyata ranjang yang aku tiduri bisa berputar 180°, mas Hans memutarnya menghadap ke arah jendela, katanya biar aku tidak bosan karena akan menunggunya saat mengikuti rapat. Aku bisa melihat pemandangan kota melalui jendela kamar.

__ADS_1


''Terimakasih mas'' hanya itu yang bisa aku katakan.


Setelah mas Hans dan Indra meninggalkan ruangan untuk pergi mengikuti rapat. Aku mencoba untuk tidur ku coba menutup mataku namun apa yang terjadi di mobil tadi terbayang-bayang terus dalam pikiranku. Sepertinya aku tak bisa tidur, aku meraih kursi roda kemudian duduk di atasnya. Kujalankan kursi roda keruangan mas Hans, di meja aku melihat foto pernikahan kami juga didinding di atas sofa diruangan itu ada foto pernikahan kami yang dicetak sangat besar hampir sepanjang sofa yang bisa diduduki tiga orang.


Aku mendekat kearah meja mas Hans, kucoba merapihkan kertas-kertas yang berhamburan disana, kubersihkan mejanya pakai kemoceng, tiba-tiba suara pintu terbuka. Segera kuputar kursi roda, kupikir mas Hans dan Indra, aku terpaku melihat seorang wanita cantik dengan dandanan super mewah seperti yang sering kulihat dipakai artis-artis.Dia juga diam ditempatnya sebentar kemudian berlalu begitu saja kedalam ruangan tanpa permisi.


Alisku tertaut melihat tingkahnya yang tanpa permisi langsung masuk, aku hanya meliriknya sebentar, kulihat dia sudah duduk di atas sofa sambil menyilangkan kedua kakinya, aku kembali merapihkan kertas-kertas di atas meja mas Hans. Karena wanita tadi terus memperhatikanku aku jadi merasa risih.


''Mbak OG baru ya disini? Koq bisa-bisanya mas Hans nerima karyawan yang cacat kayak gini?'' kata wanita itu sambil memperhatikanku dari kepala sampai kaki.


Dadaku terasa sesak mendengar perkataannya, rasanya aku ingin menangis tapi berusaha kutahan air mataku.


''Mas Hans itu tidak mau kalau sembarang orang menyentuh barang-barang pribadinya, apa lagi yang ada di atas mejanya. Mbak tolong ambilkan saya air minum dong'' katanya wanita itu lagi. Aku hanya menoleh sebentar kemudian berlalu ke arah tempat air minum, kutuang segelas dan kuberiakan pada wanita itu, dia masih menatapku dengan tatapan menghina.


''Apa ada yang bisa saya bantu lagi mbak?'' kataku sambil mengambil foto pernikahan kami dari atas meja kemudian mengelapnya dengan tisu. Kulihat wanita itu berdiri, dia berjalan menghampiriku merebut paksa foto itu dari tanganku kemudian meletakkannya kembali ke atas meja tanpa melihatnya.


''Kan sudah saya bilang mbak, kalau mas Hans tidak suka barang-barang pribadinya disentuh oleh sembarang orang, kamu bisa kerja ngak sih!'' kata wanita itu sambil menunjuk wajahku.


Karena aku tidak ingin mas Hans mengalami masalah karena aku, aku memutuskan untuk kembali saja kedalam kamar dan berbaring menunggu mas Hans kembali. Saat membuka pintu kamar, tiba-tiba saja wanita tadi sudah menghalangi jalanku dan menutup kembali pintunya. Dia melihatku dengan mata melotot.


''Kamu itu bodoh atau bagaimana, kan sudah kubilang mas Hans tidak suka barang-barang pribadinya disentuh, kamu malah berani-berani masuk ke ruangan pribadinya kamu pikir kamu siapa hah?! Saya saja kekasihnya tak pernah berani menyentuh barang-barangnya, apa lagi masuk keruangan pribadinya. Sekarang mendingan kamu keluar, oh,ya lupa kamu kan tidak bisa keluar sendiri, sebagai kekasih mas Hans yang baik, aku akan mengantarmu sampai di luar ruangan'' katanya sambil mendorong ceoat kursi rodaku, hanya beberapa detik aku sudah berada di luar ruangan.


''Sekarang pergilah ketempat istirahat para OG, aku tahu kamu pasti lelah dengan keadaan kamu yang seperti itu, aku juga heran koq mas Hans bisa nerima karyawan seperti kamu'' kata wanita itu.


''Tapi, saya bukan O...'' belum selesai kalimatku pintu sudah tertutup.

__ADS_1


''Apa benar dia kekasih mas Hans? Lalu aku ini siapa jika dia kekasihnya mas Hans?'' gumamku, air mataku menetes tanpa bisa kutahan lagi. Kutumpahkan air mata yang sedari tadi kutahan.


__ADS_2