PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
HILANG KEPERCAYAAN


__ADS_3

''Oooeekkkk''


Ucapan syukur tak henti-hentinya terucap dari bibirku, manakalah terdengar suara tangisan bayiku yang baru saja lahir.


''Terimakasih sayang''


Kutatapan wajah laki-laki yang ada disamingku, dengan setia dia menemaniku menjalani masa-masa sakit menjelang persalinan.


Kutatap lamat-lamat wajah indah putriku yang baru lahir, wajahnya persis seperti neneknya yaitu ibuku.


.


Seminggu sudah sejak hadirnya putri kecil ditengah-tengah keluarga kami. Aku bahagia karena semua orang sangat menyayangi anak-anakku.


''Sayang dua hari lagi kak Frans akan menikah, apa kamu sudah sehat untuk bisa hadir?''


Mas Hans menghampiriku membawa beberapa potong buah dalam wadah ditangannya.


''Apa kakak jadi menikah dengan Rosa?''


''Tidak sayang kak Frans akan menikah dengan Nilam''


Hah? Siapa Nilam? Kenapa menikah dengan orang lain bukan Rosa ibu dari anaknya. Batinku.


''Pasti kamu bingung kenapa dia tak menikah dengan Rosa? Sebenarnya begini ceritanya......''


Mengalirlah cerita tentang siapa Nilam, ternyata Nilam adalah teman dari Rosa yang iya jebak hingga hamil anaknya kak Frans. Rosa memberikan obat tidur pada Nilam dan memberikan obat perangsang pada kak Frans sehingga terjadilah peristiwa itu.


Nilam begitu sedih saat tahu dirinya hamil padahal setahu dia, dia tak pernah melakukan hubungan dengan seorang laki-laki. Karena saat menjebak Nilam Rosa sudah mempersiapkan semuanya, saat kak Frans sudah bersetubuh dengan Nilam, Rosa segera membersihkan dan memakaikan pakaian Nilam kembali kemudian membawanya ke rumahnya, sementara dia sendiri membuka pakaiannya dan pura-pura tidur disamping kak Frans. Sehingga saat kak Frans bangun ia kaget mendapat dia dan Rosa tidur seranjang tanpa sehelai benangpun menutup tubuh mereka.


Nilam tetap mempertahankan kandungannya, karena ia tahu anak yang ia kandung tak bersalah. Ia bahkan di usir oleh orang tuanya karena mendapat hasutan dari Rosa. Setelah anaknya lahir Rosa melihat iya sangat mirip dengan kak Frans dan mas Hans, ia jadi mempunyai pikiran licik kemudian menculik anak temannya itu dan kabur ke luar negeri. Nilam berusaha mencarinya bahkan sampai kerumahnya karena ia pergi membawa anaknya tapi tak ia dapati siapapun dirumah itu karena Rosa dan keluarganya sudah pindah. Rosa berpikir jika ia akan kembali saat anak itu sudah besar dan mengatakan kepada mas Hans kalau itu anak mereka. Nilam sempat membuat berita kehilangan namun tak ada yang membantunya.


''Kasian sekali Nilam mas''


Air mataku jatuh, ikut merasakan sakit yang dialami oleh Nilam. Bagaimana tidak, iya sudah dijebak oleh temannya sendiri dan setelah berjuang dan melahirkan, anaknya juga dibawa kabur.


''Iya sayang, semua orang kaget dengan berita ini bahkan mas juga''


.


Hari bahagia kak Frans sudah tiba. Dengan menggunakan kemeja putih dan celana berwarna biru dengan jas senada kak Frans melangkah menuju altar pernikahan. Tak berselang lama muncul juga seorang wanita dengan kebaya sederhana yang senada dengan pakaian kak Frans. Dia terlihat cantik meski hanya menggunakan make up tipis, dari wajahnya aku bisa menilai kalau dia orang yang baik.


Pemberkatan pernikahan dan acara resepsi pernikahan mas Hans berjalan dengan lancar.


''Mas, apa kita sudah boleh istirahat aku sangat lelah''


Kurasakan perutku agak sakit namun aku tak ingin mengeluh kepada mas Hans. Kami berjalan menuju rumah sambil sesekali menyapa tamu yang baru datang. Sepertinya mereka teman-teman kantor mas Hans karena mereka begitu akrab.


''Sayang kamu istirahatlah mas turun dulu melihat teman-teman mas yang baru datang tadi. Tak enak meninggalkan mereka.

__ADS_1


Mas Hans berlalu kembali ke acara pesta setelah menidurkan anak kami di dalam boks bayi disamping ranjang.


''Ibu juga rindu sama kamu nak, ibu sebenarnya ingin kamu yang jadi menantu ibu. Kamu tahu ngak istrinya Hans itu cuma bikin ibu susah saja sedikit-sedikit sakit, pokonya banyak maunya deh''


Deg


Itu seperti suara ibu mertua, tapi dengan siapa iya bicara, kenapa ibu mertua seperti sedang menjelek-jelekkan aku didepannya.


Drap


Drap


Drap


Suara langkah kaki memdekat ke arah kamarku. Segera kuangkat anakku dan kami bersembunyi di dalam kamar mandi. Aku ingin melihat ibu berbicara dengan siapa.


''Bu, aku mau lihat kamar mas Hans, siapa tahu nanti kami bisa berjodoh kembali'' Kata wanita itu.


''Tunggu nak, ibu periksa dulu siapa tahu istrinya ada di dalam''


Ibu mertua masuk kedalam kamar memeriksa setiap sudut, aku jadi was-was jangan sampai ibu menemukan aku bersembunyi disini.


