
Dua hari setelah kejadiaan naas itu, aku dan putriku sudah diperbolehkan pulang. Aku bingung tak tahu harus pulang kemana, dan lagi aku sudah tak punya siapa-siapa lagi.
''Nak, kamu mau pulang kemana?'' Tanya seorang ibu salah satu warga disini.
''Aku tidak tahu bu, aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi''
Air mataku menetes lagi, mengingat nasibku yang sangat malang, apa lagi anakku juga harus merasakannya.
''Kalau mau, ikut ibu saja nak. Ibu juga cuma tinggal sendiri'' Kata ibu itu.
''Terimakasih bu, tapi apa saya tidak merepotkan?''
''Tidak nak, justru ibu sangat bahagia jika kamu mau tinggal bersama ibu, kamu bisa menganggap ibu orang tua kamu sendiri nak''
Aku segera memeluk ibu itu, kumtumpahkan segala rasa sedih dan rasa bahagia dalam tangisku.
.
Berbulan-bulan telah berlalu sejak kejadian itu, dalam hati aku masih berharap mas Hans datang mencariku dan putri kami. Harapan tinggallah harapan, angan-angan membangun rumah tangga yang bahagia pupus sudah. Akupun tak menyalahkan mas Hans karena dia pasti mengira kami tewas terbakar di dalam mobil yang terbakar itu.
Aku tinggal bersama bu Dita. Aku juga membantu di polindes, karena saat sekolah aku mengambil jurusan keperawatan meski tak melanjutkan kuliah setidaknya aku belajar dasar-dasar pengetahuan tentang dunia kesehatan.
''Nak, apa sudah bangun?''
''Ia bu, masuklah pintunya tak ku kunci''
Aku bangun dan duduk di tepi ranjang, bu Dita menghampiriku membawa sepiring buah-buahan.
''Nak, kamu makan buah-buahan ini. Ini bagus untuk ibu menyusui nak''
Aku meraih buah-buahan itu, ku ucapkan terimakasih pada bu Dita.
''Setelah ini, kamu siap-siap kita akan ke pabrik melihat produksi teh. Ibu ingin kamu belajar agar nanti kamu bisa menggantikan ibu, jika ibu sudah tiada''
Aku mengangguk dan menghabiskan buah-buahan yang dibawah bu Dita. Setelah itu segera aku mandi, tak lupa juga ku mandikan putriku yang sudah berusia hampir 1 tahun.
Aku sudah tidak kaget mendengar ucapan bu Dita karena setiap hari kata itu ia terus ulang-ulang.
__ADS_1
Setelah bersiap aku segera berjalan mengikuti bu Dita masuk kedalam mobilnya. Diperjalanan bu Dita bercerita banyak hal, ternyata ia juga bernasib hampir sama sepertiku. Sebenarnya ia juga punya anak bahkan 3 sekaligus, tapi katanya anak-anknya sudah meninggal, sememtara suaminya menceraikan dirinya dan membuangnya.
Aku merasa masih beruntung meski tak bersama suami setidaknya aku memiliki putriku.
''Sudah sampai bu'' Kata pak Beni, supir dikediaman bu Dita.
''Terimakasih pak, silahkan bapak pulang dan istirahat saja, mungkin agak sorean baru kami pulang. Nanti bapak dan istri makan saja di rumah''
''Baik bu, saya permisi''
Pak Beni pulang kerumah, aku dan bu Dita masuk kedalam pabrik. Bu Dita dan aku disambut ramah oleh para pekerja pabrik, aku dan bu Dita membalas sapaan mereka juga. Cukup lama kami keliling-keliling di pabrik dan perkebunan tak terasa hari sudah siang.
Kami kembali ke pabrik dan makan siang bersama dengan para pegawai perkebunan dan pekerja pabrik. Aku bahagia bisa berada di tengah-tengah mereka, ada raut wajah tulus disetiap wajah orang-orang itu.
Bu Dita membawaku kesebuah ruangan agar aku bisa menidurkan Claudy disana. Putriku kuberi nama CLAUDY PUTRY WIANDRA, dia tumbuh menjadi anak yang sehat.
