
Hari sudah semakin malam dan seharian ini aku hanya dikamar tidak melakukan apa-apa. Aku hanya duduk-duduk saja di kamar sambil memikirkan keputusan apa yang akan aku ambil atas tawaran laki-laki tadi pagi. Aku berniat untuk keluar sebentar sekedar mencari makan malam dan mencari udara segar. Sedari pagi aku hanya makan roti saja itupun tadi pagi.
Tidak perlu waktu lama untuk sampai di sebuah warung makan yang ada disekitaran tempat tinggalku.
''permisi bu, saya ingin memesan makanan'' sapaku pada pemilik warung
''selamat malam non, mau pesan apa?'' jawab ibu pemilik warung
''saya ingin nasi, sayur bening juga telur satu bu'' jawabku
''mau makan disini? apa dibawa pulang non?'' tanyanya lagi
'' saya mau bawa pulang bu'' jawabku lagi
''silahkan duduk non, sebentar ibu ambilkan dulu pesanan non'' jawabnya seraya membungkus semua pesananku
aku duduk di kursi di depan warung, aku melihat orang-orang menatapku dengan tatapan aneh yang membuatku sedikit risih. Bahkan ada yang ingin berbelanja tapi begitu melihatku langsung berlari pulang.
''apa dia manusia atau hantu?'' bisik seorang pembeli pada orang di sampingnya yang duduk tidak jauh dari tempatku duduk. Meski sudah berbisik tapi aku mendengar jelas apa yang dia katakan. Tapi aku tidak terlalu menggubris omongan mereka.
''sudah non, semuanya 10 ribu''
kata ibu pemilik warung sambil menyodorkan sebuah kantong plastik berisi makanan yang aku pesan tadi.
''ini bu uangnya, terimakasih''
kataku sambil memberikan uang pada ibu pemilik warung.
Ketika melihatku raut wajahnya berubah sendu kemudian keluar dari warung setengah berlari dan langsung memelukku sambil menangis. Aku dibuat heran oleh tingkah ibu pemilik warung yang sepertinya begitu sangat senang melihatku dan kurasa ia sedang rindu dengan seseorang, bisa kurasakan pelukannya begitu tulus dan hangat.
''bibi hu..hu..rin..du huhuhu...pada nyonya, apa nyonya baik-baik saja? huhuhu...''
katanya disela isak tangisnya yang membuatku semakin heran. Aku berpikir mungkin ini ada hubungannya dengan kata-kata pembeli tadi.
''maaf bu, saya tidak mengerti maksud ibu?'' jawabku setelah dia melepas pelukannya
''apa nyonya lupa sama bibi?'' katanya dengan mata yang masih berkaca-kaca
''maaf ibu tapi saya tidak mengenal ibu, mungkin ibu mengira saya adalah orang lain yang ibu kenal'' jawabku padanya, sekarang malah si ibu yang terlihat keheranan karena aku tidak mengenalinya.
''apa non bukan nyonya lutfiah?'' tanyanya
''maaf bu, nama saya pelangi bukan lutfiah'' jawabku
aku melihat air matanya kembali menetes dipipinya, aku yang ikut sedih melihatnya langsung mengelap air matanya dengan telapak tanganku. Dia memegang tanganku
''maafin saya non, saya kira non adalah nyonya saya'' katanya
''tidak apa-apa bu, kalau begitu saya permisi bu. Saya harus pulang istirahat karena besok saya bekerja'' kataku berpamitan sambil mengelus punggung tangannya
''ternyata dia bukan hantu, tapi kenapa wajahnya mirip sekali'' sayup-sayup masih terdengar suara para pembeli yang kurasa sedang berbicara tentangku.
Aku tiba kamar, mencuci tangan kemudian menyantap makan malamku. Sehabis makan aku mencuci peralatan makan, menyikat gigi, menyalakan alaram pada ponsel kemudian berdoa dan tidur, mengistrahatkan pikiran yang sangat lelah dengan semua kejadian hari ini.
.
.
.
Tring.....
__ADS_1
Tring....
Tring.....
Tring....
bunyi alaram dengan setia membangunkanku setiap pagi, kuraih ponsel kumatikan alaram kemudian memulai rutinitas pagiku dan bersiap berangkat ketempat kerja.
.
''selamat pagi''
sapaku pada teman-teman yang sudah lebih dulu ada di restoran
''pagi juga pelangi'' sapa mereka semua terkecuali seorang teman yang sedang mengelap meja disudut restoran. Aku melihat ada kilat kemarahan pada matanya saat melihatku.
