PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
AKU TITIP CALON ISTRI DAN PUTRIKU


__ADS_3

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, hari pernikahanku tinggal menghitung hari. Persiapan pernikahanpun sudah hampir selesai, bu Dita mengambil banyak sekali bagian dalam perencanaan pernikahanku kali ini, aku merasa seperti aku memiliki seorang ibu lagi.


Claudy semakin akrab dengan kak Robin, dia bahkan tak sungkan-sungkan lagi untuk bermanja-manja pada kak Robin. Melihat kebersamaan Claudy dan kak Robin, aku sangat bersyukur, meski dia bukan ayah kandungnya tapi dia sudah menganggap anakku sebagai putrinya, dengan telaten dia menjaganya. Tak segan-segan iya memperkenalkan Claudy sebagai putrinya kepada teman-temannya.


Aku juga cukup bahagia dengan hubungan ini, rasa cinta dan kepercayaan mulai aku pupuk kembali di hatiku, rasa yang pernah mati saat aku terluka karena kisah cintaku bersama mas Hans.


Empat hari menjelang pernikahan kak Robin datang ke rumah, dia pamit padaku dan bu Dita, katanya ia ada tugas ke daerah kalimantan dan akan pulang dua hari sebelum pernikahan. Sebenarnya aku kurang setuju ia menerima tugas itu, tapi apalah daya dia seorang aparat negara yang bertugas untuk menjaga keamanan negara. Bukan tanpa sebab aku melarangnya, firasatku mengatakan jika sesuatu yang buruk akan terjadi.


''Anggi, aku mendapat tugas ke daerah kalimantan. Aku tak akan lama dua hari sebelum pernikahan aku sudah kembali'' Kata kak Robin saat menemuiku dan bu Dita dirumah.


''Tapi kak kita akan menikah, apa kakak tidak bisa tidak menerima tugas sampai kita selesai menikah?''


''Maaf Anggi, aku tidak bisa menolak tugas ini, kamu tahukan pekerjaanku. Tapi aku janji, aku akan kembali dua hari sebelum pernikahan dan kita akan menikah''


Kulihat mata kak Robin terlihat sangat sayu, entah perasaanku saja tapi aku melihat gurat kesedihan dalam tatapannya.


''Biarkan saja nak Robin pergi, itu memang tugasnya nak, jangan membebani pikirannya dengan ketidak ikhlasanmu melepasnya bertugas. Berdoa saja nak, tugasnya berjalan dengan lancar dan dia kembali dengan selamat'' Kata bu Dita.


''Baiklah kak, tapi berjanjilah kakak akan pulang untukku dan Claudy''


Mataku berkaca-kaca saat mengatakannya namun apalah dayaku, aku harus mengiklaskannya. Aku hanya berharap firasatku hanya firasat semata, hanya doa yang bisa aku berikan untuk kak Robin.


''Aku berjanji Anggi, bu, aku titip calon istri dan putriku''


''Tentu nak Robin, ibu akan menjaga mereka untukmu'' Kata bu Dita.


Kak Robin pamit padaku dan bu Dita, ia tak sempat menemui Claudy karena harus berangkat saat itu juga. Dengan senyuman kulepas kepergian kak Robin, meski hati rasanya ingin menangis namun tetap tak ku tampakkan kesedihan didepan kak Robin.


Setelah mobil kak Robin menghilang dari pandangan, aku terduduk lemas dilantai dengan air mata mengalir deras di pipi. Aku merasa sepertinya kak Robin tak akan kembali lagi, entah kenapa aku bisa mempunyai Firasat seperti itu.


.

__ADS_1


Keesokan paginya, aku terbangun saat sinar matahari sudah masuk menembus selah-selah tirai jendela kamarku. Setelah berdoa dan merapikan tempat tidur aku segera mencuci muka kemudian menuju ke dapur untuk membuat sarapan.


Ting...


Suara notifikasi pesan masuk dari aplikasi hijau di ponsel membuatku segera merogoh saku dan membuka pesan itu. Harapanku hanya satu, yaitu pesan dari kekasihku kak Robin, namun dugaanku salah. Ternyata pesan itu dari Indri, seorang teman yang bermukim di kalimantan, ada apa dia menghubungiku pagi-pagi begini?


[Pelangi, kamu sudah lihat berita belum?] Isi pesan Indri.


[Berita apa In?] balasku.


[Coba kamu buka video yang aku akan kirim, ada korban penembakan dan dia mirip calon suamimu. Bukankah kamu bilang kalau ia sedang ada tugas di kalimantan?] Pesan Indri lagi.


[ Atau coba kamu buka facebook, videonya sudah viral] pesan Indri lagi.


[Ok In, makasih infonya] Balasku.


[Ok, semoga saja bukan calon suamimu] Pesan Indi.


[Amin] Balasku.


''Halo bu, selamat pagi'' Sapaku.


''Halo Anggi, ini kak Nisa. Apa kamu bisa kerumah sekarang, ada yang ingin kami sampaikan padamu'' Kata kak Nisa di ujung telpon.


''Ada apa kak?'' Tanyaku.


''Tidak ada apa-apa dek, kamu kemari ya sekarang. Bu Dita dan Claudy juga sudah ada disini. Tadi mereka di antar pak Beni kemari, kamu juga kesini sekarang ya''


''Baiklah kak, aku akan segera kesana'' Jawabku kemudian mematikan sambungan telpon.


