PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
KAKAK IPAR


__ADS_3

Setelah kepergian Indra, mas Hans menjelaskan semua yang terjadi. Aku jadi tambah merasa bersalah denga mas Hans karena sudah membuatnya repot.


''Mas, bagaimana kaki mas apa sudah sembuh? tanyaku.


Seingatku kaki mas Hans sedang terluka saat membantuku di kebun.


''Kaki mas sudah baik sayang, kamu jangan khawatir, harusnya mas yang khawatir sayang. Kamu jangan tinggalin mas lagi ya'' katanya sambil menggenggam tanganku.


Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum kecil. Kulihat putra kami sudah tertidur lelap diatas sebuah kasur yang ada di dekat sofa. Hatiku menangis melihat anakku, kasian dia harus hidup menderita denganku.


''Mas, maafkan aku sudah menyusahkan mas'' kataku.


''Kamu bicara apa sayang, kamu tak pernah menyusahkan mas, ini tanggung jawab mas sebagai suamimu dan ayah untuk anak kita.''


Tok


Tok


Tok


Mas Hans membuka pintu karena ada yang mengetuk.


Ceklek


''Selamat siang nyonya, bagaimana keadaan nyonya?'' tanya seorang perawat yang datang dari arah pintu dan dibelakangnya ada seorang dokter yang tak asing, dia datang dengan senyum di bibirnya. Aku sangat mengenalnya. Ya, dia dokter Lia, dokter yang menangani kehamilanku dulu.


''Dokter Lia? Saya baik-baik saja suster. Bagaimana dokter bisa disini?'' kataku.


Dokter Lia tersenyum kepada mas Hans, dan mas Hans membalas senyumannya.


''Suamimu yang memanggilku kemari'' kata dokter Lia.


Aku memandang mas Hans dia tersenyum dan mendekat.


''Rasanya aku tak perlu mengenalkan kalian, kalian sudah saling kenal'' kata mas Hans.


Dokter Lia tertawa mendengar perkataan mas Hans, aku jadi bingung dengan mereka berdua.


Tak lama ada beberapa orang masuk ke kamar, pakaian mereka hitam, baju kaos hitam dan celana hitam. Aku langsung terpikir bahwa itu adalah pengawal mas Hans.


''Sayang, kamu kenapa bisa sakit begini apa cucu oma yang nakal ini menyakitimu?'' kata oma sambil melirik tak suka pada mas Hans. Sedangkan yang dilirik hanya bisa tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalnya.


''Sayang kamu disini?'' tanya ibu mertua pada dokter Lia. Ibu mertua langsung memeluk dokter Lia dan hal itu kembali membuatku heran. Ibu dan mas Hans mengenal dokter Lia dan ibu sepertinya sangat sayang padanya.

__ADS_1


''Halo putri mama yang cantik'' katanya ibu mertua mengelus kepalaku kemudian mencium pipiku.


''Aku baik-baik saja oma, ibu'' kataku.


''Kamu yang menangani istrinya Hans?'' kata ibu mertua pada dokter Lia.


Dokter Lia mengangguk kemudian bergelayut manja pada mas Hans.


''Sayang mana cicit oma'' tanya oma.


''Dia sedang tidur oma'' kata mas Hans sambil menunjuk putra kami yang sedang tertidur pulas.


Oma dan ibu mertua kemudian duduk di sofa sambil memperhatikan Hans yang sedang tertidur pulas.


''Sayang, kamu pasti heran kenapa mas dan ibu kenal dengan dokter Lia?'' tanya mas Hans.


Aku hanya menganggukkan kepala.


Mas Hans menarik tangan dokter Lia dan mendekat ke arahku. Mereka tersenyum melihatku yang sedang bingung.


''Sayang ini kakak iparmu, dokter Lia ini kakaknya mas'' Kata mas Hans.


Aku hanya bisa melongo mendengar perkataan mas Hans. Mas Hans dan dokter Lia tertawa melihat ekspresi wajahku yang sedang melongo mungkin lucu bagi mereka.


''Andai aku tahu kalau dia adalah adik iparku, aku akan tetap memaksanya agar dia mau aku merawatnya saat kandungannya bermasalah setelah melahirkan. Tak akan aku biarkan adik iparku hidup menderita karena laki-laki tak bertanggung jawab sepertimu'' kata dokter Lia sambil menjewer telinga mas Hans.


''Ampun kak, sakit. Aduh, aduh sakit kak'' kata mas Hans meringis kesakitan.


