
Setelah kami duduk di dalam mobil polisi aku bisa menghembuskan nafas lega. Aku juga bisa melihat jelas pos ronda dari sini, disana terlihat ada banyak orang yang masih membawa balok kayu juga senter. Aku jadi berpikir jika aku keluar tadi, mungkin saja aku dan anakku sudah tak bernyawa lagi.
''Sudah dek, tenang saja kita sudah aman'' Ucap kak Nisa sambil merangkul ku. Claudy sendiri terlihat lebih santai, ia duduk sambil melihat-lihat ponselnya.
Aku yang masih takut masih bisa merasakan jika badanku bergetar. Tak lama setelahnya beberapa anggota polisi datang menghampiri kami di mobil.
''Apa kita sudah bisa pergi? Sepertinya mereka memang orang-orang yang berbahaya'' Ucap salah satu petugas polisi yang masuk kedalam mobil dan langsung duduk di kursi kemudi.
''I..iy..iya pak'' Ucapku dengan gugup karena tubuh ku bergetar.
''Tak usah khawatir bu, ibu sudah aman. Sekarang kami harus mengantar ibu kemana? Atau jika ibu bisa ikut ke kantor polisi sekarang sekalian membuat laporan atas hal yang menimpa ibu dan anak ibu'' Ucapnya lagi kemudian langsung mengemudikan mobil yang sudah di nyalakan sebelumnya.
Aku berpikir sejenak apakah aku langsung pulang kerumah ayah yang di perumahan itu atau aku ke kantor polisi dulu. Setelah berpikir sejenak aku memutuskan untuk ke kantor polisi terlebih dahulu membuat laporan. Aku tak tahu, apakah yang aku pikirkan bahwa kak Lia adalah dalang dari semua ini? Namun yang pasti kali ini aku tak akan mentolelir siapapun pelakunya, ia harus mendapatkan hukuman dan mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Cukup pabrik ku yang membuat banyak orang kehilangan mata pencaharian, aku tak ingin para pegawai restoranku juga kehilangan pekerjaan mereka.
''Kita ke kantor polisi dulu pak. Saya ingin membuat laporan'' Ucapku.
''Baik bu'' Ucap pak polisi itu kemudian menjalankan mobilnya lebih cepat lagi. Aku agak heran saat mobil yang kami tempati bergerak lebih cepat, apalagi genggaman tangan kak Nisa ditanganku sangat erat. Hatiku bertanya-tanya ada apa sebenarnya sampai kak Nisa kelihatan begitu takut. Saat hendak melihat kebelakang mobil kak Nisa menahan kepalaku agar tak menoleh. Aku jadi semakin bingung dibuatnya.
''Ada apa kak?'' Tanyaku.
''Tidak apa-apa dek, jangan lihat kebelakang ya'' Ucapnya.
Aku hanya menganggukkan kepala tanda mengerti namun dalam hatiku masih terus bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi. Saat kak Nisa lengah karena mengutak-atik ponselnya, aku langsung menolehkan kepalaku ke arah belakang. Mataku yang sipit sontak menjadi lebar karena saking kagetnya melihat apa yang ada di belakang mobil kami.
Disana terlihat ada dua mobil yang berjalan bersisian mengikuti mobil kami, dan dari yang ku lihat orang-orang di dalam mobil itu mirip dengan orang-orang yang tadi melakukan penyerangan di rumahku. Hampir saja aku berteriak karena takut, namun dengan sigap kak Nisa langsung membekap mulutku dengan tangannya. Kak Nisa memberiku isyarat agar aku tak bersuara, ia juga memberi isyarat pada putriku yang terbangun dari tidur.
Ia langsung menarik ku dan Claudy, kami diminta untuk tengkurap di bgian bagian bawah dekat jok mobil. Aku dan Claudy menurut saja, karena saat ini keselamatan ku dan Claudy yang paling utama.
__ADS_1
''Bu, kita ke kantor polisi saja dulu, dan jika sampai disana, ibu dan putri ibu jangan turun dulu dari mobil karena sepertinya orang-orang itu curiga. Saya yakin jika mereka orang-orang yang berniat jahat pada ibu dan putri ibu dan mereka juga orang-orang yang sama dengan yang menyerang rumah dan restoran ibu. Kami akan berpura-pura turun dan sibuk di kantor nanti. Bu Nisa akan turun dan membuat laporan. Namun ibu tak perlu khawatir ibu aman jika terus berada di mobil ini'' Ucap petugas polisi itu.
''Baik pak'' Ucapku yang masih merasakan ketakutan. Kulihat Claudy juga terlihat sangat ketakutan, aku meraih tubuhnya dan kubawa dalam pelukanku.
''Bu, kenapa orang-orang banyak sekali yang berniat jahat pada kita? Padahal kita selalu berbuat baik pada orang lain'' Ucap putriku sambil terisak di dalam pelukan ku.
Aku tak tahu apa yang harus aku katakan untuk menjawab pertanyaan putriku, aku hanya bisa memeluknya semakin erat agar ia tak terlalu ketakutan. Tak lama mobil yang kami tumpangi sampai dihalaman kantor polisi, kak Nisa dan petugas polisi yang bersama kami di dalammobil turun dan masuk ke dalam kantor polisi namun sebelum itu mereka memastikan bahwa kami aman berada di mobil.
