
Mas Hans duduk di sofa yang berada tak jauh dari depan kamar dengan posisi sofa yang hampir menghadap kearah kamar. Mungkin mas Hans sengaja agar aku tetap bisa melihatnya. Mas Hans kemudian tersenyum saat melihatku sedang menatap ke arahnya.
Rosa tiba-tiba berdiri dari duduknya hendak duduk juga di sebelah mas Hans, mas Hans segera pindah ke sofa tunggal agar Rosa tak bisa duduk di sampingnya. Aku ingin tertawa rasanya melihat ekspresi wajah rosa saat ditolak untuk duduk bersama mas Hans.
Saat aku sedang tersenyum dikamar, ibu mertua datang menghampiriku. Kulihat ada raut kesedihan pada wajahnya, entah apa yang dipikirkan ibu mertua, sepertinya ada beban berat. Dia memghampiriku dan memberikan sebuah kotak berwarna biru.
''Apa ini bu?'' tanyaku.
''Ini perhiasan mendiang putri ibu, dia belum sempat memakainya dan sudah di panggil Tuhan, ibu harap kamu mau menerimanya karena kamu juga putri ibu sekarang'' jawab ibu dengan wajah sedih, matanya sudah berkaca-kaca.
''Terimakasih bu, saya akan menjaganya dengan baik'' jawabku, aku tak ingin menolak. Kata mbok jika kita menolak pemberian orang berarti kita menutup pintu rejekinya, jika seseorang memberi ambillah asal bukan kita yang meminta.
''Terimakasih nak, ibu akan temui tamu dulu'' kata ibu menghapus air matanya kemudian berlalu menuju ruang tamu.
Rosa menyalami tangan ibu, begitu juga kedua orang yang bersamanya ikut bersalaman dengan ibu mertuaku. Sepertinya mereka sangat akrab karena tidak ada kecanggungan di antara mereka bertiga.
''Hans, ada yang perlu kami sampaikan'' kata laki-laki itu.
''Ada apa om'' kata mas Hans.
''Ada yang ingin kami kenalkan padamu, tapi kami harap nak Hans tidak kaget dan bisa menerimanya'' kata laki-laki itu.
Dari arah pintu depan datang seorang anak laki-laki yang kuperkirakan umurnya sekitar 6 tahun. Anak laki-laki itu memiliki wajah yang agak mirip dengan mas Hans, seketika aku langsung berpikir bahwa mungkinkah itu adalah anak mas Hans dan Rosa karena mereka adalah kekasih di masa lalu.
Anak itu berlari ke arah mas Hans sambil tertawa.
''Ayah......'' kata anak itu sambil memeluk mas Hans.
Mas Hans hanya diam saja tanpa menolak atau membalas pelukan anak itu. Tampaknya mas Hans sangat syok dia bahkan tak bergerak sama sekali, kulihat ibu mertua juga syok matanya membulat sempurna dengan kedua telapak tangan menutup mulutnya.
''Nak Hans, ini adalah anak kamu dan Rosa, umurnya sudah 5 tahun lebih, saat rosa pergi 6 tahun yang lalu dia sedang mengandung anakmu'' kata laki-laki itu.
__ADS_1
Deg
Tes
Air mataku luruh seketika membasahi pipiku, aku tidak tahu harus apa sekarang. Apa aku harus berpisah dengan mas Hans sekarang atau aku harus bertahan? Tapi jika aku bertahan aku akan menjadi penghalang kebahagiaan anak itu yang pasti dia ingin ayah dan ibunya bersama.
''Tapi om, waktu itu saya melakukannya karena jebakan dari anak om itupun hanya satu kali saja, saat itu terakhir kalinya saya menyentuh anak om sebelum dia meninggalkan saya'' kata mas Hans
''Tapi lihatlah anak ini sangat mirip denganmu, apa kamu tidak mau mengakui anakmu?'' tanya pria itu lagi.
Rosa melirik ke arahku dengan memberikan senyum kemenangan, aku hanya tertunduk dan memilih memutar kursi roda ke arah ranjang. Baru saja aku memulai hidup baru dengan bahagia, sudah ada ujian yang aku hadapi. Aku masih bisa melihat mereka dari pantulan lemari kaca di kamar.
''Ayah.. kenapa ayah tidak memelukku. Kata ibu jika aku ketemu ayah pasti ayah akan sangat menyukaiku, benarkan bu?'' kata anak itu.
