PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
PESAN CINTA


__ADS_3

Dengan tangan bergetar kuraih kertas dari tangan kak Nisa. Kubuka kertas yang berisi pesan yang ditulis tangan oleh kak Robin. Dengan mata berkaca-kaca kubaca kata demi kata, bait demi bait. Ada kebahagiaan dalam setiap kata yang tertulis disana, namun di sisi lain, kesedihan meliputi hatiku karena ini bukanlah saat yang tepat untuk mengetahui isi dari surat ini.


[ Untuk Anggi kekasih hatiku


Maafkan aku yang selama ini tak pernah mencarimu. Maafkan aku yang selama ini tak tahu jika kau hidup begitu menderita.


Apa kau tahu jika aku mencintaimu? Kenapa kau menyimpan dukamu sendiri? Kenapa tak mencariku? Bukankah kita sudah berjanji jika kita akan membagi suka maupun duka meski kita tak bersama. Kenapa kau menyembunyikan dukamu dariku?


Mungkin kamu tak mencintaiku, mungkin kau hanya menganggap janjiku dulu hanya sebagai candaan, namun bagiku, itu adalah sebuah keseriusan. Di saat kita akan berpisah, aku sudah berjanji bahwa aku akan kembali dan membawamu bersamaku untuk hidup bahagia. Janji itu aku ucapkan dengan sepenuh hati dan kutanamkan dalam hatiku bahwa aku akan menepati janjiku itu.


Namun saat aku kembali ke desa, aku tak menemukanmu disana. Kucoba bertanya pada bibimu, namun bibimu berkata bahwa kau sudah menikah dan hidup bahagia bersama suamimu. Meski hatiku sakit karena impian untuk hidup bahagia bersamamu telah sirna sudah. Namun aku juga bahagia jika sudah ada orang lain yang bisa menggantikanku membuatmu bahagia.


Meski bi Ratna mengatakan jika kau sudah hidup bahagia, entah mengapa hati kecilku berkata yang sebaliknya. Setelah menyelesaikan pendidikanku di salah satu lembaga pendidikan milik negara dan menjadi salah satu abdi negara, aku memutuskan untuk mencarimu. Aku berusaha mencari informasi dari orang-orang yang mungkin mengenalmu, sampai akhirnya aku menemukan alamat rumah suamimu dan mendatangi rumah suamimu.


Disana aku bertemu dengan suamimu dan seorang wanita bernama Sandra. Saat kutanyakan tentang dirimu mereka malah mengusirku dan mengatakan bahwa kau sudah meninggal. Hatiku terasa begitu hampa mendengar perkataan mereka, aku tak akan bisa jika kau benar-benar sudah tiada. Aku tak percaya begitu saja dengan ucapan mereka saat hendak pergi dari sana seorang ibu paruh baya bernama bu Asih menghampiriku. Ia memberiku sebuah alamat, yang katanya itu adalah alamat rumahmu sekarang. Setelah mengucapkan terimkasih, aku mulai mencari ke alamat yang dimaksud. Dengan bantuan teman-teman, aku bisa dengan mudah menemukan alamat rumah bu Dita. Disana aku melihatmu, namun tak berani untuk menemuimu, aku hanya memandangmu dari jauh.


Setelah hari itu setiap hari aku selalu mengawasimu dari jauh, aku hanya memastikan bahwa kau selalu baik-baik saja. Sampai insiden yang terjadi di rumahmu tempo hari, membuatku bisa bertemu langsung denganmu, karena aku ditugaskan untuk menyelesaikan kasus itu. Sebenarnya tidak benar-benar di tugaskan namun aku yang meminta dan Tuhan merestui semuanya.


Saat aku melihatmu di rumah sakit, hatiku begitu teriris menatap dirimu yang terbaring dalam keadaan lemah. Ingin rasanya aku memelukmu namun aku belum bisa melakukannya, dalam hati aku berjanji jika mulai saat itu aku akan selalu menjagamu.

__ADS_1


Ketika kita sering bertemu, aku merasa sangat bahagia, maka dari itu aku memberanikan diri untuk melamarmu melalui bu Dita. Bu Dita sudah menceritakan apapun tentangmu, dan aku sudah memutuskan bahwa aku akan menjadikanmu bagian dari hidupku dan akan menjagamu juga anakmu dan bu Dita.


