PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
DATANG MEMBAWA LUKA


__ADS_3

Aku mengantar bu Desi dan bu Ratna ke depan gerbang rumah sakit dan mengucapakan terimakasih sekali lagi karena telah menemaniku semalaman ini. Setelah dari sana aku kembali keruangan dimana kami menunggu semalaman, aku harus makan agar ada tenaga untuk menjaga bu Dita.


Saat memasuki ruangan tak kudapati kak Frans di dalam sana. Kemana ia padahal tadi sudah aku minta sarapan lebih dahulu.


Ceklek


Suara pintu terbuka membuatku menolehkan pandangan ke arah pintu. Mataku terbelalak mendapati beberapa orang disana menatapku dengan pandangan tak suka. Ya, disana ada kak Lia, mas Hans juga pak philip, mereka memberikan tatapan tak suka ke arahku. Entah mengapa, aku memiliki firasat buruk tentang kedatangan mereka, meski tak dipungkiri hatiku sangat bahagia melihat mereka datang untuk menjenguk bu Dita dan tak kusadari jika mereka juga datang membawa luka untukku.


''Apa yang sudah kau lakukan pada ibuku? Dasar pembawa sial!'' Ucap kak Lia sambil memberikan tatapan tajam ke arahku.


Aku sendiri telonjak kaget mendengar ucapan kak Lia, hatiku kembali nyeri karena perkataannya. Belum selesai rasa terkejutku pak philip dan mas Hans juga ikut memberikan kata-kata pedas dan hinaan untukku.


''Aku tak akan memaafkanmu, jika terjadi sesuatu pada ibuku. Aku tahu kau yang sudah mencelakai ibuku'' Ucap mas Hans yang semakin membuat hatiku menciut.


''Jika anak menantuku kenapa-kenapa, kau akan aku masukkan kedalam penjara dan tak akan aku biarkan kau bebas. Kau akan membusuk dan mati disana'' Ucap pak philip.


Aku memang bahagia akan kehadiran mereka disini namun di sisi lain hatiku sangat terpukul mendapatkan ucapan-ucapan yang membuat hatiku terasa sakit. Ingin rasanya aku membalas ucapan-ucapan mereka namun aku tak akan melakukan itu, bagaimanapun ini tempat umum. Tak lama setelahnya kak Frans datang dan menghampiri kami.


''Dek, kami mau menemui ibu. Bisa kamu ikut dan minta ijin pada perawat''' Ucap kak Frans padaku.


''Ngapain dia harus ikut, kita juga bisa minta ijin sendiri sama perawat nanti. Toh kita mau ketemu ibu kita, lagian dia juga penyebab semua ini. Aku khawatir saja ibu akan jadi sial jika ia ikut'' Ucap kak Lia.

__ADS_1


''Kak..!'' Bentak kak Frans pada kakaknya.


''Betul yang dikatakan kakakmu Frans, lebih baik wanita ini tak ikut. Apa kau ingin membuat ibumu tambah parah?'' Ucap pk Philip sambil menunujuk ke arahku dengan tatapan penuh amarah.


''Lebih baik kita segera kesana'' Lanjut pak philip sambil berlalu di ikuti kak Lia dan mas Hans.


Kak Frans memandangku dengan tatapan iba, aku menganggukkan kepala agar ia segera pergi bersama keluarganya, aku tak ingin ada masalah lagi jika ia tak ikut serta melihat bu Dita.


''Sabar dek, maafkan keluarga kakak'' Ucapnya sebelum berlalu.


Aku tersenyum berusaha menutupi rasa sakit yang teramat sakit di dalam sana. Aku tak ingin menunjukkan kelemahanku dihadapan kak Frans maupun keluarganya. Aku harus berusaha tegar. Selepas kepergian kak Frans, aku luruh duduk di atas lantai, menangis menumpahkan sesak yang ada di dalam sana.


'Apa salahku pada mereka, kenapa mereka selalu saja membuatku menangis? Tuhan kenapa aku harus selalu menjalani hidup dengan banyak cobaan?' Batinku mengeluh pada sang pencipta.


''Tapi kak, saya tidak pernah memiliki niat seperti itu pada bu Dita. Saya sudah menganggap bu Dita seperti ibu saya sendiri'' Ucapku memandang kak Lia, setelah menghapus jejak air mata di wajahku.


