PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
RUMAH SINGGAH


__ADS_3

Rasanya aku ingin tersenyum terus mendengar kabar bahagia ini, namun saat ini situasi dan kondisi tak memungkinkan.


''Dek, ayo masuk guru-guru dari sekolah Claudy sudah mau pulang'' ujar kak Frans.


''Iya kak''


Aku mengikuti kak Frans masuk menemui guru-guru dari sekolah Claudy yang ingin pamit.


''Bu Pelangi, nak Sintia, kami ingin pamit dulu karena masih ada kegiatan di sekolah. Mudah-mudahan kami bisa ikut ibadah nanti'' ujar bu Helmi.


''Baik bu, terimakasih semuanya sudah datang'' ujar Sintia.


Aku dan Sintia mengantar mereka hingga mereka semua masuk ke dalam mobil. Setelah mobil mereka menghilang dari pandangan aku dan Sintia kembali ke dalam menemui orang-orang dari perusahaan karena mereka juga ingin pamit pulang untuk berganti pakaian dan akan datang kembali saat ibadah nanti malam.


Para pelayat terus berdatangan hingga tak terasa sudah pukul 6 sore dan tak lama lagi akan di adakan ibadah sebelum om Bram di masukkan ke dalam peti.


Pukul 06:35 ibadah di mulai, banyak orang yang ikut ibadah ini sampai-sampai kursi yang di sediakan tak mencukupi, akhirnya sebagian lagi duduk di dalam rumah.


Ibadah berjalan dengana lancar hingga akhirnya berakhir pada pukul 20:00. Setelah ibadah selesai jenasah om Bram di masukkan ke dalam peti, isak tangis dari Sintia masih sesekali terdengar. Bu Desi dengan setia menemani Sintia, mencoba untuk menguatkan Sintia, meski aku tahu jika ia juga sebenarnya sangat sedih akan kepergian kakaknya.


Pukul 10 malam setelah semua kegiatan berakhir kami memutuskan untuk istirahat karena besok adalah hari yang sibuk. Sintia dan bu Desi sudah memutuskan untuk memakamkan om Bram esok hari dikarenakan tak ada lagi keluarga yang di tunggu.


Aku meminta bu Desi dan Sintia tidur di kamar Claudy, Claudy dan aku tidur di kamarku sedangkan Piter dan Rivaldi tidur di kamar tamu.


*


Pukul 4 pagi aku sudah terbangun, aku menuju ke dapur berniat untuk membuat sarapan, namun saat aku tiba di sana, aku melihat sudah ada Sintia, bu Desi juga Rivaldi dan piter.


''Sudah bangun Gi''


''Iya, kenapa kalian bangun pagi sekali? Apa kalian tak tidur?''


''Aku tidak bisa tidur Gi, entah kenapa mataku tidak mau tertutup meski aku sangat mengantuk'' ujar Sintia.


''Kamu kemana tadi malam nak? Kenapa tidak tidur sama ibu?''


''Aku di ruang tengah bu, tidur bersama ayah''


Aku kaget mendengar ucapan Sintia rupanya ia tak tidur di kamar semalam tapi ia tidur di ruang tengah di samping peti sang ayah.


''Tenang saja bi, aku ditemani sama Rivaldi dan Piter''


''Iya mah aku dan Piter juga tidur disana tadi malam'' ujar Rivaldi.

__ADS_1


''Sarapannya sudah siap ayo kita bersih-bersih dulu baru sarapan'' ujar bu Desi.


''Kalian duluan saja aku ingin membuat susu untuk Claudy dulu'' ujar ku.


''Baiklah Gi''


Dapur yang semalam terlihat sangat berantakan kini sudah sangat rapi, rupanya saat Sintia dan bu Desi membuat sarapan, Rivaldi dan Piter mencuci piring.


Melihat Rivaldi dan Piter mengingatkan ku pada mendiang putra ku, andai saja ia masih ada mungkin ia sudah sebesar mereka, air mataku nyaris saja jatuh jika saja aku tak segera menguatkan diri. Segera ku hapus bulir bening yang sudah terkumpul di sudut mataku, aku tak ingin terus-menerus meratapi kepergiannya.


Jika aku terus menangisi kepergiannya, aku tak akan bisa menjaga Claudy dengan baik.


