PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
RUMAH BERKAT


__ADS_3

Tak pernah terbayangkan jika setiap orang yang pernah aku bantu di masa lalu, kini mereka yang membantu di saat aku sedang butuh pertolongan. Aku tak pernah berharap balasan dari apa yang aku lakukan pada mereka namun benar kata pepatah (apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai).


''Ayo masuk kak Anggi'' ujar Tasya dan Dyo.


''Ia, tapi kakak bangunkan anak kakak dulu ya''


''Kita sudah sampai mah'' ujar Claudy turun dari atas mobil dengan wajah khas orang bangun tidur.


''Ia sayang''


Kak Nilam menyusul di belakang Claudy sambil menggendong baby Queen sedangkan kak Frans dan pak Yos menurunkan perlengkapan baby Queen.


Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal di dalam mobil kami kemudian masuk ke dalam rumah milik Syam.


Kami di persilahkan duduk di sofa ruang tamu, tak lama Tasya dan Dyo datang membawa nampan berisi teh dalam gelas dan juga beberapa toples kue kering.


''Syam, kamu kenal dimana sama adek aku?'' Tanya kak Frans.


''Kak Anggi ini orang yang sudah nolong aku dan adik-adikku dulu. Ingat ngak aku pernah cerita sosok penolong yang selama ini kami cari, nah kak Anggi ini orangnya'' ujar Syam.


''Oh begitu, ternyata benar kalau dimana kamu berada, maka disitu akan ada kebaikan yang terjadi'' ujar kak Frans.


''Benar sekali'' timpal kak Nilam.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan mereka. Syukurlah jika keberadaanku membawa kebaikan bagi orang lain.


"Non, aden makan malamnya sudah siap" ujar seorang gadis, mungkin pelayan di rumah ini.


"Terimakasih bi, panggil mang Karim juga ya bi kita makan malam sama-sama" ujar Tasya.


"Baik non"


"Kalian semua belum makan malam kan?"


"Belum dong aku kan sudah bilang kalau aku mau makan gratis disini" ujar kak Frans bergurau dengan Syam.


"Emang ngak berubah makan aja di otaknya" balas Syam.


Keduanya berjalan berbarengan menuju ruang makan, di ikuti kami di belakangereka, kami menikmati makan malam dengan penuh suka cita. Setelah makan malam kami bercerita sejenak sebelum kami memutuskan untuk istirahat.


Ternyata banyak hal yang tak aku ketahui, banyak hal yang sudah terjadi di panti asuhan milik bu Asni setelah kepergianku.


*

__ADS_1


Pagi-pagi sekali kami sudah bangun, rasanya sudah tak sabar ingin bertemu dengan bu Dita. Kami berangkat saat matahari masih belum bersinar, sengaja kami berangkat awal agar tak terjebak kemacetan.


"Aku ngak sabar ketemu oma Dita mah" ujar Claudy dengan rona bahagia yang terlihat jelas di wajahnya.


"Ia sayang"


"Kalau papa kamu ngak kangen?" Tanya kak Nilam.


"Tapi papa ngak kenal aku aunty" ujarnya dengan wajah sendu.


"Ngak apa-apa sayang nanti kita bantu supaya papa ingat Claudy" ujar kak Frans.


"Ia paman"


Kami mencari keberadaan bu Dita dan mas Hans menggunakan mobil milik Syam. Kali ini kak Frans yang mengemudikan mobil sedangkan pak Yos kami minta untuk istirahat saja di rumah Syam.


"Menurut alamat yang Soni kirim dari sini cuma 30 menit saja untuk ke rumah singgah. Tapi aku tak terlalu hapal jalanan di kota ini, bagaimana kalau kita minta di antar sama Soni?" Tanya kak Frans.


"Ngak usah bro, aku tahu koq tempatnya. Jalanin aja mobilnya nanti aku yang tunjukan arahnya" ujar Syam.


"Ok om google hehehe"


Kak Frans melajukan mobilnya perlahan menyusuri jalanan kota yang sudah mulai ramai oleh kendaraan. Beberapa kali kami masuk ke lorong-lorong kecil hingga kami tiba di sebuah lapangan yang di penuhi oleh tumpukan barang-barang bekas juga beberapa rumah kardus.


Aku meminta kak Nilam untuk duduk saja menunggu di dalam mobil bersama Claudy dan baby Queen, sedangkan aku, Syam dan kak Frans turun mencari dimana lokasi rumah singgah yang di maksud oleh Soni.


"Menurut info dari Soni ya disini tempatnya dek"


"Ayo rumah singgahnya ada di dalam sana, aku tahu tempatnya" ujar Syam.


