
Saat mobil kami sudah memasuki gerbang perumahan, motor yang mengikuti kami sudah tak nampak lagi. Aku bisa bernafas lega karena sekali lagi aku bisa selamat dari ancaman.
''Kita sudah sampai dek'' ucap Roni.
Bergegas aku turun dari atas mobil kemudian menuju ke arah teras rumah dan membuka pintu. Saat aku hendak meraih gagang pintu terdengar suara Claudy berteriak dari belakangku.
''Mama.....''
Bugh
''Aaaa....''
Aku tersentak karena sebuah batu tiba-tiba memecah kaca jendela tepat di sampingku. Andai saja Claudy tak menarikku maka otomatis aku yang akan terkena lemparan batu yang seukuran kepalan tangan orang dewasa.
Aku diam membeku bahkan untuk berkatapun bibirku kelu, syok, itulah yang ku rasakan.
''Hey siapa disana?'' suara kak Roni berteriak ke ujung taman rumah.
Aku menoleh ke arah sana dan ku lihat ada sekelabat bayangan orang yang sedang terburu-buru memanjat pagar rumah. Kak Roni dengan sigap mengejarnya sambil menelpon seseorang, tak lama beberapa tetangga berkumpul di area sekitar rumah.
__ADS_1
''Siapa disana?'' Tanya salah satu tetangga entah mereka melihat orang atau bayangan saja.
Kak Nisa membawaku masuk ke dalam rumah, aku mengikuti saja langkahnya masuk ke dalam rumah. Claudy mengekor di belakang kami kemudian berlalu ke arah dapur dan tak lama ia kembali sembari membawa air minum.
''Minum dulu dek''
Aku meraih gelas berisi air dari tangan kak Nisa, ku teguk hingga airnya habis tak bersisa.
''Sepertinya ada yang ingin masuk ke rumah ini tadi dek, jendela di belakang dekat dapur seperti di congkel.'' Ucap kak Nisa.
''Iya ma, aku juga liat tadi''
''Dek, apa kamu bisa ke kantor polisi atau kamu disini saja biar kakak yang urus''
''Kakak saja yang pergi boleh? Rasanya aku masih sangat lelah dan syok'' ucapku.
Kak Roni meminta ijin untuk memeriksa jendela yang sempat di congkel juga pagar tempat orang tadi lari.
Setelah itu ketiga anggota polisi yang merupkan teman kak Roni pamit untuk membuat laporan di kantor polisi. Kak Roni juga ikut pamit setelah beberapa menit kepergian temannya.
__ADS_1
Aku dan kak Nisa memutuskan untuk istirahat sedangkan Claudy sendiri sedang belajar di kamarnya.
Tepat puku 10 malam kak Roni datang ke rumah, namun ia sudah berganti pakaian sepertinya ia sudah dari rumahnya. Kami bertiga yang sedang asik menonton di ruang keluarga sontak menoleh saat terdengar suara salam dan derit pintu yang di buka kak Roni.
''Bagaimana keadaan kalian?" Tanya kak Roni.
''Kami baik-baik saja dek, oh iya bagaimana dengan orang yang masuk tadi kesini apa sudah di tangkap?" Tanya kak Nisa.
''Sudah kak, tapi orangnya sudah meninggal. Ia dan bosnya kecelakaan di jalan depan perumahan tadi waktu buru-buru melarikan diri. Kamu tahu dek, bosnya itu adalah kakaknya Hans papa Claudy, tadi kakak ketemu dengan ayahnya Claudy disana. Kondisi kakaknya juga sedang kritis banyak luka di kepalanya. Oh iya, tadi ada juga seorang ibu paru baya bersama ayahnya Claudy, kalau tak salah namanya bu Dita'' ucap kak Roni.
''Bu Dita? Apa bu Dita baik-baik saja?'' Tanyaku.
''Dia baik-baik saja dek, kelihatannya beliau sangat sehat'' ucap kak Roni.
''Syukurlah''
Berbicara soal bu Dita, sudah lama aku tak bertemu dengannya dan tak tahu kabarnya syukurlah jika beliau sudah sehat.
Setelah berbincang-bincang akhirnya kami memutuskan untuk istirahat karena jam sudah menunjukkan puku 1 dini hari.
__ADS_1