''Mamah bikin apa?'' ujar Claudy yang sudah berdiri di samping ku, entah sejak kapan ia disana mungkin saja ia melihat saat aku menghapus air mata ku tadi.


''Mamah bikin susu nak, kamu sudah bangun?''


''Iya mah, apa mamah nangis?''


''Ngak koq mama ngak apa-apa''


''Mamah ngak bisa bohongi Claudy, air mata mama masih ada tuh. Mama mikirin kakak ya, kalau mama sedih pasti kakak juga akan sedih, ia kan kak'' ujarnya seolah-olah sedang berbicara dengan kakaknya.


''Iya mama ngak sedih koq''


''Heuuuuummmm, harum apa sih ini mah, macam ada yang enak-enak hehehe''


''Ish mama suka banget deh cubit-cubit hidung Claudy, entar kalau hidungnya jadi pesek gimana?''


''Nanti kita ganti pakai hidung gajah, hehehhehehe''


''Mamah''


''Iya.. iya''


''Ada apa sih seru amat kayaknya'' ujar kak Nilam yang datang sambil menggendong baby Queen.


''Ini aunty mamah ganguuin aku terus, halo adik syantikku''


''Mandi dulu sana baru gangguin dedek Queenya''


''Iya mama'' ujarnya kemudian mencium gemes pipi baby Queen kemudian berlari kecil menuju ke kamar.


Aku memangku baby Queen sedangkan sang ibu menyiapkan kopi untuk kak Frans. Tak lama bu Desi, Sintia , Rivaldi, Piter dan kak Frans masuk ke arah dapur.

__ADS_1


''Kalian makanlah lebih dahulu, aku dan Claudy akan makan nanti saja kami sudah minum susu tadi. Kak Nilam juga sekalian makan aku akan membawa baby Queen ke kamar''


''Baiklah dek''


Aku membawa baby Queen menuju ke kamar agar ibunya bisa sarapan terlebih dahulu, aku masih kenyang karena minum susu tadi juga aku rasanya tak nafsu makan.


''Halo adik manis''


''Pakai baju dulu Audy''


''Iya mah, habis ini kamu sarapan juga, nanti jagain baby Queen lagi ya''


''Iya mah''


Setelah berganti baju Claudy juga menuju ke ruang makan untuk makan. Tak lama kak Nilam dan kak Frans menyusulku ke kamar, dari raut wajah mereka terlihat seperti orang yang sangat sedih.


''Ada apa kak?''


''Ada kabar buruk dek''


''Kabar buruk apa kak?''


''Ini tentang papanya Claudy''


''Ada apa dengan mas Hans?''


''Menurut informasi dari orang yang kita suruh mencari keberadaan ibu dan Hans, Hans sedang sakit dan dia tak ingat apa-apa, bahkan ibu saja ia tak ingat''


''Maksudnya bagaimana kak?''


''Sepertinya Hans kehilangan ingatannya dek''


Hatiku sakit mendengar berita yang di sampaikan kak Frans.


''Lalu bagaimana keadaan bu Dita kak?''


''Ibu baik-baik saja, hanya saja ia terlihat sangat kurus dan tak terurus. Kata Soni, ibu, bi Asih dan Hans tinggal di sebuah rumah singgah bersama anak-anak jalanan''


Ya Tuhan cobaan apa lagi ini, kenapa semuanya jadi begini.


Setelah sarapan pagi kami melakukan persiapan untuk pelaksanaan ibadah pemakaman om Bram.


Ibadah pemakaman om Bram berjalan dengan lancar, kami semua mengantarkan om Bram ke tempat peristirahatannya yang terakhir, terkecuali kak Nilam dan baby Queen.

__ADS_1


Tempat pemakaman om Bram ternyata satu lokasi dengan pemakaman Hans, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi makam putra ku. Semenjak kepergiannya baru sekali aku datang di makamnya, karena setiap aku datang hati ku begitu sakit dan aku tak bisa mengendalikan air mataku.


Ku beli beberapa tangkai bunga mawar putih kesukaan putraku, ku kuatkan diri agar aku tak menangis saat mengunjunginya karena ia sangat tak suka melihatku menangis.


__ADS_2