
Aku duduk di atas kursi roda sambil menangis, menangisi nasib diriku. Jika wanita tadi benar-benar kekasih mas Hans, jika iya, apa mas Hans akan meninggalkanku? Batinku bertanya.
Ting.
Suara pintu lift di belakangku terbuka, segera kuhapus air mataku, aku tak ingin orang melihatku dalam keadaan sedih aku harus selalu terlihat kuat di mata orang.
''Selamat pagi nyonya, apa nyonya memanggil saya?'' tanya seorang karyawan wanita
''Tidak bu, saya tidak memanggil ibu'' jawabku, aku memanggilnya ibu karena jika dilihat dia seusia dengan ibu mertuaku.
''Tapi nyonya barusan menelpon saya nyonya bilang ingin di buatkan susu, ini saya sudah membuatkannya'' jawab wanita itu
''Maaf bu tapi saya tidak memanggil ibu, mungkin wanita yang di dalam ruangan mas Hans yang memanggil ibu'' kataku yang membuat wanita itu heran
''Tapi nyonya, di telpon dia mengatakan bahwa dia kekasih tuan Hans, jadi saya pikir nyonya yang memanggil saya. Maaf nyonya tapi siapa yang ada di dalam?'' tanya wanita itu
''Aku tidak tahu bu, tapi katanya dia kekasihnya mas Hans'' kataku dengan mata berkaca-kaca
''Maaf nyonya, bukan maksud saya memyakiti nyonya'' katanya merasa bersalah
Aku menggelengkan kepala,
''Tidak bu, ibu tidak bersalah, silahkan antarkan susunya bu, agar ibu tidak terkena masalah''
''Tapi nyonya, saya buat karena saya pikir untuk nyonya jika saya tahu bukan nyonya saya tidak akan membuatnya''
''Tidak apa-apa bu, antarkan saja'' kataku sambil mengelus pelan punggung tangannya sembari tersenyum.
Ibu itu kemudian mengantarkan pesanan susu itu kedalam ruangan mas Hans. Tak lama ibu itu keluar dengan raut wajah sedih saat menatapku.
''Ada apa bu, apa wanita yang di dalam memarahi ibu?'' tanyaku
''Tidak nyonya saya tidak apa-apa'' jawabnya
__ADS_1
Ting.
Terdengar suara pintu lift terbuka lagi, aku menoleh kulihat mas Hans dan Indra yang keluar dari dalam kotak besi itu. Rasa senang bercampur sedih muncul dalam hatiku, aku senang karena mas Hans sudah kembali, tapi aku sedih karena di dalam ruangannya ada kekasihnya. Aku menyembunyikan rasa sedihku dan memberi senyuman kepada mereka.
''Mas, sudah selesai rapatnya mas?'' tanyaku basa-basi
''Sudah sayang kenapa kamu di luar, bukannya tadi kamu bilang mau istirahat di kamar?'' tanya mas Hans padaku kemudian melirik pada ibu yang membawa susu tadi
''Ada apa bu Indah, apa yang membawa ibu kemari, apa ada yang penting?'' tanya mas Hans pada ibu tadi
''Begini tuan, ada yang menelpon dari ruangan tuan katanya ingin minum susu, saya pikir nyonya, jadi saya buat dan antarkan kesini. Saat saya tiba disini nyonya ada di luar ruangan dan nyonya bilang mungkin wanita yang di ruangan tuan yang minta dibuatkan susu tuan'' jawab bu Indah takut-takut
''Wanita? Wanita siapa maksudnya sayang?'' tanya mas Hans padaku
''Aku tidak tahu mas, katanya kekasihnya mas Hans? Tadi dia datang saat mas Hans sedang rapat dan aku sedang membersihkan meja mas serta foto kita di atas meja, dia menyuruhku keluar katanya aku tak boleh menyentuh barang-barang pribadi mas dia berpikir aku adalah Office girl'' jawabku
Mas Hans menatap ke arahku, dia kemudian mendorong kursi rodaku masuk ke ruangannya. Indra segera membuka pintu agar kami bisa masuk, saat mas Hans mendorongku masuk kulihat wanita itu terus memperhatikan kami, bisa kulihat ada tatapan tak suka disana.
''Baby, kamu dari mana? Dari tadi aku sudah menunggumu. Oh ya, kamu OG baru kan sudah aku suruh kamu kembali keruangan kamu kok masih disini? Mas tahu ngak OG ini sudah semena-mena di ruangan kamu dia berani menyentuh barang-barang pribadi kamu. Bahkan ia hampir saja masuk ke dalam kamar kamu jika saja aku tak menghalanginya, aku saja pacar kamu tak berani masuk kesana, aku sudah antar dia keluar tadi tapi ternyata dia tak pergi-pergi'' Kata wanita itu sambil bergelayut manja di lengan mas Hans.