''Sepertinya tidak ada orang sayang, masuklah''


Wanita itu masuk kedalam kamar, aku mengintip dibalik tirai didalam kamar mandi. Mataku terbuka sempurna menyadari siapa yang sedang bersama ibu. Dia Sandra temanku bekerja dulu di restoran milik mas Hans.


''Bu, apa masih ada kesempatan aku bersama mas Hans, aku sangat membenci istrinya bahkan saat kami masih sama-sama kerja direstoran. Dia selalu cari perhatian''


Aku hanya bisa membekap mulut dengan satu tangan. Rasanya aku tak percaya orang yang selama ini aku sangat percayai ternyata menyimpan sesuatu yang rencana buruk dan tak aku ketahui.


Pantas saja akhir-akhir ini mas Hans jarang bersamaku dan anak-anak.


Apa yang harus aku lakukan Tuhan.


''Bu, jika nanti ibu punya rencana untuk menyingkirkan istri dan anak-anak mas Hans aku akan membantu ibu'' Jawab Sandra antusias.


Sandra dan ibu mertua kemudian keluar dari kamar tapi sebelum itu Sandra meletakkan sesuatu dibawah bantal mas Hans sedangkan ibu menaburkan bubuk putih seperti tepung di atas seprei dan dibawah ranjang kami.


Rasa percayaku kepada ibu mertua hilang seketika.


Setelah merasa cukup aman, aku keluar dari persembunyian. Kumasukkan bayiku kedalam boks bayi, ku kunci pintu kamar. Sengaja kutumpahkn susu diatas bantal dan kasur sebelum membuka sepreinya karena jika ibu bertanya aku akan bilang kalau sepreinya kuganti karena ketumpahan susu, agar ibu tak curiga jika aku sudah mendengar peecakapannya dengan Sandra.


Sementara barang yang tadi sandra letakkan dibawah bantal mas Hans aku buang kedalam tong sampah karena setelah kubuka isinya adalah bunga-bunga, rambut juga bubuk putih seperti yang ibu taburkan di kasur.


Aku hanya berpikir jangan-jangan ibu mertuaku bermain dukun. Karena hanya dukun yang biasa menggunakan hal-hal seperti ini. Ibu mertuaku adalah orang asli salah satu pulau di bagian Indonesia bagian barat dan aku tahu masih banyak yang percaya akan hal-hal seperti ini disana.


Kumasukkan seprei tadi kedalam kantong plastik besar, kusapu juga bagian bawah ranjang yang tadi ditaburi bubuk putih oleh ibu. Saat membersihkannya aku merasakan seperti ada yang sedang menyebut nama mas Hans, bulu kudukku langsung berdiri, aku merinding di buatnya. Segera kubersihkan sambil membaca doa dalam hati dan akhirnya suara itu tak terdengar lagi.


''Belum tidur sayang?''

__ADS_1


Mas Hans datang sambil membawa beberapa buah di piring, tapi kali ini pandangannya seperti seorang yang sedang terhipnotis. Tatapannya kosong dan menatap lurus kedepan.


''Belum mas, aku belum ngantuk''


Aku duduk ditepi ranjang memandang mas Hans yang terus berjalan ke arahku tapi dengan wajah tanpa ekspresi. Aku jadi ngeri sendiri melihatnya, kuangkat bayiku dari boksnya, kubaca doa dalam hati sambil menutup mata, saat membuka mata tak kudapati mas Hans dikamar.


''Kemana perginya mas Hans, dan bagaimana iya masuk ke kamar ini, perasaan tadi pintu aku kunci bagaiman iya bisa masuk?'' Gumamku yang bingung dengan apa yang baru saja terjadi.


Aku tersentak kaget saat melihat di smpingku ada sebuah mangkok yang penuh dengan apel dan anggur juga bunga-bunga dan ada sedikit tanah. Apel dan anggurnya sudah busuk dan berbau.


Segera kubuang kedalam tong sampah sambil mencoba menghubungi mas Hans.


Tut


Tut


''Halo sayang, ada apa?'' Kata mas Hans di seberang telpon.


''Apa mas masih sibuk?''


''Tidak sayang teman-teman mas sudah pulang, ini mas sudah menuju ke kamar. Ada apa sepertinya kamu sedang ketakutan?''


''Ngak apa-apa mas, nanti saja kita bicarakan dikamar''


''Ok sayang''


Kumatikan sambungan telpon berjalan ke arah pintu kemudian membuka pintu.


''Kenapa pintu kamarnya dikunci sayang?''


''Ngak apa-apa mas''


Mas Hans masuk ke kamar mandi dan tak lama ia sudah keluar dan sudah mengganti baju. Ia duduk di sampingku di atas ranjang. Ragu-ragu aku mulai bertanya pada mas Hans.


''Mas tadi ke kamar bawa buah-buah?''


Mas Hans menyerngitkan dahi mendengar ucapanku.


''Tidak sayang dari tadi mas dibawah temani teman-teman mas, emang kenapa sayang?''


''Tadi saat aku sedang mengganti seprei karena ketumpahan susu mas datang bawa buah-buahan diamangkok terus....''


Kuceritakan pada mas Hans semua yang terjadi di kamar, tapi bagian ibu dan mbak Sandra tak aku ceritakan aku takut akan jadi bumerang jika aku tak punya bukti.


Mata mas Hans membulat sempurna mendengar ceritaku.


''Itu buah-buahan dan bunga-bunganya ada di tong sampah mas, juga seperti ada tanahnya''


Kutunjuk tong sampah di dalam kamar mandi, mas Hans menuju tong sampah dan melihat apa yang ada di dalam sana.

__ADS_1


''Akan segera kubuang semua ini sayang, bahkan seprei dan bantal itu buang saja. Siapa tahu juga ada pada bantal dan seprei kita''


Sepertinya mas Hans mengerti tentang Hal seperti ini.


__ADS_2