PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
AKU DAN PUTRIKU


__ADS_3

''Sayang mas akan keluar membuang semua barang-barang ini, kamu jangan kemana-mana dengan anak kita. Dan jangan beritahu siapapun tentang hal ini''


Mas Hans membawa selimut, seprei, bantal dan tempat sampah, ia membuangnya ditempat sampah belakang rumah agar tak ada yang tahu jika ia sudah membuang barang-barang itu.


Tok


Tok


Tok


''Pelangi, nak, apa kamu ada di dalam?'' Suara ibu mertua.


''Ia bu, aku sedang pakai baju habis mandi''


Aku terpaksa berbohong agar tidak segera membuka pintu. Aku khawatir ibu melakukan hal aneh-aneh lagi.


''Apa Hans ada disitu nak?''


Aku harus jawab apa? Jika aku katakan mas Hans pergi membuang barang-barang yang ibu dan Sandra letakkan tadi, pasti ada masalah, tidak mungkin aku mengatakan itu.


''Tidak bu, mungkin masih di pesta bersama teman-temannya''


Tak terdengar lagi suara ibu mertua.


[Mas, akan masuk lewat pintu samping dan masuk lewat jendela kamar. Tunggu aku didekat jendela sayang dan jangan beritahu ibu. Tadi aku lihat ibu dan sandra sedang mencariku dan gelagat mereka mencurigakan]


Pesan mas Hans masuk di aplikasi hijau pada ponselku.


Aku mendekat ke arah jendela kubuka sedikt tirai jendela, mas Hans terlihat mengendap-endap diantara bunga-bunga di taman.


''Masuklah mas''


Kubuka jendela kamar dan membantu mas Hans untuk masuk.


.


Dua hari setelah kejadian itu mas Hans lebih menghindar dari ibu, aku masih tetap seperti biasa tak menghindar tapi juga tak terlalu mendekat.


''Pelangi malam ini ada pertemuan dengan ibu-ibu di acara pernikahan anak teman ibu, kamu juga harus ikut dan bawa putrimu agar mereka mengenalnya juga?''


Kata ibu mertua saat kami sedang menikmati sarapan pagi ini. Entah kenapa firasatku tak enak tentang ajakan ibu mertua apa lagi memintaku membawa putriku turut serta. Tidak biasanya ibu mengajak putriku jika bepergian malam hari.


''Tapi jika dia rewel disana, bagaiman bu?''


Muka ibu langsung berubah, entah apa yang ia pikirkan.


''Nanti ibu yang bantu jaga, oh iya titip Hans ya Nilam''


''Iya bu, mbak pergi saja dengan ibu saya yang akan jaga Hans''


Kak Nilam menyetujui keinginan ibu, tapi saat menatapku entah kenapa aku melihat sorot iba dalam tatapannya.


Mas Hans sudah berangkat ke kantor, ia sengaja menghindari ibu sepertinya dia tahu bahwa ibunya yang meletakkan barang-barang itu dikamarnya.

__ADS_1


.


Sore harinya, ibu membawa sebuah baju dress selutut berwarna putih ke kamar juga baju dress bayi untuk putri kecilku.


Aku merasa agak aneh sejak pagi tadi rasanya aku tak ingin jauh-jauh dari putra putriku juga mas Hans.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Mas Hans juga sudah pulang, tapi lebih memilih dikamar bersama anaknya.


''Mas, aku dan putri kita akan temani ibu ke acara dengan teman-temannya''


''Ia sayang, hati-hati sama anak kita, kalau ada apa-apa hubungi mas''


Mas Hans memelukku. Perasaan aneh muncul lagi, aku seperti merasakan akan jauh dari mas Hans. Mas Hans juga mencium putri kami berkali-kali sebelum berangkat ke acara temannya ibu.


''Aku pamit mas, jaga Hans, jika butuh bantuan minta tolong sama kak Nilam saja''


Mas Hans mengangguk.


Dalam perjalanan tak ada pembicaraan di dalam mobil hingga kami tiba di acara temannya ibu.


Acaranya sangat mewah bahkan seperti acara-acara di istana yang pernah ku lihat dalam buku cerita saat masih kecil. Ibu mengenalkanku pada semua teman-temannya.