Segera aku bersiap untuk kerumah kak Robin, entah kenapa pikiranku jadi terarah pada pesan yang dikirim Indri tadi. Saat aku sudah ada selesai bersiap-siap segera aku berlari ke arah garasi ingin mengeluarkan mobil. Akan tetapi ternyata bu Dita menyuruh pak Beni untuk menjemputku, karena pikiranku juga sudah tak karuan, aku memilih ikut pak Beni, dari pada nanti kenapa-kenapa di jlan karena tak fokus menyetir.

__ADS_1


''Pak, sebenarnya ada apa? Kenapa semua orang ada dirumah kak Robin?'' Tanyaku pada pak Beni, dalam hati sudah memiliki firasat bahwa sesuatu yang buruk sudah terjadi pada kak Robin, meski pikiranku menolak itu semua.


Setengah jam perjalanan akhirnya kami tiba di rumah kak Robin. Sesampainya disana, sudah banyak orang disana, mereka memakai pakaian hitam ada juga yang putih namun tak seberapa. Beberapa karangan bunga sudah berbaris rapi di halaman rumah, namum aku tak membacanya karena hati dan pikiranku terlalu fokus pada kak Robin. Bahkan bendera putih yang ternyata sudah terpasang di depan rumah tak aku perhatikan.


Setibanya didalam rumah aku melihat semua orang sedang menangis, bu Dita, tante Dewi, om Jordi dan kak Nisa sedang duduk di sofa sambil berpelukan dan menangis. Sementara putriku sedang duduk diatas karpet sambil menangis tersedu-sedu memeluk sebuah foto.


''Mama.....mmmm...papa Robin ma.......mmmmm'' Claudy menghampiriku sambil menangis, saat sudah melihatku di dalam rumah.


ohh Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa dengan kak Robinku? Batinku bertanya-tanya.


Tak lama seorang laki-laki yang memiliki paras seperti kak Robin datang menghampiriku. Seketika pikiran burukku tentang kak Robin hilang, ada rasa lega saat melihat laki-laki yang aku cintai ada di depanku dan dia baik-baik saja.


''Kamu yang sabar ya, ikhlaskan adikku, doakan dia bahagia bersama bapa di sorga'' Kata laki-laki itu.


''Memangnya siapa yang meninggal kak Robin? Tadi aku sangat khawatir jika hal buruk terjadi pada kakak. Tolong jangan buat aku khawatir kak, aku bisa sakit jika kakak pergi lagi, tolong jangan pergi lagi. Tidak lama lagi kita akan menikah jadi tolong jangan pergi-pergi lagi''


Kupeluk erat-erat tubuh laki-laki yang sedang berdiri di depanku ini. Tapi aku tak merasakan kehangatan dan ketenangan saat memeluknya berbeda jika aku memeluk kak Robin seperti biasa.


Wiuuuuuuuu...


Wiuuuuuuuu...


Suara sirine mobil polisi dan mobil ambulans bersahut- sahutan memasuki pekarangan rumah kak Robin. Aku berpikir, kira-kira siapa yang meninggal? Kenapa kak Robin menyuruhku untuk sabar dan ikhlas, seperti aku akan sangat kehilangan.


Beberapa anggota kepolisian mengusung sebuah peti mati dari atas mobil ambulans. Seketika kak Nisa dan bu Dewi berlari menghampiri para petugas polisi saat petinya sudah diletakkan di atas karpet yang tadi diduduki Claudy. Mereka menagis histeris, air matakupun tak berhenti keluar, sejak peti dikeluarkan dari mobil ambulans hingga saat sudah berada didalam rumah. Aku merasa sangat terpukul dan sangat kehilangan dengan kepergian orang yang ada didam peti itu, meski aku belum melihatnya. Aku masih berdiri mematung di sisi pintu, menangis sesegukan, merasakan ada yang teramat sakit didalam sana bagai tertimpa batu yang sangat besar, terasa sesak. Laki-laki yang mirip kak Robin juga histeris saat melihat orang yang ada di dalam peti.


''Apa kau tak ingin melihatnya?'' Kata seorang petugas polisi yang berdiri di sebelahku, aku mengenalnya, dia teman kak Robin.


''Ia pak, saya akan melihatnya'' Kataku seraya berjalan pelan menuju ke arah peti yang sudah dibuka. Hatiku begitu terasa sakit saat semakin dekat ke arah peti itu, air mataku mengalir dengan sangat deras dan dadaku semakin sesak, kurasakan sakit yang teramat sakit didalam sana. Tak lama kak Nisa berdiri dan memelukku.


''Kamu harus merelakannya dek, kamu harus ikhlaskan Robin huhuhhuhu......'' Kata kak Nisa sambil menangis. Segera kulihat pria yang ada disebelah peti yang memiliki paras dan perawakan seperti kak Robin.

__ADS_1


''Maksud kakak? Robin ada disini kak dia baik-baik saja.'' Kataku pada kak Nisa dan menunujuk pria yang ada disamping peti yang juga sedang menangis.


Kak Nisa mengiringku semakin mendekat ke peti itu, kulihat Claudy sedang mengelus kepala orang yang berda didalam peti sambil berurai air mata.


__ADS_2