PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
PELANGI SETELAH BADAI


__ADS_3

Setelah kepergian mobil itu, aku persilahkan om Bram duduk di kursi teras, sementara aku masuk kedalam rumah bu Ratna untuk menemui Selfi. Aku menuju ke kamar Selfi, ku lihat dia sudah tertidur di atas ranjangnya.


''Ma, Selfi sudah tidur, dia lelah menangis tadi'' Ucap Claudy.


''Iya nak, ayo biarkan dia tidur''


Aku mengajak Claudy keluar dari kamar dan menuju ke teras menemui om Bram. Ku lihat sudah ada bu Desi sudah ada disana.


''Mama Hans'' Ucap bu Desi saat melihatku keluar dari pintu.


''Iya bu, ibu kenal dengan om Bram?'' Ucapku karena melihat ke akraban di antara keduanya.


''Dia ini adik saya nak'' Ucap om Bram sambil menepuk bahu bu Desi. Bu Desi hanya tersenyum menanggapi ucapan om Bram.


''Kalian sudah saling kenal mas?'' Tanya bu Desi pada om Bram.


''Bagaimana tidak kenal, saya sudah liat dia dari masi pake popok koq, hehehe. Ingat ngak dek, waktu itu mas pernah bilang, kalau mas mencari anak kawan mas yang sudah membantu kita saat kita susah dulu?'' Ucap om Bram.


''Ia aku ingat mas, suami istri yang dulu nolong kita saat kita masih hidup di jalanan kan?'' Ucap bu Desi sambil menerawang jauh.

__ADS_1


Aku hanya diam mendengarkan ucapan bu Desi dan om Bram, aku tak ikut menyahuti pembicaraan keduanya karena rasanya aku tak terlibat dalam pembicaraan keduanya.


''Iya, kamu tahu kalau mas sudah menemukan orang yang mas cari?'' Tanya om Bram lagi.


''Yang benar mas, syukurlah jika mas sudah menemukannya, aku harap aku juga bisa bertemu dengannya dan mengucapkan terimakasih atas pertolongan yang sudah di berikan orang tuanya pada kita dahulu'' Mata bu Desi terlihat berembun saat mengatakannya.


''Kamu sudah mengenalnya dengan sangat baik dek, dan sepertinya ia juga sudah sangat menolongmu dan anak-anakmu dek'' Om Bram menjeda ucapannya, seperti ia ingin menyampaikan sesuatu padaku karena tatapannya beralih padaku dan Claudy.


''Dia adalah anak dari penolong kita dek, dan sekarang dia juga menjadi penolong keluargamu. Mungkin ucapan terimakasih saja tak cukup untuk kebaikannya dan kedua orang tuanya pada kita. Nak Pelangi, om dan bu Desi adalah orang yang pernah papa dan mamamu tolong saat kami masih hidup di jalanan. Meski saat itu ayah dan ibumu juga hidup tak bergelimang harta namun mereka dengan ikhlas menolong om dan adik om. Mereka membawa kami ke panti asuhan yang mereka kelolah, menyekolahkan om dan adik om, juga membiayai seluruh kebutuhan sehari-hari kami berdua. Setelah om dewasa, papa dan mamamu mempercayakan sebuah perusahaan untuk om kelola. Perusahaan itu adalah milik orang tuamu, mereka membiarkan paman mengelolanya dan hasilnya mereka tak pernah memintanya. Setiap ada hasil, orang tuamu selalu menolaknya, mereka memberikan seluruh hasilnya untuk om. Sekarang om sudah mempunyai usaha sendiri dan om juga sudah menemukan kamu, jadi sekarang om kembalikan semua milik orang tuamu padamu. Perusahaan itu masih berjalan, semua saham dan aset atas namamu. Kamu bisa mengelolah perusahaaan ayahmu itu, mungkin kamu pernah dengar PW group. Itu adalah nama perusahaan milik ayahmu yang sudah diwariskan padamu, nama perusahaan itu adalah namamu PELANGI WIANDRA GROUP''


Aku hanya melongo mendengar penuturan dari om Bram, beliau menyerahkan beberapa amplop dan map yang sepertinya berisi surat-surat penting. Bu Desi menghampiriku dan memelukku dengan erat, kurasakan bahunya berguncang hebat, aku tahu pasti beliau sedang menangis.