Kami mengikuti Syam masuk kedalam lapangan yang lebih mirip tempat pembuangan sampah. Melewati beberapa rumah kardus dan juga orang-orang yang sedang mengumpulkan dan memilah barang-barang bekas, akhirnya kami tiba di sebuah bangunan yang terbuat dari kayu dan papan triplek. Di atas pintu tertulis RUMAH BERKAT, ku coba mengetuk beberapa kali namun tak ada sahutan dari dalam sana.


Sejenak aku berpikir apa benar alamat yang kami datangi ini? Saat hendak berbalik tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari arah samping bangunan.


"Ada suara dari sana kak"


"Ia aku juga mendengarnya, ayo kita kesana"


Kami melangkah dengan perlahan-lahan menuju samping rumah, semakin dekat terdengar ada suara dua orang sedang bercakap-cakap.


"Ayo makan nak" Suara seorang wanita.


Saat tiba di samping bangunan tak ada siapapun namun suara itu masih terdengar. Terlihat ada sebuah jendela yang terbuka segera aku menuju ke sana dan betapa terkejutnya aku saat melihat bu Dita dan mas Hans dalam keadaan yang memprihatinkan.

__ADS_1


Bu Dita dengan pakaian lusuh duduk dilantai beralaskan kardus dan tikar tipis sambil bersandar di tembok, sedangkan mas Hans tidur di pangkuan bu Dita. Seketika air mataku jatuh tak tertahankan, kedua orang yang aku sayang hidup dalam keadaan seperti ini.


"Kak buka saja pintunya, di dalam ada ibu dan mas Hans"


Kak Frans mendorong pintu yang sempat kami ketuk tadi dan ternyata pintu itu tak terkunci. Aku segera masuk dan berlari ke arah kamar yang di tempati ibu dan mas Hans.


"Ibu, mas" ujar ku memeluk bu Dita.


"Nak, kamu disini" ujarnya lemah.


"Ibu" ujar kak Frans berjongkok dan memeluk sang ibu dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


"Kalian tahu dimana kami disini, apa bi Asih yang memberi kabar pada kalian?" ujar bu Dita, seketika aku teringat akan bi Asih.


"Bi Asih dimana bu, bukankah ibu pergi dengan bi Asih?"


"Bi Asih sedang mencuci saat ini nak, sekarang dia yang memberi kami makan. Frans, lihatlah saudaramu, dia tak mengingat apapun, dia tak mengenal siapapun bahkan ibu sekalipun" ujar bu Dita sambil mengelus rambut mas Hans yang tertidur di pangkuannya.


"Siapa disana?" terdengar suara bi Asih dari luar.


Aku berdiri dan belari menghambur kedalam pelukan bi Asih dan hal itu sontak membuatnya terkejut.


"Nyonya Pelangi" ujarnya sambil memitikkan air mata.


"Ia bi, ini aku. Sudah lama kami mencari kalian"


"Maafkan saya bu, saya tak bisa merawat nyonya dan tuan dengan baik. Saya hanya bisa membawa mereka kesini" ujarnya terus menangis.


"Jangan minta maaf bi, justru kami sangat berterimakasih bibi tak meninggalkan mereka dalam keadaan susah, tapi bibi dengan ikhlas merawat ibu dan mas Hans. Sekarang bibi juga harus ikut dengan kami, bibi akan tinggal dengan kami mulai sekarang"


"Ibu dengan siapa datang?"


"Dengan saya bi, ayo kemasi batang-barang kalian kita akan pulang" ujar kak Frans.


"Tuan Frans"


"Iya bibi, ayo aku akan menggendong ibu. Biar Pelangi yang menuntun Hans"


Bi Asih segera mengemasi beberapa lembar pakaian mereka kemudian pamit pada teman-temannya selama berada di rumah singgah dan tetangga mereka yang tinggal di rumah kardus.


Kak Frans menggendong bu Dita sedangkan aku menuntun mas Hans, ia seperti orang linglung. Hatiku sakit melihat keadaannya saat ini, ku peluk erat-erat tangannya namun dia hanya memandangku tanpa ekspresi apapun.


Tak pernah terbayangkan aku akan bertemu dengan ayah dari anak-anak ku dalam keadaan begini.

__ADS_1


Setibanya di mobil, aku melihat kak Nilam dan Claudy sudah berdiri di pintu mobil dengan deraian air mata. Aku meminta mereka untuk masuk ke mobil agar kami bisa segera pergi dari tempat ini.


Syam membantu bi Asih membawa tas berisi pakaian ibu, mas Hans dan bi Asih.


__ADS_2