
deg
deg
deg
irama jantungku kembali tak beraturan, pikiranku tak tahu kemana arahnya, aku tidak tahu harus berkata apa dan bersikap seperti apa di depan keluarga tuan hans. Aku hanya tertunduk saat memasuki rumah ibu kos apa lagi saat sampai di ruang tamu
''selamat sore semua perkenalkan ini pe.... maksud saya lutfiah, calon pengantin kita'' kata ibu kos, aku bingung? kenapa ibu kos memperkenalkan aku sebagai orang lain bukan memperkenalkan aku sebagai pelangi saja
''hallo nak silahkan duduk, dan jangan malu kami semua akan menjadi keluargamu'' kata seorang wanita yang kuperkirakan adalah ibu tuan hans calon mertuaku hehehe, iya calon, kan belum resmi hehehe
Aku duduk diapit oleh ibu dan bapak kos, saat seperti ini aku merasa mereka seperti mendiang orang tuaku, begitu ramah, baik dan penyayang.
''kemarilah nak, duduk di samping ibu'' kata ibu tuan hans, aku melangkah dengan kepala masih tertunduk kemudian duduk disamping ibu tuan hans, dia tersenyum dan mengangkat wajahku agar dapat dilihat semua orang, aku terkejut melihat wajah ibu tuan hans wajahnya sangat mirip dengan ibu kosku, dalam hatiku bertanya ''apa mereka kembar, kenapa mirip sekali''
''tentu nak fiah sudah tahu maksud dan tujuan kedatangan kami sekeluarga'' kata seorang laki-laki mungkin orang yang dituakan dalam keluarga mereka
aku tak menjawab karena masih bingung mau mengatakan apa?
''sa..saya.. saya belum mengetahui pasti tuan?'' jawabku gugup
''hehehe baiklah nak, biar bapak jelaskan! Kami sekeluarga datang untuk melamar nak fiah, kami sudah tahu kalau anak kami hans sangat menyukaimu dan kami berharap nak fiahpun memiliki perasaan yang sama'' kata laki-laki sepuh itu
deg
''bagaiman nak, apa lamaran kami bisa diterima oleh nak fiah?'' tanya ibu tuan hans sambil megelus punggung tanganku
kupandangi wajahnya yang penuh harap, matanya sudah mulai berkaca-kaca, kusadari semua mata menatap ke arahku menunggu jawaban yang akan aku berikan. Akhirnya aku memberanikan diri membuka suara setelah sekian lama hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh semua orang didalam ruangan ini.
''sebelumnya saya minta maaf, apa saya bisa berbicara berdua saja dengan ibu tuan hans?''
tanyaku yang langsung membuat raut wajah orang-orang terlihat aneh seperti sedang bingung, mungkin mereka tak mengerti apa tujuan aku ingin berbicara empat mata saja dengan ibu tuan hans
''tentu saja boleh nak, silahkan berbicara di kamar anak ibu'' jawab ibu kos seperti mengerti maksudku
ibu tuan hans berjalan mendahuluiku dan aku mengekor di belakangnya. Aku lagi-lagi dibuat heran dengan calon mertuaku ini sepertinya dia sangat hapal seluk beluk rumah ini, karena dia langsung menuju kamar anaknya ibu kos. Saat tiba di kamar aku langsung mulai berbicara pada ibu tuan hans
''maaf sebelumnya bu, se.sese..sebenarnya saya bukan lutfiah nama saya pelangi bu, saya juga belum lama mengenal tuan hans, saya cuma anak yatim piatu dari desa, bibi saya bahkan tidak menyukai saya padahal dia satu-satumya keluarga yang saya punya dia berkata saya hanya pembawa sial bagi orang lain. Jika ibu ingin membatalkan pernikahan ini tidak apa-apa bu, saya juga merasa tidak pantas mendampingi anak ibu. Anak ibu begitu sempurna sementara saya banyak kekurangan, saya juga tidak ingin menipu tuan hans atau keluarganya karena saya tahu yang dicintai tuan hans itu mendiang nyonya lutfiah bukan saya bu'' kataku padanya
