
Setelah kepergian tuan hans beserta keluarganya aku pamit pada ibu kos untuk pulang kembali ke kamar kosku. Ku lihat sudah ada tenda lagi yang terpasang dihalaman depan kamarku, ternyata para pengawal itu datang lagi.
''selamat sore nona, apa kabar?'' sapa mereka
''aku baik, kalian sendiri bagaimana?'' kataku pada mereka
''kami juga baik nona, terimakasih sudah bertanya'' jawab mereka
''kalau begitu saya istirahat dulu ya, kalau kalian tidak ada kegiatan kalian istirahat juga''
''iya non, selamat beristirahat''
Kukunci pintu kamar, kemudian berbaring diatas kasur, rasanya hari ini aku begitu lelah padahal aku tak bekerja sama sekali. Kuraih foto ketiga orang yang kusayangi kupandangi wajah mereka pada foto yang ku pegang. Ayah, ibu, mbok, pelangi rindu, sebentar lagi pelangi akan menikah, apa yang pelangi lakukan ini sudah benar bu? apa pelangi tidak salah mengambil jalan?
''huaaaaa..huaa....huhu....huuuuaaaaa'' aku menangis sejadi-jadinya, aku sangat merinduhkan mereka
''nona apa yang terjadi, apa nona baik-baik saja?'' tanya salah satu pengawal, ternyata suara tangisku sangat kencang sampai mereka bisa mendengarnya
''saya tidak apa-apa ben, saya cuma rindu dengan orang tua saya'' jawabku lirih
''baiklah nona, jika ada apa-apa panggil kami'' katanya lagi
''iya, terimakasih'' jawabku
''sama-sama nona'' jawabnya
.
.
.
Kring......
Kring......
Kring....
suara panggilan pada ponsel membangunkanku, kuraih ponsel untuk melihat siapa yang menelpon pagi-pagi begini, tak kuperhatikan siapa yang memanggil langsung saja kuangkat panggilan itu siapa tahu penting
''hallooo sayang, selamat pagi. Apa aku sudah mengganggumu pagi-pagi'' suara tuan hans diujung telpon membuat sebuah senyum terbit di bibirku entah kenapa aku bahagia dihubungi olehnya, segera aku duduk menyandar pada dinding
''halo juga tuan selamat pagi'' jawabku
''kog panggil tuan sih sayang'' katanya
''maaf tu. maaf sayang ehh.. maksudnya sweety'' jawabku yang membuatnya terkekeh
''aduhh.. bahagianya di panggil sayang, tidak apa-apa aku tidak dipanggil sweety lagi, aku lebih suka dipanggil sayang hehehehe''
__ADS_1
aku jadi bingung mau menjawab apa?
''i..iya sweety, eh sweety sayang ehh.. sayang sweety, aduh apa sih kog aku jadi gugup begini'' jawabku belepotan
''hahahahaha'' tawanya di ujung telpon
bisa ku pastikan sekarang wajahnya sedang manis sekali karena dia sedang tertawa seperti itu sementara aku disini sedang menahan malu
''bangunlah sayang kamu sarapan terus hati-hati kalau nanti bekerja jangan terlalu capek, aku tidak mau kamu pingsan karena kelelahan sebab aku tidak akan bisa menggendongmu sekarang'' katanya dan membuatku terdiam karena malu
''aku sudah tidak sabar untuk menggendongmu lagi'' sambungnya
''iya terimaksih'' jawabku singkat
''baiklah sudah dulu ya sayang, aku juga mau siap-siap ke kantor''
''iya hati-hati bekerja'' kataku
''pasti sayang terimakasih atas perhatiannya'' katanya yang sukses membuatku melongo, apa benar aku perhatian padanya?
Tuuuttttttt
panggilan terputus, aku bangun dan bersiap untuk berangkat bekerja.
.
''selamat pagi semua'' sapaku pada teman-teman di restoran. Hari ini aku sudah masuk kerja lagi seperti biasa
''siapa yang bilang aku sakit?'' tanyaku heran karena setahuku aku baik-baik saja
''kemarin tuan indra datang dan memberi tahu bahwa kamu sakit, katanya kamu sempat pingsan waktu kita pulang kemarin dulu'' jawab rita
''oh.. heh aku ngak apa-apa cuma lelah saja'' jawabku bohong padahal saat itu aku syok karena masalah pernikahan
''syukurlah, kalau begitu jangan terlalu lelah'' jawabnya sambil kembali melanjutkan aktifitasnya mengelap meja
aku menuju ke ruang ganti menyimpan tas dan memulai pekerjaanku direstoran.