Aku hanya diam dan mengelus pelan bahu bu Desi yang masih terus terguncang, aku tak tahu harus mengatakan apa. Jujur ini membuatku sangat terkejut, aku juga bersyukur, meski ayah dan ibuku sudah tiada ternyata ayah dan ibuku semasa hidup sangat baik pada orang-orang. Aku, om Bram dan bu Desi masi berbincang-bincang saat Claudy yang tadi duduk disebelahku pamit masuk ke rumah bu Ratna, sepertinya dia ngantuk.


''Nak, om harap kamu mau menjadi pimpinan di perusahaan itu, karena itu adalah peninggalan orang tuamu dan juga om diberi amanah oleh mereka bahwa om harus membantu kamu agar kamu mau menjadi pemimpin perusahaan''


''Apa ini benar-benar terjadi om? Apa aku tidak sedang bermimpi?'' Tanyaku yang masih bingung.


''Ini semua benar nak''

__ADS_1


''Om bukankah PW GROUP itu perusahaan no 1 di negara kita dan juga menaungi HANS CORP?'' Tanyaku, karena saat masih bersama mas Hans aku pernah mendengar jika perusahaan keluarga milik mereka, dinaungi oleh perusahaan bernama PW GROUP.


''Benar nak, dari mana kamu tahu tentang HANS CORP?'' Tanya om Bram.


''Jadi begini om...'' Kuceritakan pada om Bram perjalanan hidupku, bagaiaman kehidupanku setelah kedua orang tuaku meninggal dunia. Aku juga menceritakan hubunganku dengan keluarga pemilik HANS CORP. Saat bercerita aku jadi tahu bahwa sebenarnya saat orang tuaku sudah meninggal, om Bram selalu mengirim uang namun yang menerima adalah bi Ratna. Uang itu tak pernah sampai kepadaku, bahkan bi Ratna pernah meminta uang yang cukup banyak kepada om Bram dengan alasan aku sedang sakit keras dan butuh biaya besar untuk oprasi.


Dari om Bram aku juga tahu bahwa ternyata selama ini bi Ratna selalu mencoba mengambil alih perusahaan milik orang tuaku. Dia membuat surat kuasa palsu dan juga beberapa kali memcoba mengambil uang cukup banyak dari perusahaan namun di tolak oleh bagian keuangan. Tidak bisa sembarang orang mengambil uang disana tanpa tanda tanganku atau om Bram.


''Om harus kembali dulu nak, kapan-kapan kita bisa bertemu lagi. Jangan lupa datang ke perusahaan ayahmu nanti jika ada kesempatan. Om hrus segera pulang dan mengurus anak om'' Ucap om Bram sambil berdiri dari duduknya.


''Iya om, terimakasih. Maaf sudah menyakiti anak om'' Ucapku penuh sesal karena sudah membuat anak om Bram kesakitan.


''Om yang harus terimaksih. Terimakasih juga karena sudah menghukum anak om, biar dia bisa sedikit belajar''


Ternyata benar kata pepatah akan ada pelangi setelah badai. Setelah banyak masalah yang menimpaku ada berkat baru yang Tuhan sediakan.


Om Bram kemudian pamit padaku dan bu Desi. Saat mobil om Bram tiba di ujung lorong, sebuah mobil lain berhenti dihalaman rumah bu Ratna. Aku dan bu Desi saling berpandangan kemudian berlari ke arah mobil saat melihat bu Ratna turun dari sana sambil memapah suaminya. Bu Desi membantu bu Ratna memapah suaminya masuk kedalam rumah sedangkan aku membukakan pintu kamar bu Ratna agar suaminya bisa dibaringkan di kamar bu Ratna.


Setelah membantu membaringkan suami bu Ratna, aku dan bu Desi segera keluar dari kamar bu Ratna. Tak lama bu Desi juga pamit, aku duduk di sofa ruang tamu bu Ratna sambil melihat-lihat amplop dan map yang dibawakan oleh om Bram tadi. Rasanya aku masih tak percaya jika orang tuaku adalah orang kaya. Ternyata orang tuaku menyembunyikan kekayaannya agar tak dirampas oleh saudara-saudaranya yang serakah, begitulah perkataan om Bram. Semua itu tak salah memang benar adanya jika saudara orang tuaku rata-rata pecinta materi. Mereka ternyata sudah mempersiapkan masa depanku, selama in om Bram mencariku namun tak pernah menemukanku.

__ADS_1


__ADS_2