''nak, dengarkan ibu, ibu tidak perduli kamu siapa bagaimana latar belakangmu atau dari mana asalmu yang ibu tahu anak ibu begitu mencintai kamu dan itu adalah kebahagiaan terbesar bagi ibu dan keluarga nak'' jawabnya
__ADS_1
''tapi bu, saya tidak ingin menipu tuan hans dengan berpura-pura menjadi mendiang nyonya lutfiah, saya tidak akan sanggup berbohong bu''
''ibu tahu nak, kami sekeluarga sudah tahu kamu bukan lutfiah karena dia sudah meninggal, ibu kosmu dan nak indra yang memberi tahu, ibu kosmu dia adiknya ibu kami saudara kembar oleh karena itu wajah kami mirip, jika kamu tidak mencintai anak ibu tidak apa-apa nak, tapi ibu minta tolong bisakah kamu berpura-pura untuk sementara waktu? jika hans sudah bisa menerima kenyataan dan kamu masih tidak mencintainya kamu bisa pergi nak, tapi jika nanti kamu mencintainya kamu bisa tetap tinggal nak dan itu akan membuat ibu semakin bahagia''
''tapi saya merasa tidak pantas untuk tuan hans, dan saya juga susah untuk berpura-pura bu''
''tidak ada yang lebih pantas selain kamu nak, ibu mohon tolonglah ibu nak, ibu ingin melihat anak ibu selalu tersenyum seperti ini. Sudah lama sejak kepergian lutfiah, anak ibu tak pernah tersenyum atau berbicara pada orang lain kecuali ibu, ayahnya dan nak indra'' kata ibu tuan hans sambil menyatukan kedua telapak tangannya didada, ku lihat matanya sudah mulai mengembun
''baiklah bu saya bersedia, sa.saya..say..saya menerima lamaran ini bu'' jawabku,
Ahh.. ya, beginilah aku paling tak bisa melihat orang lain sedih dan menderita. Aku juga berpikir jika aku menikah bukankah lebih baik selain membantu orang aku juga memiliki keluarga disini, pikirku
''terimakasih nak huhu.....hu..hu..huuhuuuu..''jawab ibu tuan hans sambil menangis
''ayo nak, kita temui mereka, pasti mereka sangat bahagia mendengar kabar ini'' sambungnya lagi seraya mengusap air matanya
''baiklah bu, tapi saya bisa minta tolong bu?'' tanyaku sebelum kami keluar dari kamar
''apapun untukmu nak'' jawabnya dengan wajah berseri-seri
''bisa ibu kabari bibi saya jika saya akan menikah, meski saya tahu dia tidak akan datang, setidaknya mereka tahu bahwa saya akan menikah'' kataku
''tentu nak, mereka harus tahu'' jawabnya
langkah kaki kami serasa begitu lambat seperti sangat jauh dari kamar ke ruang tamu, entah karena perasaanku saja atau memang aku jalannya lambat sekali sekarang
''hallo semua, mari sambut calon pengantin kita'' kata ibu tuan hans kepada orang-orang yang ada disana, terdengar riuh tepuk tangan diruangan itu
prok prok prok prok
''benarkah nak, kamu menerima lamaran kami?'' tanya ayah tuan hans
''iya tuan, saya... sayaaa menerima lamaran ini'' jawabku
''benarkah itu sayang?'' kata tuan hans dengan mata berbinar-binar
aku melirik ke arah ibunya dan ibunya menganggukkan kepala seperti memberi isyarat agar aku berkata iya
''iya tu.tuan, eh...maksudnya sweety'' jawabku gugup dan membuat orang-orang diruangan itu tertawa terbahak-bahak
