PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
KEMBALINYA CINTA PERTAMA


__ADS_3

Pria itu semakin mendekat, namun aku belum bisa mengenalinya. Kucoba lagi mengingat-ingat siapa laki-laki yang ada di depanku ini, karena aku merasa tak asing dengan wajahnya.


Semakin mendekat, aku seperti mengenal wangi Parfum dari petugas polisi yang ada di depanku namun aku tak mengingat persis siapa dia.


''Hai, Anggi''


Anggi?? Siapa laki-laki ini kenapa ia tahu nama panggilanku saat sekolah dulu? Apa ia teman sekolahku dulu? Tapi jika ia, kenapa aku sama sekali tak mengenal pria ini?


''Ma..maaf, apa tuan kenal dengan saya?'' Kebiasaanku memanggil tuan kepada pria yang terlihat lebih tua dariku.


''Hehehehe, apa kamu benar-benar tidak ingat padaku?'' Tanyanya.


''Maaf tuan saya tidak ingat sama sekali''


Pria yang ada dihadapanku hanya menggeleng-geleng pelan sambil terkekeh. 'Ya, ampun, dia manis sekali ada lesung pipinya' Batinku.


''Kalau buku ini apa kamu juga tidak ingat?'' Katanya menyerahkan sebuah buku.


Kuraih buku di tangannya. Kulihat baik-baik buku itu dan air mataku menetes saat mengingat semua kenangan tentang buku itu.


Buku ini adalah buku diaryku dan sahabatku saat kami masih sekolah dulu. Tiap hari kami berdua menulis kegiatan hari itu, doa dan harapan kami di buku ini. Kupandangi laki-laki yang ada di hadapanku kini, apa ia adalah Robin? Sahabat yang sangat baik padaku dari dulu?


''Dimana tuan memdapatkan buku ini?'' Tanyaku pada petugas polisi itu. Dia hanya tersenyum menatapku. Ada lesung pipinya kurasa sahabatku juga punya. Ragu-ragu aku bertanya.


''A... apa.... apa tuan bernama Robin?'' Tanyaku gugup.


''Menurutmu bagaimana Anggi? Apa kau sudah melupakan sahabatmu ini?''


Pandanganku mengabur seiring dengan terkumpulnya cairan bening di dalam mataku, kemudian berlomba-lomba turun membasahi pipiku. Tanpa sadar aku memeluk Robin, aku sangat menyanyangi Robin, selain Robin dan orang tuanya tak ada orang lain lagi yang peduli padaku saat masih tinggal di desa. Robin sudah kuanggap sebagai kakakku dan orang tuanya menganggapku sebagai anaknya. Usiaku dan Robin berbeda 3 tahun.


.

__ADS_1


Setiap sore hari, setelah aku pulang dari rumah tetangga, bekerja sebagai buru cuci, Robin akan datang kerumah membawa makanan buatan ibunya, kami akan belajar dan setelah itu baru kami makan. Selepas makan biasanya Robin langsung pamit karena hari sudah mulai senja. Hal itu berlangsung setiap hari semenjak kepergian orang tuaku dan aku tinggal bersama mbok serly, sampai setelah mbok Serly meninggal dunia.


Sampai suatu hari, saat kak Robin sudah tamat SMA, mereka sekeluarga pindah ke kota lain, karena ayahnya yang seorang dokter mendapat pekerjaan di rumah sakit di kota lain. Saat itu aku baru kelas 2 SMP. Sejak saat itu aku kembali menjalani hari-hariku, seorang diri. Aku tak tahu apa yang akan aku berikan sebagai kenang-kenangan pada kak Robin saat itu, karena aku tak punya harta, atau barang-barang bagus yang bisa kuberikan pada kak Robin sebagai kenang-kenangan. Saat itu bagiku hanya buku Diary kami ini harta yang aku miliki, buku diary itu kemudian kuberikan pada kak Robin sebagai kenang-kenangan.


''Kak hanya ini yang bisa aku berikan sebagai kenang-kenangan, maaf kakak aku tak punya apa-apa yang pantas aku berikan pada kakak'' Kataku waktu itu sambil menangis sesegukan.


''Ini adalah kenangan paling berharga Anggi, aku akan menyimpannya dan aku akan kembali suatu hari nanti untuk menjemputmu dan membuatmu bahagia'' Kata kak Robin, menghapus air mata yang mengalir dipipiku, melepas kepergian orang-orang baik yang selalu ada untukku.


Kulepas kepergian kak Robin sekeluarga dengan air mata. Orang tua kak Robin, memelukku sebelum mereka benar-benar masuk kedalam mobil dan berlalu pergi menghilang dari pandanganku.


.


