
Setelah lilin habis tertiup kami menikmati makan malam bersama, aku sangat bahagia karena hari ini aku bisa menikmati makan malam bersama orang-orang yang aku sayang dan menyayangiku.
"Terimakasih semuanya, aku sangat bahagia hari ini. Aku bahkan tak mengingat kalau hari ini hari ulang tahunku sendiri"
"Sama-sama nak kami bahagia bisa ikut berbahagia di hari bahagiamu nak" ucap om Jordi.
"Baiklah dek, kami semua pamit pulang dulu ya. Kami menginap di rumahnya Roni selama dua hari, jadi tante dan om bisa sering mengunjungimu selama dua hari ini" ucap tanye Dewi mamanya kak Roni.
Setelah semua pulang aku, kak Nisa dan Claudy juga memutuskan untuk istirahat.
''Ayo kita istirahat juga kak, beberesnya besok saja kak ini sudah malam''
''Baiklah dek, ayo Audy malam ini tidur sama mama dan aunty ya?''
''Ia aunty''
Kami bertiga menuju ke kamar untuk tidur tapi sebelum itu kami semua membersihkan diri. Kami berbincang-bincang cukup lama sampai akhirnya kami mulai mengantuk dan memutuskan untuk tidur.
*
Malampun berlalu ke esokan harinya aku bangun lebih awal sekitar pukul 3 pagi. Saat aku selesai mengganti baju tidur dengan baju santai yang biasa aku gunakan saat di rumah, aku bergegas menuju ke arah dapur.
Saat mendekati dapur terdengar suara gaduh dari sana seperti ada yang sedang mencuci piring. Semakin mendekat ke arah dapur, suara gaduh semakin terdengar jelas.
''Loh, sudah bangun dek?'' ucap kak Nisa yang sedang berkutat dengan cucian piring.
''Kak Nisa bangun jam berapa koq ini sudah hampir selesai cucian piringnya?'' Tanyaku.
''Jam setengah 3 dek, tadi kakak mimpi di datangi sama Robin. Ia ingin kita menjenguknya'' ucap kak Nisa sendu.
''Kalau begitu nanti kita ke makam kak Robin saja kak'' ucap ku.
''Aku ikut ma, aku juga rindu sama papa Robin'' ucap Claudy yang entah kapan ia bangun, tiba-tiba sudah ada di belakang ku.
''Iya nak, kita semua akan pergi''
Akhirnya aku mengeluarkan bahan dari kulkas untuk membuat sarapan, karena kak Nisa juga sudah selesai mencuci piring.
Cukup lama kami bertiga berkutat di dapur akhirnya menu sarapan kami hari ini sudah tersaji di atas meja.
''Ayo kita makan'' ujar Claudy uang sudah duduk di kursi.
''Ayo''
Kami menikmati sarapan dalam diam tak ada yang kami bahas selama sarapan kali ini, kami semua larut dalam pikiran masing-masing.
Setelah sarapan Claudy bersiap-siap untuk berangkat ke sekolahnya yang baru, akupun juga berisap-siap karena hari ini aku akan megantarnya ke sekolahnya yang baru dan juga akan ke perusahaan.
''Mah, Audy udah siap'' ucap Claudy.
__ADS_1
''Ia sayang, sebentar''
Hari ini aku diantar oleh kak Nisa, aku bahkan tak tahu jika kak Nisa bisa mengendarai mobil. Sudah cukup lama aku mengenalnya namun aku tak tahu jika kak Nisa bisa mengemudi karena aku tak pernah melihatnya mengendarai sebuah mobil.
Jarak dari rumah hingga ke sekolah Claudy terbilang cukup jauh sekitar 10 km, namun aku juga tenang menyekolahkan Claudy disana karena keamanan yang terjamin.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu sekitar 20 menit akhirnya kami tiba di selolah baru Claudy.
Saat hendak masuk ke halaman sekolah pihak keamanan memintai kami surat keterangan bahwa Claudy memang siswa disini.
''Silahkan masuk bu, maaf membuat ibu menunggu'' ucap pak Sofian.
''Terimakasih pak'' ucapku kemudian meminta kak Nisa untuk mencari tempat parkir.
Setelah mendapatkan tempat parkir yang cukup nyaman aku dan Claudy turun dari mobil sementara kak Nisa menunggu di mobil. Aku mengajaknya untuk ikut serta namun dia menolak dengan alasan ia ingin memberi ruang untukku dan Claudy.
