
Aku pindah ke rumak bu Asni di kampungnya. Kampung bu Asni masih di pulau yang sama hanya saja berbeda propinsi. Jika selama ini kami dibagian selatan pulau, sekarang aku dan anakku akan tinggal di bagian utara pulau, di kampung bu Asni.
Perjalanan ke kampung bu Asni kami tempuh melalui jalur darat menggunakan bis, 4 hari perjalanan akhirnya kami tiba disana.
Rumah bu Asni cukup besar, namun sayang tak terurus karena anak-anak bu Asni semua sudah berkeluarga dan tak ada yang ingin tinggal di rumah itu. Rumahnya sebagian besar terbuat dari bambu dan kayu. Sebenarnya bu Asni ingin memberikan rumah ini padaku, tapi aku menolak karena tak ada hakku pada rumah ini.
Aku jadi kepikiran jika aku akan membeli saja rumah ini dari pada tidak ada yang tinggal. Jika aku membelinya otomatis aku tidak akan sungkan lagi tinggal di rumah ini.
Kami turun dari bis, aku mengambil kunci rumah, kubaca doa sebelum masuk berharap hidup kami lebih baik lagi disini, kuputar perlahan kuncinya. Saat masuk kedalam rumah, rumahnya cukup berdebu dan banyak sarang laba-laba disana. Disini tidak ada barang apapun kecuali sebuah tikar gulung didalam kamar. Rumah bu Asni hanya punya satu kamar, dapur kecil dan satu kamar mandi, lantainya sudah disemen namun masih kasar, hanya dikamar saja yang sudah di keramik itupun hanya separuh saja.
Kubuka semua pintu dan jendela saat membersihkan rumah, kulihat dibelakang rumah ada dapur untuk tungku kayu. Aku jadi berpikir, lebih baik aku masak pakai tungku saja, selain hemat rasa makanan juga jauh lebih enak.
Setelah semua ruangan bersih, aku dan Hans memutuskan untuk tidur. Nasib baik bagiku karena Hans tidak rewel saat diperjalanan maupun saat tiba di rumah ini tadi.
.
Pagi pertama kami di rumah bu Asni, aku bangun pagi-pagi sekali menimba air di sumur belakang rumah. Aku mulai mencuci pakaian kotor kami selama di perjalanan, karena jika Hans bangun nanti kami akan kepasar membeli kerperluan kami disini.
Semalam aku sangat khawatir jika Hans tak bisa tidur karena kami tidur dilantai beralaskan karpet yang kulapis dengan selimut agar tidak terlalu dingin. y
''Selamat pagi, nak penghuni baru disini?'' tanya seorang ibu-ibu yang sedang menimba air sumur, mungkin ia tetanggaku disni karena disisi kiri dan kanan bu Asih ada rumah juga.
''Pagi bu, iya bu saya tinggal disini, saya baru tiba tadi malam'' jawabku sambil terus mencuci.
''Saya bu Ratna, rumah saya disamping kanan rumah ini'' katanya ramah.
''Saya Pelangi bu, saya tinggal disini bersama anak saya bu, dia masih tidur''
Setelah cucianku selesai, aku masuk kedalam rumah, kulihat Hans masih tertidur pulas. Aku jadi merasa bersalah padanya membuatnya harus hidup menderira bersamaku.
''Bu, saya mau tanya disini pasarnya dimana?'' tanyaku pada bu Ratna yang sedang mencuci baju disumur.
''Mamanya Hans mau kepasar? Kalau mau nanti ibu temani, kebetulan ibu juga maau ke pasar'' kata bu Ratna.
''Iya bu, terimakasih'' jawabku.
.
Aku mencuci muka kemudian mengganti pakaianku juga pakaian Hans. Kami akan kepasar untuk membeli keperluan kami disini. Aku berangkat kepasar bersma bu Ratna tetanggaku, di mobil angkutan umum bu Ratna bercerita banyak padaku tentang rumah bu Asih yang kutempati sekarang.
Kata bu Ratna, rumah itu sebenarnya sudah lama tak ditinggali, rumah itu juga sudah diberikan bu Asih kepada beberapa warga tapi mereka semua menolak tinggal disana katanya takut karena di rumah itulah suami bu Asih meninggal.
__ADS_1
.
Setibanya dipasar aku mulai belanja untuk keperluan kami. Aku membeli perabotan rumah tangga ada kasur, lemari pakaian plastik, piring 6 buah, gelas 6 buah, sendok 12 buah, mangkok 2 buah, termos untuk air panas, panci, wajan, belanga dan ember serta baskom untuk menyimpan air dikamar mandi tsk lupa kubeli juga gayung.
Setelah itu aku juga membeli sembako, dan bahan untuk membuat bolu, siapa tahu nanti ada yang berminat untuk aku buatkan kue.
Aku menunggu bu Ratna di toko sembako tadi. Bu Ratna sedang mencari mobil yang bisa di sewa untuk mengantar kami pulang karena belanjaan kami lumayan banyak tak mungkin memakai angkot.
Sebua mobil bak terbuka mengantar kami pulang ke rumah, aku cukup bahagia karena uang hasil jualan kue yang kutabung selama ini cukup untuk kebutuhan kami berdua, bahkan masih sisa lumayan banyak.
.
Aku langsung merapikan semua barang belanjaan saat tiba rumah. Kami sudah sarapan tadi di pasar jadi sudah ada tenaga untuk beres-beres. Bu Ratna beserta anak dan suamunya ikut membantuku menurunkan kasur dan lemari dari mobil sampai ke kamar. Aku mengucapkan terimakasih pada mereka, aku memberikan uang untuk sekedar membeli rokok padanya tapi dia menolak katanya sebagai tetangga kita harus saling membantu. Ku ucapkan banyak terimakasih pada mereka.
