PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
ADIK


__ADS_3

Setelah kepulanganku dari rumah sakit, aku tinggal di kediaman mas Hans. Aku dijaga oleh seorang perawat, karena kondisi tubuhku belum pulih sepenuhnya.


.


Satu bulan telah berlalu, aku memustuskan untuk pulang kerumahku saja di utara pulau. Akan tetapi tak ada ijin dari mas Hans ataupun keluarganya, aku tahu alasan mereka dan aku mengerti, mereka tak ingin aku dan anakku tidak ada yang menjaga disana.


Aku tidak betah tinggal dirumah ini,meski aku diperlakukan layaknya seorang ratu, akan tetapi aku harus tinggal dengan Rosa karena dia akan menikah dengan kak Frans.


''Sayang kamu kenapa melamun, apa ada masalah?'' Lamunanku buyar seketika saat tangan kekar milik mas Hans melingkar ditubuh ini.


Aku dan mas Hans sudah seranjang lagi, karena memang kami sudah memutuskan untuk memulai dari awal lagi meski masih ada luka yang tertanam cukup dalam direlung hatiku. Aku juga masih sah sebagai istri mas Hans karena meskipun kami berpisah lama tak pernah ada perceraian diantara kami.


''Aku tidak apa-apa mas'' Kataku berbohong.


Aku kemudian bangun, mencoba berjalan ke kamar mandi rasanya badanku cukup lelah setelah melakukan ritual yang sudah lama tak kami lakukan. Kami memadu kasih melepaskan segala rasa rindu yang sudah membuncah didalam dada.


''Aku mau mandi dulu mas'' Kataku sambil berjalan perlahan ke arah kamar mandi.


''Mas'' Kataku melihat mas Hans yang membopong tubuhku masuk ke kamar mandi. Mas Hans juga belum berpakaian sama sepertiku.


Mas Hans membaringkan aku dalam bathup yang sudah di isi air hangat. Dia mulai lagi mencium setiap inci wajahku dan tangannya mulai menyentuh seluruh bagian tubuhku. Aku mengerti kalau mas Hans masih ingin ritual itu di ulang lagi. Kututup mataku mencoba menikmati setiap sentuhan lembut dari mas Hans.


.


Hari terus berjalan berganti dengan minggu dan bulan, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mertuaku, akan diadakan pesta besar-besaran dirumah ini. Aku membantu ibu membuat beberapa kue bolu meski ibu mertuaku orang kaya tapi tak pernah ia memandang rendah orang lain. Dia selalu membantu bi Asih jika sedang repot, seperti hari ini.


''Bu, apa kue buatanku enak?'' Tanyaku.


''Tentu sayang in sangat enak, bahkan lebih enak dari buatan mama, betulkan ma, bi?'' Kata ibu mertua.


Oma dan bi Asih mengangguk bersamaan.


Oma, ibu, aku dan bi Asih sudah cukup lama di dapur, kulihat ada ayah mertua beserta Indra datang dari arah taman samping rumah. Ditangan, ayah membawa beberapa tangkai mawar putih, aku sangat bahagia melihat keharmonisan rumah tangga mereka seperti tak ada cela.


''Selamat ulang tahun pernikahan sayang'' Ucap ayah dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi ibu.


''Terimakasih sayang'' Kata ibu membalas ciuman ayah.


Lumayan banyak kue yang kami buat. Gegas aku masuk kedalam kamar ingin rasanya aku mandi karena badanku terasa bau bahan kue.


Aku langsung masuk saja ke kamar dan terus menuju kamar mandi. Aku membuka seluruh pakaianku kemudian langsung masuk dan duduk di dalam bathup.

__ADS_1


Aku merasa seperti ada yang meniup-niup tengkuk leherku, juga bathup ini tiba-tiba terasa empuk, kubalikkan badan, hampir saja aku melompat keluar dari bathup karena kaget melihat mas Hans juga ada di dalam bathup dan aku sedang duduk di atas tububnya.


''M..ma..mass'' Kataku tergagap. Pantas saja terasa empuk karena mas Hans toh. Batinku.


Mas Hans langsung memutar tubuhku menghadapnya, senyum indah bak bulan sabit terbit di bibirnya. Senyum itu selalu mampu membuatku luluh dan terpesona.


''Kamu ingin mandi bareng mas?'' Mas Hans mengerling nakal kepadaku.


''Ma..ma..maaf..maaf mas aku tidak tahu kalau mas juga disini'' Tak kulihat siapapun saat masuk kemari itu sebabnya aku langsung saja membuka pakaian dan masuk kedalam bathup.


''Tidak apa-apa sayang mas malah suka kamu mau menemani mas mandi. Tadi mas sampai terpesona sampai tak bisa berkata-kata, saat kamu membuka pakaian dihadapan mas'' Sambil mencolek daguku dan membuat aku langsung malu, bagaimana tidak saat masuk ke kamar mandi aku langsung membuka baju, bahkan aku membukanya menghadap ke arah bathup.


