
Saat aku masih sibuk menatap lembaran-lembaran kertas yang dibawa oleh om Bram, tak ku sadari ternyata bu Ratna sudah duduk di sebelahku.
''Ada apa mama Hans? Kertas-kertas apa ini?'' Ucap bu Ratna melihat lembaran-lembaran kertas yang ada di atas meja.
''Ini surat-surat penting bu, tadi om Bram yang datang bawa'' Ucapku sambil membaca lembar demi lembar kertas yabg berada di dalam map biru. Aku terkejut karena melihat ada banyak sekali kertas dimana tertulis namaku dan nama ayahku sebagai pemilik perusahaan PW GROUP, juga ada beberapa lembar yang berupa sertifikat kepemilikan yang lagi-lagi semuanya atas namaku.
Didalam sebuah amplop aku menemukan dua buku tabungan, aku membukanya dan kembali terkejut saat melihat nama pemilik buku tabungan itu. Di dua buku itu tertulis namaku dan setelah kulihat, jumlah saldo dalam rekening tersebut aku hanya melongo. Jika saldo keduanya dijumlahkan total uangnya mencapai 950 Milyar.
Kuceritakan semua yang terjadi kepada bu Ratna dan ia sangat bahagia mendengarnya. 'Kebaikan tak akan pernah hilang meski raga sudah tak bernyawa lagi' Ucapnya saat kuceritakan tentang kisah orang tuaku, om Bram dan bu Desi.
Hari ini kulewati dengan begitu banyak ucapan syukur pada Tuhan, sebab ia selalu menyertaiku.
.
Sudah 5 hari aku tinggal di rumah bu Ratna, sudah saatnya kami kembali ke kota tempat tinggal kami di bagian selatan pulau. Aku diantar oleh bu Ratna dan bu Desi ke bandara. Sepanjang perjalanan tak ada yang berbicara di antara kami, Claudy terus tertidur sementara aku sibuk dengan pikiranku tentang keadaan bu Dita. Aku selalu berdoa agar bu Dita cepat pulih dan ia segera berbaikan dengan seluruh anak-anaknya.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan lewat udara, akhirnya kami tiba di kota tempat tinggal kami. Aku menuntun Claudy yang sepertinya sedang kurang sehat, aku memesan taksi untuk pulang. Kali ini aku tak pulang ke rumahku dan bu Dita, aku memilih pulang kerumahku yang ada di samping restoran milikku. Meski rumahnya kecil namun aku bersyukur karena cukup layak untuk kami tinggali.
Aku tak ingin membuat pak Beni sekeluarga dalam masalah jika aku dan Claudy pulang kesana. Terakhir kali aku dengar berita bahwa dirumah itu sudah ada pengawal yang menjaga rumah itu.
Kami tiba di rumah sekitar sejam kemudian, Seno karyawanku yang biasa menjaga di rumah ini dengan sigap membantuku membawa koper kami masuk ke dalam rumah. Setelahnya ia membantuku membawa Claudy masuk ke kamar, badanynya terasa sedikit demam.
''Terimakasih Seno, sudah membantu saya maaf sudah merepotkan'' Ucapku setelah membarinhkan Claudy di ranjang.
''Sama-sama bu'' Ucapnya kemudian berlalu.
Aku memang menghubungi Seno saat dalam perjalanan.
__ADS_1
.
Ke esokan paginya aku dan Claudy bersiap-siap untuk berangkat ke restoran. Kami akan sarapan disana sekalian mengontrol restoran, sudah cukup lama aku tak kesana. Hanya butuh beberapa langkah akhirnya kami tiba di restoran, para pegawai menyambut hangat kedatanganku.
Setelah sarapan aku membantu para pegawaiku di restoran, Claudy sibuk belajar di ruang istirahat. Hari ini aku habiskan dengan membantu di restoran, sejenak aku bisa melupakan masalahku yang begitu berat.
''Bu, apa kita sudah bisa pulang sekarang, aku mengantuk'' Ucap Claudy keluar dari ruang istirahat.
''Iya sayang tunggu sebentar ya mama pamit pada teman-teman mama dulu'' Ucapku kemudian berlalu ke arah ruang ganti para pegawaiku kemudian pamit pada mereka semua.
Aku dan Claudy segera pulang karena langit tampak mendung. Saat tiba di rumah aku segera mandi, kemudian menyiapkan makan malam untuk aku dan Claudy. Saat tengah memasak sayur, ponselku yang ada di atas meja makan berdering. Ku lihat nama yang tertera di layar ponsel, hatiku jadi was-was. Aku membiarkan saja hingga tak terdengar lagi suara deringnya, namun tak lama ponselku kembali berdering, kali ini nama pemanggilnya membuat senyum terlukis di bibirku.
Segera kugeser ikon hijau pada ponsel dengan senyum yang terus mengembang di bibirku. Rasa bahagia membuatku tak sabar untuk berbicara dengan orang yang ada di sambungan telpon.
