
Dalam perjalanan menuju ke rumah aku singgah di minimarket membeli beberapa perlengkapan bayi seperti susu, popok dan produk perawatan bayi lainnya.
Awalnya kak Frans menolak bantuan ku namun aku tetap membelinya karena bagaimanapun bayi itu juga saudara dari putriku.
Saat mobil memasuki area perumahan kak Nilam menangis dan hal itu membuatku khawatir, aku takut terjadi sesuatu dengannya.
''Ada apa kak, kenapa kakak menangis?'' Tanya ku.
Namun kak Nilam hanya bisa terisak sambil memeluk anaknya sedangkan kak Frans juga terlihat sangat sedih.
''Apa kakak tidak suka tinggal disini? Apa kakak mau aku carikan rumah baru?''
''Tidak dek, bukan seperti itu. Kakak sedih karena dulu ia dan orang tuanya tinggal disini dan disini juga ia di usir dan di buang oleh keluarganya saat mengandung Farhan'' ucap kak Frans dengan nada sedih sambil merangkul kak Nilam.
''Maafkan aku kak'' ujarku tak enak hati pada keduanya.
''Tak apa dek, itu sudah berlalu lagipula mereka sudah membuangku dan tak pernah mencari ku'' ujar kak Nilam.
Setelah kami sampai di rumah, aku turun dari mobil kemudian meminta tolong pak Yos untuk menurunkan belanjaan dari mobil sedangkan aku mengantar kak Frans dan keluarga kecilnya untuk istirahat.
Aku meberikan mereka kamar disamping kamar Claudy, karena kamar itu cukup luas dan nyaman, cocok untuk mereka tempati karena sirkulasi udara di kamar itu cukup baik dan juga ada pohon di samping kamar itu jadi meski panas terik kamar itu akan tetap terasa adem.
''Kakak istirahat dulu, apa kakak sudah makan?'' Tanyaku dan keduanya menggeleng pelan.
''Kakak istirahat disini aku dan kak Nisa akan membuatkan makanan''
''Aku akan bantu kamu'' ujar kak Nilam
''Tidak, kakak harus istirahat aku akan buatkan makanan, ok''
Aku mencium pipi bayi kecil yang ada dalam gendongan kak Nilam sebelum berlalu ke arah dapur.
''Pak Yos, maaf belanjaan tadi bapak simpan dimana?'' Tanya ku saat berpapasan dengan pak Yos, petugas keamanan baru di rumah ini.
''Ada di meja ruang keluarga bu''
__ADS_1
''Terimakasih pak Yos''
''Sama-sama bu''
Aku berlalu ke ruang keluarga mengambil belanjaan yang kami beli tadi. Aku mengambil plastik yang berisi bahan makanan dan membawanya ke dapur untuk aku olah.
''Kak kita mau masak apa nih?" Tanya ku pada kak Nisa.
''Bagaimana kalau kita masak sup ayam sama ikan woku sepertinya enak'' ujar kak Nisa sambil tangannya terus mengupas bawang.
''Aku setuju, ayo kita masak''
Kami berdua menyibukkan diri di dapur hingga tak terasa sudah satu jam kami berkutat di dapur.
Dingdong
Suara bel berbunyi, aku segera menuju pintu utama dan membukanya. Terlihat tante Dewi dan om Jordi sedang berdiri sambil membawa kotak kue ditangannya dengan senyum ramah mereka berdua.
''Tante, om ayo masuk kenapa berdiri disini. Kan aku sudah bilang anggap saja rumah tante dan om. Ayo ayo''
Aku membawa keduanya masuk ke dalam rumah dan tak lama kak Nisa datang dari arah dapur membawa 7 gelas jus jeruk serta toples berisi beberapa kue kering.
''Iya kak, tante, om aku tinggal dulu ya. Oh iya ayo sarapan sekalian''
''Kami sudah sarapan nak terimakasih''
Aku meninggalkan mereka bertiga dan berlalu menuju ke kamar dimana kak Frans berada. Tak lupa aku membawa belanjaan yang tadi aku belikan untuk mereka.
