
Sudah satu bulan kak Frans dan keluarga kecilnya tinggal bersama kami dan hari-hari kami juga di penuhi dengan kebahagiaan. Ada tawa ceria Claudy terdengar di setiap penjuru ruangan di rumah ini jika ia sedang bermain bersama baby Queen.
Aku bersyukur dengan kedatangan kak Frans di rumah ini mampu membawa suasana baru terutama untuk Claudy, aku bisa melihatnya tertawa lepas.
Hari ini kami berencana akan mengunjungi makam kak Robin, sejak kak Nisa bermimpi tentang Robin, kami belum sempat untuk datang ke makamnya. Banyak hal yang terjadi semenjak kedatangan kak Frans dan keluarga kecilnya.
''Kak Frans, hari ini kami rencana akan ke makam Robin, apa kakak ingin ikut?'' Tanya kak Nisa saat menemui kak Frans di ruang tamu.
''Sepertinya tidak dek, maaf ya karena kaki kakak masih belum bisa di pakai berjalan'' jawab kak Frans. Kak Frans sempat mengalami kecelakaan terjatuh dari tangga sehingga kaki sebelah kanannya mengalami luka yg cukup serius karena terkena pecahan kaca meja dimana kak Frans mendarat.
''Baiklah kak, nanti ada bi Desty yang akan menjaga Queen saat kami pergi. Jika kakak butuh sesuatu katakan saja pada bi Desty''
''Ia dek, kalian hati-hati di jalan''
''Aku tinggal dulu ya mas, mas hati-hati di rumah. Aku akan cepat kembali'' ujar kak Nilam.
''Ia kalian juga hati-hati''
Kami pamit pada kak Frans dan bi Desty, perlahan mobil melaju meninggalkan halaman rumah.
''Pak, tolong lihat-lihat kak Frans ke dalam rumah ya, siapa tahu dia nanti butuh sesuatu. Bapak juga sekalian makan nanti di dalam kita sudah masak tadi. Kami permisi dulu pak'' ujar ku pada pak Yos.
''Baik bu, hati-hati di jalan''
Mobil melaju perlahan menyusuri padatnya jalan utama menuju ke pinggir kota dimana kak Robin di makamkan. Di sepanjang perjalanan aku terus mengingat kenangan-kenangan yang di tinggalkan kak Robin untuk ku.
Bahkan surat yang aku temukan di kamar kak Robin saat ia meninggal dunia masih tersimpan rapi di dalam lemari baju bersama dengan surat-surat penting lainnya.
__ADS_1
''Mama kenapa?'' Tanya Claudy.
''Ngak apa-apa sayang''
''Ngak apa-apa gimana, dari tadi kita ajak ngomong mama cuma diam aja sambil melamun. Mama mikirin apa?''
''Ngak apa-apa nak''
''Pasti mama lagi mikirin cinta pertamanya sayang'' Ujar kak Nisa.
''Oh benar tuh aunty hehehehe'' ujar Claudy kemudian keduanya terkekeh.
''Ish kalian apa sih''
''Udah ngak usah malu-malu mah, aku juga sayang sama papa Robin''
Kami semua di mobil tertawa di buatnya, begitulah kak Nisa jika ia melihat seseorang sedang melamun atau bersedih, ia akan membuat suasana menjadi riang dengan tingkah-tingkahnya yang kadang bisa di bilang konyol.
Sepanjang jalan kami terus bercerita tentang masa-masa kecil kami saat masih berada di desa.
Masa- masa dimana aku juga harus berjuang hidup setelah kepergian orang tua ku.
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh akhirnya kami tiba di gerbang pemakaman, sebelum masuk kami membeli beberapa tangkai mawar kuning dan putih. Kedua mawar itu sangat di sukai oleh kak Robin, di kamarnya bahkan ia memelihara bunga-bunga itu.
''Mah, aku beli mawar putih ini untuk papa Robin ya?''
''Emang kamu punya uang?''
__ADS_1
''Yaaa...., kan ada mama hehehe''
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Claudy, jika sesuatu yang berhubungan dengan kak Robin ia akan selalu beremangat.