''Nak, ibu ada urusan sebentar diluar, kamu istirahat ya sayang''
Bu Dita meninggalkan aku yang sedang menyusui Claudy, aku menatap sekeliling dan melihat ada sebuah foto yang terpajang pada dinding. Disana ada foto bu Dita yang sedang duduk di atas kursi sedang menggendong 2 bayi dan didepannya berdiri seorang anak perempuan yang masih kecil.
''Kenapa aku jadi kepikiran mas Hans?'' Gumamku.
''Bu, sudah kembali?''
Tak ada jawaban dari bu Dita, aku melihat air matanya mengalir di pipinya yang sudah mulai menua.
''Bu, jangan menangis, aku sedih melihat ibu menangis'' Kataku mengusap air matanya.
Bu Dita memandang ke arahku, kemudian menyimpan foto yang ia pegang.
''Ibu kenapa menangis? Apa ada masalah bu?''
''Tidak nak, ibu hanya mengingat anak-anak ibu, semoga mereka tenang di surga''
''Ia bu, kita doakan saja mereka''
Tak lama Claudy bangun dari tidurnya, kami segera pulang kerumah karena hari sudah semakin sore. Diperjalanan bu Dita lebih banyak diam tak seperti biasanya, akupun tak tahu harus bicara apa.
__ADS_1
Tak ada pembicaraan selama perjalanan pulang, sampai dirumah bu Dita segera masuk ke kamarnya. Aku juga Claudy, juga masuk ke kamar kami, kami berdua mandi kemudian turun ke lantai bawa. Kulihat bu Dita sedang duduk di ruang tamu bersama beberapa karyawan di pabriknya.
''Nak, kemari sebentar ada yang ibu ingin katakan''
Aku langsung melangkah ke arah ruang tamu menemui ibu dan para tamu. Aku menyapa mereka satu persatu kemudian ikut duduk disamping bu Dita.
''Pak Beni, bawa masuk semuanya!'' Titah bu Dita, pak Beni datang membawa beberapa dus yang aku tak tahu isinya.
Pak Beni meletakkan semuanya di depanku.
''Apa ini bu?''
''Ini keperluan untuk besok nak, jika masih kurang kita bisa tambah dan jika kamu tidak suka, nanti kita pergi sama-sama untuk beli''
Bu Dita semakin membuatku bingung, dahiku berkerut mendengar ucapannya.
''Ini keperluan untuk pesta ulang tahun cucu ibu nak, ibu ingin kamu merayakan ulang tahun Claudy. Ibu harap kamu tak menolaknya nak''
Bu Dita menggenggam tanganku, aku menatap matanya, aku ingin menolak tapi aku tak tega padanya, kalau aku terima juga tak enak hati karena bu Dita bukanlah siapa-siapa. Meski bagiku dia sudah ku anggap orang tuaku, tetap saja aku tak ingin jadi beban untuknya.
''Ibu akan sangat kecewa jika kamu menolaknya nak''
''Baiklah bu, terimakasih banyak''
Langsung kupeluk bu Dita dan mengucapkan terimakasih kepadanya dan paling penting kepada Tuhan.
.
Hari ini rumah begitu ramai penuh dengan warga desa dan pekerja di pabrik. Ternyata bu Dita merayakan pesta besar-besaran untuk anakku. Tak ada kata yang bisa ku ucapakan padamu Tuhan selain ucapan terimakasih atas semua kebaikan Tuhan padaku.
Acara berjalan dengan lancar, semua orang terlihat bahagia menikmati pesta. Claudy sering kali membuat orang-orang tertawa dengan tingkah lucu dan celotehan-celotehannya.
Hari yang begitu melelahkan, aku mencoba menutup mata tapi tak bisa.
''Nak, apa kamu sudah tidur?''
Bu Dita masuk ke kamarku dan membawa sebuah kotak ponsel.
__ADS_1
''Ini ibu beli untukmu nak, jika kamu ingin menghubungi seseorang pakailah ini, atau kamu ingin bermain media sosial untuk berhibur diri. Ibu juga sering melihat media sosial agar ibu bisa melihat harga-harga pasar dan berhibur diri''
Aku meraih ponsel yang diberikan bu Dita, rasanya aku sudah tak bisa lagi membalas kebaikan bu Dita.