
Sebelum kami benar-benar pergi meninggalkan tempat itu, aku memberikan sedikit berkat untuk beberapa tetangga ibu selama di sini. Meski tak banyak aku harap itu bisa sedikit membantu perekonomian mereka.
Di perjanan kami singgah di sebuah pusat perbelanjaan, aku dan bi Asih membeli beberapa potong pakaian untuk ibu, mas Hans dan bi Asih.
Setelahnya kami meneruskan perjalanan ke rumah Syam. Kedatangan kami di sambut haru oleh pak Yos dan Tasya, mereka terlihat menitikkan air mata di saat bu Dita keluar dari dalam mobil milik Syam.
Kak Frans menggendong ibu untuk masuk ke dalam rumah, sementara aku dan Claudy memapah mas Hans.
Aku membawa mas Hans masuk ke kamar untuk kami bersihkan dan ganti bajunya, sementara kak Frans juga membawa bu Dita ke kamar untuk kami ganti bajunya.
''Bi Asih, bibi mandilah dahulu habis itu makan''
''Baik bu''
''Mandi disini saja bi'' ujar ku kala melihat bi Asih hendak keluar kamar mencari kamar mandi.
''Ia bu''
''Kak Frans, bisa tolong bantu mas Hans mandi? Aku akan membantu ibu untuk mandi. Ada baju untuk mas Hans di dalam paper bag warna putih itu''
''Ia dek, aku bawa Hans ke kamar saja''
Kak Frans membawa mas Hans menuju kamarnya sementara aku dan Claudy membantu bu Dita untuk mandi setelah bi Asih mandi.
''Ayo bu, kita mandi dulu setelah itu ibu makan terus istirahat nanti aku akan panggilkan dokter untuk mengecek kondisi kesehatan ibu''
Aku dibantu Claudy menuntun bu Dita masuk ke kamar mandi, di ikuti bi Asih membawa kursi plastik untuk dudukan ibu.
''Maafkan ibu nak sudah merepotkanmu'' ujar bu Dita saat aku mulai memandikannya.
''Ibu bicara apa? Aku sama sekali tak merasa di repotkan oleh ibu, justru aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan ibu lagi''
Setelah memandikan bu Dita, aku membantunya memakai baju sebelum kami keluar dari kamar mandi.
''Dek, sudah selesai?'' Tanya kak Nilam.
''Sudah kak''
Kak Nilam masuk ke dalam kamar mandi kemudian membantuku memapah bu Dita keluar kamar mandi, kemudian mendudukkannya di atas ranjang.
''Bi Asih mana kak?''
''Bi Asih sudah makan dengan Hans dek, ayo bu, ibu juga harus makan''
''Kak Anggi ini kursi rodanya'' ujar Tasya yang masuk ke kamar sambil mendorong sebuah kursi roda.
Aku membantu bu Dita duduk di kursi roda dan mendorongnya menuju ke meja makan. Bu Dita, mas Hans dan bi Asih kemudian makan bersama di temani olehku dan kak Frans.
Setelah makan siang aku membiarkan ketiganya untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum ku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan mereka.
Sore hari sekitar pukul 3, dokter datang dan memeriksa keadaan mereka. Puji Tuhan ketiganya baik-baik saja, hanya mas Hans yang sedikit bermasalah dengan ingatannya.
Kami tinggal di rumah Syam kurang lebih selama 2 minggu, aku memastikan bahwa keadaan bu Dita sudah bisa melakukan perjalanan jauh barulah kami memutuskan untuk pulang.
Untuk mas Hans sendiri aku memutuskan untuk melakukan perawatan di rumah sakit yang ada di kota tempat tinggal ku.
Banyak cerita yang aku dengar dari bu Dita dan bi Asih termasuk rencana-rencana mendiang kak Lia untuk ku dan Claudy. Juga penyebab kematian putraku yang ternyata juga bukan sebuah kecelakaan melainkan memang sudah direncanakan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya kami tiba di rumah dengan selamat. Om Jordi, bu Dewi dan kak Roni sudah berada di teras rumah saat mobil kami memasuki halaman. Senyum bahagia terpancar jelas di wajah ketiganya menyambut kepulangan kami.
Om Jordi menghampiri kak Frans dan membantunya menurunkan bu Dita dari atas mobil, sedangkan aku dan Claudy menuntun mas Hans untuk masuk ke dalam rumah.