Kak Robin melepas pelukannya dan menghapus air mata yang tak mau berenti mengalir dari kedua netraku. Kutatap dalam-dalam netra coklat milik kak Robin, matanya juga berkaca-kaca. Aku tahu kak Robin ingin menangis, hanya saja ia tak mau terlihat menagis dihadapanku. Aku sangat tahu kak Robin.


Toktoktok


Toktoktok


Daun pintu terbuka dan muncullah wajah cantik putriku bersama bu Dita disana.


''Mama..''


Claudy berlari ke arahku dan memelukku. kemudian ia beralih menatap kak Robin yang sedang berdiri dengan masih memegang tanganku di samping ranjangku.


''Ehem'' Bu Dita berdehem dan seketika kak Robin melepas genggaman tangannya. Kulihat mukanya yang putih kini bersemu merah, apa kak Robin malu? Hehehe.


''Gimana keadaan kamu nak?'' Tanya bu Dita sambil mengidipkan mata dan menatap dalam padaku. Aku tahu arti dari tatapan bu dita, dia sedang bertanya tentang siapa pria yang ada di sampingku.


''Kak Robin kenalkan ini bu Dita, bi Dita ini....''


''Saya orang tua angkat Pelangi nak Robin'' Sela bu Dita.

__ADS_1


Kenapa bu Dita mengatakan kalau aku anak angkatnya, kenapa ia tidak jujur kalau aku adalah menantunya?


''Halo bu, saya Robin. Saya temannya Pelangi? Oh iya anak cantik ini siapa?'' Tanya kak Robin.


''Itu anak saya kak, anak saya sudah dua, satu laki-laki dan satu perempuan. Kak Robin sudah punya anak berapa?'' Tanyaku.


Kulihat wajah kak Robin berubah sendu, saat aku mengatakan sudah memiliki anak. Apa kak Robin sudah tidak mau berteman denganku jika sudah aku punya anak. Entah apa yang dipikirkannya.


''Oh kamu sudah punya anak? Oh iya suami kamu mana kok kamu tidak kenalin juga sama kakak? Halo anak cantik kenalkan nama om, om Robin'' Kata kak Robin sambil tersenyum mengusap lembut kepala Claudy.


''Halo om Robin, nama aku Claudy, bisa juga om panggil Audy'' Kata putriku tersenyum.


Apa yang harus aku jawab, apa harus aku bilang kalau suamiku sudah menikah lagi dan sekarang aku sudah janda. Karena dalam agama kita tidak diperbolehkan memiliki dua istri atau dua suami.


Aku menatap bu Dita, bingung apa yang harus aku katakan. Jika kukatakan aku punya suami, pasti kak Robin banyak tanya lagi. Jika aku katakan sudah tak punya suami, aku takut melukai hati bu Dita.


''Begini nak Robin, Pelangi ini sudah pisah sama suaminya'' Kata bu Dita.


Mataku membulat mendengar perkataan bu Dita. Aku pikir bu Dita akan marah jika aku bilang sudah pisah dengan suami, ehh, malah bu Dita yang ngomong.


''Oh gitu bu. Kalau begitu saya permisi dulu, saya masih harus ke kantor. Jaga kesehatan kamu ya Anggiku, Claudy sayang jaga mamanya ya''


''Bu saya pamit, tolong jaga Anggi, terimakasih''


Kak Robin kemudian berlalu keluar ruangan setelah pamit pada bu Dita. Setelah tak terdengar lagi suara langkah di depan ruang rawatku, bu Dita menghampiriku ke ranjang.


''Nak, apa benar tadi itu cuma teman? Ibu rasa dia menyukaimu nak. Ibu bisa melihat dari tatapannya dan ibu juga melihat itu di matamu nak. Jika kamu juga menyukainya, ibu akan sangat bahagia jika kalian hidup bersama. Claudy mau ngak kalau om tadi jadi papa Claudy?''


'Hehehe, ada-ada saja bu Dita ini mana mungkin kak Robin suka padaku hahaha' Batinku tertawa. Sementara anakku Claudy terlihat sedang berpikir, mungkin memikirkan pertanyaan konyol bu Dita. Ya, konyol, karena mana mungkin kak Robin jadi ayah Claudy.


''Aku mau oma, kalau aku liat om tadi sayang sama mama, jadi pasti sayang aku juga'' Katanya polos.

__ADS_1


Aku memang pernah menaruh hati pada kak Robin, dia adalah cinta pertamaku, tapi mengingat status dan banyak perbedaan lain diantara kami, aku mencoba melupakan rasa itu. Apa lagi saat aku menikah dengan mas Hans, cintaku sudah aku serahkan sepenuhnya pada mas Hans. Setelah tak bersama mas Hans, rasa cinta dihatiku untuk laki-laki sepertinya sudah mati, hanya tersisa untuk anak-anakku.


__ADS_2