Rosa menganggukkan kepalanya, mas Hans langsung memeluk anak itu. Setelah itu dia beralih menyalami ibu mertua, ibu mertua tersenyum dan mengusap pundak anak itu.
''Kamu mirip sekali dengan Hans waktu kecil nak'' kata ibu mertua.
''Ini baru permulaan, kita akan segera memulai perang, aku atau kamu yang akan bertahan'' katanya kemudian berlalu.
Segera kututup pintu kamar, aku menggerakkan kursi rodaku ke arah balkon kamar, kutatap langit yang saat itu sedang mendung. Bahkan langitpun tahu keadaanku sekarang.
''Ibu, ayah, mbok pelangi rindu kalian'' kataku lirih dengan air mata berjatuhan.
Cukup lama baru mas Hans kembali ke kamar. Saat masuk ke kamar, kulihat wajahnya sangat lesu, ingin ku bertanya tapi takut salah, akhirnya aku diam saja. Mas Hans menghampiriku kebalkon kamar, mendorong kursi rodaku kembali kedalam kamar. Dia membantuku duduk di atas ranjang, menggenggam tanganku, sepertinya ada yang ingin ia samapaikan.
''Ada yang mas ingin sampaikan sayang, tapi mas harap kamu tidak benci mas'' kata mas Hans.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum, sesedih apapun aku, tak pernah aku tunjukkan pada orang lain.
''Mungkin kamu sudah melihat anak kecil yang mirip denganku tadi. Mas minta maaf, anak itu anak mas dan Rosa, dulu saat masih pacaran dengan Rosa, dia dan teman-temannya menjebakku, mereka memasukkan obat pada minuman mas. Mas tak sadar saat mas melakukan hubungan intim dengan Rosa dan ternyata dia hamil. Sebagai seorang laki-laki mas harus bertanggung jawab atas anak itu, mas akan menafkahinya tapi mas tidak akan menikah dengan Rosa hanya kamu istri mas'' kata mas Hans padaku.
__ADS_1
''Aku tidak akan membenci mas, aku tahu itu adalah tanggung jawab mas sebagai ayah'' hanya itu yang mampu aku katakan pada mas Hans.
Kulihat ada segaris senyum di bibir mas Hans, dia memelukku.
''Sayang apa mas bisa minta lagi?'' kata mas Hans sambil membaringkan aku di atas tempat tidur. Dia mulai mencium bibirku dengan lembut, aku hanya menutup mataku membiarkan mas Hans melakukan apa yang ia inginkan.
Setelah satu jam melakukan ritual, mas Hans terkulai lemas disampingku, dia tersenyum padaku sambil berusaha menetralkan napasnya yang masih memburu.
''Mas harap, apa yang mas tanam bisa cepat tumbuh di dalam sini'' kata mas Hans sambil mengelus perutku,o aku yang merasa geli justru tertawa dan membuat mas Hans memandangku.
''Kenapa tertawa sayang, apakah yang mas katakan lucu?'' tanyanya.
''Tidak mas, aku hanya merasa geli'' kataku.
''Oh begitu, kalau begitu ayo kita bersihkan diri'' jawab mas Hans sambil menggendongku menuju kamar mandi. Karena kamar kami adalah kamar utama di rumah ini jadi di dalam kamar ada kamar mandi sendiri. Mas Hans menidurkanku didalam bathup, aku heran saat mas Hans tiba-tiba ikut masuk.
''Mas, jika mas ingin berendam aku tidak apa-apa mandi pakai shower aja'' kataku hendak berdiri.
Mas hans menahan tubuhku, ia kemudian mendudukkan aku di atas tubuhnya.
''Mas ingin satu kali lagi ya'' katanya.
Aku hanya mengangguk pasrah, toh aku juga tidak mungkin bisa lari darinya.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, aku menuju ke kamar membangunkan mas Hans. Dia tertidur tadi saat kami selesai mandi mungkin dia lelah. Pelan-pelan kubuka pintu kamar agar mas Hans tak kaget, kudekati ranjang dan ku usap pelan kepalanya.
''Mas, sudah malam, ayo bangun makan malam dulu''
Mas Hans mengerjapkan mata, dia tersenyum menatapku kemudian bangun dan beralih ke kamar mandi, mungkin ingin mencuci muka. Tak lama mas Hans keluar dari kamar mandi, kami menuju ke ruang makan untuk makan malam.
__ADS_1