
Dengan langkah yang berat juga jantung yang berdetak lebih cepat aku melangkah menyusuri lorong yang akan membawaku menemui para tersangka. Dalam hati aku terus mensugesti diriku sendiri bahwa aku harus kuat dan tak boleh lemah dihadapan mereka.
Toktoktok
''Permisi pak, ada yang ingin bertemu dengan para pelaku penyerangan yang tertangkap tadi malam''
Petugas polisi yang mengantar kami meminta ijin kepada temannya untuk mempertemukan kami dan para tersangka.
''Silahkan duduk diruangan sebelah sini bu, sebentar lagi para tersangka akan dibawa kemari''
''Pak, maaf sebelumnya, apa boleh jika saya ingin bertemu langsung dengan dalangnya saja. Saya penasaran siapa dia dan apa tujuannya menyakiti keluarga saya'' Pintaku pada petugas polisi.
''Baik bu, saya permisi''
Hanya aku dan Hans yang masuk keruangan ini, bu Dita dan Claudy tidak ingin masuk. Bukan tidak ingin masuk sebenarnya, aku tak ingin bu Dita syok jika bertemu dengan bu Rena, jangan sampai bu Dita jatuh sakit lagi karena syok.
''Hans, tadi bapak polisi sudah bilang kalau dalang dari penyerangan kita juga ikut tertangkap. Kau pasti tahu orangnya nak, maafkan ibu jika ibu harus menghukum mereka nak. Mungkin kamu akan keberatan karena bagaimanapun mereka yang telah mengasuhmu dari kecil nak''
Ucapku pada putraku saat petugas polisi berlalu untuk membawa para tersangka menemui kami, tepatnya dalangnya, yaitu bu Rena dan Sandra. Sampai sekarang aku masih tak sampai mengerti betul, mengapa mereka sangat membenciku dan keluargaku.
''Silahkan duduk''
Suara seorang petugas polisi membuatku segera mengalihkan pandangan ke arahnya. Ternyata bu Rena dan Sandra sudah duduk di hadapan kami, ku genggam dengan erat tangan Hans, seketika rasa takut menyelimutiku.
''Tenang bu, jangan hawatir ada Hans yang akan melindungi mama'' Ucap putraku berbisik, seperti mengerti akan kondisiku sekarang.
Aku menganggukkan kepala dan kutatap dengan seksama kedua orang yang ada di hadapanku saat ini.
''Oh, jadi kamu yang mau bertemu dengan kami. Hahaha apa kamu takut sekarang? Aku tahu kamu pasti merasa takut, masalahmu denganku belum berakhir. Setelah aku keluar dari sini aku akan membuat perhitungan denganmu'' Ucap bu Rena dengan tatapan tajam ke arahku dan putraku.
''Dan kamu, anak tak tahu di untung sudah baik aku membesarkanmu tapi apa balasan yang kamu berikan? Sungguh aku semakin membencimu'' Ucap Sandra sambil mengarahkan tatapannya kepada putraku.
Aku tak boleh terlihat lemah dan takut menghadapi mereka, aku harus buktikan jika aku bisa melindungi anak-anakku.
__ADS_1
''Ya, saya memang ingin bertemu dengan kalian berdua. Oh ya, perlu kalian ketahui jika sebenarnya kami sudah tahu rencana busuk kalian untuk mencelakai anak-anakku. Dan maaf saja aku rasa, kali ini kalian tak akan bisa bebas lagi, karena tak ada yang akan membebaskan kalian''
Dengan lancar aku dapat membalas ucapannya, entah keberanian dari mana aku bisa menjawab kedua manusia yang bahkan sudah membuatku trauma. Kulihat putraku, mukanya yang putih kini sudah berubah merah padam, aku tahu anakku sekarang sedang menahan emosi mendengar ucapan mereka berdua.
