PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
MAMA SAYANG KALIAN


__ADS_3

Tak pernah terbayangkan olehku jika putraku akan datang menemuiku. Aku bahkan berpikir jika mungkin aku tak akan bertemu dengannya sampai aku tiada. Namun Tuhan yang punya kuasa sehingga ia membuatku bisa bertemu lagi dengan putraku ketika aku sudah putus asa. Takdir setiap manusia tidak ada yang tahu, bahkan ketika kita sudah menyerah dan putus asa dengan keadaan, Tuhan selalu memberikan mujizatnya.


Kedua anakku masih larut dalam tangis kebahagiaan, sekian tahun berpisah, akhirnya mereka bisa di pertemukan. Semoga kedua anakku bisa hidup bersama, saling menyayangi, sampai saat aku tiada nanti.


''Mama sayang kalian'' Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibirku melihat kedua anakku yang saling berpelukan menumpahkan segala rasa rindu dan kasih sayang satu sama lain.


Kak Frans pamit pulang saat hari sudah beranjak senja, ia memintaku untuk menjadi wanita yang kuat agar bisa menjaga kedua anakku. Rasa bahagia yang kurasakan saat ini tak dapat lagi aku ungkapakan dengan kata-kata, ucapan terimakasih pada Tuhan saja rasanya tak cukup membalas kebaikannya.


Saat bu Dita kembali dari pabrik teh, ia terkejut melihat seorang pemuda yang begitu mirip dengan putranya. Ia mendekati Hans, mengelus lembut pipinya dan memeluknya dengan deraian air mata. Aku mengatakan pada bu Dita bahwa Hans adalah cucunya anak dari putranya yang sampai saat ini belum mau menemuinya entah karena apa?


Raut kebahagiaan terpancar jelas diwajah bu Dita, ia menyarankan agar kami membuat syukuran atas kedatangan cucunya dirumah ini. Keesokan harinya kami memutuskan untuk membuat ibadah syukuran di rumah. Kami mengundang para tetangga yang berada disekitar rumah, mengadakan ibadah syukuran kecil-kecilan.


Acara syukuran berjalan dengan lancar, semua orang menikmati acara itu dan semua mengucapakan banyak selamat karena aku bisa kembali berkumpul dengan anak-anakku. Bu Dita mengenalkan Hans pada semua yang hadir di dalam acara syukuran itu, banyak yang memuji wajah tampan dari putraku.


Hari-hari terus berlalu, aku menjalani hari-hariku dengan bahagia. Rasanya tak ada lagi beban yang aku rasakan, hidupku terasa sudah sangat lengkap dengan hadirnya anak-anakku.


Ternyata putraku sudah menjadi seorang remaja yang memiliki sifat sangat dewasa, ya, aku mengatakan dia dewasa karena ia bisa berpikir dan mengambil tindakan dengan pikiran yang matang, kadang-kadang aku bahkan bisa lebih kekanak-kanakan dari pada Hans. Hans sudah lulus sekolah memengah atas, aku ingin Hans bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi agar ia tak seperti ibunya.


''Bu, kalau aku kuliah, siapa yang akan menjaga ibu dan Audy disini? Aku tak ingin meninggalkan kalian lagi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika mulai sekarang aku yang akan melindungi mama dan Audy dari orang-orang yang berniat jahat''

__ADS_1


Begitulah kata putraku saat aku memintanya untuk kembali ke kota dan melanjutkan pendidikannya disana. Karena di tempatku dan bu Dita masih tergolong pedesaan, sehingga belum ada tempat untuk menempuh pendidikn setelah lulus SMU.


Aku terus mencoba dan menasehatinya agar mau kuliah, awalnya ia terus-terusan menolak namun saat adiknya yang memintanya ia tak berpikir lama kemudian setuju untuk melanjutkan pendidikannya. Entah apa yang adiknya katakan sehingga dengan mudahnya ia bisa membujuk kakaknya itu.


''Bu, aku akan kuliah. Tapi aku memiliki syarat untuk itu'' Kata putraku disuatu sore.


Keningku berkerut mendengar ucapannya.


''Apa syaratnya nak?''


''Aku akan kuliah dengan syarat ibu harus berjanji padaku untuk tidak terlalu lelah bekerja dan ibu harus berjanji agar ibu menjaga kesehatan ibu agar ibu tak sakit''


''Ibu janji nak. Belajarlah dengan baik disana, ibu akan menyewakan sebuah rumah untukmu disana. Agar jika ibu rindu, ibu bisa berkunjung dan menginap beberapa hari disana''


Aku membelikan Hans sebuah rumah yang dekat dari kampus tempatnya menimba ilmu. Namun aku mengatakan padanya jika rumah itu hanya disewa, aku tak ingin anakku menjadi orang yang sombong dengan apa yang ia miliki. Aku juga membelikan sebuah sepeda motor untuknya agar ia tak terlalu pusing jika harus bepergian dan tak ada kendaraan umum, namun ia menolaknya. Katanya kampusnya dekat dari rumah cukup 10 menit berjalan sudah tiba di kampus. Rumah itu akan aku berikan padanya saat ia sudah menyelesaikan pendidikannya.