''Kamu kenapa tega menyakiti wanita sebaik Pelangi, kamu tahu, saat dia mengandung anakmu, dia berjuang hidup sendirian, dia juga hidup di panti asuhan dalam keadaan pas-pasan. Saat melahirkan pun dia sendiri tak ada keluarganya, hanya ada bu Asni pemilik panti depan klinik kakak yang menunggunya. Sebenarnya Pelangi belum boleh mengandung saat itu, rahimnya lemah dan belum matang. Saat tahu bahwa kehamilannya bermasalah dia tetap mempertahankannya meskipun kakak sudah bilang itu akan berbahaya baginya. Waktu dia melahirkan kakak tanya nama ayahnya, tapi dia tak pernah memberitahu kakak siapa nama ayah dari anaknya. Dia memberi nama anaknya Hans, saat kakak tanya kenapa memberi anaknya nama Hans dia bilang itu nama ayahnya. Sesaat kakak kepikiran kamu apalagi wajahnya sangat mirip denganmu waktu kecil, tapi kakak kemudian berpikir tak mungkin ada wanita yang mau sama laki-laki jutek, dingin, nyebelin dan tidak romantis hahaha'' kata dokter Lia.


Mas Hans mengerucutkan bibir karena sudah diejek oleh dokter Lia, aku tersenyum melihatnya.


''Untung Pelangi tidak jadi kakak jodohkan sama dokter Angga karena dokter Angga naksir sama Pelangi'' kata dokter Lia menggoda mas Hans.


''Enak saja kakak main jodoh-jodohkan, Pelangi itu milikku'' kata mas Hans.


''Kakak kira dia janda karena tak pernah ada suaminya kakak lihat. Ya, udah waktu dokter Angga bilang dia mau membina hubungan dengan Pelangi aku setuju saja. Pelangi baik dokter Angga juga jadi pasti mereka cocok. Dari pada sama laki-laki yang....'' kata dokter Lia memandang mas Hans dari atas sampai bawah.


Bibir mas Hans semakin mengerucut dan itu membuatku tertawa. Mas Hans dan dokter Lia melihat ke arahku saat aku tertawa.


''Awww...'' pekikku, perutku terasa sakit.


''Jangan tertawa keras dulu ya adikku yang cantik, perutmu masih basah lukanya jika kamu tertawa keras nanti jahitannya bisa terbuka'' kata dokter Lia.

__ADS_1


''Terimakasih dokter'' kataku.


''Tidak perlu terimaksih sayang, aku adalah kakakmu, Ok. Katakan padaku jika adikku itu menyakitimu, akan aku berikan dia pelajaran. Kamu istirahatlah aku akan mengecek pasien yang lain.'' kata dokter Lia kemudian pamit pada ibu dan oma mertua dan berlalu keluar dari ruanganku.


''Hans, kamu pulanglah ganti bajumu dan bawakan baju ganti untuk istri dan anakmu, kami yang akan menjaganya disini'' kata oma.


''Iya, oma aku titip Hans dan istriku'' kata mas Hans pada oma.


''Sayang mas pulang dulu ya, kalau ada apa-apa kamu beritahu ibu atau oma'' kata mas Hans kemudian mencium keningku.


''Oma, ibu istirahatlah aku tidak apa-apa. Aku akan tidur rasanya aku ngantuk sekali'' kataku.


''Tidurlah sayang, kami akan menjagamu'' kata ibu mertua.


Aku menutup mataku dan tak lama aku kemudian tertidur.


.


''Sayang bangunlah makan dulu'' kata mas Hans.


Kubuka mataku perlahan, mas Hans membantuku untuk duduk.


''Mas, oma dan ibu kemana?'' tanyaku karena tak kudapati lagi oma dan ibu mertuaku didalam ruangan. Hanya ada Hans yang sedang menonton film kartun di ponsel papanya sambil berbaring di atas kasur.


''Oma dan ibu sudah pulang tadi sore, mereka tak pamit padamu karena kamu tidur sayang''


Aku jadi tak enak hati dengan oma dan ibu mertua.


''Tidak usah berpikir yang tidak-tidak sayang. Mereka tak ingin membangunkanmu sayang. Kamu makan dulu ya, setelah itu minum obat'' kata mas Hans seperti tahu apa yang aku pikirkan.


Mas Hans menyuapkan bubur dan sayur dengan telaten, tak banyak yang masuk ke perutku cuma setengahnya saja, rasanya perutku sudah penuh. Mas Hans memberikan obat padaku, segera kutelan obat-obatan itu.


''Terimakasih mas'' kataku memandang mas Hans.


''Sama-sama sayang, tolong jangan sakit lagi, mas tak tahu harus berbuat apa tanpamu'' kata mas Hans sambil terisak.


''Jangan menangis mas, maafkan aku sudah menyakitimu''


''Kamu tidak menyakiti mas sayang, tapi mas yang sudah menyakitimu sayang. Mas janji mas akan selalu bahagiakan kamu dan anak kita tapi kamu harus sehat dulu''


Mas Hans kemudian membaringkan aku kembali, mas Hans berlalu ke arah kasur dan menemani anaknya bermain game di ponsel setelah membantuku berbaring. Aku bahagia melihat mereka tertawa bersama.


.

__ADS_1


Sudah satu minggu aku berada di rumah sakit dan hari ini sudah diperbolehkan pulang. Selama dirumah sakit mas Hans dengan telaten merawatku juga mengurus anak kami. Sikap manisnya kembali membuatku merasakan kehangatan, mungkin cintaku sudah tumbuh kembali untuknya.


__ADS_2