
Beberapa hari berlalu, aku sudah mendapat panggilan dari salah satau orang kepercayaan om Bram untuk mulai masuk ke perusahaan. Sempat aku menolak karena tak siap,aku yang notabene tak pernah belajar tentang bisnis serasa tak akan mampu untuk menjalankan perusahaan mendiang ayahku.
Aku merasa tak pantas jika harus menjadi pemimpin, aku takut perusahaan ayahku malah akan hancur jika aku yang memimpin. Namun om Bram berkata jika akan ada orang kepercayaannya yang membantuku untuk belajar juga membantu menjalaankan perusahaan.
Hari yang di tunggupun telah tiba aku dan Claudy bersiap-siap untuk menuju ke perusahaan. Aku juga di temani oleh kak Nisa, sejak kejadian saat kami pulang dari pemakaman Hans, aku meminta kak Nisa untuk menemaniku dan Claudy.
Aku, kak Nisa dan Claudy sedang menunggu mobil yang akan membawa kami ke perusahaan, itulah yang di katakan om Bram saat ia menelponku tadi. Cukup lama kami menungggu hingga sebuah mobil berhenti di hadaapan kami. Seorang laki-laki paru baya turun dari atas mobil dengan pakaian seperti seorang supir.
''Pagi bu Pelangi, saya utusan pak Bram untuk mengantar ibu ke kantor'' ucap bapak itu.
''Ia pak, mari kita berangkat pak. Terimakasih sudah menjemput kami'' ucapku masuk kedalam mobil disusul oleh Claudy dan kak Nisa.
Mobil perlahan meninggalkan rumah, di dalam mobil aku hanya bisa diam tak tahu harus mengatakan apa. Kak Nisa dan Claudy sibuk dengan ponsel masing-masing, aku sendiri sibuk dengan pikiran apa yang akan aku lakukan jka sudah tiba di perusahaan.
Meskipun aku sudah punya beberapa perusahaan, namun aku selalu mempercayakannya pada orang lain. Aku hanya tahu jika perusahaanku bisa membantu orang lain. Tak pernah terpikirkan jika aku harus menjalankan perusahaan sendiri, terlebih ini sebuah perusahaan besar.
Setelah menempuh jarak sekitar 25 kilo meter, akhirnya aku bisa tiba di perusahaan tempatku akan memulai hidup yang baru. Saat mobil sudah terparkir rapi di halaman perusahaan, aku masih duduk terpaku di dalam mobil. Rasanya aku tak bisa percaya dengan semua ini, aku bahkan tak mengerti apa yang harus aku lakukan sekarang.
Gugup, tentu saja aku gugup. Ku remas ujung kemeja yang aku kenakan, rasanya bulir-bulir keringat sudah keluar di dahiku.
''Ayo ma''
Claudy menggenggam tanganku dengan tersenyum seolah memberi aku kekuatan untuk melangkah dan menghadapi semuanya. Ku lihat di pintu utama sudah berbaris rapi begitu banyak karyawan, kelihatannya mereka sedang menyambut kami.
''Silahkan bu'' ucap sopir tadi.
Aku melangkah perlahan menuju pintu utama. Bingung, satu kata yang bisa menggambarkan keadaanku saat ini. Tak tahu harus berkata apa dan tak tahu harus berbuat apa?
''Selamat pagi bu, saya Indah sekertaris ibu. Silahkan ikut saya, saya akan memperlihatkan ruangan ibu sebelum kita berkeliling kantor'' ucapnya kemudian berjalan perlahan.
Aku mengikuti Indah dari belakang sambil menyapa dan tersenyum kepada karyawan yang berdiri di pintu utama juga yang berpapasan di dalam gedung.
''Indah, eh...maaf sebelumnya. Kenapa kita tak naik lift yang disana tadi?'' Tanyaku.
__ADS_1
''Itu lift khusus untuk karyawan bu, lift untuk ibu ada di sebelah sini. Ini khusus untuk ibu dan keluarga'' ucapnya.
Aku hanya ber-O ria menanggapi ucapannya. Aku langsung berpikir bahwa masih ada perbedaan status di kantor ini. Semoga nanti aku bisa merubah itu.
Ting
Suara pintu lift terbuka, Indah mempersilahkan kami masuk setelah itu baru dia ikut masuk.