Bu Dewi sendiri mengmbil alih baby Queen dari gendongan kak Nilam dan membawanya masuk ke dalam rumah di ikuti kak Nilam dengan membawa tas berisi perlengkapan baby Queen.
"Senang melihat kalian sudah kembali" ujar bu Dewi.
"Iya bu, aku juga senang akhirnya bisa kembali lagi bersama ibu dan mas Hans" ujar ku.
Aku membawa bu Dita untuk istirahat di kamar yang sudah aku persiapkan untuknya, sedangkan mas Hans tidur sementara di kamar tamu, sebelum nantinya akan di bawa oleh dokter untuk di rawat agar kesehatannya cepat pulih.
__ADS_1
Sekitar pukul 10 pagi sebuah mobil ambulans tiba di halaman rumah, bergegas aku membuka pintu dan mempersilahkan para dokter dan perawat untuk masuk ke dalam rumah. Mereka datang menjemput mas Hans untuk di bawa ke rumah sakit agar bisa dilakukan pengobatan yang tepat supaya ingatannya pelan-pelan bisa kembali.
Ada rasa tak tega melihat mas Hans di bawa pergi oleh dokter namun hati kecilku berkata bahwa ini semua demi kebaikan. Bu Dita dan Claudy bahkan menitikkan air mata saat mas hans dibawa pergi oleh perawat.
"Tolong obati ayah saya sampai sembuh ya dokter" ujar Claudy dengan mata berkaca-kaca.
"Ia nak dokter akan berusaha tapi jangan lupa berdoa untuk ayah" ujar Dokter Fair.
Setelah mobil ambulans yang membawa mas Hans menghilang dari pandangan aku dan yang lainnya masuk ke dalan rumah.
"Mah, kita boleh jenguk papa kan?" Tanya Claudy saat kami sedang duduk di ruang keluarga.
'' Tentu saja sayang, selagi tidak mengganggu pengobatan papa kita bisa ketemu papa"
.
.
.
Setelah beberapa bulan menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya mas Hans mulai kembali bisa mengingat apa yang terjadi secara perlahan-lahan. Aku dan Claudy mengunjunginya dua sampai tiga kali dalam seminggu.
Setiap kali kami mengunjunginya, mas Hans akan selalu meminta maaf padaku maupun pada Claudy. Meski kami sudah sering mengatakan jika kami sudah memaafkannya, tapi tetap saja ia selalu minta maaf jika kami mengunjunginya.
Kami merasa bahagia saat tahu perkembangan kesehatan mas Hans yang terus membaik sampai suatu saat ketika kabar buruk datang menghampiri dan membuat rumah yang selama ini penuh canda tawa berubah suram dengan suara tangis di setiap sudutnya.
Pagi ini seperti pagi biasanya, aku melakukan kegiatan seperti biasa, mengantar Claudy sekolah dan mengontrol perusahaan. Saat sedang duduk di dalam ruang kerja ku, aku mendapat kabar jika mas Hans kecelakaan, ia terjatuh dan menyebabkan kepalanya terbentur.
Aku segera menuju ke rumah sakit dimana mas Hans dirawat, setibanya di sana aku melihat bu Dita dan kak Frans sudah ada di sana.
"Bagaimana keadaan mas Hans bu?"
"Kita belum tahu nak, dokter masih memeriksanya"
Kami menunggu dengan cemas di depan ruang perawatan mas Hans.
Ceklek..
"Bagaimana keadaan anak saya dokter?"
"Maafkan kami bu, kami sudah melakukan sebaik yang kami bisa namun Tuhan berkehendak lain"
"Maksud dokter..., tidak mungkin dokter mas Hans pasti baik-baik saja" air mataku terjatuh tanpa bisa aku tahan, tungkai kaki ku terasa lemas bahkan untuk berdiripun rasanya aku tak sanggup. Bagaimana aku akan menyampaikan kabar ini kepada Claudy, bagaimana ia akan kuat menerima ini semua.
