
Tak terasa sebulan telah berlalu, aku masih saja menjalani hari-hariku seperti biasa, melakukan hal yang sama setiap hari. Bi ratna sudah tidak pernah menghubungiku setelah dia marah-marah padaku tempo hari di telpon. Bahkan saat aku menerima gaji pertamaku aku berusaha menghubungi bi ratna ingin berbagi sedikit hasil dari pekerjaanku akan tetapi dia menolak panggilanku.
Tring.....
Tring.....
Bunyi alaram dari ponsel membangunkanku, segera kuraih ponsel mematikan alaram kemudian berdoa dan melakukan rurinitas setiap pagi. Setelah melakukan rutinitasku setiap pagi aku segera bersiap untuk pergi bekerja.
Tok
Tok
Tok
terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kamarku, aku beranjak ke depan jendela kemudian menyibak tirai melihat siapa yang datang. Ibu kos dengan seorang laki-laki yang tidak aku kenal sudah berdiri di depan kamar kosku. Bergegas aku membuka pintu karena tidak enak hati bila ibu kos terlalu lama menunggu.
''selamat pagi bu, ada yang bisa pelangi bantu?'' aku menyapa sekaligus bertanya pada ibu kosku
''selamat pagi juga nak, ada yang ingin bertemu denganmu'' katanya sambil melihat pada laki-laki yang berada disampingnya. Aku mempersilahkan mereka berdua duduk di kurai yang ada didepan kamar.
''selamat pagi tuan, ada yang bisa saya bantu?'' kataku pada laki-laki itu, namun dia hanya memperhatikan diriku sambil tersenyum. Akupun jadi risih dan takut diperhatikan seperti itu oleh seorang laki-laki. Aku beralih kesamping ibu kos dan menggenggam tangannya, melihatku merasa takut ibu kos mengelus pelan lenganku seraya berkata
''tenang nak jangan takut, dia orang baik'' jawabnya sambil tersenyum,
''maaf nona kalau saya sudah membuat nona takut, saya tidak bermaksud seperti itu'' kata laki-laki itu
''tidak apa-apa tuan, maaf tuan ada yang bisa saya bantu?'' dengan sedikit keberanian aku menjawab
''apa nona mengenal orang ini?''
jawabnya sambil menunjukkan sebuah foto seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang wajahnya sangat mirip denganku hanya bedanya kulitnya sangat putih sementara aku tidaklah putih kulitku lebih ke warna kuning langsat.
Aku seperti mengenal laki-laki di foto tersebut tapi aku lupa dimana aku melihatnya.
''maaf tu..tuan saya tidak mengenal siapa mereka'' aku menjeda kalimatku kemudian bertanya lagi
__ADS_1
''kalau boleh tahu tuan, kenapa wajah perempuan di foto itu mirip dengan saya?'' sambungku
''ini tuan dan nyonya saya nona, nyonya saya sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Apa nona yakin tidak mengenal yang laki-laki?'' tanyanya lagi
''sepertinya saya pernah melihatnya tapi saya tidak tahu dimana?'' jawabku
dia hanya tersenyum kemudian memberikan sebuah paperbag kepadaku, kuraih paperbag dari tangannya
''silahkan dibuka nona, mungkin nona akan mengingat siapa laki-laki didalam foto ini kalau nona melihat isi dari paperbag itu'' katanya lagi yang semakin membuatku heran dan mengerutkan kedua alisku. Sementara dia dan ibu kosku memandangku sambil tersenyum.
Segera kubuka paperbag itu, dan aku melihat kotak obat dan handuk kecil yang aku pakai untuk membersihkan luka seorang laki-laki yang aku pernah tolong lebih dari sebulan yang lalu.
''apa orang yang di foto itu adalah orang yang aku tolong dulu, tapi kenapa dia berfoto dengan seseorang yang wajahnya mirip denganku? Apa arti semua ini?'' batinku
''apa laki-laki di foto itu yang terluka tempo hari?'' tanyaku menerka-nerka pada laki-laki yang memberiku paperbag
''benar nona, dia adalah orang yang anda tolong tempo hari saat dia terluka'' kata laki-laki itu
hatiku bertanya-tanya dari mana dia tahu kalau aku tinggal disini. Pikiran negatif segera menghantui kepalaku dan seketika membuatku takut, jangan-jangan orang yang aku tolong orang jahat? Bagaimana jika dia meninggal dan aku disalahkan? Bagaiman jika keluarganya menunutut? Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalaku.
''dia baik-baik saja nona jangan khawatir. Pasti nona berpikir dari mana saya bisa tahu nona tinggal disini?'' dia menarik nafas sejenak kemudian berkata lagi
''tenang nona saya bukan orang jahat jadi jangan takut''
karena pikiranku sudah negatif dari tadi dalam hati aku berkata ''mana ada orang jahat yang mengaku jahat''
''saya adalah pengawal dari laki-laki yang sudah nona tolong. Saya tahu nona tinggal disini karena kotak nasi yang nona tinggal didalam mobil beserta barang-barang yang saya berikan pada nona tadi''
aku baru ingat ternyata jatah makan malamku juga tertinggal dimobil waktu itu.
