PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
TAK MEMILIKI HUBUNGAN KELUARGA


__ADS_3

Saat tengah membahas masalah pabrik bersama bu Ratna, ponselku kembali berdering kali ini dari pak Darmo, satpam yang bertugas di pabrik Rotiku yang terbakar.


''Halo bu, selamat siang, maaf saya mengganggu, saya ingin mengabarkan perihal kebakaran yang terjadi di pabrik bu'' Ucapnya dari sambungan telpon.


''Siang juga pak Darmo. Ada berita apa pak?''


''Saya sekarang ada di kantor polisi bu, saya ikut kemari karena polisi minta rekaman CCTV dari pabrik bu. Jika ibu tidak sibuk, bisakah ibu kemari? Ada yang ingin bapak-bapak polisi tanyakan''


''Baiklah pak, saya segera kesitu, terimakasih informasinya pak''


''Sama-sama bu''


Ku akhiri panggilan dengan pak Darmo dan bersiap untuk ke kantor polisi. Aku meminta tolong bu Ratna untuk menjaga Claudy saat aku ke kantor polisi.


''Bu saya titip Claudy sebentar ya bu. Pak Darmo minta saya ke kantor polisi, katanya ada yang ingin petugas polisi konfirmasi pada saya'' Ucapku sebelum berlalu keluar rumah.


''Ia mama Hans, hati-hati di jalan'' Jawab bu Ratna.


Aku minta tolong pak Saiful, salah satu petugas keamanan dirumah ini untuk mengantarkan aku ke kantor polisi. Sepanjang perjalanan aku selalu was-was, bukan tanpa sebab. Bisa saja masih ada orang-orang bayaran kak Lia yang mengintaiku saat ini. Aku tak boleh lengah saat ini karena bisa saja aku celaka jika tak waspada.


Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya aku dan pak Saiful tiba di kantor polisi. Motor diparkir dihalaman kantor polisi, aku segera turun dari atas motor. Ku lihat pak Darmo sudah menunggu kami di depan pintu masuk kantor polisi.


''Silahkan lewat sini bu, pak polisi sudah menunggu ibu'' Ucap pak Darmo saat kami sudah masuk ke kantor polisi.


Kami menyusuri lorong di kantor polisi dan akhirnya kami sampai di sebuah ruangan dengan pintu tertutup yang cukup jauh dari pintu masuk tadi. Akhirnya aku memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


''Silahkan masuk'' Suara seseorang dari dalam ruangan.


Ceklek


Kubuka perlahan daun pintu sambil mengucapkan salam.


''Selamat siang pak'' Ucapku.


''Selamat siang bu, mari silahkan duduk'' Ucap petugas polisi yang bernama pak Muklis. Aku tahu namanya dari melihat nama yang tertulis di baju seragamnya.


''Jadi begini bu, saya ingin membahas tentang kebakaran yang menimpa pabrik ibu. Dari keterangan beberapa orang saksi, kami menyimpulkan bahwa ini adalah sebuah kesengajaan. Sepertinya ada orang yang memiliki masalah sama ibu. Apa ibu sedang bermasalah dengan seseorang?'' Tanya petugas polisi.


''Sebenarnya saya tidak ada masalah dengan siapa-siapa pak. Namun akhir-akhir ini saya sedang ada sedikit salah paham dengan keluarga saya pak. Apa masalah ini harus di kasuskan atau boleh lewat jalan damai saja pak'' Ucapku.


Petugas polisi, pak Darmo dan juga pak Saiful terkejut dengan ucapanku. Sebenarnya aku ingin melanjutkan kasus ini, namun aku tak ingin ada lagi yang celaka. Aku tahu kak Lia, ia akan melakukan apapun jika aku tak menuruti kemauannya, putraku sedang ada dalam pengawasannya sekarang. Aku tak ingin membuat putraku celaka jika aku melanjutkan kasus ini. Biarlah aku berjuang dari awal membangun kembali usahaku.


''Ibu bisa saja tak melanjutkan kasus ini jika itu keinginan ibu'' Jawab pak Muklis.


Akhirnya setelah melalui banyak proses, akhirnya kasusnya tak dilanjutkan. Meski aku masih sedikit tak rela jika mereka tak di hukum namun aku berharap jika orang-orang itu bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah masalah ini.


Setelah semua urusan di kantor polisi selesai, aku dan pak Saiful memilih pulang ke rumah. Sedangkan pak Darmo kuminta kembali ke rumahnya dan istirahat, pasti dia sangat lelah karena sudah mengurus masalah pabrik seharian di kantor polisi.


Pak Saiful kuminta juga untuk istirahat sesaat setelah kami tiba di rumah.


''Silahkan istirahat pak, terimakasih sudah menemani saya.''


Pak Saiful hanya menganggukkan kepalanya, kemudian berlalu masuk ke ruangan tempatnya istirahat. Akupun juga berlalu kedalam rumah, sesampainya didalam keadaan rumah tampak sepi. 'Kemana bu Ratna dan Claudy?' Batinku.


