PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
KENYATAAN PAHIT


__ADS_3

Aku terbangun saat terdengar suara ribut-ribut, mataku mengerjap perlahan kemudian refleks terbuka lebar saat ku lihat kedua perawat terlihat sibuk. Entah karena kesadaranku belum terkumpul seutuhnya, aku belum bergerak dari tempatku hanya terpaku menatap kepanikan yang terjadi.


''Kamu tak apa-apa dek?'' Tanya kak Roni yang mampu menyadarkanku segera. Mataku membulat saat kulihat Claudy sedang sesak nafas dengan wajah pucat. Segera kudekati putriku dan mencoba untuk memeluknya namun kak Roni menarikku agar menjauh dari putriku.


Aku hendak melayangkan protes padanya, namun sebelum kata itu terucap dari bibirku, kak Roni lebih dulu berbicara.


''Biarkan mereka melakukan tugasnya dek. Doakan Claudy baik-baik saja'' Ucapnya.


Aku berpikir benar juga ucapan kak Roni, ku perhatikan, dengan telaten kedua perawat itu melakukan tugasnya. Terlihat raut kepanikan di wajah kedua perawat itu.


''Pak, bu, sepertinya pasien harus kita bawa ke rumah sakit. Kondisinya sangat kritis'' Ucap perawat yang bernama Irma.


''Lakukan yang terbaik untuk keponakan saya sus'' Ucap kak Roni.


Tak lama terdengar bunyi sirine mobil ambulans dari halaman rumah, sesaat kemudian muncullah beberapa orang perawat lain membawa brankar dan menaikkan claudy kesana. Aku langsung meraih dompet dan ponselku kemudian ikut menyusul Claudy ke dalam mobil ambulans di ikuti oleh kak Roni. Aku duduk di dalam mobil bersama dua orang perawat dan kak Roni.


''Kak bagaiaman jika ada orang-orang jahat itu di rumah sakit?'' Tanyaku pada kak Roni.


''Tenang saja dek kita akan membawanya ke rumah sakit kepolisian tak sembarang orang bisa masuk kesana kecuali anggota kepolisian, keluarganya, juga warga di perumahan kita. Disana terjamin aman seperti di perumahan yang kita tinggali'' Ucapnya sambil mengusap bahuku.


Butuh waktu sekitar 45 menit untuk tiba di rumah sakit yang di maksud. Para perawat segera membawa putriku masuk ke ruang ICU, sementara aku sendiri belum bisa masuk kedalam sampai keadaan Claudy normal kembali. Aku berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang ICU, berharap keadaan putriku baik-baik saja.


Cukup lama aku berdiri disana, melihat keadaan putriku dari balik kaca pintu ruangan. Hatiku begitu perih melihat keadaannya, jika boleh meminta aku berharap jika aku saja yang ada di posisi Claudy.

__ADS_1


''Duduklah dek, doakan yang terbaik untuk Claudy'' Ucap kak Roni yang tetap setia menemaniku di rumah sakit ini.


Sudah pukul 3 pagi, namun belum ada kabar dari dokter tentang keadaan claudy. Ku lihat bangku di sisi kiri ku tempat kak Roni duduk tadi, kak Roni sudah tak ada di sisiku padahal baru saja ku lihat dia masih duduk di sampingku. Mungkin karena terlalau sibuk memikirkan Claudy, aku sampai tak sadar jika kak Roni pergi.


Tak lama kak Roni datang dari ujung lorong membawa sebuah kantong plastik besar yang entah apa isinya.


''Minum dulu dek, jika kamu lapar makan saja yang ada disini, kakak juga beli beberapa bungkus roti'' Ucapnya sambil menyerahkan kantong plastik yang ia bawa.


Aku meraihnya kemudian mengambil sebotol air mineral dan meneguknya hingga tandas habis tak bersisa. Entah karena haus atau karena sedang khawatir aku bisa menghabiskan satu botol air mineral.


''Dek, ada yang ingin kakak sampaikan tapi kamu harus janji kamu harus kuat'' Aku mengerutkan dahi pertanda tak mengerti tentang ucapan kak Roni.


''Maksud kakak apa? Apa ini ada hubungannya dengan Claudy?'' Tanyaku yang mendapat gelengan kepala dari kak Roni namun ia meneteskan air mata. Aku semakin panik di buatnya, kabar apa yang ingin ia sampaikan sampai harus meneteskan air matanya.


Aku yang notabene paling tak bisa meliht orang bersedih sontak saja membuatku menangis bahkan hatiku rasanya sangat pilu mendengar tangisannya bahkan hatiku lebih sakit. Entah kenapa air mataku semakin deras mengalir dan hatiku sakit teramat sakit bahkan sakitnya jauh lebih sakit saat kehilangan kak Robin. Tiba-tiba bayangan wajah putraku sedang tersenyum muncul di hadapanku. Pertanda apa ini? Batinku.


