PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
BERMAIN CERDAS


__ADS_3

Cukup lama kami menunggu di bandara sampai akhirnya jemputan kami datang. Pak Budi, suami bu Ratna, tetangga yang aku percayakan untuk mengurus rumah dan pabrikku disini, yang menjemput kami kebandara. Ada rasa deg-degan saat kami masih berada di bandara karena orang-orang bayaran bu Rena masih terus mengawasi kami.


Kami berkomunikasi hanya menggunakan pesan, berbicara hanya seperlunya, tapi sesekali kami juga bercerita tentang hal-hal yang lucu agar suasana tak terlalu tegang juga untuk mengelabui anak buah bu Rena. Kami berpura-pura tak menyadari keberadaan mereka meski kami tahu mereka selalu mengawasi kami.


Saat di perjalanan menuju rumah, tiba-tiba mobil kami dicegat saat sudah memasuki area lereng pegunungan. Para pengawal bu Rena turun dari mobil, mereka berjalan mendekat ke arah kami sambil membawa senjata api. Badanku sudah bergetar hebat, keringat dingin mengucur dari keningku. Aku sangat takut saat ini, aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada anak-anakku.


''Tenang saja nak, ini sudah sesuai rencana kita. Sebentar lagi akan ada polisi hutan yang lewat''


Bu Dita, menggenggam tanganku sambil berbisik. Tak lama suara serine mobil polisi terdengar, para orang bayaran bu Rena segera masuk kedalam mobil dan berlalu pergi.


Syukurlah setidaknya untuk sekarang kami sudah selamat dari para penjahat itu.


[Tenang saja nak, ada polisi yang ikut dari belakang kita mereka menaiki bis yang ada di belakang kita. Semua yang ada di bis itu adalah polisi, mereka yang akan menjaga kita selama disini. Mereka menyamar sebagai orang yang akan berwisata ke pabrikmu. Mereka juga akan menginap di rumah kita agar bisa menjaga kita setiap saat.]


[Jangan panik, bersikap biasa saja dan jangan katakan apapun, kita harus berpura-pura tidur sepanjang perjalanan. Mungkin mereka gagal hari ini namun yang aku tahu pasti jika mereka akan terus mengawasi kita jadi jangan lengah.] Pesan beruntun dari bu Dita.


Sore hari sekitar pukul 4 kami tiba dirumah. Rumah yang dulu aku dan Hans tempati di masa kecilnya, banyak kenangan yang terukir di tempat ini. Teringat perjuanganku menghidupi Hans seorang diri tanpa keluarga disini.


Karena hari sudah sore, kamipun sudah lelah, jadi diputuskan bahwa kami akan istirahat saja hari ini besok baru kami akan berjalan-jalan ke pabrik. Setelah istirahat beberapa jam kami semua menikmati makan malam, hari ini kami makan tidak memakai meja makan, namun kami duduk di lantai beralaskan tikar. Setelah makan malam kami semua memutuskan untuk beristirahat, rumah ini lumayan aman disetiap sudut rumah sudah dilengkapi dengan kamera cctv juga ada 3 orang petugas keamanan.


Saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba ponselku berdering. Segera kuraih ponsel dan kuterima panggilan yang masuk, ternyata Pak Soni, salah satu petugas keamanan dirumah ini. Ada apa pak Soni menghubungiku malam-malam begini pasti ada yang penting.

__ADS_1


''Selamat malam bu, maaf saya mengganggu malam-malam'' Sapanya dari ujung telpon.


''Malam juga pak, tidak apa-apa saya juga belum tidur. Pasti ada hal penting sehingga bapak menghubungi saya malam-malam''


''Betul bu, saya mau melaporkan jika ada mobil yang mencurigakan di dekat rumah ibu. Posisi mobilnya ada di samping rumah, ibu bisa melihatnya dari atas kamar ibu''


''Baiklah pak terimakasih informasinya''


Segera kututup panggilan, namun aku tak berani mendekat ke arah jendela yang aku takutkan mereka bisa menembakku dari bawah. Aku memutuskan untuk mengirim pesan pada bu Dita dan petugas keamanan yang tadi menghubungiku.


[Pak, bapak dan kawan-kawan bapak berhati-hati pada mereka, di mobil itu banyak orang-orang jahat pak. Namun bapak jangan terlalu khawatir banyak petugas polisi juga yang sedang berjaga] Pesanku pada pak Soni.


[Selamat malam bu, ada mobil yang sedang mengawasi rumah kita, dia berada di samping rumah yang bisa kita lihat dari kamarku. Bagaiman bu, apa yang harus aku lakukan?''] Pesanku pada bu Dita.