''Halo, saya Indri, ibunya Sandra''


''Saya Pelangi tante dan ini putri saya''


Aku berkenalan dengan banyak orang bahkan ibunya sandra juga ada. Setelah acara selesai ibu memutuskan untuk langsung pulang kami tak makan terlebih dahulu, kata ibu, iya khawatir jika Hans menangis di rumah karena mencariku.


Ditengah perjalanan ibu singgah disebuah minimarket. Tapi ada hal aneh yang ibu lakukan, ibu memasukkan sesuatu kedalam botol air mineral yang ia beli.


Pak Zul segera turun dan memberhentikan taksi kemudian pergi. Ibu terlihat menghunbungi seseorang. Pikiranku langsung tertuju pada rencana ibu dan Rosa untuk menyingkirkan aku dan anakku.


''Kita mau kemana bu?'' Tanyaku, meski ada rasa takut tapi aku berusaha tak gugup, karena tak ingin ibu curiga.


''Kita akan jalan-jalan sebentar sayang?''


Ibu mertua tersenyum tapi senyumnya terlihat menyeramkan bagiku.


Mobil melaju perlahan menyusuri sebuah jalan yang sepi.


''Kita istirahat sebentar ya ibu haus, ini minum dulu''


Ibu mertua menyerahkan satu botol air mineral padaku, kumasukkan kemulut tapi setelah ibu tak meilhat kutuang kebawah jok mobil. Aku juga mengoleskan sedikit pada bibir anakku.


''Sudah habis nak?'' Tanya ibu dengan senyuman.


''Sudah bu, aku juga sudah menyusui putriku tapi dan tidur lagi. Aku juga ngantuk bu, boleh aku tidur''


Aku harus berpura-pura tidur karena aku yakin air mineral itu sudah dicampur sesuatu yang bisa membuat kami tidur atau bisa juga pingsan.


Aku menutup mataku sambil memeluk Putriku yang masih dalam gendongan. Kudengar ibu keluar dari mobil.


''Semuanya sudah siap sayang. Ayo kita masukkan mereka ke karung dan kita simpan dibagasi'' Kata ibu mertua.

__ADS_1


Kurasakan tubuhku dan putriku digotong oleh beberapa orang dan dimasukkan kedalam karung.


''Bu, ayo kita bawa mereka ke dekat sungai di belakang kawasan industri nanti disana baru kita bakar mobil ini. Nanti ibu akan aku mekapin juga biar kelihatan jadi korban juga, tapi tak bisa menyelamatkan Pelangi dan anaknya''


Sandra berucap pada ibu. Deru mesin mobil mulai terdengar kucoba membuka mata ternyata kami benar-benar ada dalam bagasi mobil. Putriku membuka matanya tapi langsung kututup mulutnya agar ia tak bersuara.


''Bu, kita sudah sampai turunlah nanti para preman itu yang akan membakar mobil beserta semua yang ada didalamya''


Aku mulai ketakutan, aku tak tahu harus apa. Tuhan jika ini akhir hidupku tolong selamatkan bayiku yang tak berdosa ini.


Perlahan kucoba keluar dari karung karena rasanya aku sudah mencium asap. Ternyata benar mobil ini sudah terbakar, cepat-cepat kubuka karung dan kami keluar dari dalamnya. Kulihat diluar ibu dan Sandra sedang tertawa bahagia melihat kami terbakar didalm mobil, untung asapnya sudah mulai tebal jadi mereka tak melihat kami dari luar.


Kucoba membuka bagasi agar kami bisa keluar, tapi tiba-tiba seseorang lewat kututup kembali bagasi perlahan-lahan. Setelah kurasa tak ada suara langkah kaki, aku membuka bagasi kemudian melompat keluar.


Aku meninggalkan semua perhiasan yang aku pakai didalam sana kecuali kalung pemberian ibuku dulu. Berhasil keluar namun ada lagi suara orang mendekat segera kuraih tubuh putriku dan bersembunyi di balik semak.