''Halah, tidak usah banyak bicara kamu! Aku tak pernah main-main dengan ucapanku. Jika kau tak pergi dari sini sekarang, aku akan membuatmu menyesal. Sekarang kamu pulang dan jangan berani datang kesini jika tidak, aku akan membuat anak haram itu seperti ibu sekarang!''


Brugh


Aku kaget saat melihat keadaan putriku, tangan dan kaki di ikat, mulut di lakban dan matanya berderai air mata. Claudy diseret dan dijatuhkan tepat dihadapanku, langsung saja kubawa dia dalam pelukanku, kubuka tali yang mengikatnya juga lakban yang tertempel di mulutnya. Sungguh malang keadaan putriku sekarang, ia hanya bisa terisak di dalam dekapanku.

__ADS_1


''Sekarang kalian pergi dari sini sebelum orang-orangku membuat kalian hanya tinggal nama saja! Dan ingat jangan pernah kalian menunjukkan wajah kalian dihadapanku dan keluargaku lagi. Dan kau anak haram jangan pernah menyebut adikku sebagai ayahmu. Kami tak sudih memiliki keluarga yang tak jelas asal usulnya''


''Cukup kak, kakak bisa menghinaku tapi jangan kakak hina putriku'' Ucapku setengah berteriak pada kak Lia.


Dia memandangku dengan tatapan nyalang, ada aura kemarahan kutangkap dalam tatapannya.


''Kalian cepat bawa kedua pembawa sial ini dari hadapan ku'' Kata kak Lia pada kedua orang yang datang membawa Claudy tadi, kemudian berlalu mengambil dompet dan ponselku dan melemparkannya kehadapanku. Segera kuraih ponsel dan dompetku kemudian berdiri karena tangan kami sudah ditarik paksa oleh kedua orang yang diperintah kak Lia.


Aku masih ingin menemui kak Frans, namun dengan cepat orang suruhan kak Lia menyeret kami berdua keluar dari rumah sakit. Tak ada siapapun yang melihat kami diseret seperti itu, mungkin karena kami diseret keluar melalui jalan belakang di rumah sakit ini. Dimana tak ada orang yang lewat jalan ini, namun aku heran bagaiamana orang suruhan kak Lia bisa mendapatkan kunci pagar belakang rumah sakit.


Setelah kami dibawa keluar dari rumah sakit kedua orang suruhan kak Lia kemudian memberikan sebotol krim untuk meredakan nyeri, keningku sampi berkerut karena perlakuan mereka.


''Maafkan kami bu, kami terpaksa melakukan ini. Jika kami tak melakukan ini maka nyawa kami yang bisa terancam. Obat ini bisa meredakan nyeri ditangan ibu saat kami menarik paksa ibu dan anak ibu. Sekali lagi kami minta maaf bu, kami masuk dulu bu, jika tidak, bu Lia akan memarahi kami'' Ucap salah seorang dari mereka dan tak lama setelahnya mereka buru-buru masuk ke dalam rumah sakit kembali.


Aku dan Claudy memutuskan untuk kembali ke rumah, aku tak ingin membahayakan nyawa putriku. Meski aku tak ingin meninggalkan bu Dita, namun saat ini nyawa putriku lebih penting.


''Nak, ayo kita pulang'' Kataku tetap memeluk putriku. Aku sangat terpukul melihat keadaanya sekarang, dia tak mengatakan apapun, dia hanya terus menangis dan menangis. Ke adannya terlihat mengenaskan, rambutnya acak-acakan, wajahnya penuh lebam dan matanya sembab sepertinya dia dari tadi menangis.


'Aku akan menuntut keadilan untukmu nak. Tak apa jika mereka menghinaku, tapi mereka sudah keterlaluan mereka bahkan menyakitimu secar fisik nak' Ucapku dalam hati.


Jika selama ini aku diam, bukan berarti aku lemah, hanya karena aku masih menghargai mereka sebagai keluarga meski mereka tak mengakui kami. Itu juga kulakukan karena masih menghargai bu Dita, namun kali ini aku tak akan diam jika mereka menyakiti putriku.

__ADS_1


Aku segera pulang dengan memakai taksi online, beruntung saja tadi saat kami dibawa keluar rumah sakit, aku sempat mengambil dompet dan ponselku. Saat tiba di rumah pak Beni dan istrinya menyambut kami dengan wajah khawatir dan rumah dalam keadaan berantakan. Mungkin perbuatan orang suruhan kak Lia sewaktu mencari Claudy di rumah ini.


__ADS_2