
Mendengar ucapan putraku, hatiku kembali nyeri, bagaimana bisa seorang anak membenci ibunya hanya karena omongan dari orang-orang yang tak bertanggung jawab. Bukankah mereka bisa mencari tahu kebih dahulu, mereka sudah dewasa setidaknya mereka bisa berpikir untuk mencari kebenaran. Tidak mungkin seorang yang mampu berbaik hati kepada orang lain bisa tega kepada anaknya sendiri.
Akhirnya setelah berbicara dengan Hans aku memutuskan untuk menghubungi kak Frans, semoga saja ia bisa datang, jika bisa sekalian ia mengajak saudara-saudaranya.
''Halo kak, selamat malam maaf jika saya mengganggu. Apa kakak sibuk?'' Ucapku saat sambungan telpon terhubung.
''Malam juga dek, ada apa telpon kakak malam-malam?'' Sapa kak Frans dari ujung panggilan.
''Maaf saya mengganggu malam-malam kak, ibu sekarang ada di rumah sakit dan keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Apa kakak bisa datang ke sini? Kami ada di desa tempat om Andre bertugas dan ibu ada di rumah sakit ini''
''Kenapa bisa ibu masuk rumah sakit dek? Apa yang terjadi sama ibu?'' Ucap kak Frans dari ujung panggilan, dari nada suaranya terdengar kehawatiran akan keadaan sang ibu.
''Ibu....'' Kuceritakan semua yang terjadi kepada kak Frans, aku berharap ia bisa datang dan menemui ibunya. Aku juga meminta pada kak Hans jika bisa ia juga membawa kak Lia dan mas Hans bertemu dengan ibu mereka.
Kak Frans menghela nafas panjang, aku tahu ini juga pasti berat untuk dilakukan oleh kak Frans, mengingat bagaimana bencinya kak Lia dan mas Hans pada ibu mereka. Aku hanya berharap Tuhan mau membuka sedikit hati mereka untuk melihat bagaimana baiknya ibu mereka dan agar mereka bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi antara ibu mereka dan bu Rena.
''Baik dek, malam ini juga kakak akan cari penerbangan yang paling awal kesana, tapi kakak tidak janji untuk membawa kak Lia dan Hans kesitu. Kamu tahu kan betapa keras kepalanya mereka'' Ucap kak Frans.
''Ia kak, terimakasih sudah bersedia datang menjenguk ibu''
''Bagaiamana mungkin aku tak datang dek, dia itu ibuku. Tak mungkin aku tega melihatnya sakit dan tak datang menjenguknya. Aku akan kesana bersama Nilam dan Farhan''
''Baiklah kak''
Panggilanpun terputus, aku segera kembali keruangan ICU dimana bu Dita sedang terbaring lemah. Aku hanya bisa menatap bu Dita dari luar ruangan dikarenakan kami belum boleh menjenguk bu Dita sekarang.
Di depan ruangan ICU juga masih ada bu Desi, aku jadi tak enak sama bu Desi, beliau belum pulang padahal ini sudah pukul 10 malam. Hans, Rivaldi, Piter dan Claudy sudah ku minta kembali ke rumah agar mereka bisa istirahat. Bu Desipun juga sudah ku minta untuk kembali ke rumahnya dan istirahat, namun beliau kekeh ingin menemaniku menjaga bu Dita.
''Bu, bagaimana keadaan bu Dita'' Tanya bu Desi.
__ADS_1
''Beliau sedang kritis bu, kata perawat, tadi sempat meracau mengatakan jika ia ingin bertemu anak-anaknya'' Jawabku.
''Kalau begitu panggillah anak-anaknya agar datang kemari bu''
''Sudah bu'' Hanya kata itu yang mampu aku ucapkan pada bu Desi. Tak mungkin juga aku memberitahu bu Desi jika anak-anak bu Dita tak mau bertemu dengan ibu mereka.
Pukul 2 dini hari, aku mendapatkan panggilan dari kak Frans, segera kugeser ikon hijau pada layar ponsel untuk menerima panggilan dari kak Frans.
''Halo dek, maaf kakak mengganggu, kakak susah tiba di bandara. Tapi kakak cuma datang sendiri, Nilam dan Farhan tak bisa ikut karena Farhan sedang ujian semeester. Apa nama rumah sakit tempat ibu dirawat?'' Sapa kak Frans dari ujung panggilan.
''Oh, baiklah kak kami di rumah sakit Pelita Kasih. Tidak jauh dari Bandara, hanya 90 menit naik kendaraan. Kakak bisa naik taksi bandara atau naik bis juga bisa kak''
''Ah, iya dek. Nanti kakak kabari lagi kalau sudah tiba di rumah sakit''
Panggilan terputus, kulihat bu Desi dan bu Ratna, sudah tertidur lelap di kasur yang aku gelar di lantai tempat para penjaga pasien tidur. Ya, selain bu Desi ada bu Ratna juga, beliau datang karena tahu dari Claudy jika omanya sedang di rumah sakit, aku bersyukur karena masih ada orang-orang baik seperti mereka.
