
Setibanya di rumah aku di bantu kak Nisa membereskan barang belanjaan kami, bahan makanan yang masih segar seperti ikan, ayam, daging dan sayur-mayur aku masukkan kedalam lemari es dan sebagian aku sisihkan untuk kami masak. Claudy membantu menyusun cemilan yang kami beli tadi ke dalam etalase kecil yang memang dibuat khusus untuk menyimpan cemilan.
Setelah semuanya selesai aku meminta Claudy dan kak Nisa untuk mandi, sementara aku sendiri menyiapakan bahan makanan untuk aku olah menjadi menu makan malam kami nanti.
Aku juga ikut membersihkan diri setelah semua bahan masakan siap, selepas mandi dan berpakaian aku lekas menuju ke dapur untuk memasak, meskipun masih sore namun karena kebiasaan aku lebih memilih menyiapkan makan malam saat masih sore ketimbang harus buru-buru saat malam.
''Loh, kakak ngapain di dapur, sana istirahat saja sama Claudy di kamar. Biar aku saja yang masak, kakak istirahat saja pasti kakak juga lelah'' ucap ku saat melihat kak Nisa sudah berada di dapur dan siap untuk memasak.
''Sudah tak apa-apa dek, kakak tidak lelah, lebih baik kamu yang istirahat. Yang kerja kan kamu bukan kakak hehehe. Pokoknya hari ini kakak yang masak, kamu istirahat sana'' kak Nisa memutar badanku dan mendorongku keluar dari area dapur.
''Tapi..''
''Udah sana, awas lo masuk lagi kedapur, aku hukum nanti hehehe''
Terpaksa aku menuruti permintaan kak Nisa, karena jika ia sudah bicara maka aku tak bisa membantah lagi.
''Mama, mama ngapain disini? Bukannya tadi mau masak?'' ucap Claudy yang keluar dari kamarnya.
''Iya tadinya mama mau masak, pas habis mandi eh, ternyata aunty Nisa sudah ada di dapur katanya ia mau masak makan malam hari ini. Bukannya tadi kamu tidur nak?''
''Tidak bu, aku tidak mengantuk, tadi aku cuma baca-baca buku saja di kamar. Aku lihat aunty Nisa ya mah, siapa tahu ada yang bisa Audy bantu''
Aku menganggukkan kepala kemudian Claudy berlalu ke arah dapur namun tak lama ia kembali.
''Koq balik nak? Katanya mau bantuin aunty Nisa?''
''Ngak di ijinin mah, katanya mau masak sendiri dan tak mau di ganggu hehehehe'' ucap Claudy.
''Ya udah sini duduk temani mama, kita ngak usah ganggu aunty Nisa, biar aja ia berkreasi sesukanya''
Kami berdua duduk di ruang keluarga sembari menunggu kak Nisa yang sedang berkreasi dengan menu makan malam kami nanti.
''Mah, diantara kakek dan nenek mama mirip dengan siapa?'' Tanya Claudy tiba-tiba.
''Hem.. sepertinya mirip keduanya nak, wajah mama mirip kakek tapi mata dan bibir mama mirip nenek. Emang kenapa sayang?''
''Ngak ada apa-apa mah, apa mama punya foto kakek dan nenek?''
''Ada nak, coba ambil dompet mama yang di kamar, kayaknya mama simpan di dompet itu foto kakek dan nenek''
''Iya mah, dompetnya mama simpan dimana?''
''Ada di atas meja rias nak samping tempat sisir''
Claudy berlalu menuju ke arah kamar, 5 menit berselang barulah ia kembali dengan sebuah dompet usang berwarna coklat.
''Apa ini dompetnya mah?''
__ADS_1
''Ia nak, coba bawa sini biar mama liat''
Aku meraih dompet dari tangan Claudy dengan mata yang berkaca-kaca, dompet milik mendiang ibuku yang sudah sangat usang namun tak pernah ku buang karena memiliki begitu banyak kenangan. Dengan dompet inilah ibuku menyimpan dan mengelolah uang hasil kerja keras ayahku semasa hidup. Aku tak tahu jika ayahku adalah orang kaya, karena kami hidup sangat sederhana tak seperti orang kaya yang biasa hidup bermewah-mewah.
Aku tak kecewa karena hal itu, justru aku bersyukur dan berterimakasih karena jika aku tak di ajarkan untuk hidup sederhana mungkin aku tak akan bisa melalui setiap cobaan yang aku alami selama ini.
''Mah''
Aku tersentak dari lamunanku ketika Claudy menyentuh bahuku.
''Mama, kenapa?''
''Tidak apa-apa nak''
Aku memeriksa setiap kantong kecil dalam dompet lusuh itu dan setelah kutemukan yang aku cari mataku kembali terasa mengembun.
