PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
KEINGINAN BU DITA


__ADS_3

Aku tahu betapa sayangnya bu Desi pada putraku Hans, dulu saat aku dan Hans tinggal di kampung ini bu Desi dan bu Ratna adalah orang yang paling dekat denganku. Jika aku dan Hans mengalami kesulitan maka mereka yang akan menjadi orang pertama yang membantuku.


Setelah puas berkeliling selama seharian di pabrik, kami memutuskan kembali ke rumah untuk istirahat.


Bu Desi sekeluarga aku undang untuk datang makan malam di rumah, sekalian ia bisa melepas rindu dengan putraku Hans.


Malampun tiba, makanan untuk makan malam sudah tertata rapi di atas meja makan siap untuk dinikmati. Bu Desi dan keluarganya bahkan sudah datang lebih awal, katanya ia ingin membantuku menyiapkan makan malam. Sementara Rivaldi dan Piter sedang berada di kamar, mereka sedang mengerjakan tugas yang akan mereka masukan saat kembali ke kampus nanti. Aku sungguh bahagia putraku bisa berteman dengan mereka, aku yakin keberadaan mereka bisa membuat putraku menjadi pribadi yang lebih baik.


''Anak-anak ayo kita makan, Claudy panggil oma Dita ya''


''Baik ma''


Claudy berlari ke arah kamar bu Dita, namun saat ia tiba di sana ia berteriak histeris dan membuat kami semua terkejut dan berlari ke kamar bu Dita. Aku terkejut mendapati bu Dita yang sudah terbaring lemah di atas ranjang dengan tubuh yang dingin.


Segera aku meminta bantuan pak Soni dan pak Beni untuk membawa bu Dita kedalam mobil. Bu Desi dan istri pak Beni kuminta tinggal di rumah untuk menjaga anak-anak dirumah, sementara aku dan Hans membawa bu Dita ke rumah sakit terdekat. Aku sangat khawatir dengan keadaan bu Dita, entah apa yang membuatnya seperti ini, namun biasanya ia akan seperti ini jika ada kabar yang bisa membuatnya syok.


''Hans apa yang terjadi dengan omamu nak? Kenapa dia bisa seperti ini?'' Aku menangis melihat keadaan bu Dita, aku tahu pasti ada yang menyebabkan dia seperti ini.


Aku merogoh saku celana dan memberikan ponselku kepada putraku, aku menyuruh Hans untuk menghubungi Claudy agar mencari tahu apa yang membuat omanya menjadi seperti ini.


''Halo dek, tolong lihat hp oma atau cari tahu apa yang membuat oma seperti ini'' Ucap Hans di telpon.


''Ok kak'' Jawab Claudy dari ujung panggilan.

__ADS_1


Hanya butuh waktu setengah jam untuk kami tiba di rumah sakit terdekat, segera Hans turun dan memanggil perawat. Tak lama ada tiga perawat datang sambik mendorong brankar, pak Beni membantu Hans membopong tubuh bu Dita untuk dibaringkan di atas brankar. Segera aku ikut jalan di samping brankar yang membawa bu Dita namun saat bu Dita sudah di masukkan kedalam IGD kami tak di ijinkan untuk ikut masuk kedalam sana.


''Maaf bu, kami akan menangani pasien harap ibu tunggu di luar dan tolong urus administrasinya'' Kata seorang perawat sebelum menutup pintu IGD.


''Tunggulah disini nak, ibu harus mengurus administrasi oma dulu. Kabari ibu jika ada kabar dari dokter dan ibu belum kembali''


Segera kutinggalkan Hans dan menuju ke bagian administrasi di rumah sakit ini. Kuberikan kartu identitas bu Dita dan menyelesaikan semua yang diperlukan untuk perawatan bu Dita.


Setelah selesai segera aku kembali keruang IGD, kulihat putraku disana duduk termenung di salah satu kursi depan IGD.