Aku dan Claudy berjalan menuju ke ruangan kepala sekolah, setelah bertanya pada beberapa siswa yang kami temui. Dari area parkir tak susah untuk menemukan ruangan kepala sekolah hanya berjarak 20 meter saja.
Tok..tok..tok
''Selamat pagi pak'' Ucapku saat sudah berada di ambang pintu ruangan kepala sekolah yang memang sudah terbuka.
''Selamat pagi bu, silahkan duduk'' ucap pak Urba kepala sekolah.
''Terimakasih pak''
''Maaf bu, boleh saya bertanya?'' Tanya pak Urba.
''Boleh pak, ada yang bisa saya bantu?''
''Begini bu, sepertinya nama ibu tak asing bagi saya. Apa ibu kenal dengan pak Bram?''
''Maaf pak, pak Bram yang mana yang bapak maksud?''
''Pak Bram yang bekerja di PW GROUP''
''Ia pak saya kenal, beliau teman mendiang orang tua saya''
''Oh syukurlah kalau begitu, apa ibu ada urusan besok?''
''Tidak ada pak, ada yang bisa saya bantu?''
''Apa ibu bisa datang kesini besok? Saya juga akan memanggil pak Bram. Ada yang harus saya dan pak Bram sampaikan pada bu Pelangi''
''Baik pak, sekitar jam berapa''
''Ibu sesuaikan saja jadwal ibu dan pak Bram''
''Baiklah pak''
__ADS_1
Aku dan Claudy keluar dari ruang kepala sekolah dan mengantarkan Claudy menuju kelasnya. Setelah mengantarkan Claudy aku kembali ke mobil dan berangkat ke perusahaan bersama kak Nisa.
Dalam perjalanan ke perusahaan aku melihat seseorang yang sangat mirip kak Frans sedang duduk di pinggir jalan dengan menggendong seorang bayi mungil. Awalnya aku tak yakin kalau itu kak Frans namun saat mobil semakin mendekat, aku dapat melihat jelas bahwa itu kak Frans.
'Apa yang kak Frans lakukan di pinggir jalan dengan baju yang tak layak juga seorang bayi di gendongannya' batinku.
''Kak Nisa mobilnya bisa berhenti dulu ngak?''
''Ada apa? Apa ada yang ketinggalan atau ada yang ingin kamu beli?'' Tanya kak Nisa sambil memelankan laju mobil.
''Sepertinya aku melihat seseorang didepan sana, tolong kakak berenti di depan orang yang sedang gendong bayi itu''
''Ok, hati-hati dek''
Kak Nisa menepikan mobil persis di samping kak Frans yang sedang duduk di trotoar jalan dengan mengenakan baju yang sudah robek sana sini juga dengan seorang bayi mungil yang hanya di bungkus kain tipis.
Aku turun dari mobil kemudian menghampirinya.
''Kakak.. kak Frans'' ucapku tergagap.
Orang yang di panggil segera menengadahkan kepalanya namun sedetik kemudian ia menunduk.
''Dek'' ucapnya lirih sambil menunduk.
''Kakak sedang apa disini dan kakak sama siapa?'' Tanyaku.
''Kakak dengan..''
''Pelangi, dek kamu dari mana saja?'' Tanya kak Nilam yang datang dari arah belakang kak Frans.
''Kak Nilam...., kenapa kalian disini? Apa yang terjadi?'' Tanyaku.
''Kami di usir oleh kak Lia dek, semua yang kami miliki di ambil alih oleh kak Nisa karena kami tak mau mengikuti kemauannya untuk menyakitimu dek''
''Ya ampun kak, maafkan aku gara-gara aku kakak jadi begini. Kak apa kakak mau ikut denganku?''
''Mau kemana dek, kakak tidak mau merepotkanmu''
''Tidak kak aku justru bahagia jika kalian ikut bersamaku''
''Tapi dek.....''
''Jangan menolak kak, aku hanya ingin berbagi dengan kakak sebagai tanda terimakasihku karena kakak sudah baik sama aku selama ini. Meski orang lain membenci ku tapi kalian tetap baik padaku''
''Tapi apa kami tidak merepotkanmu jika kami ikut dek''
''Tentu tidak kak''
Setelah cukup lama aku membujuk mereka akhirnya mereka mau ikut bersamaku. Aku tak jadi ke perusahaan aku kembali ke rumah dengan kak Frans juga kak Nilam dan bayi mereka. Aku sempat bertanya pada kak Frans tentang Farhan anak pertama mereka namun bukan jawaban yang aku dapatkan melainkan wajah sendu keduanya, akupun tak melanjutkannya dan memilih pembicaraan yang lain.
__ADS_1