''Silahkan masuk kak, aku akan menunggu di luar'' Ucapku pada kak Frans yang sudah memakai pakaian khusus jika masuk ke ruangan ICU.
Kak Frans berjalan memasuki ruang ICU dengan wajah yang sangat sedih, beberapa tetes air mata lolos dari kedua matanya. Aku tak tahu seberapa dalam luka hati kak Frans saat ini, namun yang pasti, ia sangat terluka melihat keadaan ibunya. Kak Frans berada disana hampir 20 menit.
Saat keluar dari ruang ICU, kulihat wajahnya sangat muram, matanya sembab, sepertinya ia terus menangis saat berada di ruang ICU. Setelah melepaskan baju khusus yang ia pakai saat diruang ICU tadi, ia menemuiku diluar ruangan.
''Maafkan kakak dek, kakak tidak bisa membujuk kak Lia dan Hans untuk ikut datang kemari. Hati mereka masih tak bisa kakak jangkau dek. Entah terbuat dari apa hati mereka berdua'' Kak Hans menghela nafas berat saat mengatakannya.
''Tidak apa-apa kak, setidaknya kakak sudah berusaha''
Kami duduk dan berbincang-bincng tentang masalah kesehtan bu Dita. Aku menceritakan kembali bagaiamana kronologinya sehingga bu Dita bisa sakit seperti ini. Kak Frans juga bercerita bahwa, bu Rena dan Sandra sudah ditahan kembali di kantor polisi di kota. Namun ternyata mereka sekeluarga belum tahu kenapa bu Rena dan Sandra bisa tertangkap lagi. Aku juga belum memberitahu kak Frans apa yang sudah terjadi, aku rasa ini bukan waktu yang tepat.
Saat tengah berbincang-bincang, tiba-tiba ponsel kak Frans berbunyi. Ia mengerutkan dahi saat melihat siapa yang menghubunginya.
__ADS_1
''Ada apa kak? Apa ada masalah?'' Tanyaku.
''Tidak dek, Hans menelpon aku akan menerima panggilannya dulu'' Kak Frans kemudian berlalu untuk meneriama panggilan dari mas Hans. Tak lama kemudin ia kembali dengan wajah sumringah, entah kabar apa yang ia terima sehingga raut wajahnya berubah dengan cepat yang tadinya muram sekarang jadi berseri-seri.
''Kakak ada berita baik dek?'' Ucapnya saat sudah duduk dibangku di sampingku.
''Ada apa kak?'' Tanyaku.
''Kak Lia dan Hans akan datang menjenguk ibu. Mereka sudah ada di bandara, sekarang mereka sedang menunggu taksi online yang mereka pesan untuk mengantar mereka kesini''
Betapa bahagia hatiku mendengar ucapan kak Frans, ternyata Tuhan sudah membuka hati kedua orang yang sangat dirindukan oleh bu Dita. Sebaris senyum terbit di bibirku, selaras dengan air mata bahagia yang menetes di wajahku.
''Terimakasih Tuhan'' Gumamku.
Saat masuk kerungan tempat kami tidur tadi malam, tak kudapati lagi bu Desi dan bu Ratna disana. Kemana mereka? Apa mereka sudah pulang? Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku.
''Mama Hans, dari mana tadi kami hawatir mencari ibu?'' Tanya bu Ratna yang tiba-tiba muncul dari belakangku.
''Ini bu, tadi saya temani anaknya bu Dita melihat keadaan bu Dita. Ibu dan bu Desi dari mana? Maaf sudah merepotkan ibu berdua menemani saya disini'' Ucapaku tak enak hati pada mereka berdua.
''Tidak apa-apa bu, kami senang bisa menemani mama Hans disini. Oh iya, ini ada sarapan bu, tadi Rivaldi yang antar kemari, ibu sarapan dulu. Kami harus pulang dulu bu, hari ini kami ada kegiatan tanam padi dan kami mendapat bagian menyiapakan makanan. Maaf tak bisa menemani mama Hans, nanti sore kami kemari lagi'' Ucap bu Desi sambil memberikan rantang yang ada ditangannya.
Aku terenyuh mendapat perlakuan seperti ini dari mereka, betapa bersyukurnya aku dikelilingi oleh orang-orang baik seperti mereka.
''Terimakasih bu, kalau ibu sibuk tak usah repot-repot kemari, sudah ada anak bu Dita disini dan Hans juga Claudy akan datang juga. Ibu berdua istirahat saja dan terimakasih banyak sudah menemani saya semalaman disini''
''Sama-sama bu''
Bu Ratna dan bu Desi kemudian pamit pulang. Di desa sedang ada acara tanam padi gunung, karena sebagaian dari desa ini adalah gunung jadi para warga memanfaatkannya untuk menanam padi dan jagung.
__ADS_1