Kami semua berangkat ke kota melihat rumah yang akan ditempati putraku selama mengenyam pendidikan disana. Bisa dikatakan saat ini, kemampuan finansialku sudah memadai, berkat bisnis keripik yang aku rintis di bagian utara pulau. Kini aku sudah memiliki 2 pabrik keripik dan 1 pabrik roti. Selain itu restoran milikku kini sudah memiliki beberapa cabang di daerah lain. Aku, Claudy, bu Dita dan pak Beni sekeluarga ikut juga mengantarkan Hans ke rumah yang kan ia tempati sekarang.


Rumah yang kubeli untuk Hans lumayan luas, namun tetap tampak sederhana jika diliht dari halaman depan. Rumah dengan 4 kamar tidur dan masing-masing memiliki kamar mandi dalam, 1 kamar mandi dekat dapur, ruang tamu, dapur dan halaman belakang yang cukup luas cocok jika ingin menanam sayuran.

__ADS_1


Sebelum masuk kerumah kami mengadakan ibadah kecil-kecilan, memanggil beberapa tetangga sekitar untuk menikmati jamuan yang memang telah aku dan bu Dita siapkan. Awalnya Hans sempat curiga karena kami melakukan syukuran, 'ini bukan rumah kita bu, tak perlu mengadakan syukuran' katanya saat itu. Namun aku mengatakan jika meskipun ini bukan rumah kita, tapi kita tetap hrus mengadakan syukuran dan berdoa agar selalu dilindungi oleh Tuhan dan diberkati setiap orang yang tinggal di rumah ini.


Hari pertama Hans masuk kuliah, aku dan Claudy mengantarkannya sampai di depan kampusnya, setelah itu kami melanjutkan untuk berbelanja kesebuah pusat perbelanjaan, kami membeli semua kebutuhan Hans selama sebulan kedepan. Bu Dita dan keluarga pak Beni sudah lebih dulu kembali kerumah kami di desa, sementara aku dan Claudy masi tinggal untuk beberapa hari ke depan menemani Hans, Claudy juga masih libur sekolah.


Setelah berbelanja kami memutuskan untuk pulang kerumah tempat tinggal Hans saat ini. Kami memasak makan siang bersama karena Hans akan pulang saat makan siang nanti. Hans hanya menghadiri acara perkenalan dengan para dosen dan teman-temannya.


Tepat pukul 12 siang Hans pulang dari kampusnya, ia membawa 2 orang teman kerumah.


''Siang bu, ini teman-teman Hans, Rivaldi dan Piter'' Kata Hans mengenalkan teman-temannya, kemudian temannya mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri mereka satu persatu.


''Silahkan masuk nak, ayo ajak teman-temanmu masuk, sekalian makan siang bersama''


Kami menikmati makan siang bersama teman-teman baru Hans. Aku berayukur karena putraku bisa bergaul dengan cepat dengan semua orang. Aku hanya berharap Hans tidak salah memilih teman. Selepas makan siang kami mengobrol bersama-sama sambil menikmati acara di televisi. Ternyata kedua teman Hans berasal dari desa yang jauh, mereka bisa kuliah karena mendapatkan beasiswa. Namun mereka tak tahu akan tinggal dimana di kota ini karena mereka tak memiliki sanak saudara disini. Rivaldi dan Piter adalah saudara sepupu, orang tuanya keduanya hanya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik Roti.


Aku akhirnya memutuskan agar mereka tinggal saja dirumah ini bersama Hans dari pada tidak tahu akan tinggal dimana. Awalnya mereka menolak karena takut merepotkan, tapi Hans memaksa mereka agar ia punya teman. Aku melihat mereka berdua adalah anak-anak yang baik sehingga aku bahagia jika Hans memiliki teman.


''Terimakasih bu, sudah memberikan kami tumpangan disini'' Kata Rivaldi.


''Tidak nak, ibu justru bahagia jika kalian mau tinggal disini menemani anak ibu''

__ADS_1


''Benar itu, kalian jangan sungkan-sungkan. Kita kan teman jadi harus saling membantu, aku sudah bilang jika ibuku pasti setuju jika kalian tinggal bersamaku disini''


Akhirnya keduanya mau tinggal bersama Hans, aku tak khawatir lagi jika Hans akan kesepian saat aku kembali ke desa. Sekarang ia sudah memiliki teman disini, aku juga bersyukur bisa membantu kedua anak itu, daripada mereka menyewa kos-kosan lagi lebih baik mereka tinggal saja dirumah ini.


__ADS_2