''Bu, apa kita akan tinggal disini?'' tanya Hans menghampiriku.
''Iya nak, apa kamu tidak suka?'' tanyaku.
''Tidak bu, aku suka yang penting aku selalu sama-sama ibu, aku tak perlu orang lain selama ada ibu, bahkan aku tak perlu ayah lagi, ayah juga tak sayang pada kita''
Hatiku jadi perih mendengar ucapannya segera kupeluk anakku yang malang ini. Nasib kami berdua hampir sama di masa kecil, hanya saja aku ditinggal pergi oleh orang tuaku untuk selamanya.
.
''Bu, besok bisa antarkan kue ke sekolah kami, besok ada rapat untuk orang tua murid, apa ibu bisa membuatnya?'' tanya seorang ibu saat aku sedang kewarung membeli gula.
''Boleh bu, berapa yang ibu mau pesan?'' tanyaku.
''150 buah, apa bisa nak?''
''Bisa bu, kalau begitu saya permisi dulu ya bu,saya harus kepasar membeli bahan kue'' kataku pamit pada ibu itu dan pemilik warung.
Setibanya dirumah aku gegas memanggil Hans, kuganti bajunya dan kami berangkat kepasar.
.
Aku bersyukur pihak sekolah cukup puas dengan kue buatanku, aku menerima cukup banyak uang dari sekolah karena mereka menghargai kueku 5000/buah. Padahal aku biasa hanya menjualnya 1500/buah, memang yang aku buat kali ini agak sedikit lebih besar, sebenarnya aku menolak tapi kepala sekolah berkata itu adalah rejeki bagi Anakku jadi tak boleh aku tolak.
Kehidupanku dan Hans kami lalui seperti orang pada umumnya, meski terkadang dia masih menyakan papanya, aku hanya menjawab kalau papanya sedang sibuk bekerja. Aku juga tak pernah berharap lagi mas Hans datang, toh tak pernah sekalipun dia menghubungiku padahal tak pernah kuganti nomor ponselku.
Aku juga sudah membeli rumah bu Asni, meski belum sepenuhnya lunas.
__ADS_1
.
Hari ini hari ulang tahun Hans, aku mengadakan syukuran kecil-kecilan dirumah. Aku mengundang para tetangga.
''Permisi mama Hans, ada orang yang sedang mencari ibu diluar'' kata seorang tetangga yang membantuku memasak. Bergegas aku mencuci tanganku dan menemui tamu yang dimaksud.
Aku berjalan kedepan rumah, kudapati dua orang pria bertubuh tinggi tegap berdiri membelakangiku.
''Selamat sore tuan, ada yang bisa saya bantu?'' kataku pada mereka.
Keduanya berbalik bersamaan, mataku membulat melihat kedua tamuku, ternyata mas Hans dan Indra. Aku segera berbalik ingin kembali ke dalam rumah tapi mas Hans langsung memelukku. Sekuat tenaga kulepaskan pelukannya tapi apa daya tenagaku takkan sebanding dengannya. Mas Hans menangis sambil memelukku erat.
''Maaf... maafkan aku sayang, aku sudah membuat kesalahan besar padamu, maafkan aku'' kata mas Hans sambil terus terisak.
''Mas, tolong lepaskan aku, aku tak ingin orang salah paham kepadaku'' kataku lirih. Tak lagi kurasakan hangat pada pelukannya, yang ada aku merasa risih.
''Papa.... apa papa sudah pulang bekerja?'' Hans datang menghampiri kami.
''Bekerja?'' tanya mas Hans.
''Iya, ibu bilang jika papa sudah selesai bekerja papa akan kesini''
Mas Hans memandangku, aku hanya diam, kulihat putraku sudah membawanya masuk kedalam rumah. Aku hanya menghembuskan nafas perlahan sambil mengikuti mereka masuk.
''Teman mama, iniloh papanya Hans, ganteng bukan?'' kata Hans mengenalkan ayahnya pada para tetangga yang sedang membantuku membungkus makanan untuk acara nanti.
''Papa, hari ini Hans ulang tahun lho, papa harus ikut acara tiup lilin sama potong kue ya, selama ini Hans cuma ditemani sama mama'' kata putraku pada ayahnya.
Aku berlalu ke arah dapur, ibu-ibu disana memandangku dengan wajah tersenyum.
''Mamanya Hans, itu benar papanya Hans, ganteng banget mirip aktor-aktor holywood'' kata seorang ibu.
Aku hanya tersenyum kemudian duduk membantu mereka. Para tetangga masih mengagumimas Hans. Bu Ratna datang menghampiriku.
''Nak kamu temani anak dan suamimu, tak baik meninggalkan mereka, meski sedang bermusuhan jangan tunjukkan didepan anak-anak'' kata bu Ratna berbisik ditelingaku.
''Baiklah bu, saya permisi kesana sebentar'' kataku.
''Pergilah, lepaskan rasa rindu kalian yang sudah lama tak bertemu'' kata seorang ibu. Andai saja ibu itu tahu permasalahan antara aku dan mas Hans.
''Bu, sini deh. Kata papa, papa juga akan tinggal bersama kita disini bu. Nanti papa akan bobo juga sama kita bu, jadi tidak akan ada orang jahat yang berani mendekati ibu'' katanya putraku.
__ADS_1
Aku menatap mas Hans. Seenaknya saja dia ingin tinggal memang ini rumahnya. Melihat tatapanku dia hanya tersenyum dan kembali memeluk putranya.