''Kuatkan hatimu nak, jangan lemah seperti ini. Ingat masih ada putrimu yg butuh kasih sayang dan perhatianmu''
''Frans, jemputlah ponakanmu tapi katakan padanya dengan pelan-pelan jangan sampai ia syok''
''Iya mah''
''Mama akan mengurus segalanya disini''
''Aku yang akan menjemput Claudy bu, kak Frans tetaplah disini dengan mama''
''Tidak nak, ibu tidak akan membiarknmu pergi dengan keadaan seperti ini''
Selepas kepergian kak Frans, bu Dita segera mengurus segala sesuatu yang perlu di selesaikan sebelum kami membawa mas Hans pulang.
Aku sendiri masuk ke ruangan dimana mas Hans berada, ku pandangi lekat-lekat wajahnya. Tanpa terasa bulir-bulir bening perlahan-lahan mulai berjatuhan, beberapa perawat yang ada di dalam ruangan terlihat masih sibuk melepaskan segala alat-alat medis yang masih terpasang di tubuh mas Hans.
''Maafkan aku mas'' hanya kata itu yang sanggup aku ucapkan. Suaraku tercekat di tenggorokan hanya air mata yang terus mengalir, setelah semua alat-alat medis terlepas dari tubuh mas Hans, aku segera memeluknya dan menangis sekencang yang aku bisa.
Ku genggam tangan mas Hans yang sudah terasa dingin ''mas kamu sudah bahagia bersama anak kita disana, sampaikan salamku padanya'' ucapku meski ku tahu ia tak akan bisa mendengarnya lagi. Cukup lama aku menangis bahkan aku tak sadar dengan kehadiran bu Dita dan beberapa perawat.
''Nak, ayo kita bawa Hans pulang'' ujar bu Dita menepuk pundakku, aku tahu dialah orang yang paling sedih karena kepergian mas Hans tapi ia berusaha kuat di depanku.
''Iya bu''
''Claudy sudah ada di rumah'' ucap bu Dita yang mampu membuatku terpaku di tempat entah apa yang harus aku katakan pada putriku itu. Baru beberapa bulan ia berbahagia dengan sang ayah namun Tuhan kembali memisahkan mereka.
__ADS_1
Dengan menaiki mobil jenasah milik rumah sakit kami membawa jenasah mas Hans pulang. Sepanjang jalan aku terus memperhatikan raut wajah bu Dita, terlihat tegar namun sorot matanya menunjukkan kepedihan yang sangat dalam.
Ketika mobil berbelok memasuki gerbang perumahan aku berusaha menyeka air mata yang terus mengalir di pipiku. Aku tak ingin Claudy melihatku dalam keadaan seperti ini, aku harus kuat agar bisa menguatkan Claudy. Perlahan tapi pasti mobil memasuki halaman rumah dimana beberapa orang sedang menyiapkan tenda dan kursi.
Kak Frans berdiri di teras dengan menggendong Queen sedangkan kak Nilam berdiri sambil memeluk Claudy. Jenasah mas Hans diturunkan dan di bawa kesalah satu ruangan untuk di mandikan.
''Mama'' ujar Claudy dengan mata yang sembab dan memerah, aku tahu ia sudah menangis sedari tadi. Air mata yang semula berusaha aku tahan, ternyata tak bisa ku tahan lagi ketika Claudy memelukku dan menangis terisak di pelukanku.
''Jangan menangis mah, papa sudah bahagia dengan kakak disana, jika mama menangis mereka akan sedih lihat mama'' ucap Claudy.
Aku tak tahu bagaimana ia bisa mengatakan itu padahal dirinya sendiri sangat sedih, aku sendiri tak tahu harus mengatakan apa.
Aku masuk dan duduk di sofa bersama Claudy dan kak Nilam, sementara kak Frans sedang menidurkan Queen di tempat tidurnya.
Setelah mas Hans di mandikan, ia di bawa ke kamar milik Claudy.
''Kak kenapa mas Hans di bawa ke kamar Claudy?'' Tanyaku pada kak Nilam.
''Audy belum cerita sama mama?'' Tanya kak Nilam memandang Claudy.
''Cerita apa kak? Audy?''
Saat Claudy ingin menjawab kak Frans datang dan memanggil kami berdua.
''Audy ayo ajak mama juga''
Dengan bingung aku mengikuti kak Frans dan Claudy, sesampainya di kamar, tubuh kaku mas Hans sudah di baringkan di sebuah kasur kecil di samping ranjang Claudy.
''Ayo nak ambilkan baju untuk papa'' ujar kak Frans.