Kucoba untuk melihat ke kamar Cludy, bisa saja mereka ada di sana. Saat menuju ke kamar Claudy, samar-samar aku mendengar suara orang berbicara dari arah kamar bu Dita. Siapa yang masuk kedalam kamar bu Dita? Claudy dan bu Ratna? Tidak mungkin mereka karena mereka bukan orang-orang yang seperti itu. Semakin kudekati kamar itu, suara yang terdengar dari sana tidak asing di telingaku.


''Kamu itu harus nurut sama kakak. Jangan bodoh semua ini harta milik ibu kita, kamu juga tahu kalau dia itu bukan putrimu, kenapa kamu peduli dan jadi bodoh begini'' Kata seorang wanita dari dalam sana, seperti suara kak Lia.

__ADS_1


''Aku tahu kak, tapi apakah kita tidak terlalu kejam?'' Kata seorang pria.


''Kamu ini benar-benar bodoh Hans. Jangan bilang kamu sedang simpati sama mereka. Apa kau lupa jika dia yang sudah membuat ibu kita seperti ini! Aku tak ingin ia menikmati sedikitpun harta milik ibu kita. Soal putramu, kamu tenang saja dia aman bersama kita, tak akan aku biarakan wanita yatim piatu itu mengambil putramu lagi. Untung saja, ia tak ada di rumah tadi jadi kita bisa mengusir putrinya dari rumah ini''


Dari percakapan keduanya aku langsung bisa mengenali siapa yang ada di dalam sana. Ya, mereka mas Hans dan kak Lia, sedang apa mereka di rumahku, dan tadi mereka mengatakan jika mereka sudah mengusir putriku.


''Dimana anakku sekarang?'' Ucapku seraya berlalu kembali ke luar rumah. Urusan rumah aku tak terlalu pusing sekarang, yang paling penting untukku saat ini, adalah menemukan dimana putriku. Dalam kekalutan, hanya satu tempat yang terpikirkan olehku, aku menuju ke rumah bu Ratna, mudah-mudahan saja putriku ada disana.


Saat hampir tiba di rumah bu Ratna aku melihat ada banyak warga disana dan mereka semua adalah pekerja di pabrikku. Aku bertanya-tanya ada apa? Kenapa mereka berkumpul di rumah bu Ratna? Aku mempercepat langkahku agar bisa segera tiba di sana.


''Nah, itu bu Pelangi'' Seru salah seorang diantara mereka.


Semua mata disana memandang ke arahku, dari sorot mata mereka aku melihat ada rasa iba disana. Beberapa dari mereka mulai berjalan menghampiriku.


''Malam ibu-ibu, bapak-bapak. Apa ada masalah?'' Tanyaku saat sudah tiba di halaman rumah bu Ratna.


''Begini bu, kami kesini mau minta maaf karena tak bisa membantu saat kebakaran di pabrik. Kami semua kalut dan hanya sibuk menyelamatkan diri'' Ucap pak Mus, salah satu pekerja di pabrik rotiku yang terbakar.


Aku terenyuh mendengar ucapannya, betapa aku bersyukur memiliki pekerja seperti mereka. Meski tak memiliki hubungan keluarga, tapi mereka sangat peduli padaku.


''Untuk apa minta maaf pak. Ini bukanlah kesalahan kalian, ini memang sudah takdir. Bagi saya yang penting semua pekerja saya selamat. Masalah pabrik bisa kita buat lagi, namun jika ada pekerja yang celaka, itu tak akan bisa kita ubah pak'' Ucapku pada mereka semua.


''Jika ibu butuh bantuan kami untuk membangun kembli pabrik ibu, ibu bisa hubungi kami. Tak apa kami tak digaji dahulu yang penting usaha ibu bisa kita bangun lagi'' Ucap pak Mus lagi.


''Terimakasih pak. Mungkin akan lama lagi baru saya mendirikan pabrik baru. Namun bapak dan ibu-ibu tidak usah khawatir. Saya akan tetap memberikan uang gaji untuk bulan ini, juga sedikit bantuan sebagai modal bapak-bapak dan ibu-ibu untuk berusaha selama pabrik belum dibangun'' Ucapku pada mereka lagi. Aku bahkan tak tahu apa pabrikku itu akan kubangun lagi atau tidak. Namun yang pasti aku akan memastikan para pekerjaku tak terlantar.


''Bapak-bapak dan ibu-ibu bisa datang kemari nanti malam, sekalian ajak teman-teman yang belum ada saat ini. Saya akan membagikan gaji dan juga sedikit rejeki untuk membantu perekonomian saudara-saudara''


Setelah semua pekerja pulang, aku segera masuk ke dalam rumah bu Ratna. Disana aku melihat Claudy sudah tertidur disalah satu kamar di rumah bu Ratna.


Akupun ikut berbaring sejenak karena rasanya tubuhku sangat lelah. Setelah itu aku menghubungi salah satu temanku, yang bekerja di salah satu bank di dekat sini dan mengatakan jika aku akan kesana dan menarik uang untuk karyawanku.

__ADS_1


__ADS_2