
Aku dibantu istri pak Beni, memapah Claudy masuk ke dalam rumah. Kami membaringkan Claudy di sofa, pak Beni datang dari arah dapur membawa sebuah baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil untuk mengompres luka-luka lebam pada wajah Claudy.
Sesekali Claudy meringis saat aku mengompres maupun saat mengoles obat merah pada luka di wajahnya. Rasanya aku sudah gagal menjadi ibu yang baik untuk anakku, aku gagal menjaganya. Karena terlalu fokus pada Claudy aku tak menyadari jika putraku sudah tak ada di rumah ini.
''Maaf bu, saya sudah lalai menjaga non Claudy'' Ucap pak Beni penuh sesal. Kulihat ia tertunduk lesu di depanku, aku sangat sedih melihat keadaan Claudy, namun aku juga tidak bisa menyalahkan pak Beni.
''Ngak apa-apa pak, tidak usah minta maaf ini bukan salah bapak. Saya tidak ingin bapak tertunduk begitu, angkat kepala bapak, saya tak menyalahkan bapak''
Pak Beni mengangkat wajahnya saat aku sudah selesai berbicara, dan betapa terkejutnya aku, saat aku baru menyadari ternyata pak Beni keadaannya tak lebih baik dari putriku. Keadaan pak Beni bahkan lebih parah karena ada perban di kepalanya juga tangannya.
''Pak Beni, apa yang terjadi pada bapak? Apa bapak juga di pukuli oleh orang yang membawa paksa Claudy?'' Tanyaku melihat keadaan pak Beni.
''Iya bu, saya.....'' Pak Beni kemudian menceritakan kejadian yang terjadi di rumah ini. Ternyata yang terjadi sudah sangat keterlaluan selain mereka menculik putriku dan berbuat kasar kepadanya, ia juga melukai hampir seluruh penghuni rumah ini.
''Bu, bos dari orang-orang itu berkata jika kami harus menjauh dari ibu jika kami ingin tetap hidup. Kami sangat takut bu, apa yang kami harus lakukan sekarang?'' Ucap istri pak Beni.
Akupun sejujurnya bingung dengan semua ini, jika aku dan Claudy masih disini, aku khawatir orang-orang tak bersalah ini akan menjadi korban kak Lia. Saat tengah berpikir suara dering ponsel membuatku terkejut. Kuraih ponsel yang akau letakkan di atas meja, kulihat kak Frans yang memanggil. Ku usap ikon hijau pada layar ponsel dan menerima panggilan dari kak Frans.
''Halo kak, maaf tadi aku langsung pulang soalnya ada urusan mendadak. Bagaimana keadaan bu Dita?'' Ucapku berbohong tentang kepulanganku.
''Ibu sudah baik-baik saja dek. Oh, iya tidak apa-apa tadi kak Lia sudah bilang kalau kamu pamit karena ada urusan penting. Kalau kamu lelah istirahat saja dek, ada kami yang akan menjaga ibu disini''
''Iya kak terimakasih sudah menjaga ibu''
''Kamu ini ngomong apa dek. Aku kan sudah bilang dia ibuku jadi aku akan menjaganya. Sudah dulu ya dek, aku mau ke apotik ambil obat ibu''
__ADS_1
''Ia kak, salam sama bu Dita''
Panggilanpun akhirnya terputus, baru saja hendak meletakkan kembali ponsel ke atas meja, ada lagi panggilan yang masuk. Kulihat nomor kak Frans.
'Ada apa lagi kak Frans menelponku, bukannya tadi ia bilang jika ia mau ke apotik' Batinku.
''Halo kak'' Sapaku.
''Ngak usah basa basi! Kamu jangan pernah hubungi kami lagi, oh iya lebih baik kamu segera pergi dan menghilang dari hidup kami, kalau tidak kedua anakmu akan aku buat hidup mereka menderita'' Ancam kak Lia dari sambungan telpon.
Hening...
Aku tak tahu apa yang harus aku katakan, bagaimana mungkin aku pergi sedangkan keadaan bu Dita belum membaik. Tapi aku juga tak ingin mengorbankan kedua anakku.
''Aku tunggu sampai nanti sore jika kau masih terus mengganggu keluargaku maka kau akan tahu akibatnya. Meskipun putrimu sudah aman, tapi nyawa putramu ada di tanganku sekarang''
Aku jadi khawatir tentang keadaan putraku. Sedikit banyak aku tahu jika putraku dibawa juga oleh mereka namun tak dilukai seperti putriku.
''Bu, apa yang harus kami lakukan? Kami tak ingin meninggalkan ibu sendiri? Tapi kami juga takut bu. Kemarin bu Lia memberikan kami tiket untuk pulang ke kota bu, namun kami masih bimbang, hingga akhirnya saya dipukuli bu'' Ucap pak Beni.
