PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
RAHASIA BI ASIH


__ADS_3

Setelah kejadian aku memberitahukan tentang mas Hans dan keluarganya kepada bu Dita, hari-harinya selalu penuh dengan senyuman.


Tak pernah kulihat bu Dita sebahagia ini, aku turut bahagia atas semua yang telah terjadi. Sempat aku mengajak bu Dita untuk ketemu anak-anaknya tapi ia menolak, katanya ia masih takut untuk bertemu dengan ibu mertuaku. Sebenarnya aku juga masih takut bertemu, aku dan bu Dita masih sama-sama menyimpan luka dan trauma yang sama.


Karena sekarang bu Dita sudah memiliki uang yang banyak, ia sedang mencari bukti tentang kejadian yang telah memisahkannya dan anak-anaknya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ia juga mencari bukti saat aku dan anakku coba di bakar hidup-hidup.


Aku tahu sekarang ternyata dengan uang, orang bisa melakukan apapun. Cuma satu bulan, semua bukti dan saksi yang terlibat dalam insiden bu dita berhasil ditemukan. Sementara untuk kasusku masih mencari para preman yang membakar mobil, bu Dita mengatakan jika orang suruhannya sudah mengantongi nama para preman itu dan sementara dalam pencarian.


''Nak, apa kamu akan melaporkan mertuamu?''


Bu Dita menghampiriku ke kamar saat sedang menidurkan Claudy. Entah kenapa aku khawatir jika mas Hans akan membenciku jika melaporkan ibu mertua. Aku tahu betapa mas Hans sangat menyayangi ibunya.


Bu Dita juga sudah mengantongi hasil tes DNA antara dia dan anak-anaknya. Tentu saja sampel itu diambil tanpa sepengetahuan anak-anaknya, kata bu Dita ia akan memberikan kejutan pada anak-anaknya.


''Aku belum tahu bu, tapi jika ibu melaporkannya aku tak apa-apa. Karena ia dan ibunya juga mencoba mencelakai ibu''


Bu Dita menatap lama ke arahku sebelum membuang napasnya pelan.


''Apa kamu mengijinkannya nak, karena jika kita tak melaporkannya bisa ada korban lain lagi dan mungkin saja nasibnya tak baik seperti kita''


Kata-kata bu Dita memenuhi pikiranku. Benar apa yang dikatakan bu Dita, jika kami memaafkannya akan ada lagi yang bernasib sama dengan kami berdua.


''Aku setuju bu, lakukanlah yang terbaik''


''Baiklah nak, preman-preman yang disuruh untuk membakar mobil sudah ditemukan. Besok kamu temani ibu dan kita buat laporan''


Aku hanya mengangguk mengiyakan. Ku lihat Claudy sudah tertidur dengan nyeyak. Kututup selimut tubuhnya, kututup pintu sesudah bu Dita kembali ke kamarnya.


Dalam doaku malam ini, ku ucapkan syukur atas semua kemudahan yang Tuhan berikan padaku dan bu Dita agar masalah ini bisa terungkap secepatnya. Meski sisi hatiku yang lain mengatakan tak tega.


.


Esok paginya setelah sarapan kami berangkat ke kantor polisi untuk membuat laporan tentang kasus kami berdua, kami langsung menuju ke kantor polisi pusat di pulau ini. Kantornya ada di kota kami menempuh 4 jam perjalanan untuk sampai kesana.


Dalam perjalanan aku sempat takut jika kami ketemu dengan Sandra atau ibu mertua. Jangan sampai mereka mengetahui keberadaan kami sebelum semuanya terungkap.


Untungnya polisi dengan cepat merespon laporan kami, karena mereka tak perlu lagi mencari bukti atau saksi karena semua sudah kami dapatkan. Awalnya mereka sedikit keberatan, karena mereka pikir akan susah mencari bukti karena kejadiannya sudah lama sekali.

__ADS_1


''Baik pak, terimakasih banyak. Kami tunggu kabar baiknya'' Kata bu Dita.


Setelah urusan di kantor polisi selesai kami tak pulang ke rumah, kami menyewa sebuah apartemen. Tak mungkin kami bolak balik ke rumah, karena bisa saja setiap saat polisi butuh keterangan dan karena jarak yang jauh.


Aku baru tahu ternyata kedua mendiang orang tua bu Dita pensiunan polisi.