''Tidak usah menunggu saya duluan masuk Indah, kita sama-sama saja masuknya. Saya merasa tak enak hati jika ada perbedaan seperti itu''
''Tidak apa-apa bu, itu sudah sepatutnya karena ibu adalah atasan saya''
''Jangan seperti itu saya lebih merasa nyaman saat tak ada perbedaan antara antasan dan bawahan. Terkecuali jika ada klien atau orang luar, tapi jika hanya di perusahaan anggap saja saya temanmu''
''Maaf bu, tapi ini sudah peraturan perusahaan''
''Ngak apa-apa nanti saya yang ubah peraturannya, hehehe...''
Ting
Pintu lift terbuka, kami akhirnya sampai dilantai 10 tempat dimana ruang kerjaku berada. Kami berempat keluar dari lift masih seperti saat masuk tadi, kami duluan dan Indah terakhir.
Ceklek
''Silahkan masuk bu, ini ruang kerja ibu. Disini juga ada ruangan jika ibu ingin istirahat, ada kamar mandi, juga dapur mini jika sewaktu-waktu ibu ingin memasak sesuatu. Jika ibu membutuhkan sesuatu ibu bisa hubungi saya atau jika ibu ingin dibuatkan sesuatu, nanti saya yang akan memberitahu kepada karyawan yang bertugas.''
Aku melihat-lihat sekeliling, ruangan ini sangat besar, ruangan ini bahkan lebih besar dari pada rumahku dan mbok Serly dulu.
''Silahkan ibu istirahat dulu, satu jam dari sekarang kita akan adakan pertemuan di aula kantor. Ibu akan kami perkenalkan sebagai pemimpin baru dii perusahaan ini, kami sudah menyiapkan beberapa cemilan dan minuman. Silahkan ibu dan keluarga nikmati''
''Terimakasih Indah''
''Sama-sama bu, apa ada yang bisa saya bantu lagi bu?''
__ADS_1
''Tidak ada terimakasih, kamu juga istirahat dulu''
''Baik bu, kalau begitu saya permisi''
Setelah Indah keluar dari ruangan, tiba-tiba ponsel yang ada di dalam tas ku bergetar, menandakan bahwa ada sebuah pesan yang masuk. Ku rogoh tasku untuk mencari ponselku, setelah dapat aku bergegas membuka pesan, ternyata om Bram yang mengirim pesan.
Om Bram [Bagaimana nak, apa kamu sudah tiba dengan selamat. Semoga kamu bisa mengembangkan perusahaan ayahmu.]
[Trimakasih om, doakan saya] balasku.
''Ma, kue-kue ini boleh Audy makan?'' Tanya Claudy menatap beberapa jenis kue basah yang ada di atas meja.
''Tentu boleh nak, bukannya kamu masih kenyang ya habis sarapan tadi?''
''Habisnya kuenya keliatan enak ma, benarkan aunty Nisa''
''Betul banget sayang, yok kita makan. Kalau mamamu masih kenyang, nanti mamamu jadi gemuk kalau banyak makan hihihi...''
Keduanya duduk di sofa sambil menikmati kue dan minuman yang sudah di sediakan. Aku terpaku menatap sebuah foto dengan bingkai kaca yang sudah usang terpajang di dinding ruangan ini, foto berukuran 1×1,5 meter itu mampu membuat mataku memanas.
Ku dekati dan ku usap foto dari balik bingkai kaca itu dengan lembut, foto seorang pria dan seorang wanita yang sedang menggendong bayi mungil. Sesak dalam dada semakin membuat aku tak bisa menahan gumpalan-gumpalan cairan bening di pelupuk mataku.
Aku terisak tak bisa lagi ku tahan sesak di dalam dada, tubuhku luruh ke lantai dengan isak tangis yang tak bisa ku bendung lagi.
''Ibu... ayah..., aku rindu'' lirihku di sela-sela isak tangisku.
''Mama kenapa menangis?'' Ucap Claudy datang menghampiriku.
''Mama rindu dengan kakek dan nenekmu nak''
''Ibu jangan sedih, jika kakek dan nenek melihat ibu begini pasti mereka akan sedih. Kakek, nenek dan kak Hans sudah bahagia disana''
Hatiku semakin pilu tatkala mengingat bahwa satu-persatu orang yang aku sayangi ternyata sudah di panggil oleh Tuhan.
__ADS_1