
Saat tiba di ujung lorong rahasia penghubung ke restoran terdengar suara gaduh. Dengan ragu aku mencoba membuka pintu rahasia yang terhubung dengan salah satu ruangan direstoran.
Belum sempat aku membukanya terdengar suara orang berjalan mendekat. Ku dekap Claudy dengan erat, ku raba keningnya yang semakin terasa panas. Aku khawatir jika orang itu bisa melihat ruang rahasia ini, semakin lama semakin terdengar banyak suara langkah yang mendekat.
Drap
Drap
Drap
Aku semakin panik saat tubuh Claudy bergetar hebat, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.
''Ma, aku lapar'' Ucap Claudy lirih.
Untung saja sebelum masuk ke lorong rahasia ini aku membawa beberapa bungkus roti dan juga beberapa botol air mineral. Segera kubuka sebungkus roti dan ku cubit kecil-kecil, ku suap Claudy sedikit demi sedikit.
Setelah beberapa suapan masuk kedalam mulutnya, Claudy berkata jika ia sudah kenyang. Kuberikan air mineral setelah itu kuberikan juga obat demam untuknya.
Untung saja saat membuat lorong rahasia ini, lorongnya dibuat senyaman mungkin. Dengan panjang 7 meter dan lebar 2,5 meter, dialasi dengan busa dan kain, juga sirkulasi udara yang baik karena ada beberapa ventilasi tersembunyi agar udara bisa terganti. Sehingga saat kita terjebak disini, kita akan merasa nyaman.
''Ma, kita ada dimana? Siapa orang-orang yang ada di rumah kita?'' Ucap Claudy saat melihat rekaman CCTV yang ku putar pada layar ponselku. Ku lihat keadaan rumahku sudah sangat berantakan, pecahan kaca dimana-mana, sofa yang sudah tak berbentuk lagi, juga kamar yang sangat berantakan. Setelah melihat semua ruangan yang ada dirumah, aku beralih mengecek rekaman CCTV di restoran.
Tak jauh berbeda dengan keadaan di rumah tadi keadaan restoran juga sangat kacau. Semua kaca jendela dan etalase berhamburan dilantai, meja-meja dan kursi hancur. Barang-barang di dapur semuanya hilang tak bersisa, aku jadi heran, sebenarnya mereka ingin melakukan penyerangan atau mereka anggota kelompok perampok.
Entah ada halangan apa sehingga kak Nisa belum tiba. Akupun tak tahu apa ia sudah menuju ketempat ini atau belum karena ponsel yang biasa ku gunakan untuk berkomunikasi dengan orang sudah kumatikan saat akau kabur tadi.
''Ma, Claudy ngantuk''
''Tidurlah nak''
Kubaringkan Claudy kemudian ku alasi kepalanya menggunakan ransel yang aku bawa tadi.Setelah ia tertidur, segera aku mencoba membuka kembali pintu ke arah restoran. Baru terbuka sedikit, terlihat masih banyak orang disana segera kututup kembali dengan tangan yang bergetar.
__ADS_1
Aku beralih ke pintu keluar yang satu lagi. Lorong ini juga menghubungkan ke jalan setapak dibelakang restoran. Dengan ragu aku membuka pintu itu.
Ceklek
Ketika pintu terbuka aku menemukan ada beberapa cahaya yang terlihat dari kejauhan. Ingin aku keluar namun saat hendak melangkah aku mendengar mereka bercakap-cakap.
''Sepertinya dia tak ada disini, tapi kita cari lagi kemungkinan dia kabur kesini lewat pintu belakang rumahnya. Semuanya menyebar jangan sampai kita gagal, jika tidak bos bisa menyakiti kita'' Ucap salah seorang dari mereka.
''Baik'' Jawab yang lain.
Mereka semua terlihat menyebar, dengan tubuh bergetar aku kembali ke tempat Claudy berbaring. Aku tak tahu siapa yang memerintah mereka berbuat seperti ini, seingatku aku tak memiliki musuh. Tiba-tiba nama kak Lia muncul dalam pikiranku.
''Apa ini semua ulah kak Lia?'' Gumamku. Padahal aku sudah menuruti semua kemauannya.
Dok
Dok
Dok
Ku tempelkan punggung tanganku pada dahi Claudy, demamnya sudah agak turun semoga saja dia segera membaik. Kulihat kembali ke arah pintu yang menghubungkan dengan jalan setapak di belakang rumah.
Saat hendak membukanya terlihat ada sorot cahaya yang terpancar dari sana. Untung saja pintu penghubung ini tertutup oleh tanaman yang juga merambat ke dinding sekitarnya sehingga bisa tersamarkan.
''Ayo kita pergi dari sini dia tak ada disini. Sebaiknya kita kembali ke rumahnya saja siapa tahu dia sudah ada disana'' Kembali terdengar suara seseorang dari sana.
