PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
PAPA UNTUK CLAUDY


__ADS_3

Aku tercengang mendengar penuturan om Jordi panjang lebar, tak pernah ku sangka akan ada lamaran datang padaku. Mengingat status yang sudah aku sandang sekarang, janda beranak dua.


Aku meminta waktu kepada om Jordi dan tante Dewi untuk berpikir lebih dahulu, aku tak ingin salah mengambil keputusan apa lagi sekarang aku sudah memiliki anak, jadi kak Robin tak hanya akan menjadi pendampingku tapi juga akan menjadi ayah untuk anak-anakku. Aku bersyukur karena om Jordi dan tante Dewi setuju dengan keinginanku.


Setelah cukup lama berbincang-bincang, om Jordi, tante Dewi, kak Nisa beserta babysister dan anaknya pamit untuk pulang karena hari sudah hampir malam.


Sang mentari sudah kembali keperaduannya meninggalkan sepenggal cahaya indah menyejukkan mata, sebelum digantikan dengan cahaya rembulan yang bersinar membelai setiap insan yang sedang menikmati indahnya malam.


.


Beberapa bulan setelah kedatangan keluarga kak Robin ke rumah sakit membawa lamaran, aku sudah memikirkan dan memutuskan untuk menerima lamaran kak Robin. Aku juga senang karena Claudy sangat bahagia jika sedang bersama dengan kak Robin, bahkan iya sudah memanggil kak Robin dengan panggilan papa. Bu Dita sendiri yang menginginkan aku menikah, dia tidak ingin melihatku terus berharap kedatangan mas Hans.Aju juga sudah tak berharap untuk bisa bersama mas Hans, akan tetapi jika ia datang untuk anaknya mungkin aku akan menerimanya. Aku juga tak bisa egois, aku harus memikirkan anakku, aku ingin dia tumbuh dengan kasih sayang ayah, meski bukan ayah kandungnya.


Sebulan sebelum ulang tahunku yang ke 28 tahun, aku memutuskan untuk bertunangan denga kak Robin. Sebenarnya aku lebih senang jika langsung menikah saja, akan tetapi aku memikirkan perasaan kak Robin, bagaimnapun ini adalah pernikahan pertama baginya, jadi tak apalah ada acara pertunangan sebelum pernikahan, berbeda denganku yang sudah pernah menikah.


''Permisi bu, keluarga pak Robin sudah datang'' Kata bu Ita menghampiriku ke kamar.


Aku yang sudah bersiap dengan sebuah kebaya sederhana berwarna putih dilengkapi dengan rok batik panjang, juga riasan tipis diwajah. Dituntun oleh bu Ita menuju keruang tamu, dimana semua keluarga dan orang-orang yang di undang sudah duduk. Bu Dita mengundang beberapa tetangga untuk menyaksikan acara pertunanganku dengan kak Robin yang digelar sederhana.


Deg deg deg


Jantungku berdegup kencang saat melangkah menuju ke ruang tamu, bukan tanpa sebab, semua mata memandangku. Rasa gugup coba aku tutupi dengan memberikan senyuman kepada semua orang.

__ADS_1


''Kemari nak duduk disini bersama Robin dan putrimu'' Kata bu Dita menuntunku duduk disebuah kursi rotan yang muat untuk dua orang saja.


''Claudy kemari sama oma sayang'' Bu Dita mengambil alih Cludy dari pangkuan kak Robin dan menuntunnya duduk di sofa bersamanya.


Entah apa arti dari debaran yang ada di dalam dadaku, rasanya tubuhku membeku tak bisa mengatakan apa-apa selain tersenyum.


''Karena kedua calon pengantin sudah ada disini, bisa kita mulai acaranya?'' Tanya seorang bapak.


''Silahkan pak'' Jawab bu Dita.


''Baiklah sebelum itu mari kita berdoa terlebih dahulu''


Doa singkat dilantunkan untuk memberkati acara ini. Setelah berdoa kami diberikan nasehat oleh beberapa orang yang lebih tua dalam ruangan ini, termasuk bu Dita dan kedua orang tua kak Robin. Selain itu juga diputuskan kapan kami akan melangsungkan pernikahan dan apa-apa saja yang harus di siapkan.