''Jangan kemana-mana dek. Diamlah di dalam mobil ini dan jangan membuat gerakan-gerakan yang bisa membuat mobil ini bergoyang karena para penjahat itu masih ada di jalan besar di depan kantor polisi ini. Aku akan kedalam dan membut pelaporan tentang penyerangan rumah dan restoranmu'' Ucap kak Nisa kemudian turun dari mobil.
''Ibu tenang saja disini aman selama ibu tak keluar dari mobil.Mobil ini aman dari serangan apapun'' Ucap polisi itu kemudian ikut turun menyusul kak Nisa kedalam kantor polisi.
Ku mencoba untuk sebisa mungkin tak bergerak, aku dan Claudy masih saling berpelukan tanpa bergerak atau berbicara sedikitpun. Hanya deru nafas kami yang terdengar bersahut-sahutan, tubuh Claudy kembali terasa demam. Ingin aku memberitahu kak Nisa namun aku takut jika aku bergerak atau menyalakan ponsel pasti cahayanya akan terlihat dan orang-orang jahat itu kemungkinan bisa tahu jika kami ada di dalam mobil ini. Rasanya menegangkan sekali seperti sedang ada dalam adegan di salah satu film action yang sering aku nonton.
Bersabar dan terus bersabar, akhirnya setelah cukup lama pintu depan mobil ini dibuka dan naiklah sosok yang sangat aku tunggu. Aku sedikit bergerak karena jika aku bergerak tak kan membuat orang-orang itu curiga karena sudah ada orang lain yang berada di mobil ini.
''Sudah beres semuanya dek. Oh iya, kamu sekarang mau di antar kemana? Seandainya sudah tak ada orang yang mengikuti kita, kamu dan Claudy bisa tinggal dirumahku. Namun aku khawatir akan kesalamatan kalian karena orang-orang jahat itu masih mengikuti terus'' Ucapnya.
Saat aku ingin berbicara dua orang polisi naik ke atas mobil dan duduk di depan. Yang seorang sebagai pengemudi dan yang seorang lagi duduk bersandar di bahu kak Nisa. Aku menyerngitkan dahi melihatnya, dan sepertinya ia tak sadar jika aku juga ada di dalam mobil ini.
''Bagaimana kabarnya dek?'' Ucapnya yang sontak membuatku terkejut bukan kepalang. Suaranya begitu familiar di telingaku, aku hampir saja ingin menangis dan memeluknya, untung saja aku bisa segera mengendalikan diri sebelum itu terjadi.
''Kak Roni?'' Ucapku tak percaya apa yang kulihat. Aku tak percaya jika aku bertemu lagi dengan saudara kembar kak Robin ini. Bertemu dengannya mengingatkanku kembali dengan kak Robin.
''Om Roni'' Ucap putriku.
''Iya sayang'' Ucapnya sambil mengusap puncak kepala Claudy.
__ADS_1
''Anakmu demam dek?'' Tanyanya kemudian setelah mengusap kepala Claudy.
''Iya kak Claudy agak demam mungkin ia sangat ketakutan'' Ucapku sambil terus memeluknya.
''Sekarang adek mau diantar kemana, tak mungkin kita kerumah sakit, karena orang-orang jahat itu masih ada di luar sana. Jika mereka melihat kalian disana nyawa kalian dalam bahaya'' Ucap kak Roni.
Aku merogoh tas ku kemudian mengambil sertifikat rumah yang akan aku tuju dan menyerahkannya pada kak Roni.
'' Saya mau ke alamat ini kak'' Ucapku saat menyerahkan sertifikat itu.
Kak Roni sempat menatapku sesaat ketika membaca sertifikat itu, kemudian ia tersenyum.
''Ok, Hendrik kita kerumahku sekarang, tapi sebelum itu kita antarkan kakak ku yang manis ini ya'' Ucapnya pada sahabatnya yang duduk di kursi kemudi dan menggoda kak Nisa. Kak Nisa mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan sang adik.
''Siap pak'' Ucap pak Hendrik.
Mobilpun melaju meninggalkan halaman kantor polisi dengan posisiku dan Claudy yang masih terus tertunduk. Aku sempat heran dengan ucapan kak Roni, namun aku tahu pasti ia akan melakukan yang terbaik untuk membantuku.
Setelah mengantar kak Nisa, mobil kemudian melaju kembali membelah jalanan kota yang sudah semakin ramai karena ini malam minggu. Banyak orang yang keluar rumah dan menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih.
''Kamu akan aman di perumahan ini dek. Perumahan ini sangat aman, bisa dibilang ini perumhan tempat teraman kedua sesudah rumah presiden, hehehehehehe'' Ucap kak Robin sambil terkekeh pelan.
Aku hanya mengerutkan kening mendengar ucapannya.
''Kamu pasti heran kan? Kakak juga tinggal di perumahan ini dek dan orang-orang yang tinggal di perumahan ini semuanya aparat keamanan. Maksud kakak penghuninya adalah anggota TNI dan polisi seperti kami berdua ini. Disana dijamin keamanannya krena tak sembarang orang bisa tinggal disana, juga dijaga 24 jam oleh petugas polisi. Putrimu juga bisa dirawat disana karena ada dokter khusus yang memang ditugaskan diperumahan itu'' Ucapnya menjelaskan agar aku tak kebingungan lagi.
Aku hanya mengangguk kemudian tersenyum, aku bersyukur jika disana aku bisa aman bersama putriku.
__ADS_1