''Halo kak selamat malam. Bagaimana kabarnya?'' Sapaku pada seorang perempuan yang sangat kurindukan. Dia kak Nisa.
''Aku juga baik kak, kami ada di rumah samping restoran. Kalau kakak mau, kakak boleh kemari, aku hanya berdua dengan Claudy'' Jawabku.
Terdengar helaan nafas dari orang yang ada di ujung panggilan.
''Aku tahu kamu sedang ada masalah dek, tak perlu kau sembunyikan, kakak tahu dari cara bicaramu. Jika kau butuh tempat berbagi, aku siap menjadi tempat sampah untuk masalahmu, hehehehehe'' Ucapnya sambil terkekeh.
''Iya, iya kakak memang yang terbaik aku menunggu kedatangan kakak''Jawabku.
Kami berbicara panjang lebar hingga tak terasa semua masakanku sudah jadi. Setelahnya aku memanggil Claudy di kamarnya untuk makan malam. Aku melihatnya berbaring di atas ranjangnya dengan memakai selimut, aku jadi khawatir melihatnya seperti itu, biasanya ia akan merasa gerah jika memakai selimut namun kali ini ia memakai selimut. Aku mendekati ranjangnya dan mencoba menyentuh keningnya, ternyata dia demam lagi. Gegas aku keluar dari kamarnya kemudian menuju ke arah dapur, aku kembali ke kamarnya sambil membawa sebuah wadah yang sudah aku isi air hangat.
Aku mengompres kepalanya menggunakan handuk kecil, setelah beberapa kali handuk menyentuh keningnya ia membuka matanya kemudian tersenyum. Aku kemudian mengambil makanan untuknya agar ia makan terlebih dulu supaya bisa makan obat.
__ADS_1
Saat aku hendak meletakkan nampan diatas meja samping tempat tidur aku mendengar suara bel pintu. Segera aku menuju keluar kamar, ingin melihat siapa yang bertamu ke rumahku malam-malam. Saat mendekati pintu kudengar suara-suara gaduh di luar, aku jadi ragu untuk membuka pintu. Aku kembali menuju kamar dan membuka rekaman CCTV yang menunjukan teras depan. Ku lihat disana ada banyak orang yang membawa beberapa balok kayu juga beberapa senjata tajam. Aku jadi semakin takut untuk membuka pintu, dalam keadaan takut hanya satu nama yang terlintas di benakku. Kak Nisa, hanya nama itu yang terpikir olehku saat ini. Segera kucari nomor kontak kak Nisa.
Tut..
Tut..
Tut..
''Halo dek'' Sapanya dari ujung panggilan.
''Halo juga kak. Apa kakak bisa menolongku, di depan rumahku sekarang ada banyak orang. Mereka membawa balok kayu dan senjata tajam. Sepertinya mereka akan melakukan penyerangan pada rumahku'' Ucapku pada kak Nisa, aku merasa sangat takut. Andai saja Claudy tak demam aku sudah membawanya lari keluar dari rumah ini lewat jalan di belakang rumah yang tak orang-orang ketahui.
''Ok dek, kakak akan kesana bersama beberapa sahabat Robin'' Ucapnya kemudian panggilan terputus.
Prang
Prang
Dok..Dok...Dok.....
Terdengar suara benda-benda jatuh, juga kaca pecah dan gedoran pintu. Kulihat kembali layar ponsel yang menampilkan rekaman CCTV, terlihat benerapa orang sedang memukul pintu dan jendela dengan balok. Kaca-kaca jendela sudah berhamburan dilantai, dalam keadaan panik, aku memasukkan beberapa barang kedalam tas ransel kemudian aku mencoba menggendong Claudy untuk aku bawa keluar dari rumah ini.
''Bu, kita mau keman dan suara berisik apa itu?'' Ucap Claudy lirih.
''Kita harus segera keluar dari rumah ini nak. Sepertinya nyawa kita sedang berada dalam bahaya'' Ucapku sambil menggendongnya di punggungku. Entah kekuatan dari mana aku bisa mengangkat putriku yang beratnya sampir sama dengan bobot tubuhku.
Aku berjalan pelan-pelan menyusuri sudut-sudut rumah, untung saja lampu sudah ku matikan semua jadi tak akan ada yang melihat kami dari luar. Beberapa kali kakiku terantuk pada ujung meja atau pada kusen pintu. Dengan langkah yang cukup pelan aku mencoba melangkah ke arah pintu belakang, saat tiba di area dapur sekelebat bayangan hitam terlihat masuk melalui pintu samping yang terhubung dengan dapur, segera aku bersembunyi di bawah kolong meja kompor.
__ADS_1
Aku melihat orang itu melangkah menuju ke ruang tengah, saat ia sudah tak terlihat lagi dihadapanku segera aku membuka salah bagian dinding di dapur ini yang menghubungkan ke tempat yang aman di restoranku.