PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
LUKA BATIN


__ADS_3

''keluar kamu anak sialan'' teriak bi ratna dari pintu utama


deg


ada yang tersayat didalam sana menimbulkan rasa sesak di dada namun air mataku tak menetes sedikitpun,tak pernah ku bayangkan akan ada masalah seperti ini di hari bahagiaku.


''kemari kamu anak durhaka tidak tahu di untung'' kata bi ratna seraya berlari ke arah pelaminan, aku yang tidak siap langsung jatuh tersungkur ke lantai ketika bi ratna tiba-tiba menarik tanganku dan mendorongku dari atas pelaminan


''awwwww'' pekikku menahan rasa sakit karena kepalaku terbentur keras kelantai bahkan ada sedikit darah yang menetes dari keningku, mas hans langsung melompat dari atas pelaminan


''sa...sayang kamu tidak apa-apa?'' tanya hans sambil membantuku untuk berdiri, mungkin karena kaget melihat keningku berdarah bi ratna mundur sedikit ke belakang, sementara mertuaku juga ikut berlari dari atas pelaminan, kulihat indra juga datang dengan membawa kotak obat.


''pengawal tangkap dua orang itu dan bawa mereka ke kantor polisi''


ucap mas hans dengan wajah memerah menahan amarahnya, kulihat bi ratna dan sandra mereka terlihat sangak panik bisa terlihat dari wajah mereka yang sudah pucat


''aku tidak apa-apa mas'' jawabku lemah, kurasakan penglihatanku mulai kabur, tak lama setelah itu hanya warana hitam yang terlihat dan suara samar-samar orang yang menyebut namaku dan aku tak ingat apa-apa lagi.


.


.


Ternyata saat itu aku pingsan, karena saat terbangun aku sudah berada di atas sebuah ranjang rumah sakit dengan kepala yang diperban pada bagian kening. Kuperhatikan tidak ada siapa-siapa di ruangan itu, saat hendak bangun dan turun dari ranjang pintu ruangan di buka dari luar dan terlihat ibu mertuaku yang datang tergopoh-gopoh menghampiriku dengan raut wajah khawatir


''bagaimana keadaanmu nak, apa kamu baik-baik saja'' katanya sambil terus memeriksa setiap inci bagian tubuhku


''aku tidak apa-apa bu, maaf aku sudah membuat ibu malu aku sudah membuat acaranya berantakan?'' kataku menyesal


''tidak nak, ini bukan salahmu jangan berpikiran seperti itu, apa kamu sudah tidak pusing nak?''


''aku sudah tidak apa-apa bu, bisakah kita pulang?'' kataku karena merasa aku sudah baik-baik saja

__ADS_1


''tunggu sebentar nak ibu panggil dokter dulu, ibu mau tanya apa kamu boleh pulang atau tidak?'' kata ibu mertua sambil berlalu ke luar ruangan, ingin menolak tapi tak enak dengan ibu mertua. Tak lama berselang ibu mertua kembali bersama seorang dokter, senyum tergambar di wajah ibu mertua,akan tetapi juga datang seorang perawat yang membawa kursi roda, aku jadi heran untuk apa kursi roda itu? sementara aku merasa baik-baik saja tak butuh kursi roda


''bagaimana keadaannya nyonya, apa sudah baikan?'' tanya dokter


''saya baik-baik saja dokter apa saya sudah bisa pulang, saya masih harus menghadiri pesta pernikahan saya'' jawabku


''tentu saja nyonya, silahkan tetapi untuk sementara waktu nyonya tidak bisa berjalan dulu kaki nyonya sedang sakit tertusuk pecahan kaca yang membuat luka besar pada telapak kaki nyonya'' kata dokter


segera kubuka selimut dan kuperhatikan kakiku yang ternyata sudah dibalut dengan perban, tapi jika dokter bilang kakiku luka terkena pecahan kaca kenapa aku tak merasa sakit?


''terimakasih dokter, tapi kalau kaki saya luka kenapa saya tak merasakan sakit?'' kataku pada dokter


''tadi kami sudah memberikan bius lokal pada kaki anda nyonya, agar nyonya tak merasakan sakit saat kami menjahitnya tadi''


''dijahit dokter, apa separah itu?'' tanyaku pada dokter


''iya nyonya oleh sebab itu nyonya tidak boleh berjalan sampai kaki nyonya sembuh'' jawabnya


''baiklah dok, terimaksih banyak kami akan kembali ke pesta, silahkan dokter juga kembali menikmati pestanya, biar saya yang mendorong kursi roda putri saya'' kata ibu mertua saat aku sudah duduk di kursi roda, mau tidak mau aku harus menurut. Aku masih memakai gaun pengantin hanya bedanya aku sudah tidak memakai mahkota dikepala melainkan sebuah perban di keningku