Claudy mengambil sebuah kotak dari dalam lemari pakaiannya, ketika di buka isinya adalah sepasang sepatu, kemaja putih, celana panjang dan jas berwarna abu-abu silver juga seikat bunga dan sepucuk surat. Kak Frans memberikan surat itu padaku ''ini milikmu dek'' ucapnya.
Aku menerima surat itu dengan tangan yang gemetar, mungkinkah aku akan mendapatkan surat seperti saat kak Robin pergi? Apakah aku harus kehilangan dahulu untuk mendapatkan sepucuk surat?
''Mah, ayo pakaikan baju papa. Waktu Audy jenguk papa, papa bilang kalau jika papa pergi papa ingin orang-orang yang papa cintai dan mencintai papa memakaikan baju terakhir untuk papa'' ujarnya tenang.
Aku melihat ke arah kak Frans dan iapun mengangguk, setelah memakaikan mas Hans pakaian kami diminta untuk keluar karena beberapa orang akan mengangkat tubuh kaku mas Hans untuk di tempatkan di ruang keluarga.
Kami melakukan ibadah pada malam harinya untuk mendoakan mas Hans, begitu banyak pelayat yang datang bahkan orang-orang asing yang tak pernah aku temui dan kenal sangat banyak, mereka merupakan kolega mas Hans saat masih bekerja di perusahaan dulu.
Hanya dua hari mas Hans berada di rumah, karena ternyata ia sudah berpesan kepada putrinya bahwa saat ia meninggal ia tak mau berlama-lama di rumah ia ingin segera beristirahat di rumah barunya.
Dihari pemakaman mas Hans aku baru tahu jika tempat dimana putraku di makamkan adalah pemakaman khusus keluarga besar mas Hans. Begitu banyak orang yang mengantarkan mas hans keperistirahatannya yang terakhir.
'Begitu banyak orang yang sayang padamu mas' batinku.
.
.
.
Beberapa tahun berlalu semenjak kepergian mas Hans, bu Dita juga ikut pergi di karenakan penyakit asma yang di deritanya. Surat yang di berikan kak Frans padaku di hari kematian mas Hans belum pernah aku baca, bukan tak ingin membacanya hanya saja aku belum bisa menjamin diriku jika aku akan kuat jika membaca surat itu, meski aku belum tahu apa isi suratnya.
Claudy sudah menyelesaikan pendidikannya hingga lulus kuliah dan mendapatkan gelar seorang dokter, aku bersyukur ia bisa menyelesaikan pendidikannya dengan baik meskipun di tahun pertama dan kedua setelah kepergian ayahnya ia begitu tak memiliki semangat hidup.
Queen sendiri sudah kelas 6 sekolah dasar, kak Frans dan kak Nilam membangun usaha toko sembako dan sebuah toko pakaian di rumah baru mereka, rumahnya hanya berjarak 2 rumah dari rumah ku.
Kak Roni sudah menikah dan tinggal di negara kincir angin bersama dengan sang istri yang memang asli warga negara itu. Sementara kak Nisa kini juga sudah menikah dan tinggal di rumah kak Roni disamping rumahku, ia sudah memiliki anak kembar tiga, dua laki-laki dan satu perempuan.
*
*
*
Terimakasih bagi yang sudah singgah membaca karya tulisku, meski belum layak di sebut sebagai sebuah karya. Mohon maaf bila ada yang merasa tersingung dengan kata-kata yang ada di dalam cerita ini atau mungkin ada yang merasa jika cerita ini menceritakan kisah hidupnya, karena ini hanyalah sebuah cerita fiktif.
Mohon maaf bila ada salah kata atau kekurangan dalam cerita ini, mohon maaf bila update bab baru terkadang lama di karenakan saya tinggal di tempat yang lumayan jauh dari kota dan kadang tak ada jaringan internet.
__ADS_1
Terimakasih banyak kepada semua yang sudah bersedia membantu saya selama membuat cerita ini. Terimakasih kepada aplikasi noveltoon yang sudah membuat saya bisa menyakurkan hobi saya. Di aplikasi ini juga saya bisa belajar banyak hal melalui cerita-cerita yang ada.
Semoga Tuhan memberkati kita semua dan sampai jumpa di cerita selanjutnya jika Tuhan menghendaki*.