Aku merasa agak tenang membaca balasan dari bu Dita meski masih ada ke hawatiran di dalam diriku. Hawatir terjadi hal buruk kepada anakku, kubangunkan kedua anakku perlahan. Aku tak ingin membuat mereka khawatir, setelah mereka bangun ku ajak mereka untuk berpindah ke salah satu ruangan yang termasuk aman jika ada yang menyerang rumah. Tak ada siapapun orang luar yang tahu tempat ini selain keluarga kami.


Segera ku kirimkan juga pesan pada pak Beni dan keluarganya agar masuk ke ruang persembunyian kami. Pak Beni juga tahu karena bagi kami pak Beni sekeluarga juga keluarga kami. Saat hendak keluar dari kamar menuju keruangan persembunyian terdengar suara tembakan.


Dor..


Ternyata tembakannya mengenai kaca jendela kamarku, segera kutarik kedua anakku agar berjalan lebih cepat, aku hawatir para orang bayaran itu sudah ada di dalam rumah.

__ADS_1


''Ayo nak,cepat kalian harus masuk keruangan itu dan jangan keluar dari dalam sana apapun yang terjadi''


''Ibu mau kemana?'' Tanya Hans.


''Ibu akan keruangan kerja ibu. Ada sesuatau yang harus ibu ambil, ingat jangan keluar apapun yang terjadi jaga Oma Dita''


Kedua anakku mengangguk, segera aku menutup kembali tempat persembunyian mereka, aku berlari menuju kesebuah ruangan yang ada di rumah ini yang biasa aku gunkan sebagai ruang kerja saat aku berada disini.


Kubuka laci meja dan mengambil sesuatu yang sangat aku butuhkan saat ini. Aku juga mengambil sebuah baju daster lusuh, memakai rambut palsu yang acak-acakan dan memoles wajahku dengan bedak yang lumayan tebal, layaknya orang dengan gangguan jiwa, juga meminum obat yang bisa membuat suaraku berubah, jaga-jaga jika ada yang mengajakku berbicara. Ku masukkan barang yang aku ambil dari laci tadi dan kusimpan dalam kantong kecil yang kuselipkan di dalam dasterku.


'Semoga ini bisa membantuku menjaga kedua anakku dan semua orang. Tolong jaga anak-anakku dan semua orang Tuhan dan bantulah aku dalam misiku kali ini'Batinku. Jika bu Rena dan Sandra bertindak licik maka aku harus bermain cerdas menghadapi mereka.


Karena jam baru menunjukkan pukul 8 malam, segera aku menuju ke arah dapur dan masuk kedalam sebuah laci di bagian bawah kompor. Disana ada sebuah lorong yang terhubung dengan salah satu bangunan kumuh seperti pos satpam yang sudah lama tak digunakan di dekat jalan depan rumah dan otomatis akan membawa aku keluar dari rumah ini tanpa diketahui siapapun.


Dengan dada yang bergemuruh, antara takut dan berani aku menyusuri lorong hingga sampai di di luar rumah. Dari sini bisa kulihat jika sedang terjadi aksi saling tembak menembak antara polisi dan orang bayaran bu Rena di halaman rumahku.


Kulihat ke arah mobil, ternyata disana sudah tak ada siapapun yang menjaganya mobil itu. Dengan santai dan bergaya seperti layaknya orang dengan gangguan jiwa aku berjalan menuju ke arah mobil tersebut, setibanya di mobil aku masuk kedalam mobil mereka, mencoba menghapus semua data yang ada di dalam komputer dan merusak sistem komunikasi pada komputer yang di atas mobil tersebut. Setelah kurasa delesai eegera aku turun dari sana dan menumpahkan lem pada setiap sudut di mobil itu. Sehingga jika mereka kembali nanti dan duduk disana mereka semua akan lengket dan tak bisa kemana-mana. Hal itu akan memufahkan para petugas pllisi untuk menangkap mereka.


'Aku rasa mereka cukup bodoh membiarkan mobil dalam keadaan kosong dan tak di kunci hihihi..' Batinku.


Meski aku bukan ahli di bidang komputer namun sedikit banyak aku tahu cara merusak data dan sistem komunikasi hahahah..

__ADS_1


Kumasukkan cairan yang aku ambil dalam laci tadi kedalam beberapa botol air mineral yang ada di mobil para orang bayaran bu Rena. Aku yakin mereka akan minum saat kembali nanti.


Obat ini bisa membuat orang tak bisa bergerak setelah meminumnya namun hanya bertahan selama 7 jam saja. Aku berharap ini bisa membantu tugas polisi.


__ADS_2