.
Begitu banyak pelanggan hari ini, tapi rasanya aku tak terlalu lelah. Tapi aku merasa mulai dari tadi pagi ada yang mengawasiku aku jadi was-was siapa tahu ada orang yang berniat jahat padaku. Saat perjalanan pulang aku melihat tuan hans sedang di supermarket bersama ibunya, dia juga melihatku tapi tak berani mendekat karena peraturan keluarganya. Aku tertawa dalam hati kurasa saat ini dia sedang menahan rindu, pasti saat ini hatinya sedang tak baik-baik saja melihat dari raut wajahnya.
.
.
.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan akhirnya hari baik itu sudah di depan mata. Setiap hari aku lalui dengan hal yang sama setiap hari mulai dari panggilan tuan hans yang membangunkanku di pagi hari, pekerjaaan di restoran hingga orang yang diam-diam mengikutiku yang ternyata adalah tuan hans. Hari pernikahan tinggal sehari lagi segala persiapan sudah selesai tinggal menunggu hari esok.
__ADS_1
.
.
.
''selamat pagi nona, apa anda sudah bangun'' sapa seseorang dari luar sambil mengetuk pintu kamarku
''saya sudah bangun, silahkan masuk'' aku tahu siapa mereka pasti mereka penata rias yang akan meriasku dihari bahagia ini
''apa nona sudah sarapan kami akan segera merias nona'' katanya
''sudah, saya sudah siap'' kataku
.
.
aku meneteskan air mata, aku berharap kedua orang tuaku beserta mbok serly bisa melihatku dari sana, agar mereka juga bahagia karena melihatku seperti ini.
''ayah,ibu,mbok, doakan pelangi, semoga jalan yang pelangi ambil tidak salah'' gumamku lirih
Aku memakai gaun putih dengan lengan hingga siku, gaun yang bertaburan manik-manik berwarna emas menambah kecantikan gaunnya.
''nona cantik sekali, pasti tuan hans sangat bangga memiliki istri seperti nona'' kata sang perias yang membuatku malu
''terimaksih, bukan saya yang cantik tapi gaunnya'' jawabku
.
teng..teng...teng
teng..teng...teng
teng..teng..teng
bunyi lonceng gereja mengiringiku masuk kedalam altar pernikahan di gereja. Aku berjalan di dampingi ibu kos dan bapak kos, mereka menjadi orang tuaku saat ini karena aku sudah tidak punya orangtua dan bibi menolak untuk datang. Aku melihat tuan hans sudah berdiri di atas altar bersiap menyambutku untuk mengucap janji pernikahan.
Ibadah berjalan hikmat, akhirnya sampai pada proses sakral pengucapan janji suci pernikahan
''saudara ananda BADAI HANS, apa saudara menerima adinda PELANGI WIANDRA menjadi istrimu?'' tanya pak pendeta pada tuan hans
''saya BADAI HANS berjanji dihadapan Tuhan dan jemaatnya, menerima engkau PELANGI WIANDRA sebagai istriku, menemanimu dalam suka atau duka, untung atau malang,sakit atau sehat dan akan menjadi suami yang bertanggung jawab untukmu dan ayah untuk anak-anak kita nanti'' jawabnya mantap yang membuatku menatapnya lekat kedua netranya.
''bagaimana dia tahu aku adalah pelangi dan bukan kekasihnya lutfiah, dan apa dia akan menerimaku karena aku telah menipunya, apa dia akan memyakitiku karena telah menipunya berpura-pura sebagai mendiang lutfiah orang yang paling dia cintai?'' batinku bertanya
''saudara adinda PELANGI WIANDRA apa adinda bersedia menerima ananda BADAI HANS menjadi suamimu?''kali ini aku yang ditanya
''saya PELANGI WIANDRA berjanji dihadapan Tuhan dan jemaatnya menerima engkau BADAI HANS sebagai suamiku, menemanimu dalam suka atau duka, untung atau malang, sakit atau sehat dan berjanji menjadi istri yang bertanggung jawab untukmu dan ibu untuk anak-anak kita nanti'' jawabku
__ADS_1
Setelah mengucap janji kami berdua saling memasangkan cincin, kemudian bersujud dihadapan pendeta yang akan memberkati kehidupan baru kami. Setelah ibadah selesai, kami menandatangani akta nikah dan surat nikah dari gereja setelah itu kami pulang beristirahat karena resepsi akan diadakan nanti malam.