PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
SYAM, DYO DAN TASYA


__ADS_3

Hari ke empat setelah pemakaman om Bram, kami memutuskan untuk pergi mencari ibu dan mas Hans ke tempat yang sudah di beritahukan oleh Soni, orang yang aku bayar untuk mencari keberadaan mereka.


Bu Desi, Sintia , Rivaldi dan Piter sudah kembali ke bagian utara pulau dua hari setelah pemakaman om Bram.


Pagi-pagi sekali kami sudah bangun karena jarak yang harus kami tempuh untuk sampai ke tempat dimana mas Hans dan bu Dita tinggal cukup jauh, kurang lebih 8 jam perjalanan karena tempatnya berada di kabupaten lain.


Kak Frans dan kak Nilam menyiapkan segala keperluan baby Queen saat di jalan, sedangkan aku dan Claudy menyiapkan bekal untuk makan siang kami nanti.


''Sudah siap kak?'' Tanyaku pada kak Nilam yang keluar dari kamar menggendong Claudy.


''Sudah dek, Habis sarapan kita berangkat''


Kami duduk di meja makan menikmati sarapan pagi sedangkan baby Queen tertidur di atas ayunan rotan di samping ruang makan.


''Makan yang banyak nak, perjalanan kita cukup jauh''


''Iya mah''


''Apa ngak akan apa-apa jika baby Queen juga ikut?''


''Ngak apa-apa dek, lagian aku juga ingin segera ketemu ibu mertua. Mudah-mudahan saja Queen tak rewel''


''Jika kakak lelah kita bisa bergantian memangku Queen'' ujar ku.


Setelah menikmati sarapan pagi, kami istirahat sebentar sebelum kami berangkat. Kami memilih menggunakan salah satu bis yang ada di perusahaan agar baby Queen bisa leluasa tidur dan juga agar kak Nilam bisa berbaring jika ia sedang menyusui. Bis yang kami gunakan memang di desain khusus agar kursinya dapat di ubah menjadi tempat tidur lengkap dengan bantal dan selimutnya.


Kami berangkat sekitar pukul 8 pagi, perlahan bis berjalan menyusuri jalanan kota hingga jalanan desa. Perjalanan kami ini melalui jalanan kota ke arah selatan kemudian memasuki jalan dimana disisi jalan adalah hutan pinus, melewati beberapa desa, kota dan begitu seterusnya. Ada beberapa kabupaten yang harus kami lewati untuk sampai ke kabupaten dimana bu Dita, bi Asih dan mas Hans berada.


Kurang lebih 5 jam perjalanan, kami memutuskan untuk singgah beristirahat sekalian makan siang. Jika tak ada halangan, tinggal 2 kabupaten lagi maka kami akan tiba di tempat tujuan.


''Pak Yos, ayo kita makan siang dulu''


''Iya bu, saya makan disini saja''


''Makan disini saja pak, kami sudah membuat banyak bekal untuk kita semua. Kak Nilam makanlah terlebih dahulu biar aku yang menjaga Queen''


''Kamu ngak makan dek?''


''Nanti aku makan kak, kakak makanlah dahulu''


''Mamah makan juga biar aku yang jagain baby Queen'' ujar Claudy.


''Emang kamu ngak mau makan?''


''Aku masih kenyang mah''


''Kenyang?''


''Iya mah''


''Gimana ngak kenyang dek, sepanjang jalan ia terus ngemil dengan pamannya'' ujar kak Nilam.


Claudy dan kak Frans hanya bisa terkekeh pelan.


''Kamu benar ngak lapar? Kita udah ngak singgah makan lagi nanti''


''Iya mah aku masih kenyang, kalau lapar nanti aku makan lagi di mobil. Iya ngak om? hehehe''

__ADS_1


''Pak Yos makan sama kami saja disini'' ujar ku memberikan piring dan sendok, aku tak mau ada perbedaan di antara kami.


Kami menikmati makan siang dengan lahap, mungkin karena lelah dalam perjalanan makanan yang kami bawa habis tak bersisa.


Setelah makan siang dan istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan, ditengah perjalanan hujan turun sangat deras sehingga beberapa jalan yang kami lalui tergenang air.


''Kita lewat jalur lain saja bu atau bagaimana? Memang agak jauh sedikit, namun disana tak tergenang. Jika kita menunggu disini mungkin besok baru kita bisa lanjut jalan bu'' ujar pak Yos.


''Mana baiknya saja pak, kita lewat jalan yang bapak maksud saja''


''Baik bu''


Mobil berputar arah menuju jalan yang di maksud oleh pak Yos, cukup jauh memang jika lewat jalan ini karena jalannya berkelok-kelok namun tak ada pilihana lain selain jalan ini. Setelah 2 jam lebih melewati jalan yang berkelok-kelok akhirnya kami kembali ke jalan utama dan tinggal 50 kilometer lagi kami akan sampai di kota yang di tuju.