Aku kembali ke tempat Claudy, ku lihat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ku lihat Claudy sudah tertidur lelap, kuraba lagi dahinya ternyata dia sudah tak lagi demam.
Aku ikut berbaring di sebelahnya karena rasanya mataku juga sudah terasa berat. Setelah membaca doa aku kemudian juga mencoba menutup mataku.
'Semoga hari esok lebih baik dari pada hari ini' Batinku.
__ADS_1
Tak lama aku juga ikut ke alam mimpi, namun pukul 2 dini hari aku kembali terbangun karena perutku terasa lapar. Saat aku terbangun tak ku dapati Claudy di sebelahku, aku sempat panik saat tak melihatnya namun saat ia bersuara aku bisa bernafas lega.
''Ibu sudah bangun. Apa ibu butuh sesuatu?'' Tanyanya.
''Kamu sudah bangun nak? Apa kamu masih demam atau kamu lapar?'' Ucapku tanpa menjawab pertanyaannya lebih dulu.
''Aku tak apa-apa bu, aku tak lapar hanya saja tadi sempat ingin buang air jadi aku bangun dan buang air'' Ucapnya yang membuatku jadi khawatir. Apakah ia tadi keluar dari tempat ini?
''Jadi kamu tadi buang air dimana nak? Apa kamu keluar dari sini?'' Tanyaku.
Dia menggelengkan kepalanya kemudian mendekat ke arahku.
''Tidak ma, apa mama lupa jika di ujung lorong dekat pintu keluar ini ada kamar mandinya? Tadi aku buang air disana ma'' Ucapnya yang sekitaka membuat ku bisa bernafas lega. Aku benar-benar lupa jika di lorong rahasia ini memang tersedia semuanya. Bahkan ada dinding yang berfungsi sebagai lemari pendingin untuk menyimpan makanan.
''Iya nak, ibu lupa. Ibu hanya khawatir karena ibu tak melihatmu di sebelah ibu tadi. Ibu lapar nak, ibu makan roti dulu, kamu istirahat, besok pagi kita keluar dari sini'' Ucapku kemudian mengambil sebungkus roti dari dalam ransel dan memakannya.
Sambil makan aku berpikir bagaiman caranya aku bisa pergi dari sini besok pagi. Tak mungkin selamanya aku berada disini. Tiba-tiba pikiranku terarah pada alamat rumah yang tertera pada sertifikat rumah yang diberikan oleh om Bram tempo hari. Ada dua sertifikat rumah yang semuanya atas namaku dan salah satu alamat rumah tersebut merupakan alamat di perumahan yang cukup elit dan terjamin keamanannya.
Setelah beberapa suapan, aku mencoba mencari sertifikat rumah itu. Untung saja surat-surat penting yang aku masukkan kedalam ranselku saat di desa belum aku keluarkan saat tiba disini. Saat aku menemukan sertifikatnya, ada sebaris senyum terlukis di bibirku. Semoga saja aku bisa keluar dari tempat ini besok pagi, Aku melihat berkas-berkas itu cukup lama, tak sadar ternyata sudah pukul 3:45 pagi. Segera ku bereskan tempatku bersama Claudy kemudian mengganti pakaian, aku kembali kepintu keluar yang menghubungkan dengan jalan setapak dibelakang rumah.
Tak kudapati lagi orang-orang maupun cahaya-cahaya senter disana. Aku merasa sudah cukup aman jika aku keluar saat ini bersama Claudy. Aku memesan taksi online kemudian bergegas keluar bersama Claudy. Saat tiba diluar, baru saja beberapa meter melangkah tiba-tiba saja ada yang menarik tanganku, hampir saja aku berteriak jika aku tak segera melihat siapa yang menarikku.
''Kak Nisa'' Ucapku gugup.
''Huusstttt......'' Ucap kak Nisa menunjuk sebuah pos ronda yang berjarak hanya beberapa meter di depanku.
''Kita harus segera pergi dari sini. Sudah ada mobil polisi yang menunggu kita di sebelah sana. Jangan lewat pos itu, bisa bahaya untuk kalian berdua. Lewat sini saja lebih aman, kalian tak apa kan jika kita lewat selokan?'' Ucapnya.
Aku mengangguk kemudian menuntun Claudy turun dan berjalan lewat selokan yang langsung terhubung dengan jalan poros yang ada di depan restoran.
''Apa sudah tak ada orang-orang di restoran?'' Tanyaku karena khawatir masih ada yang menunggu kami disana.
__ADS_1
''Tenang saja disana ada polisi yang berjaga''
Tak lama kami tiba di ujung selokan, terlihat ada sebuah mobil polisi dengan pintu yang sudah terbuka. Kak Nisa segera naik kemudian disusul aku dan Claudy. Aku langsung mengucap syukur karena berkat bantuan dan pertolongan Tuhan lewat kak Nisa kami bisa selamat.