''Sayang kita mandi bareng ya, mas tidak akan melakukan apa-apa, mas tahu kamu pasti lelah membantu ibu dan oma tadi'' Katanya sambil mulai membantuku menggosok punggung.


Setelah mandi, aku memutuskan untuk tidur sejenak entah kenapa perasaanku agak kurang sehat rasanya badanku berat sekali.


Bruk


Badanku ambruk seketika di depan pintu kamar, kudengar suara histeris beberapa orang dan tak lama seluruh dunia gelap gulita.


Kubuka mata perlahan, kudapati semua orang sudah ada di sekelilingku, bahkan akau bisa melihat ibuku. Apakah ini mimpi?


''Ada apa mas kenapa semua ada disini?'' tanyaku heran melihat ada oma, ibu, ayah, bi Asih, pak zul, Indra dan dokter Lia juga ada tapi tak lagi kudapati ibuku disana.


''Adikku sayang selamat ya kamu akan memberiku keponakan lagi'' Kata dokter Lia, kakak mas Hans.


''Aku.ha..hamil?'' Tanyaku, semua orang serentak mengnggukkan kepla.


Bulir-bulir bening kembali lolos dari kedua sudut mataku, kuusap perlahan perut yang masih rata.


Beribu-ribu ucapan terimaksih untukmu Tuhan engkau mempercayakan lagi satu malaikat kecil didalam rahimku.


''Terimakasih sayang'' mas Hans mengecup puncak kepalaku.


.


.


Berbulan-bulan telah berlalu sudah hampir mendekati hari persalinan, aku bersyukur kehamilanku kali ini tak seperti saat aku hamil Hans.


''Perkiraan dokter tanggal berapa anak kita lahir sayang?'' Tanya mas Hans sambil mengelus-elus perutku yang sudah sangat membuncit.

__ADS_1


''Ma, pa, adek bayi lagi apa ya didalam sana?'' Tanya putraku.


''Adek bayi lagi siap-siap mau ketemu abang Hans'' Kataku mengelus kepala putraku yang sudah semakin mirip ayahnya. Mereka berdua bagaikan pinang dibelah dua, jika saat masi bayi ada kemiripan denganku walau sedikit tapi sekarang semua yang ada padanya adalah milik mas Hans.


Kami bercanda ria sambil mengajak bayi yang ada dikandungan untuk bernyanyi bersama. Saat kami bernyanyi perutku juga terus bergerak sepertinya dia juga menyukainya.


.


''Mas, ada darah!'' Kataku berteriak dari kamar mandi, kurasakan nyeri pada perutku saat hendak buang air besar pagi ini.


Mas Hans menghampiriku, membopong tubuhku ke rumah sakit yang ada di samping rumah ini.


''Li, kamu bisa kesini ngak? Mama Hans pendarahan!'' Kata mas Hans pada dokter Lia melalui sambungan telpon.


Lima belas menit kami menunggu akhirnya dokter Lia datang, tapi sebelum itu aku sudah diperiksa sama dokter dan ternyata aku sudah akan melahirkan, sudah masuk pembukaan 4.


''Apa yang harus aku siapkan sayang?'' Tanya mas Hans .


''Tolong bawakan baju yang sudah aku siapkan didalam tas mas'' Gegas mas Hans meninggalkan aku dan dokter Lia, dia kembali kerumah mengambil perlengkapan bayi.


''Kalau belum terlalu sakit, jalan-jalan saja dulu dek biar pembukaannya cepat'' Kata kakak iparku (dokter Lia).


''Ia kak, saya mau jalan-jalan dulu'' Kataku sambil beringsut perlahan dari atas ranjang, dokter Lia membantuku bergerak agar pembukaannya bisa cepat.


''Terimaksih kak mau menemani saya''


Dokter Lia memandangku kemudian tersenyum.


''Jika saja dulu aku tahu kamu adik iparku, tak akan aku biarkan kamu hidup menderita. Justru Hans yang akan aku buat menderita seenaknya saja dia menyakiti kamu''


Aku terkekeh mendengar perkataan dokter Lia. Aku juga terharu begitu sayangnya dia padaku.


''Jika adikku menyakiti hatimu lagi, katakan pada kakak, aku yang akan memberinya pelajaran sampai dia tak bisa lupa''


Aku tersenyum menanggapi ucapan kakak iparku.


''Aku tak akan menyakitinya lagi kak, jika sampai aku berbuat demikian kakak bisa mencoret namaku dari kartu keluarga''


Aku terkekeh mendengar jawabannya semetara kak Lia menatap tajam ke arahnya.


Mas Hans muncul dari pintu membawa tas berisi pakaian ganti untukku dan pakaian untuk bayi kami nanati. Mas Hans membantuku melakukan beberapa gerekan untuk memperlancar persalinan, dia mengikuti arahan kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2