''tentu nak, apa kamu masih merasa sakit?'' tanyanya


''tidak bu aku sudah baik-baik saja aku hanya malu'' kataku


''tidak perlu malu nak, kamu masih tetap cantik, selain itu apa kamu tega meninggalkan suamimu sendiri di atas pelaminan'' katanya lagi


''baiklah bu, pelangi minta maaf ya bu sudah... hiks...hiks....'' tak dapat lagi kutahan air mataku


''sudah nak, jangan menangis ini hari bahagia, kamu tak boleh menangis'' kata ibu mertua sambil memelukku


.

__ADS_1


Aku pikir tadi aku sedang di rumah sakit yang jauh dari rumah dan harus naik kendaraan, tapi dugaanku salah ternyata rumah sakit itu ada di bagian samping dari rumah keluarga tuan hans jadi kami hanya menyusuri lorong saja hingga tiba di tempat pesta tadi


''baiklah nak, sekarang kita akan masuk, tapi kamu janji jangan menangis'' kata ibu mertua, aku hanya menganggukkan kepalaku


saat kembali memasuki ruangan semua mata memandang ke arahku dengan tatapan yang berbeda-beda yang akupun tak tahu mengartikannya tapi lebih banyak yang menatap iba kepadaku. Aku disambut mas has didepan pelaminan kemudian menggendongku ke atas pelaminan, kursi roda tak bisa naik karena ada anak tangga. Aku hanya tertunduk malu saat mas hans menggendongku karena baru kali ini aku di gendong oleh mas hans dalam keadaan sadar. Suara siulan-siulan usil menggema di ruangan itu aku semakin menundukkan kepala hingga mas hans mendudukkan aku diatas kursi pelaminan.


''jangan tunduk begitu sayang pandanglah suamimu ini'' kata mas hans setengah menunduk sambil mengangkat wajahku agar menatapnya.


Hm.. ya, sekarang aku memanggilnya mas hans karena kami sudah menikah meskipun kadang aku masih memanggilnya tuan secara tak sadar.


''sudah cukup saling pandang-pandangnya pengantin, kalian masih bisa saling memandang nanti malam sepuas hati kalian, tapi apakah bisa kita lanjutkan acara ini dulu? banyak tamu yang ingin memberi selamat dan aku juga sudah lapar ingin segera makan hahahaha'' katanya pembawa acara setengah berkelakar menggoda kami yang membuat aku dan mas hans salah tingkah, mas hans langsung berdiri sambil meggaruk-garuk tengkuk lehernya aku sendiri tertunduk dengan wajah memerah seperti..... entahlah seperti apa


.


Acara masih terus berlanjut sebagaimana mestinya, aku sudah tidak melihat kehadiran bi ratna dan sandra sampai acara selesai. Mungkin mereka dibawa polisi seperti yang mas hans katakan tadi, aku jadi khawatir pada mereka meski mereka tak menyukaiku tapi aku tetap tidak membenci mereka.


''mas, maaf apa aku boleh bertanya'' kataku saat mas hans mendorong kursi rodaku keluar dari gedung karena acara telah selesai dan para tamu undangan juga sudah pulang


''boleh sayang kamu bisa tanya apa saja pada mas, kamu mau tanya apa sayang?'' katanya menghentikan kursi rodaku


''apa mas benar-benar melaporkan sandra dan bi ratna ke polisi?'' tanyaku pelan bahkan hampir tak terdengar karena aku takut jika mas hans marah seperti tadi saat aku jatuh


''iya sayang memangnya ada apa?'' tanyanya


''apa mas bisa mencabut laporannya mas? aku tahu mungkin mereka tidak berniat menyakitiku'' kataku pada mas hans masih dengan suara pelan


''tapi sayang mereka sudah menyakiti kamu bahkan kakimu sampai harus dijahit dan keningmu juga berdarah'' kata mas hans


''tapi aku baik-baik saja mas, apa mas bisa memenuhi permintaanku? aku tidak ingin ada yang menderita diatas kebahagiaanku mas, apalagi dia bibi dan temanku'' jawabku sambil memandangnya


''baiklah sayang, kamu memang orang yang baik tak salah mas memilihmu menjadi pendamping mas, jika itu keinginanmu kita akan ke kantor polisi dan mencabut laporannya'' kata mas hans dengan senyumnya.

__ADS_1


''terimakasih mas'' jawabku sambil menggenggam tangannya


Meski Fisik dan batinku terluka karena mereka berdua tapi aku tak membenci mereka.


__ADS_2