''saya melihat nama sebuah restoran pada kotak nasi itu, kemudian mencoba mencari tahu siapa pemilik dari kotak nasi tersebut sebab kata tuan saya calon istrinyalah yang telah menolongnya. Dia memerintahkan saya untuk mencari nona, saya kerestoran tempat nona bekerja dan mencari tahu disana, sampai saya tahu bahwa nonalah pemilik kotak nasi tersebut''
ketika dia mengatakan restoran seketika aku panik saat melihat ponselku ternyata sudah pukul 9 pagi. Aku panik karena seharusnya aku sudah berangkat kerja dari tadi, saat aku tengah gelisah karna panik laki-laki itu dengan santai berkata
''tenang nona, hari ini nona bisa istirahat dirumah, saya sudah minta ijin pada menejer tempat nona bekerja''
__ADS_1
seketika aku melongo mendengar apa yang baru saja laki-laki itu katakan bahkan mungkin karena terlalu terkejut hanya kedua mataku saja yang berkedip-kedip mendengar jawabannya.
Kenapa dia dengan mudahnya meminta ijin pada menejerku?Apa mereka saling mengenal?
Laki-laki itu hanya tertawa melihat ekspresiku yang seperti orang bodoh bahkan ibu kosku juga ikut tertawa melihat ekspresi wajahku saat itu. Mungkin saat itu wajahku terlihat lucu atau konyol akupun tak tahu. Aku yang merasa malu langsung menutup wajahku dengan kedua telapak tangan dan semakin membuat mereka berdua tertawa.
''nona tenang saja, menejer ditempat nyonya bekerja sudah memberi ijin'' katanya kemudian menghela nafas dan melanjutkan kata-katanya
''saya ingin menawarkan nona pekerjaan, tidak sulit cukup bersandiwara menjadi wanita yang ada didalam foto tadi. Hanya sampai tuan bisa menerima semua kenyataan hidup ini''
perkataannya tadi membuat mataku membulat seketika mendengar apa yang baru saja laki-laki ini katakan. Apa maksudnya aku harus berpura-pura menjadi wanita dalam foto tadi? Apa aku harus berpura-pura menjadi kekasih seorang laki-laki yang aku tidak kenal. Ya, Tuhan cobaan apa lagi ini?
''saya tidak meminta nona untuk memberikan jawaban nona saat ini. Nona bisa memikirkannya lebih dahulu, jika nona sudah siap dengan jawaban nona silahkan hubungi saya di nomor ini, saya sangat berharap nona bersedia demi kesembuhan tuan saya''
Dia memberikan sebuah kartu nama padaku, tidak lama setelah berkata demikian laki-laki itu pamit padaku dan juga ibu kos. Aku hanya termenung memandangi laki-laki itu yang berjalan menjauh. Tepukan pada pundakku menyadarkan aku dari lamunanku
''kamu tidak apa-apa nak?'' tanya ibu kosku
''i..i..iya bu saya tidak apa-apa'' jawabku
ibu kos kemudian mengajakku duduk di kursi disebelahnya karena dari tadi aku hanya berdiri sebab hanya ada dua kursi disini, tidak mungkin aku membiarkan tamu atau ibu kos yang berdiri. Dia memandangi wajahku dengan serius kemudian tersenyum, mengelus rambutku dan berkata
''nak, kamu tidak usah khawatir tadi itu orang baik, ibu kenal dengan mereka dan mereka orang-orang baik yang selalu membantu orang lain'' kata ibu kosku sambil menggenggam tanganku. Matanya beralih menatap lurus kedepan sebelum memandangku lagi, tersenyum dan melanjutkan ucapannya
''nak jika ibu boleh menyarankan kamu bisa menerima tawaran yang nak indra tadi berikan. Kamu tahu nak, laki-laki yang ada di foto tadi adalah orang yang sangat baik dan penyayang. Akan tetapi setelah calon istrinya meninggal, dia mengalami depresi berat, sudah banyak wanita yang mendekatinya akan tetapi selalu saja ditolak. Iya masih berpikir bahwa calon istrinya masih hidup. Kata nak indra bosnyalah yang menyuruhnya untuk mencarimu karena dia berpikir bahwa kamu adalah calon istrinya karena dia masih sempat melihat wajahmu sebelum pingsan''
apa ini artinya aku akan menikah dengan orang yang tak ku kenal bahkan mungkin dia mengira bahwa aku adalah calon istrinya yang sudah tiada. Tuhan aku tidak ingin menipu orang bahkan jika itu untuk membantu orang sekalipun. Apa aku bisa melakukan ini? Akupun juga kasihan mendengar apa yang baru ibu kosku ceritakan tapi apa aku sanggup berbohong?
Setelah ibu kosku pulang aku kembali kedalam kamarku, meletakkan kartu nama yang diberikan orang tadidi atas meja, aku merebahkan tubuh diatas kasur memandang langit-langit kamar. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku bisa berbohong? Aku tidak akan bisa melakukan hal itu! Tapi apa aku tega melihat seseorang menderita?
Pikiranku seolah sedang menimbang-nimbang dua hal yang sangat susah aku pilih, disatu sisi aku tidak mungkin berbohong disisi lain aku tidak tega melihat seseorang menderita.
''apa yang teman-teman direstoran pikirkan tadi setelah melihat ada seorang laki-laki yang memintakan ijin untukku'' gumamku.
Aku kembali duduk diatas kasur mengambil air mineral di atas meja kecil samping kasur meneguk beberapa kali kemudian menyimpan kembali keatas meja. Aku tak sengaja menjatuhkan 2 kartu nama dari atas meja saat kuperhatikan dua kartu nama itu sama persis, yang satu tak sengaja aku bawa waktu menolong seseorang dan yang satu lagi laki-laki tadi berikan.
__ADS_1
Hari ini aku lalui dengan berbagai hal yang berkecamuk didalam pikiranku.