''Siram bensin banyak-banyak dibagasinya agar mereka berdua tak bisa selamat''


Suara ibu mertua terdengar lantang. Seorang preman mendekat kebagasi menyiramkan 1 liter bensin disana. Karena api sudah membesar botol bensin itu terguling ke arahku. Api kemudian juga mengarah pada kami, kucoba melindungi anakku meski kurasakan api sudah membakar sebagian kaki dan badanku.


Kuseret badanku menuju bibir sungai, segera aku melompat kedalam sungai. Masih dapat kudengar jelas suara tawa ibu mertua dan Sandra.


Ya Tuhan apa salahku pada mereka kenapa mereka ingin aku dan anakku mati.


Rasa perih menjalar keseluruh tubuh dan wajahku mungkin karena tergores batu dan ranting-ranting kayu saat melompat kesungai tadi.Untung sungainya tak dalam jadi kami tak tenggelam.


Kulihat putriku sudah kedinginan, badannya mulai menggigil segera kulepas jaketku dan kubungkus badannya. Untungnya ia tak menangis, mungkin iya juga mengerti tentang keadaan kami.


Setelah cukup lama menyusuri sungai, masih terlihat dari kejauhan api yang membakar mobil dan beberapa kali terdengar suara ledakan.


Sekitar setengah jam kami menyusuri sungai, aku melihat ada sebuah perahu dari bambu. Segera aku menarik tubuhku naik keperahu dan kudorong agar terbawa arus sungai yang cukup deras karena aku tak sanggup lagi untuk berjalan.


Suara mobil pemadam kebakaran terdengar saling bersahut-sahutan dengan suara mobil ambulans. Mungkin warga juga sudah berkumpul melihat kebakaran itu dan pasti ibu juga Sandra sudah tertawa bahagia sekarang karena berpikir kami sudah mati dalam kebakaran itu.


.


Saat membuka mata pagi hari, aku kaget melihat sekeliling.


Dimana kami sekarang Tuhan, ini seperti di dalam hutan belantara. Kulihat sepanjang sungai hanya ada pohon-pohon besar. Sepertinya kami ada di daerah yang jauh dari perkotaan, tak nampak ada orang atau desa di bibir sungai, hanya ada pohon-pohon besar.


Perahu bambu yang kami naiki tiba di sebuah bibir sungai disana ada sebuah pohon pisang yang tumbuh liar dan buahnya tertunduk ke arah sungai.


Aku mencoba meraih buah itu namun tak sampai padahal hanya tinggal beberapa senti saja. Kucoba berulang kali akhirnya aku berhasil meraihnya meski cuma beberapa buah saja. Tak lama perahu kudorong kembali agar bisa menyusuri sungai terbawa arus yang tiba-tiba deras lagi.


Aku terus memeluk putriku diatas perahu berharap kami tak bertemu orang-orang jahat lagi. Air mataku tumpah seketika mengingat putraku yang masih ada di rumah. Apa yang akan mereka lakukan pada putraku? Tuhan tolong jaga suamiku dan putraku jangan sampai mereka diperlakukan seperti kami.


Hari sudah menjelang sore, perahu yang kunaiki sudah semakin jauh kedalam hutan terbawa arus, kulihat ada beberapa warga sedang mencuci dan memancing di bibir sungai tak jauh didepan kami. Segera aku meminta tolong karena rasanya tak mampu jika harus mendayung perahu bambu ini. Kakiku masih terasa perih akibat luka bakar.


Beberapa warga kaum pria, datang menolong kami. Mereka membawa perahu kami kebibir sungai. Aku bersyukur masih dipertemukan dengan orang-orang baik.


''Ya ampun nak, apa yang terjadi?'' seorang warga bertanya padaku.


''Sudah, sudah jangan bertanya dulu, sebaiknya kita bawa saja dulu ke polindes. Biar ibu bidan bisa memberikan pengobatan padanya dan anaknya'' Kata yang lain.

__ADS_1


Aku dibawa oleh warga ke sebuah polindes, disana lukaku di obati dan anakku langsung di berikan baju ganti. Kemudian diberikan padaku agar aku susui.


Aku menceritakan kepada warga tentang apa yang aku alami, dan mengatakan pada warga agar tak usah memberitahukan keadaanku pada warga lain. Jika sampai tersebar aku yakin ibu dan Sandra pasti akan tetap mencelakai kami berdua.


__ADS_2