''Oma Rena dan bu Sandra yang terhormat, maaf ya sudah membuat kalian di penjara. Oh iya, aku hampir lupa, kali ini tak ada yang bisa membuat kalian keluar dari penjara. Siapa yang akan mengeluarkan kalian? Papa? Tidak akan bisa oma Rena tersayang, apa oma lupa kalau papaku sudah tak memiliki harta apa-apa sekarang? Dan aku tak akan membiarkan kalian bebas dari sini dan meskipun ada yang membebaskan kalian aku yang akan mencari kalian kemanapun kalian pergi. Jika polisi tak bisa menghukum kalian maka aku yang akan menghukum kalian dengan caraku dan tanganku sendiri. Oma dan bunda pasti masih ingat kan bagaimana jika aku sedang menghukum seseorang?''
Putraku tersenyum aneh menatap kedua orang yang ada di hadapannya. Melihat senyum aneh putraku, aku melihat raut wajah ketakutan di wajah bu Rena dan Sandra. Keduanya kompak menundukkan kepalanya tak lagi menatap tajam ke arahku dan Hans. Entah apa yang sudah terjadi di rumah besar itu? Entah apa yang sudah dilakukan anakku sehingga bu Rena dan Sandra tak mampu menatap putraku lagi setelah ia mengatakan jika akan menghukum bu Rena dan Sandra jika mereka bebas. Entah ada rahasia apa yang ditutupi putraku dariku.
Setelahnya tak ada lagi pembicaraan di antara kami karena waktu yang diberikan untuk berkunjung sudah habis sehingga kami harus segera keluar dari ruangan itu. Aku masih bertanya-tanya tentang semua arti dari kata-kata putraku tadi 'Oma dan bunda pasti masih ingat kan bagaimana jika aku sedang menghukum seseorang?'. Perkataan putraku itu terus terngiang-ngiang di dalam kepalaku, tanpa kusadari aku menabrak tubuh tegap seseorang.
''Maaf'' Lirih ku berucap pada sosok yang baru saja ku tabrak.
Segera kuberlalu tanpa menunggu balasan permohonan maafku tadi. Kulihat di ujung lorong Claudy dan bu Dita sudah menunggu kami. Claudy melambaikan tangannya ke arah kami, aku tahu pasti dia sedang melambai ke arah kakaknya.
''Ibu baik-baik saja?'' Tanya putraku.
''Iya nak, ibu baik-baik saja. Ibu hanya sedikit pusing, mungkin ibu sedang lapar'' Jawabku berbohong padahal tadi sudah makan.
Dua hari setelah penangkapan itu, kami semua memulai acara liburan kami di desa ini, karena hanya dua minggu saja kami berlibur disini. Aku tak tahu lagi bagaimana kelanjutan kasus penyerangan yang terjadi hari itu. Bu Dita dan pengacaranya yang mengambil alih kasus itu, ia bilang jika aku hanya harus fokus kepada anak-anakku untuk masalah ini biar dia dan pengacaranya yang urus.
Selama disini, kami berjalan-jalan ke berbagai tempat. Kami juga mengunjungi pabrik keripik dan pabrik roti milikku. Ada satu hal yang menjadi kejutan saat kami tiba di pabrik roti, aku melihat Rivaldi dan Piter, kedua sahabat putraku itu bekerja di pabrik roti milikku.
''Halo, nak Rivaldi, nak Piter. Kalian kerja disini nak?'' Tanyaku pada keduanya.
''Iya bu, kami bantu-bantu orang tua bu, mumpung masih libur'' Kata Rivaldi.
''Maaf bu, ibu sedang apa di kampung kami? Maksud saya apa ibu sedang rekreasi disini? Biasanya banyak orang dari luar kota yang menjadikan pabrik ini tempat wisata bu. Kata ibu, pemilik pabrik ini sangat baik, bahkan kami mahasiswa yang sedang libur diijinkan ikut bekerja membantu orang tua, digaji pula bu. Kami orang kampung disini sangat terbantu dengan adanya pabrik ini, karena banyak yang memiliki pekerjaan lain selain bertani. Semoga pemilik pabriknya sehat selalu, dimudahkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya. Amin''
Mataku berembun mendengar ucapan kedua sahabat putraku, mereka begitu baik dan dewasa. Tak salah anakku memiliki teman seperti mereka, anak-anak yang baik dan berbakti kepada orang tua.