''Siapa tadi yang kamu bilang OG?'' tanya mas Hans pada wanita itu
''Siapa lagi mas kalau bukan perempuan yang duduk di kursi roda itu, lagian kamu koq mau-mau saja terima karyawan yang cacat kayak dia'' kata wanita itu sambil menunjukku
''Dengar ya, Rosa, dia bukan OG dia juga tidak cacat dia hanya sedang terluka kakinya, lagian ngapain kamu kesini lagi?'' kata mas Hans
''Aku kesini karena aku rindu sama kamu baby, aku mau kita bicara, bisa kamu suruh indra dan dia keluar?'' kata Rosa
''Kalau mau bicara, bicara saja, Indra dan istriku akan tetap disini, memangnya kamu ingin bicara apa?'' kata mas Hans
''Ap...apa.. apa istrimu? Apa aku tidak salah dengar?'' tanya Rosa meremehkan
''Iya dia adalah istriku, jika ada yang kamu ingin katakan cepat katakan, aku tidak punya waktu, kami akan tidur, aku lelah dan ingin tidur bersama istriku'' kata mas Hans tegas.
__ADS_1
''Hahahaha baby, jangan bercanda ah, tidak lucu tahu'' kata Rosa
''Aku tidak bercanda Rosa, apa kamu tidak melihat gambar di dinding atas sofa, ah, mungkin kamu belum melihatnya.'' kata mas Hans
Rosa segera membalik badannya melihat kearah dinding yang dimaksud mas Hans, disana terpampang jelas foto pernikahan kami. Mata Rosa membulat, mulutnya sedikit terbuka, mungkin dia syok melihat foto itu. Sekian lamanya dia diruangan tadi tak ia perhatikan tempat ini, dia kemudian berkata,
''Baby, ini semua bercandakan, kamu tak mungkin menikah dengan....'' iya tak melanjutkan kata-katanya karena melihat tatapan tak suka dari mas Hans
''Jika tak ada hal lain lagi silahkan pulang, aku dan istriku ingin istirahat'' kata mas Hans
''Tapi, baby, aku..aku....'' Rosa tak melanjutkan kata-katanya
''Indra tolong bawa dia keluar, dan jangan ada yang masuk keruangan saya sebelum saya keluar sendiri'' kata mas Hans memberi perintah pada Indra
Indra segera membawa Rosa keluar ruangan meski Rosa tetap menolak tapi dia ditarik paksa oleh Indra untuk keluar. Mas Hans kemudian mengunci pintu saat Rosa dan Indra sudah keluar. Dia mendorong kursi rodaku menuju kedalam kamar yang aku tempati beristirahat tadi.
''Maafin mas ya, tadi mas sudah ninggalin kamu. Apa Rosa tadi mengganggumu?''
''Tidak mas, aku tidak apa-apa. Apa benar dia kekasih mas?''
''Dia memang kekasih mas sayang, tapi itu dulu sebelum mas mengenalmu, sekarang kamu satu-satunya yang memiliki hati dan tubuh mas'' kata mas Hans sambil membaringkan aku diatas tempat tidur dan ikut berbaring di sampingku.
''Tapi mas, dia bilang dia kekasih mas, apa mas masih mencintai dia, aku tak ingin menjadi penghalang kebahagiaan mas''
''Tidak sayang kamu adalah orang yang paling mas cintai, mas hanya akan mencintai kamu sekarang sampai selamanya, tidak ada yang akan menggantikan kamu di sisi mas. Apa mas sudah bisa meminta hak mas sayang'' kata mas Hans
Belum sempat aku menjawab mas Hans sudah menutup bibirku dengan bibirnya, dia memelukku dan terus mencium bibirku dengan lembut. Ada rasa aneh yang mengalir dalam tubuhku, bahkan kali ini aku tak menolak perlakuan mas Hans padaku. Mas Hans mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya, saat hendak menanggalkan pakaianku, aku sempat menahan tangannya tapi aku juga tak menolak. Kami sudah sama-sama tak berbungkus sehelai kainpun, kuraih selimut agar menutupi tubuhku yang polos, aku masih merasa malu jika mas Hans melihat tubuhku yang polos.
''Mas, jangan memandangku seperti itu, aku malu mas''
kataku dengan wajah tertutup selimut
''Jangan malu sayang, mas ini suamimu mas berhak melihatnya dan memilikinya, apa mas bisa mengambil milik mas?'' bisik mas Hans dengan lembut di telingaku yang membuat bulu-bulu kudukku merinding
__ADS_1
Aku hanya mengangguk, tak mungkin juga aku terus menghindar, suatu saat juga pasti hal ini akan terjadi, aku harus tahu posisiku sekarang adalah seorang istri, memiliki tanggung jawab untuk melayani suamiku. Akhirnya aku memberikan mahkotaku kepada mas Hans, aku tak bisa menolak karena bagaimanapun seperti yang mas Hans katakan itu adalah haknya dan aku bangga, aku bisa melepaskan mahkotaku pada orang yang sudah memintaku kepada Tuhan.