Aku dan kak Robin saling pandang saat tante Dewi membawakan cincin, untuk aku sematkan dijari kak Robin, juga cincin untuk kak Robin sematkan di jariku. Rasa berdebar kian terasa di dalam sana, ada rasa bahagia juga haru menyelimuti hati ini.


Denga tangan yang sedikit gemetar kak Robin berhasil menyematkan cincin di jariku, akupun melakukan hal yang sama namun aku berusaha menyembunyikan kegugupanku dengan berusaha tidak gemetar saat memasangkan cincin pada kak Robin.


Setelah acara bertukar cincin selesai, dilanjutkan dengan acara makan malam, untuk senua orang yang hadir. Semua orang tampak bahagia dengan acara pertunanganku, bahkan aku bisa melihat tawa putriku ditengah-tengah keluarga kak Robin. Tak pernah aku melihat putriku sebahagia itu.


''Terimakasih Anggi, kamu sudah mau menerimaku untuk menjadi ayah untuk Claudy. Aku harap tak ada halangan hingga hari pernikhan kita tiba''

__ADS_1


Kak Robin menggenggam tanganku, dia menatap dalam kedua bola mataku, membuatku kikuk dan mencoba mengalihkan pandangan. Akan tetapi dengan cepat tangan kak Robin menyentuh dan mengangkat daguku dan membuatku kembali menatap kedua netranya yang penuh ketenangan.


Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku membuatku merasa malu dan kembali membuat jantungku berdebar-debar. Hampir saja ia mencium pipiku.


''Robinnnnn'' Teriak bu Dewi menyelamatmanku dari kak Robin, yang di ikuti tawa seisi ruangan. Aku dan kak Robin kemudian menunduk karena merasa malu dengan kejadian itu, untung saja ia tak jadi menciumku jika sampai itu terjadi bisa sangat malu aku. Kami berdua tersenyum kikuk memandang semua orang yang ada di sana.


''Claudy sepertinya ada yang mau nyium mama kamu tuh'' Kata kak Nisa menggoda Claudy yang sedang duduk dipangkuannya. Membuat kak Robin mendelikkan matanya ke arah kak Nisa yang disambut tawa renyah kak Nisa.


''Biar aja tante, kalau papa nyium mama, berarti papa sayang sama mama tante'' Kata Claudy polos.


Aku jadi semakin tersipu malu mendengar ucapan putriku sendiri, entah seperti apa mukaku sekarang.


Setelah semua rangkaian acara selesai, semua orang pamit pulang, tak terkecuali kak Robin dan keluarganya yang juga ikut pulang. Kini tinggal kami penghuni rumah ini. Caludy sudah tidur di kamarnya, pak Beni beserta istri dan anknya juga sudah tidur di kamar mereka, tinggallah aku dan bu Dita di ruang keluarga.


''Nak,ibu harap kamu bahagia dengan hububgan ini nak''


Bu Dita mengusap lenganku sambil bersandar disofa.


''Ibu ingin kamu bahagia nak, sudah cukup penderitaan yang kamu alami karena ulah keluarga ibu. Ibu tahu kalau sebenarnya kalian berdua saling mencintai, itu sebabnya ibu mendukung hubungan kalian. Ibu juga lihat nak Robin laki-laki yang baik, dia menyayangi Claudy dengan tulus, jadi ibu yakin kamu akan bahagia bersamanya nak'' Kata bu Dita lagi.


Aku hanya memejamkan mata mengaminkan segala perkataan bu Dita, karena kau juga berharap sama dengan yang dikatakan bu Dita. Aku ingin kak Robin menjadi tempatku untuk berbagi suka dan duka.

__ADS_1


Pernikahanku dan kak Robin akan dilaksanakan beberapa bulan kedepan, banyak yang harus kami persiapkan. Cukup lama aku dan bu Dita berbincang-bincang sampai akhirnya kami memutuskan untuk istirahat karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku masuk ke kamar dan berbaring di atas ranjang, memeluk lutriku yang sudah tertidur lelap. Aku berharap pernikahanku dengan kak Robin membawa hal baik untuk putriku.


__ADS_2