''Ngapain kalian disini, ayo kerja nak. Maaf bu anak-anak saya mengganggu ibu'' Kata bu Desi salah seorang pekerja pabrik yang ternyata orang tua dari Rivaldi.
''Tidak apa-apa bu, saya tidak terganggu, mereka anak-anak yang baik bu. Yang mana anak bu Desi?''
__ADS_1
''Ini anak saya bu namanya Rivaldi, yang ini ponakan saya namanya Piter, tapi bagi saya mereka adalah anak-anak saya. Mereka sebenarnya kuliah di kota, namun karena libur mereka pulang dan membantu saya di pabrik ini bu'' Ucap bu Desi.
''Bi Desi, ini ibu Anggi, orang baik yang sudah mengijinkan kami tinggal dirumahnya di kota, yang aku perna ceritakan pada bi Desi. Anaknya bu Anggi ini teman kami di kmpus bu, orangnya baik kayak bu Anggi'' Ucap Piter.
''Terimakasih bu, terimakasih sudah mau membantu anak-anak saya di kota. Saya tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan ibu'' Ucap bu Desi.
''Tidak usah berterimakasih bu, sudah tugas kita saling tolong-menolong, oh ya kalian sudah bertemu Hans belum?'' Tanyaku pada Rivaldi dan Piter.
''Belum bu Anggi, apa Hans juga ada disini?'' Tanya Rivaldi.
''Ya pasti ada toh nak, inikan pabrik punya ibunya'' Kata bu Desi yang membuat Rivaldi dan Piter saling bertatapan.
''Jadi bu Anggi pemilik pabrik ini? Pantas saja kami tak asing dengan nama pabriknya hehehe. Hans dimana bu?'' Tanya Rivaldi.
Aku tersenyum dan hendak menjawab namun tiba-tiba ada yang memanggil Rivaldi dan Piter.
''Hay Riv, hay Piter. Kalian apa kabar?'' Ucap Hans.
''Kami baik, koq kamu ngak bilang kalau mau kemari? Kamu juga tak bilang kalau ini pabrik milik mamamu, tadi kita kira mamamu juga sedang datang rekreasi ke pabrik hehehe'' Ucap Rivaldi.
''Aku saja tak tahu jika mama punya pabrik, dikampung kalian pula. Kalian ngapain disini?'' Tanya Hans.
''Kitakan kerja disini, bantu orang tua hehehe'' Ucap Piter.
''Bu, boleh ya aku ajak temanku ini keliling pabrik?'' Ucap Hans sambil bergelantung manja di lenganku. Aku tertawa melihat tingkah lucunya. Aku mengangguk mengiyakan dan mereka bertiga kemudian berlalu entah kemana sedangkan Claudy dan bu Dita juga entah kemana berjalan-jalan.
''Bu, apa tadi itu nak Hans yang dulu kecil saat ibu tinggal disini?'' Tanya bu Desi dengan mata berkaca-kaca.
''Iya bu, itu putraku Hans'' Ucapku dengan mata berkaca-kaca pula.
''Ya ampun nak, kamu sudah besar sekali. Bu apa nanti saya bisa bertemu dengannya? Rasanya saya rindu dengannya. Lama tak bertemu ternyata dia sudah sebesar ini?''
Ucapan bu Desi membuatku kembali mengingat segala perjuangan yang aku lalui bersama Hans di kampung ini. Bu Desi cukup dekat dengan Hans, karena ia sering datang membantuku membut kue dirumah jika sedang banyak pesanan kue, dan ia terbiasa bermain dengan Hans saat kami tinggal di kampung ini.
__ADS_1