Ada rasa lega didalam dada saat ini. Tinggal kami menyiapkan hati mengunjungi orang-orang yang terlibat dalam kasus kami.


.


Satu minggu setelahnya seorang anggota kepolisian memberi kami kabar bahwa hari ini akan di adakan penangkapan terhadap Sandra, Ibu mertua dan ibunya. Hari ini ternyata ada acara ulang tahun pernikahan ibu dan ayah mertua di rumah itu. Polisi memilih waktu ini karena berpikir bahwa pasti semua tersangka akan ada disana.


Dalam perjalanan jantungku berdegup kencang, entah apa yang akan aku katakan dan akan aku lakukan jika tiba disana. Aku rasa aku belum siap menghadapi semuanya orang disana.


''Apa kamu juga deg-degan seperti ibu nak?''


''Iya bu, nanti setelah mereka dibawa polisi baru kita masuk bu, kita parkir didepan jalan rumahnya saja''


Tangan bu Dita menggenggam erat tanganku selama perjalanan, sementara Claudy dari tadi tertidur. Dua mobil polisi berjalan mendahului mobil kami dan dua mobil bu Dita mengawal dibelakang kami dengan saksi-saksi kejadian kelam itu ada didalamnya. Dari ujung jalan sudah terlihat kemeriahan dirumah itu.


Semakin mendekat ke rumah itu, jantungku memompa semakin kuat, semakin erat kugenggan tangan bu Dita. Kurasakan tangan bu Dita dingin dan bergetar, keringat bercucuran di keningnya. Keadaan bu Dita saat ini tak jauh beda denganku.


Kukihat ada pak Zul disana, dia terlihat terkejut saat berbicara dengan polisi. Ku lihat dari dalam mobil pak polisi menunjuk ke arah mobil yang kunaiki bersama bu Dita.


Pak Zul menghampiri mobil kami, sambil sesekali mengusap matanya, entah kenapa rasanya aku melihat pak Zul meneteskan air matanya.


Tok


Tok


Tok


Pak Zul mengetuk kaca mobil yang aku dan bu Dita tempati. Pak Beni membuka pintu bagian depan dan mempersilahkan pak Zul masuk. Pak Zul langsung masuk kedalam mobil dan benar dugaanku pak Zul sedang menangis.


''Nyonya, nyonya muda. Syukurlah kalian berdua baik-baik saja huhu..hu.. Saya yakin kalau kalian baik-baik saja hu..hu..hu''


Air mata pak Zul mengalir deras di pipinya, bu Dita dan aku juga menangis.

__ADS_1


Pak Zul tetap berada di dalam mobil bersama kami, banyak yang bu Dita ceritakan padanya. Terlihat sudah mulai terjadi kekacauan dirumah itu, tak lama suara tangisan saling bersahut-sahutan.


Kulihat Sandra, ibu mertua dan ibunya sudah dibawa keluar oleh polisi. Tangan mereka di borgol, sementara kak Lia menangis meraung-raung sambil menahan pak polisi membawa ibu mertua.


'Kasian kamu mbak, kamu menangisi orang yang salah' Batinku berbicara.


Tak lama keluarlah mas Hans, kak Frans dan juga istrinya kak Nilam. Wajah mereka semua berurai air mata yang sayangnya air mata itu mereka tumpahkan untuk orang yang salah.


Setelah polisi membawa mereka pergi, pak Beni melajukan mobil perlahan ke pekarangan rumah megah itu. Semua mata yang hadir di acara itu memandang ke arah mobil kami.


Mobil berhenti tepat didepan semua orang yang sedang memandangi kepergian mobil polisi beserta tiga orang penjahat didalamnya.


Dengan perasaan tak karuan aku, Claudy dan bu Dita turun dari mobil, dengan satu tanganku menggandeng tangan bu Dita dan yang satunya menggendong Claudy yang sedang tertidur.


Mata semua orang disana melotot tajam kearah kami bertiga, banyak orang yang sudah mulai berbisik-bisik, ada juga yang ketakutan melihat kami. Bagaimana tidak, semua orang menganggap kami bertiga sudah tiada.