''hmm sepertinya, calon mantu kita masih malu-malu'' kata ayah tuan hans, semua orang tertawa kembali tak terkecuali tuan hans, kutatap wajahnya, begitu sempurna dia apalagi jika sedang tertawa dia begitu mempesona
__ADS_1
''sepertinya ada yang sedang terpesona, sampai tidak berkedip memandang calon suaminya'' kata indra yang membuatku sesegera mungkin menunduk, aku merasa sangat malu karena ketahuan sedang mengagumi ciptaan Tuhan yang terlihat sempurna di depan mataku
''jangan malu-malu, karena setiap pagi kamu akan memandangnya ketika kamu bangun'' jawabnya lagi yang semakin membuatku malu
''hanssssss, jangan bilang kamu juga terpesona dengan calon istrimu, tadi dia yang memandangmu, sekarang kamu juga ikut-ikutan memandangnya tak berkedip hahahahaha'' kata ayah tuan hans sedang menggoda anaknya
entah bagaimana rupaku sekarang kurasa wajahku merah sekarang jauh lebih merah dari tomat yang sudah matang, Ahhh lebay dikit ngak apa-apa ya. Kulihat tuan hans sedang salah tingkah, tertawa-tertawa kecil sambil menggaruk-garuk kepalanya yang mungkin saja tak gatal.
''baiklah nak, kapan kamu siap menikah dengan anak kami?'' tanya bapak yang sudah sepuh, ternyata dia adalah kakek dari tuan hans namanya tuan philip
''saya ikut saja keputusan keluarga bapak'' jawabku singkat karena tidak tahu harus memberikan jawaban apa
''baiklah bagaimana semua kapan tanggal yang baik untuk pernikahan mereka'' tanya tuan philip pada semuanya
''lebih cepat lebih baik kek'' jawab tuan hans
''hehehehehehe...., rupanya ada yang sudah tidak sabar'' kata tuan philip diiringi tawa seisi ruangan
''baiklah nak pelangi menurut kamu kapan waktu baiknya karena sepertinya calon suamimu sudah tidak sabar''
hah?heh? maksudnya tidak sabar? tidak sabar untuk apa? otakku malah merambah kemana-mana dasar kamu pelangi, batinku
''bagaimana kalau hari ulang tahun fiah 2 bulan lagi bagaimana nak?'' tanya ibu kosku
''saya ikut bagaimana baiknya saja bu'' jawabku
''baiklah... hari ini sudah diputuskan 2 bulan lagi pernikahan akan dilaksanakan, selama itu kalian tidak boleh bertemu sampai hari pernikahan dan tidak bisa di tolak karena itu sudah tradisi keluarga kita'' kata tuan philip
''hah? 2 bulan kek lama amat, udah gitu ngak bisa ketemu juga'' protes hans
''ya, kamu harus sabar jika ingin menikah, jika sampai ketahuan kamu menemuinya diam-diam pernikahan akan langsung dibatalkan'' tegas tuan philip
''tapi.... kek bakalan rindu dong'' protesnya lagi
''tahan-tahan saja rindumu toh cuma 2 bulan saja'' kata tuan philip
Terjadi perbincangan panjang mengenai apa saja yang harus disiapkan untuk acara pernikahan setelah semua telah mencapai ketusan kami makan siang bersama, tak lama setelahnya mereka sekeluarga pamit tak terkecuali tuan hans
''titip putriku ya dek'' kata ibu tuan hans pada ibu kosku yang dibalas anggukan kepala olehnya, bahagia hatiku mendengar dia memanggilku putrinya, rasanya aku memiliki keluarga baru disini
''baiklah sayang aku juga pamit jaga kesehatanmu, aku akan selalu menghubungimu setiap hari'' kata tuan hans sebelum berlalu masuk kedalam mobil bersama orang tuanya, hanya ku balas dengan anggukan kepala dan senyuman
__ADS_1