Aku segera menuju ke ruang ganti untuk mengganti pakaian kemudian memulai pekerjaanku. Pagi ini ada banyak pelanggan yang datang padahal restoran baru saja di buka tidak seperti biasa. Bahkan banyak diantara mereka yang datang hanya sekedar minum kopi atau teh, saat jam makan siang pelanggan yang datang tambah banyak bahkan banyak dari mereka yang baru kali ini kulihat. Mungkin karena aku belum lama bekerja disini atau mungkin memang pelanggan baru.
Saat aku mengantar pesanan pada beberapa pelanggan ada yang sampai tak berkedip melihatku, ada yang senyum-senyum, ada juga yang terlihat panik. Aku jadi teringat kejadian kemarin, apa ini semua ada hubungannya.
tiba saatnya kami istrahat makan siang, kami semua berkumpul di ruangan makan disamping dapur, makan siang bersama
''kamu sebenarnya siapa?'' tanya temanku yang tadi tidak menyapaku saat baru datang, membuatku hampir saja tersedak makananku
''aku pelangi'' jawabku singkat
''maksudku apa tujuanmu datang kemari dan ada hubungan apa kamu dengan pak bos?'' tanyanya lagi dengan nada sedikit lebih tinggi
''saya datang, ya, untuk bekerja. Dan saya tidak ada hubungan apa-apa dengan pak bos. Bahkan saya tidak tahu siapa bos disini saya hanya mengenal kalian dan pak albert'' jawabku polos karena tidak tahu maksud pertanyaannya
''awas kamu ya,dasar orang udik! jangan berani dekat-dekat dengan pak bos'' katanya sambil membuang makan siangku kelantai.
Air mataku menetes seketika, bukan karena sakit hati dengan perkataannya tapi karena makanan yang terbuang percuma kelantai, bahkan belum sempat aku sentuh.
''aku tidak apa-apa jangan marahi dia'' kataku
''tidak usah didengar apa katanya, dia memang suka seenaknya sendiri kamu tidak usah menangis'' kata sari
''aku bukan menangis karena kata-kata sandra, tapi aku menangisi makanan yang terbuang itu'' kataku sambil menunjuk makanan yang tumpah di lantai
mereka saling berpandangan kemudia tertawa bersama-sama. Sandra yang sudah hampir keluar dari ruangan itu kemudian berbalik dan melototkan matanya ke arahku.Aku hanya tersenyum.
''awas aja kamu anak udik kalau kamu masih berani dekat-dekat pas bos, kamu akan berhadapan denganku karena sudah mencari masalah!'' kata sandra sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu.
''salahku apa?'' tanyaku dalam hati
Setelah makan siang kami kembali bekerja, hari ini terasa begitu melelahkan karena begitu banyak pelanggan dan harus pulang lebih lama tapi kami juga bersyukur berarti akan ada bonus untuk kami nanti. Saat tiba waktunya pulang kami mengambil jatah makan malam juga uang transportasi yang memang diberikan setiap akan pulang.
Aku selalu berjalan saat pergi dan pulang dari bekerja karena jarak tempat tinggalku tidak jauh dari tempatku bekerja. Aku melihat ada beberapa orang berbadan tinggi tegap berbaju hitam sedang berdiri di depan kamar kosku. Seketika bulu kudukku berdiri karena merasa takut sesegera mungkin sebelum mereka melihatku aku berbalik kearah rumah ibu kos.
Tingtong....
Tingtong..
ku pencel bel dirumah ibu kos
ceklek
''ada apa nak pelangi, tumben kerumah ibu?'' tanya ibu kosku saat membuka pintu
''i..it..itu... mereka siapa bu? kenapa ada di depan kamar saya?'' tanyaku pada ibu kos dengan badan gemetar karena merasa takut
__ADS_1
ibu kos melihat kearah kamarku kemudian tersenyum
''mereka bukan orang jahat nak, kalau kamu takut mari ibu antar'' kata ibu kosku
''ta..tapi..tapi bu, saya takut saya tidak kenal mereka'' jawabku jujur sambil bersembunyi di belakang ibu kos yang sudah lebih dulu melangkah ke arah kamar kosku
''selamat sore nyonya'' kata orang-orang yang berbaju hitam sambil membungkukkan badannya saat kami hampir sampai disana
''ayo nak, sapa mereka'' kata ibu kos sambil menarikku berdiri di sampingnya
''tapi bu, saya bukan nyonya mereka bu'' jawabku
''sapa saja dulu nak, apa kamu tidak kasihan melihat mereka terus membungkuk kan nanti pada pegel-pegel'' kata ibu kos sambil tertawa kecil
''selamat sore juga'' kataku kemudian, dan benar saja barulah mereka kembali berdiri tegak.