Aku tertegun mendengar ucapan pak Beni, kasian sekali ia harus ikut terbawa masalah dalam keluarga kami.
''Pak Beni sekeluarga boleh pulang ke kota. Saya tidak apa-apa pak, disini banyak yang bisa menemani saya. Keadaan tak memungkinkan pak Beni sekeluarga disini, saya takut kak Lia akan terus menyakiti pak Beni dan keluarga jika masih bersama saya. Jika keadaan sudah memungkinkan saya akan menemui pak Beni disana'' Akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan pak Beni sekeluarga kembali ke kota. Biarlah aku dan Claudy disini saja dulu, jika semua sudah kembali seperti semula aku akan menyusul ke kota.
''Maafkan saya bu'' Ucap istri pak Beni.
__ADS_1
''Tidak ada yang perlu dimaafkan bu, pak. Keselamatan pak Beni sekeluarga yang lebih penting sekarang. Nanti biar diantar ke bandara ya'' Setelah mengatakan itu, pak Beni sekeluarga segera menuju ke kamar mereka dan membereskan pakaian mereka. Aku tahu mereka khawatir padaku dan Claudy, akupun juga khawatir pada mereka sekeluarga.
Claudy sudah tertidur lelap di atas sofa setelah minum obat pereda nyeri yang kuberikan tadi. Aku tak tahu apa yang terjadi setelah ini, yang terpenting sekarang keselamatan semua orang. Tentang masalah bu Dita, aku masih bisa melihatnya dari jauh.
Tak berselang lama pak Beni sekeluarga sudah keluar dari kamar membawa koper mereka, ku lihat mata pak Beni dan istrinya sembab, aku tahu mereka pasti juga sedih saat ini.
''Jaga kesehatan bersama keluarga ya pak. Jika ada apa-apa jangan sungkan hubungi saya, saya akan bantu selagi saya mampu'' Ucapku saat pak Beni.
Pak Beni hanya mengangguk, namun terlihat jelas raut kesedihan terpancar diwajahnya. Pak Soni masuk kedalam rumah memberi kabar jika orang yang akan mengantar pak Beni sekeluarga sudah menunggu di depan. Aku memeluk istri pak Beni sebelum mereka pergi, aku sudah menganggapnya seperti saudaraku.
''Ibu hati-hati dirumah, maafkan kami tak bisa menemani ibu'' Ucapnya sebelum masuk ke mobil. Aku hanya tersenyum menjawab ucapannya.
Pak Edi tetangga yang kumintai tolong untuk mengantar pak Beni sekeluarga ke bandara. Mobil pak Edipun berlalu, menjauh dan semakin menjauh hingga hilang dari pandanganku. Tak lama bu Ratna tergopoh-gopoh berlari menghampiriku, keningku berkerut melihatnya. Tak biasanya bu Ratna berlari-lari seperti itu.
''Bu, mama Hans.. huhhh... huh.. huh...'' Ucap bu Ratna sambil mengatur nafasnya karena berlari-lari tadi.
''Ada apa bu?'' Tanyaku.
''Itu bu, pabrik kita terbakar. Kata beberapa pekerja tadi ada orang datang ngamuk-ngamuk kesana dan membakar pabrik kita. Hooohh... hohhh...'' Dengan masih berusaha mengatur nafasnya, bu Dita berusaha memberikan kabar yang membuat kepalaku pusing. Begitu banyak masalah yang aku hadapi dalam sehari.
Rasanya lututku sudah terasa lemas, hampir saja aku limbung jatuh ke atas jalan jika saja pak Soni dan bu Ratna tak sigap menangkap tubuhku. Aku segera tersadar karena mengingat putriku yang ada di dalm rumah. Aku segera masuk bersama bu Ratna, saat hendak duduk ponselku kembali berbunyi. Kulihat nomornya tak memiliki nama berarti nomor baru, aku hanya melihatnya sekilas kemudian membiarkannya hingga berhenti berdering. Awalnya aku tak menghiraukan hingga akhirnya nomor itu kembali memanggil, segera kuterima panggilan karena aku pikir mungkin ada yang penting. Siapa tahu ini kabar dari pabrik.
''Halo, se..'' Belum sempat aku bicara terdengar suara tawa seorang perempuan dari ujung panggilan.
''Hahahhaahaha.... Gimana pemasannya? Apa kamu belum mengerti? Ini baru permulaan jika kamu masih mengusik keluargaku maka aku akan melakukan lebih daripada ini, camkan itu!!'' Suara kak Lia dari ujung panggilan, tak lama panggilan diputus.
__ADS_1
Aku hanya memandang ponselku, aku tak tahu harus berbuat apa sekarang. Bu Ratna masih setia menemaniku disini, akhirnya aku memutuskan untuk membahas masalah pabrik.