Karena hari sudah mulai senja alhasil jalanan sangat di padati dengan kendaraan. Macetpun tak bisa terelakkan, dikarenakan jam-jam seperti ini adalah saatnya orang pulang kerja dan kabupaten yang kami tempati saat ini adalah pusat perindustrian dimana ada banyak pabrik-pabrik.


''Macet bu''


''Ngak apa-apa pak pelan-pelan saja. Apa bapak sudah lelah?''


''Sebenarnya saya agak mengantuk bu'' ujar pak Yos malu-malu.


''Kalau begitu bapak istirahat saja biar saya yang gantikan'' ujar kak Frans.


''Ia pak, bapak istirahat saja''


''Baik bu, pak terimakasih''


''Sama-sama pak, ya sudah istirahat disana pak ada bantal disitu''


''Dek, malam ini kita menginap di rumah kawan kakak dulu ya, besok baru kita cari ibu dan Hans''


''Iya kak, kasian juga Queen jika kita malam-malam mencari ibu''


Tring...


Tring...


Terdengar bunyi ponsel dari saku baju kak Frans.


''Dek kakak angkat telpon dulu ya''


Aku mengangguk, kak Frans menepikan mobil kemudian mengangkat panggilan yang masuk.


''Halo selamat sore''


''......''


''Iya kami masih dalam perjalanan, apa sudah ada tempat?''


''......''


''Ok mungkin 30 menit lagi kami tiba''


''.....''


''Baiklah terimakasih''

__ADS_1


''Siapa kak?''


''Teman kakak katanya rumah untuk kita sudah siap''


''Syukurlah kak''


Mobil kami berjalan perlahan hingga tak terasa kami sudah tiba di rumah teman kak Frans. Kak Frans membunyikan klakson mobil dan tak lama seseorang membuka pintu gerbang.


Rumah yang akan kami tempati bermalam cukup besar sepertinya pemiliknya bukanlah orang biasa.


''Halo bro, ayo silahkan masuk''


''Baiklah, aku bangunkan yang di mobil dulu''


''Ok''


Aku memandangi teman kak Frans, aku merasa wajahnya terasa tak asing bagiku. Karena tak ingin penasaran ku beranikan diri untuk bertanya.


''Maaf apa anda Ronal Syam?''


''Benar, maaf ibu kenal dengan saya?''


''Sepertinya ia, perkenalkan nama saya Pelangi Wiandra''


Seketika matanya membulat dengan mulut yang menganga, tampak lucu bagiku. Ekspresinya saat terkejut masih sama seperti saat ia masih kecil.


''Serius ini kakak Anggi?''


''Iya Syam ini kakak''


Dia langsung berhambur memeluk ku kemudian menangis, tak lama kak Frans datang menghampiri kami.


''Eh..eheh.. ngapain loh peluk-peluk adik gue pake nangis lagi'' ujar kakk Frans.


''Dyo... Tasya...'' ujar Syam setengah berteriak memanggil adik-adiknya tak memperdulikan omongan kak Frans.


Tak lama keduanya datang namun mereka sepertinya tak ingat padaku karena memang saat itu mereka masih kecil bahkan Dyo masih bayi.


''Sini sayang'' ujar Syam.


''Ada apa kak?'' Tanya Dyo.


''Katanya kangen sama kakak Anggi?''


''Ia kak, kita kangen sama kakak Anggi, tapi entah dimana sekarang?'' ujar Tasya dengan wajah sendu.


''Jangan sedih Aca, nih kakak Anggi sudah datang'' ujar ku yang membuat keduanya tampak terkejut.


''Kakak Anggi'' ujar keduanya serentak.


''Iya, ini kakak, apa kalian tak rindu?''


''Kakak'' keduanya berhambur memelukku.


Syam, Dyo dan Tasya adalah anak-anak jalanan yang dulu aku bawa ke panti dan aku biayai kebutuhan serta pendidikannya. Saat itu aku menemukan mereka di jalan ditengah hujan deras. Syam yang saat itu baru berusia 7 tahun, Tasya 3 tahun dan Dyo masih 2 bulan tengah tidur di sebuah emperan toko. Aku bertemu mereka saat aku pulang berbelanja kebutuhan untuk anak panti dan aku mengajak mereka pulang ke panti.


Dari cerita Syam mereka di buang oleh sang ayah dan ibu tirinya, sedangkan sang ibu sudah meninggal dunia saat melahirkan Dyo. Sungguh malang nasib mereka saat itu dan syukurlah jika saat ini hidup mereka bisa jauh lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2