''Mah, ceritakan tentang kakek dan nenek dong, Audy ingin mengenal kakek dan nenek lebih dalam meski Audy tak bisa bertemu mereka lagi''
Aku menceritakan setiap hal yang aku ingat tentang kedua orang tuaku, kesederhaan mereka kasih sayang dan kebaikan mereka kepada setiap orang. Dimataku mereka adalah pasangan yang serasi saling melengkapi dan saling percaya. Meski kadang mereka ribut-ribut kecil, namun tak pernah bertahan sehari, biasanya hanya beberapa jam saja mereka berbaikan kembali.
Cukup lama kami berdua bercerita, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Kak Nisa juga sudah menyelesaikan masakannya dari satu jam yang lalu.
''Udah malam, ayo kita makan dulu. Cobain menu makan malam ala chef Nisa hehehe'' Ucap kak Nisa sembari berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke meja makan. Aku dan Claudy mengikuti dari belakang, dapat kulihat meja makan sudah penuh dengan aneka sajian.
Sesampainya disana sudah ada tersedia berbagai macam masakan di atas meja, dari bau dan tampilannya saja sudah terlihat sangat menggugah selera.
''Banyak banget masakannya Nis''
Tingnong
Tingnong
Tingnong
''Sebentar ya aku buka pintu dulu'' ucap kak Nisa kemudian berlalu ke arah pintu utama untuk membuka pintu.
''Siapa yang datang ya mah?''
''Ngak tahu nak, paling om Roni, kan ngak ada yang tahu rumah kita selain kak Nisa dan kak Roni''
''Iya juga ya ma''
''Kita tunggu aunty Nisa dulu ya baru kita makan sekalian ajak om Roni untuk makan bareng''
''Iya mah''
Dua menit berlalu kak Nisa kembali ke meja makan namun dia sendiri saja, apa yang tadi bukan kak Roni?
__ADS_1
''Loh kak, tamunya ngak di ajak masuk?''
''Udah tuh, ada di ruang tamu. Katanya nyariin kamu, coba temuin gih''
''Heh??? Perasaan ngak ada yang tahu aku tinggal disini, kenapa sekarang ada tamu yang mencariku?''
''Udah sana temuin''
''Tapi gimana kalau orang jahat?''
''Tenang saja ada Roni disana, ayo Audy kita juga kesana?''
''Iya aunty, ayo mah''
''Tapi mama takut nak, gimana kalau orang jahat terus apa-apain kamu nak. Mama khawatir sama kamu''
''Ngak apa-apa koq mah, kan ada aunty Nisa sama paman Roni''
''Udah ayo''
Kak Nisa menarik tanganku dan menuntunku ke ruang tamu, sesampainya disana aku tak melihat siapapun.
''Loh kak, koq ngak ada siapa-siapa?''
''Iya ya, kemana ya mereka? Aku liat di pintu sebentar ya?''
Kak Nisa berjalan ke pintu rumah dan tak lama tiba-tiba lampu padam. Aku panik karena keadaan sangat gelap aku tak bisa melihat apapun. Aku mencoba memanggil Claudy, namun tak ada jawaban, ku coba memanggil kak Nisa juga tak ada jawaban. Aku sudah sangat panik, pikiran-pikiran buruk sudah memenuhi kepalaku, jangan sampai terjadi hal buruk pada kak Nisa dan Claudy.
Terdengar suara berisik dari arah dapur dan tak lama terdengar suara derap langkah beberapa orang dari arah dapur. Aku semakin ketakutan badanku bergetar dengan air mata yang sudah mulai menetes.
''Happy birthday mama, happy birthday mama, happy birthday, happy birthday happy birthday mama'' Claudy berjalan dari arah dapur sambil membawa sebuah kue tart yang dihiasi lilin-lilin kecil sambil bernyanyi.
Setelah tiba dihadapanku, lampu kembali menyala, dan ternyata ada banyak orang disini.
Ada om Bram dan keluarganya, kak Roni juga kedua orangtuanya dan tak lama kak Nisa juga muncul dari arah dapur sambil membawa tampah yang berisi nasi kuning dan berbagai macam lauk-pauk.
Sungguh aku tak mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku, aku sangat bahagia semua orang ikut serta berbahagia di hari bahagiaku.
''Selamat ulang tahun mama, panjang umur, sehat selalu, diberkati dalam pekerjaan, tetap jadi ibu yang baik dan jadi wanita yang kuat, Love you mama''
Air mataku menetes semakin deras mendengar ucapan putriku.
''Jangan nangis mah, sekarang hari bahagia, mama ngak boleh nangis''
''Terimakasih anak mama, terimakasih semuanya''
''Selamat ulang tahu dek, tetap jadi wanita yang kuat'' ucap ka Nisa sambil memelukku.
__ADS_1
''Sekarang tiup lilinnya mah''
Fiuh..fiuh....fiuhh...