Apa kau tahu hatiku sangat bahagia saat kau menerima lamaranku, tak sia-sia aku menunggumu.


Tinggal empat hari lagi kita akan menikah, inginku menghabiskan waktu bersamamu namun aku mendapat panggilan tugas di daerah kalimantan. Sebagai abdi negara, aku tak bisa meninggalkan tugasku, namun aku berjanji dua hari sebelum pernikahan kita aku akan kembali.


Entah kenapa perasaanku sangat tak enak saat menerima tugas ini, aku merasa bahwa ini adalah tugas terakhirku. Oleh karena itu aku membuat surat ini, karena jika terjadi sesuatu denganku, setidaknya kamu bisa tahu isi hatiku dan perjalanan hidup yang aku lalui untuk bisa bersamamu. Meski nanti kita tak bersama setidaknya aku sempat membuatmu bahagia meski hanya sebentar saja.


Tolong jangan benci padaku, meski nanti kita tak bersama percayalah aku akan tetap mencintaimu. Jika nanti Tuhan memanggilku lebih dahulu, berjanjilah kau akan baik-baik saja dan berjanjilah kau tak akan menangis. Jangan membuatku sedih dengan air matamu, benjanjilah kau akan hidup bahagia bersama Claudy dan bu Dita. Sampaikan salam sayang dan cintaku pada bu Dita dan Claudy.


Kekasihmu, Robin]


Kak Nisa mengusap lembut kepalaku, membawaku kedalam pelukannya.


''Dek, kamu sudah tahu semuanya. Tolong iklaskan Robin, dia akan bersedih jika melihatmu seperti ini''


''Tapi kak, bagaimana mungkin, pasti aku sedang bermimpi sekarang. Tidak mungkin kak Robin ninggalin aku kak''


Ku tumpahkan lagi tangisku di dalam pelukannya. Masih tetap berharap jika yang terjadi saat ini hanya sebuah mimpi. 'Tak lama lagi aku pasti bangun' kataku dalam hati.

__ADS_1


''Ayo dek kita keluar, tapi kamu harus janji, kalau kamu akan terima semua ini dengan baik''


Tangisku semakin pecah, apa yang harus aku lakukan jika ini memang kenyataan? Aku hanya menganggukkan kepala, tak dapat berkata apa-apa lagi.


''Jika ini memang yang terbaik untuk kak Robin, aku iklas Tuhan. Tempatkanlah ia di sisimu, dia orang yang baik'' Kataku saat menghampiri kak Robin yang ditidurkan di atas sebuah ranjang yang sudah dihias dengan kain putih.


Kak Robin kini memakai celana panjang putih juga kemeja dan jas berwarna senada. Dia tampak gagah dengan pakaian itu, pakaian yang harusnya ia gunakan di hari pernikahan kami. Air mataku ingin tumpah lagi namun berusaha aku tahan, tak ingin meneteskan air mataku dihadapannya.


''Bu, aku memiliki keinginan. Apa boleh aku memakaikan cincin pernikahan kami pada kak Robin. Jika boleh aku juga akan memakai bajuku. Mungkin kalian berpikir aku sudah gila, namun aku hanya ingin memiliki kenangan indah dengan kak Robin, meaki ini untuk terakhir kalinya''


Semua mata memandang ke arahku, mungkin mereka bingung dengan apa yang barusan aku minta. Meski mungkin bagi orang lain keinginanku di anggap aneh, namun bagiku, itu adalah kebahagiaan dan akan menjadi kenangan terakhirku dengan kak Robin.


''Baiklah nak, apapun akan kami lakukan untukmu nak. Kau adalah sumber kebahagiaan Robin'' Kata om Jordi.


''Terimakasih om, aku akan mengambil bajuku dulu dan akan kembali kemari''


Aku segera menuju ke mobil dan meminta pak Beni untuk mengantarkanku ke rumah. Sesampainya di rumah, aku berlari kedalam kamarku berurai air mata, aku kemudian memakai gaun pengantin yang sudah aku siapkan dilemari pakaian. Saat aku memakainya, tak henti-hentinya air mataku mengalir. Seharusnya baju ini aku gunakan saat hari bahagia bersama kak Robin, namun saat ini terpaksa harus aku kenakan karena hari itu tak akan pernah datang.


Setelah memakai baju, aku segera kembali ke mobil dan kembali ke kediaman kak Robin.

__ADS_1


__ADS_2