''Nak, kamu pulanglah dulu dengan pak Beni, bawakan baju untuk bu Dita dan ibu. Temani bu Desi dan teman-temanmu makan malam lebih dahulu jika kamu ingin kembali kemari. Sekalian bantu adikmu mencari tahu kenapa oma Dita bisa syok lagi'' Ucapku pada putraku Hans.


Aku jadi merasa tak enak dengan bu Desi, karena undangan makan malam yang tak sempurna. Setelah kepergian Hans aku duduk sambil menunggu seseorang keluar dari dalam sana dan membawa kabar gembira untukku.


''Keluarga bu Dita'' Kata dokter itu.


''Saya dokter, bagaimana keadaan ibu saya?'' Ucapku hawatir.


Dokter itu terlihat menghela nafas panjang kemudian mengajakku untuk berbicara diruangannya. Ku ikuti langkah kakinya masuk kedalam ruangan yang bernuansa putih biru, aku dipersilahkan duduk di kursi, depan meja sang dokter.


''Begini bu, maaf sebelumnya, saya ingin mengatakan jika bu Dita mengalami serangan jantung dan keadaannya sedang tidak sgabil saat ini. Jika kita sebagai manusia yang berpikir, jujur saya akan mengatakan jika bu Dita tak memiliki harapan hidup lagi, meski ada hanya tersisa 3 sampai 4 persen saja. Tapi kita tidak tahu jika Tuhan berkehendak lain, saat ini hanya doa yang bisa kita berikan pada beliau''


Ucapan dokter itu, membuat seluruh persendianku terasa lemas bahkan rasanya aku tak mampu berdiri lagi, untung saja saat ini aku sedang duduk sehingga aku tak jatuh ke lantai.

__ADS_1


''Anda tidak apa-apa nyonya? Anda terlihat sangat pucat'' Ucap dokter.


''Saya tidak apa-apa dokter. Boleh saya menemui pasien?''


''Untuk sekarang belum bisa bu, karena pasien sedang dalam masa pemantauan dan berada di ruang ICU, doakan saja ibu anda akan baik-baik saja''


Aku keluar dari ruangan dokter dengan perasaan yang hancur, rasanya aku tak siap jika harus kehilangan bu Dita orang yang selama ini selalu baik kepadaku. Aku menganggap bu Dita seperti ibuku sendiri, aku tak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi.


''Permisi bu, apa ibu keluarga bu Dita? Beliau sepertinya ingin bertemu dengan anak-anaknya, dari tadi beliau terus meracau mengatakan jika ia ingin bertemu dengan anak-anaknya''


Mendengar perkataan perawat itu, aku jadi bingung tak tahu apa yang harus aku lakukan, jika bu Dita ingin bertemu dengan anak-anaknya. Dalam kebingungan, fikiranku hanya tertuju pada satu orang, kak Frans, ya, aku bisa menghubungi kak Frans, siapa tahu ia bisa datang bersama saudara-saudaranya yang lain.


Saat hendak menghubungi kak Frans, kulihat Claudy, Hans, bu Desi, Rivaldi dan Piter datang menghampiriku. Claudy terlihat sangat sedih, aku tahu putriku itu sangat dekat dengan omanya.


''Bagaimana keadaan oma bu? Apa oma baik-baik saja? huhuhuhu....''


Putriku sudah berderai air mata sejak saat baru memasuki area rumah sakit.


''Oma sedang baik-baik saja sayang, doakan oma cepat pulih'' Aku terpaksa berbohong agar anakku tak terlalu hawatir.


Aku mengajak Hans menjauh dari orang-orang dengan alasan akan ke apotik bersama Hans. Aku akan memberitahu Hans akan keinginan bu Dita yang ingin bertemu anak-anaknya. Hans menghembuskan nafas pelan, mungkin ia juga bingung apa yang harus dilakukan.


''Kalau om Frans mungkin mau datang bu, akan tetapi papa dan tante Lia mungkin tak akan mau datang ma. Bagaimanapun mereka masih sangat membenci oma bu''

__ADS_1


Kami masih kebingungan bagaimana caranya membawa anak-anak bu Dita agar mau menemuinya.


__ADS_2