Aku membeli delapan tanngkai mawar kuning dan Claudy memilih 5 tangkai mawar putih. Kak Nisa, kak Nilam, tante Dewi dan Om Jordi masing-masing membeli 2 tangkai mawar putih.
Setelah memakirkan mobil di parkiran pemakaman, kami berjalan beriringan menuju ke makam kak Robin. Dari pintu gerbang makam, kami harus berjakan sekitar 100 meter untuk tiba di makam kak Robin.
''Halo nak, bagaimana kabar kamu? Hari ini kami datang ramai-ramai ingin menjengukmu. Lihat ini, mama bawa siapa? Pasti kamu tak tahu, kalau begitu biar mama kenalkan. Nak, ini kakakmu namanya Nilam, sudah lama mama mencarinya ternyata ia tak jauh dari kita hanya saja Tuhan memang belum mempertemukan kami. Tapi sekarang, mama bersyukur Tuhan sudah menjawab doa-doa mama sehingga saat ini mama bisa membawanya bertemu denganmu meski kalian sudah tak bisa bertatap muka lagi'' ujar tante Dewi dengan wajah sendu juga deraian air mata.
''Halo dek, kakak tidak tahu kakak harus ngomong apa, yang pasti aku menyesal tak sempat bertemu denganmu hingga kau sudah pergi meninggalkan kami semua. Kakak ingin menghabiskan waktu denganmu tapi kakak tak bisa, terimakasih sudah menjaga ayah, ibu, Nisa dan Roni'' ujar kak Nilam dengan wajah berderai air mata.
Aku membiarkan keluarga kak Robin terlebih dahulu untuk melepas rindu dengan kak Robin. Sementara Claudy juga sudah kembali ke mobil katanya ia mengantuk, mungkin karena ia tak cukup tidur tadi malam.
''Kamu tidak menemui cintamu'' ujar kak Nisa saat berjalan melewati ku yang berdiri memandangi makam kak Robin.
''Kami duluan ke mobil nak, bicaralah pada Robin jika ada yang ingin kamu sampaikan. Om tahu hanya dia pendengar setia semua keluh-kesah dan kisahmu''
Selepas kepergian mereka aku bergegas menuju ke makan kak Robin, aku meletakkan bunga yang aku beli tadi di atas makam kak Robin. Ku raih fotonya kemudian ku lap menggunakan tisu yang aku bawa.
''Kakak apa kabar disana? Aku harap kakak baik-baik saja, kakak harus baik disana. Kakak tahu, kita punya anggota keluarga baru lagi 3 orang, ada kak Frans, ada kak Nilam dan baby Queen. Andai saja kakak masih disini kakak pasti sangat bahagia bisa berjumpa dengan mereka. Maafkan aku kak, aku baru sempat mengunjungi kakak lagi, banyak hal yang terjadi setelah kakak pergi. Aku tak tahu mengapa begitu banyak orang yang membenci aku dan Claudy, begitu banyak orang yang ingin kami pergi dari dunia ini. Seandainya kakak masih ada tentu tak akan ada yang berani berbuat jahat pada kami, aku begitu rapuh kak, aku tak bisa kuat sekuat yang kakak minta maafkan aku. Aku belikan kakak bunga mawar, meski kakak tak bisa lagi melihat ataupun menyentuh dan menghirup aromanya, aku akan tetap memberikannya. Banyak hal yang ingin aku sampaikan kak, namun aku tak bisa berlam-lama kasian baby Queen jika terlalu lama di tinggal ibunya. Lain waktu aku kan kesini lagi, aku akan bercerita banyak dengan kakak. Aku pulang dulu ya kak, terimakasih sudah mau mengisi sebagian waktu dalam hidupku dengan kenangan-kenangan yang manis''
Aku memeluk foto kak Robin sebelum meletakkannya kembali ke atas makam.
'Jangan nangis Anggi, nanti kamu tambah jelek' entah mengapa tiba-tiba saja aku merasa ada suara kak Robin.
Mungkin karena aku yang masih belum siap akan kepergian kak Robin membuat ku berhalusinasi jika aku mendengar suaranya. Setelah bisa mengendalikan perasaan, aku menyusul ke mobil karena kami harus segera pulang sebelum baby Queen menangis mencari ibunya.
__ADS_1