''Anggi huhuhu...... kamu harus sabar. Ingat jangan lemah putrimu masih butuh ibunya'' Ucap kak Nisa di sela-sela tangisnya.


Aku melonggarkan pelukan dan menatap dalam ke mata kak Nisa. Bayangan senyum putraku kembali terlintas dalam pikiranku.


''Ada apa kak, jangan buat aku berprasangka yang buruk. Entah benar atau hanya firasatku saja yang mengatakan jika putraku dalam bahaya'' Ucapku dengan berderai air mata.


Kak Nisa kembali memelukku dengan erat dan menangis kembali, tangisannya bahkan lebih memilukan dari sebelumnya.

__ADS_1


''Dek jaga Claudy sebentar aku akan membawa Pelangi menemui seseorang'' Ucapnya pada kak Roni yang di jawab oleh anggukan kepalanya.


Bagai terhipnotis aku langsung saja berjalan mengikuti langkah kak Nisa. Berjalan semakin menjauh dari ruang ICU tempat Claudy dirawat tadi. Mataku terbuka sempurna saat aku dibawa ke salah satu ruangan yang paling tak ingin orang lain masuki saat ke rumah sakit. Ya, kami berdiri di depan kamar mayat, dimana terdapat banyak sekali petugas kepolisian disana.


Dalam kondisi yang masih kebingungan, kak Nisa membawaku masuk kedalam dan menuju ke salah satu brangkar dengan kain yang menutupi seorang yang sudah tak bernyawa berbaring di atas sana. Hatiku terasa begitu sakit saat mendekati sosok di atas brankar itu, hatiku rasanya sangat sakit seperti kehilangan orang yang sangat berharga bagiku. Bahkan ketika kak Robin meninggalkanku aku tak sesakit ini.


''Kamu yang kuat'' Ucap kak Nisa merangkul bahuku.


Deg


Saat kain penutup terbuka, rasanya separuh duniaku runtuh. Kakiku seperti tak lagi menapak dilantai. Benarkah yang aku lihat dihadapanku ini? Kenyataan pahit apa lagi ini?


Disana terbaring sosok yang sangat aku rindukan, sosok yang memiliki sebagian dari kehidupanku. Aku membeku di tempatku tak ada kata yang terucap dari bibirku. Hanya air mata yang terus mengalir dengan derasnya dari kedua bola mataku. Bayangan senyumannya terus terbayang-bayang di pelupuk mataku.


''Dek..''


Aku tersadar dari lamunanku saat mendengar suara kak Nisa, kucoba kembali menatap dengan jelas sosok yang ada dihadapan ku untuk meyakinkan diriku sekali lagi iika aku tak salah melihat.


Aku menangis sejadi-jadinya saat aku mencoba menyentuh pipinya yang sudah terasa dingin itu. Ku coba meyakinkan diriku kembali jika apa yang aku lihat sekarang bukanlah sosok yang aku rindukan, namun lagi-lagi takdir berkata lain.


Tak ku hiraukan lagi orang-orang yang menatapku, bahkan aku tak kepikiran lagi dengan keadaan Claudy. Aku terus menangis sejadi-jadinya, bahkan sempat memarahi beberapa orang yang ingin memisahkan aku dan sosok yang berbring di atas sana. Entah kesalahan apa yang aku lakukan sehingga Tuhan menghukumku dengan memberikan dua luka dan rasa sakit dalam waktu yang bersamaan. Kenyataan pahit harus aku hadapi, dimana putriku sedang terbaring lemah dan putraku meninggalkanku untuk selamanya.


''Dek, kuatkan hatimu dek, ia sudah bahagia disana bersama bapa. Jangan lemah ingat masih ada satu orang yang sedang terbaring lemah dan membutuhkan kehadiranmu'' Ucap kak Nisa.

__ADS_1


''Kita harus pergi dari sini dek, sebelum ada keluarga suamimu yang melihat kita disini. Bisa bahaya untuk keselamatanmu dan Claudy jika mereka tahu kalian ada disini. Tenang saja para polisi di luar tak akan ada yang mengatakan pada orang lain jika kamu ada disini. Kita juga akan ikut memakamkan putramu'' Ucapnya lagi. Akupun segera tersadar dan berlalu dari ruangan itu meski berat namun harus kulakukan. Keselamatan Claudy sangat penting bagiku sekarang, tetapi aku akan tetap mencari tahu, kenapa putraku bisa pergi meninggalkanku. Jika ini adalah kesengajaan, maka tak akan aku biarkan siapapun itu. Ia harus mendapatkan hukuman yang setimpal.


__ADS_2