Tok... tok...tok..
''Kak Nilam, apa kakak tidur?" Tanyaku dari luar kamar.
"Tidak dek, masuklah pintunya tak di kunci" ujar ka Frans.
Aku membuka pintu kemudian masuk ke dalam, kak Frans sedang bermain dengan anaknya sedangkan kak Nilam sedang menyisir rambutnya sepertinya ia habis mandi.
__ADS_1
''Kak, apa aku boleh gendong?'' Tanya ku, aku ingin sekali menggendong anak mereka.
''Tentu saja dek, terimakasih dek sudah membawa kami ke rumah ini maaf kalau kami akan merepotkanmu nanti'' ujar kak Frans.
''Kakak tidak akan merepotkan aku, justru aku bersyukur jika kakak sekeluarga mau tinggal bersamaku dan Claudy disini. Claudy juga pasti senang jika kalian ada disini terlebih ada si kecil imut ini, karena Claudy sangat suka dengan bayi. Oh iya kak, ini belanjaan kita tadi, ada keperluan si kecil juga kakak dan kak Nilam hanya seadanya saja. Nanti sore baru kita pergi belanja keperluan kalian dan kakak tak boleh menolak, anggap saja aku adik yang mau membelanjakan kakaknya''
Mereka berdua saling berpandangan kemudian tersenyum. Aku mengajak mereka untuk makan dulu karena hari sudah mulai siang dan mereka belum makan apapun dari pagi.
''Ayo di makan kak, jangan sungkan anggap rumah sendiri. Kak Nilam juga makanlah aku akan bermain dengan si cantik ini'' Aku membawa anak kak Frans ke ruang keluarga dimana ada kak Nisa, om Jordi dan tante Dewi. Aku bermain dengannya sembari menunggu kedua orang tuanya selesai makan.
Dua puluh lima menit berlalu kak Frans dan kak Nilam juga ikut bergabung, namun ada yang aneh dengan tante Dewi saat melihat kak Nilam. Matanya terlihat berkaca-kaca begitupun om Jordi.
''Kamu Nilam kan?'' Tanta om Jordi.
''Iya, om. Maaf om kenal saya?'' Tanya kak Nilam.
Tante Dewi bahkan tak bisa berkata-kata hanya air matanya yang terus mengalir dan tak lama ia berdiri dari duduknya kemudian menghampiri kak Nilam dan memeluknya erat sambil terus menagis.
Kami di buat bingung oleh om Jordi dan tante Dewi. Disela-sela isak tangisnya, om Jordi memanggil kak Nisa untuk duduk di sampingnya. Ia kemudian terlihat mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
''Nisa kamu ingat foto gadis kecil yang menggendongmu ini?'' Tantanya pada kak Nisa.
''Iya pah, papa bilang dia kakak ku yang hilang karena di culik''
''Jika kamu bertemu dengannya apa yang akan kamu lakukan?''
''Aku akan memeluknya dan mengatakan betapa aku mencintainya, karena jika ia tak menyembunyikan aku di bawah kolong ranjang mungkin aku yang akan di culik dan tak merasakan kasih sayang papa sama mama''
''Kalau begitu peluklah ia'' ujar tante Dewi.
''Maksud mamah?''
''Kamu lihat dia Nis, apa kamu tak mengenali wajahnya dan apa tak ada rasa sayang padanya'' ujar tante Dewi menoleh pada kak Nilam.
''Maksud mamah, kak Nilam ini....''
__ADS_1
Tante Dewi mengangguk, segera kak Nisa menghambur ke pelukan kak Nilam kemudian mereka berpelukan dan menangis. Aku ikut meneteskan air mata, ternyata di balik nasib malang yang kak Nilam alami, Tuhan punya rencana indah untuknya bahkan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Menurut cerita yang pernah kak Robin katakan, mereka memang memiliki seorang saudara perempuan yang hilang karena di culik saat berusia 3 tahun. Ternyata saudaranya itu adalah kak Nilam kakak ipar ku, pantas saja ia sangat baik ternyata itu adalah sifat turunan dari om Jordi dan tante Dewi.