Mata bapak mertua menatap tajam ke arah bu Dita. Ya, aku tahu mungkin kemarahan pada bu Dita sedang meliputinya saat ini, dan itu semua karena ulah ibu mertua dan ibunya. Sementara mas Hans memandangku dengan tatapan aneh, bahkan sulit untuk aku artikan. Kak Nilam dan kak Lia langsung menghambur memelukku, air mata keduanya berjatuhan, bu Dita mengambil Claudy dan menggendongnya. Mungkin karena terganggu Claudy terbangun kemudian mencoba membuka matanya. Jika saat bayi dia sepenuhnya mirip denganku, saat ini sudah ada wajah mas Hans disana.


''Bu, apa kita sudah sampai di rumah papa?'' Tanyanya polos.


Kak Lia dan kak Nilam langsung memeluk keponakan mereka, sementara ayah mertua dan mas Hans masih membeku ditempatnya. Pak Zul datang dan membawa beberap kursi agar kami bisa duduk. Untungnya pekarangan rumah ini sudah dipasangi tenda jadi kami tak kepanasan jika harus duduk di luar.


''Silahkan duduk nyonya, nyonya muda dan nona muda''


Kak Lia memandang ke arah bu Dita begitupun Frans dan mas Hans, mungkin mereka kaget dan kenapa pak Zul memanggil bu Dita nyonya. Tak lama datang juga bi Asih dan langsung berhambur memeluk bu Dita. Keduanya berpelukan menumpahkan tangisnya, sungguh momen yang mengharukan.


''Nyonya baik-baik saja? Saya bahagia bisa bertemu nyonya lagi. Saya yakin nyonya belum mati dan nyonya tidak pergi begitu saja?'' Kata bi Asih.


Bi Asih kemudian melepaskan pelukannya kemudian beralih ke arah ayah mertua.


''Tuan, sebenarnya saya tahu semuanya hanya saja nyawa anak-anak saya terancam jika saya memberitahu tuan kebenarannya. Anak-anak saya entah dimana sekarang mereka disembunyikan oleh nyonya. Jika saya memberi tahu tuan kebenarannya tentang nyonya Dita, anak saya akan dibunuh oleh nyonya Rena. Seperti saat suami saya mencoba memberi tahu tuan, suami saya dibunuh didepan mata saya tuan. Maafkan saya tuan''


Kemudian ia beralih kembali ke bu Dita.


''Nyonya muda Lia, tuan Frans dan tuan Hans. Ini adalah ibu kandung kalian. Nyonya Rena bukanlah ibu kandung kalian ia hanya ibu tiri. Ia merebut ayah kalian dari ibu kalian, ia juga mencoba membunuh ibu kalian. Saya dan suami saya melihat mereka membuang nyonya Dita di jurang yang ada di tengah hutan. Dia juga sebenarnya ingin membuang kalian tapi mengingat ia tidak akan bisa memiliki anak, jadi dia memutuskan untuk merawat kalian saja. Saat itu ibu dan suami ibu pulang dari kampung, ditengah jalan kami melihat mobil nyonya. Saat mendekat terdengar suara jeritan minta tolong, kami segera berhenti dan membawa motor bersembunyi dibalik semak belukar. Saat itulah kami melihat nyonya Dita yang sudah terkulai lemas dan penuh luka dikeluarkan dari mobil dan dibuang kejurang. Saya melihat nyonya Rena bersama ibunya disana. Anak-anak juga sudah dikeluarka dari mobil, tapi tak lama mereka memasukkannya kembali dan pergi dari tempat itu. Saat mobil nyonya sudah tak terlihat, ibu dan suami ibu mencoba mencari keberadaan nyonya Dita tapi kami tak menemukannya karena dibawah jurang itu ada sungai yang arusnya sangat deras.


Saat kembali kemari, saya dan suami memutuskan untuk memberi tahu tuan tentang semua ini. Tapi saat suami ibu ingin menemui tuan, nyonya Rena beserta ibunya langsung menembak suami ibu kemudian memukulinya dengan balok. Mungkin tuan masih ingat kejadian itu, saat suami saya dimakamkan nyonya Rena tak ikut dengan alasan sakit perut. Sebenarnya saat itu mereka ada dirumah saya dan sedang mencoba menculik anak saya, agar mereka bisa menggunakannya sebagai ancaman agar saya tak memberitahu kebenarannya''

__ADS_1


Aku juga kaget mendengar penuturan bi Asih. Semua orang yang ada disana juga merasakan hal yang sama terkejut. Ternyata ada beberapa awak media disana, aku yakin tak lama lagi berita ini akan muncul di tv atau bahkan mereka sedang menayangkannya secara langsung.


__ADS_2