''mulai saat ini kami yang akan menjaga nyonya disni'' kata salah satu pria berbaju hitam
''kami akan bergantian menjaga nyonya disini, nyonya tidak perlu khawatir kami sudah meminta ijin pada ibu kos juga rt/rw setempat'' sambungnya lagi setelah sempat menjeda kalimatnya
''terimakasih tapi saya tidak apa-apa tuan, saya tidak perlu di jaga'' kataku pada mereka membuat mereka serentak melihat ke arahku, yang membuatku kembali merasa takut
''tapi nyonya ini perintah dari tuan, jika kami tidak melakukannya kami akan di hukum atau bahkan bisa di pecat'' jawab salah satu dari mereka lagi
''tolong ijinkan kami menjaga nyonya, kami janji tidak akan mengganggu nyonya'' katanya lagi
''sudalah nak, terima saja niat baik mereka toh hitung-hitung mereka menjaga keamanan kita disini, kasian juga kalau sampai di pecat, keluarganya mau makan ap?'' kata ibu kos
''tapi bu saya bukan nyonya mereka, tapi tuan-tuan semua boleh berjaga disini. Tapi saya tidak punya apa-apa untuk tuan-tuan semua pakai juga tidak ada makanan yang bisa saya berikan, disini saya cuma kos. Nanti tuan-tuan mau makan apa dan mau istirahat dimana?''
wajah mereka semua berbinar seketika mendengar jawabanku
''nyonya tidak usah khwatir, kami sudah menyiapkan segalanya, kami punya bekal juga punya tenda yang akan kami pasang di halaman samping kamar nyonya, bisa jangan panggil kami tuan, nyonya cukup panggil kami ben saja, karena kami semua dipanggil ben oleh tuan'' jawab salah satu dari mereka
memang halaman depan kamarku cukup luas karena kamarku berada di ujung deretan kamar kos.
''baiklah tuan.. maksud saya ben, tapi saya benar-benar tidak apa-apa saya sudah biasa hidup sendiri, tuan-tuan bisa beristirahat'' kataku pada mereka
''trimakasih nyonya, kami akan memasang tenda dulu selamat beristirahat nyonya'' jawabnya sambil memanggil temannya dan bersama-sama mendirikan tenda.
Aku segera masuk kedalam kamar setelah ibu kos juga kembali kerumahnya. Aku segera mandi kemudian kembali melihat orang-orang tadi lewat jendela kamar yang kubuka sedikit tirainya. Hanya tinggal 2 orang saja disana, mungkin yang 2 sudah pulang karena katanya mereka akan bergantian berjaga.
Saat hendak keluar melihat mereka aku terkejut karena ada banyak makanan di atas meja didepan kamarku.
''ini makanan untuk siapa ben?'' tanyaku pada dua orang itu
''itu makan malam untuk nyonya'' jawab mereka
''tapi ini terlalu banyak ben, lagipun saya ada jatah makan malam dari restoran, kalau begitu kalian makan saja'' kataku pada mereka
''tapi nyonya makanan itu untuk nyonya kami tidak berani memakannya nyonya, nanti kami akan membeli makanan sendiri'' kata salah satu dari mereka
''baiklah tapi aku juga tidak akan makan kalau kalian tidak makan'' kataku pada mereka
''tapi kami bisa kena marah kalau sampai ketahuan makan makanan untuk nyonya'' jawabnya lagi
''tenang saja aku tidak akan mengadu pada tuan kalian, bahkan aku tidak mengenal tuan kalian'' jawabku sambil tertawa
akhirnya mereka mau ikut makan bersamaku, kami menggelar tikar di teras depan kamar kemudian makan bersama-sama sambil bercerita tentang kehidupan masing-maaing. Ternyata mereka tidak segarang penampilannya mereka ternyata enak untuk diajak bersenda gurau. Setelah makan malam saya membersihkan bekas makan malam kami kumudian saya pamit pada mereka berdua untuk istirahat dan mereka juga kusuruh istirahat meski mereka tetap kekeh akan berjaga malam ini.
''kalian istirahat saja saya tidak apa-apa, selamat beristirahat'' kataku pada mereka sebelum masuk ke kamarku
__ADS_1
''terimakasih nyonya, selamat beristirahat'' kata mereka berdua, hanya kubalas dengan anggukan kepala dan senyum