
Dalam perjalanan pulang dari pemakaman kami bertemu dengan bi Asih, saat kami sedang berbelanja sayur di pinggir jalan.
''Nyonya Pelangi, nyonya Nilam bagaimana kabarnya?'' Tanya bi Asih sambil memelukku.
''Kami baik bi, bagaimana kabar bibi dan orang rumah?'' Tanya ku.
''Semuanya baik bu, hanya nona Lia yang sedang kritis di rumah sakit karena kecelakaan beberapa waktu yang lalu''
''Semoga kak Lia cepat sembuh ya bi, bibi sedang belanja juga?''
''Ia bu, saya duluan ya bu. Mungkin tuan Hans dan bu Dita shdah menunggu saya''
''Iya bi hati-hati'' ujar ku memeluk bi Asih dan memasukkan beberapa lembar uang kedalam sakunya.
''Ini apa bu?'' Tanyanya.
''Itu sedikit rejeki untuk bi Asih''
''Terimakasih bu'' ujarnya dengan wajah berbinar, aku tahu bi Asih sedang butuh uang karena sudah 2 bulan ia tak mendapatkan gaji, karena keuangan keluarga mas Hans sedang buruk. Aku salut dengan kesetiaan bi Asih pada keluarga itu, meski sudah tak mendapatkan gaji ia tetap setia disana.
''Kami duluan ya bi''
''Ia bu, terimakasih. Nyonya Nilam saya titi salam untuk tuan Frans dan adek kecil''
''Iya bi nanti saya sampaikan salamnya kami permisi dulu ya bi, bibi hati-hati di jalan''.
.
.
Setahun berlalu sejak pertemuan ku dengan bi Asih saat berbelanja sayuran, tak pernah lagi terdengar kabar tentangnya dan keluarga mas Hans. Bahkan aku mendengar bahwa pak Philip dan kak Lia sudah meninggal dunia.
Pak Philip meninggal karena serangan jantung saat perusahaannya mengalami kebangkrutan dan kak Lia meninggal karena over dosis obat. Sungguh aku tak pernah menyangka bahwa akan terjadi akhir seperti ini.
Aku mencoba mencari informasi tentang mas Hans dan juga bu Dita namun tak ada informasi apa-apa, sedangkan rumah mereka yang dulu sudah mereka jual.
Aku khawatir dengan keadaan mereka terutama bu Dita. Sempat tersiar kabar jika bi Asi membawa mereka ke kampung halamannya, namun saat kami datang ke rumah bi Asih rumah itu juga sudah kosong tak berpenghuni.
Perusahaan milik ayahku puji TUHAN bisa aku jalankan dengan baik berkat bimbingan om Bram dan juga Indah.
Ding dong
__ADS_1
Ding dong
Terdengar suara bel rumah saat kami sedang duduk-duduk di ruang keluarga bermain bersama baby Queen yang sedang berjalan kesana-kemari.
''Selamat siang bu, ada tamu di depan yang ingin bertemu dengan ibu''
''Siapa tamunya pak? Apa laki-laki atau perempuan?'' Tanya ku pada pak Yos.
''Seorang perempuan bu, sepertinya pekerja bank kalau saya liat dari seragamnya'' mendengar ucapan pak Yos seketika aku langsung teringat dengan anak om Bram.
''Baiklah pak, suruh dia masuk''
''Baik bu''
Pak Yos kemudian membukakan pintu pagar dan seketika muncullah Sintia anak om Bram. Namun dengan pakaian yang sudah tak rapi lagi dan wajah yang sembab, segera aku berlari menghampirinya kemudian membawanya masuk kedalam rumah.
Dari penampilannya aku bisa tahu jika ia tak sedang baik-baik saja, karena itu aku tak langsung bertanya tapi membiarkan dia tenang lebih dulu. Setelah cukup lama kami duduk, ia mulai berbicara namun belum beberapa kata ia ucapkan ia menangis lagi.
''Kamu kenapa Sin, katakan padaku apa yang terjadi?'' Tanya ku.
''Aku...ak...aku....'' ku bawa ia dalam pelukan, ku biarkan ia menangis menumpahkan segala rasa sesak yang ia simpan agar perasaannya lega.
''Ayah Gi, dia... dia sudah pergi'' ujarnya kemudian menangis tersedu-sedu.
''Apa maksudnya Sin, paman kemana?''
''Ayah udah ninggalin aku selamanya Gi'' ujarnya di sela-sela tangisnya.
Aku berusaha mencerna setiap kata yang ia ucapkan dan akhirnya air mata ku juga ikut menetes. Ku peluk erat-erat Sintia dan kami menangis bersama-sama sehingga orang-orang yang ada di rumah ini kaget dan berlarian menghampiri kami.
''Ada apa dek?'' Tanya kak Nilam.
''Sekarang paman dimana?'' Tanya ku.
''Ayah di rumah sakit Gi, aku tak punya tempat untuk membawa ayah pulang, rumah kami terbakar'' ujar Sintia.
''Ayo kita ke rumah sakit jemput paman, kak Frans dan kak Nilan boleh minta tolong siapkan rumah ini untuk tempat berduka, aku akan menjemput paman ke rumah sakit. Aku akan meminta tolong pak Yos dan beberapa tetangga untuk menyiapkan tenda di luar'' ujarku sembari memesan taksi online.
''Ia dek, pergilah kakak akan urus semuanya disini''
''Ayo Sin kita jemput paman'' ujar ku membantu Sintia berdiri dan berjalan bersamanya menuju taksi yang sudah menuggu kami di depan pagar rumah. Untung saja ada taksi yang posisinya berada tak jauh dari rumah dan kebetulan aku memiliki nomor telpon sopirnya, sengaja aku memesan taksi karena aku akan naik mobil ambulans saat kembali dari rumah sakit.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan dari rumah ke rumah sakit Sintia tak pernah berhenti menangis, meski aku juga sedih namun ku coba untuk kuat karena jika bukan aku yang menguatkan Sintia siapa lagi, karena di kota ini ia hanya memiliki ayah dan sekarang ayahnya sudah pergi juga.
Satu jam perjalanan alhirnya kami tiba di rumah sakit, aku langsung menuju ke bagian administrasi untuk menyelesaikan administrasi agar kami bisa membawa om Bram pulang. Setelah menyelesikan administrasi kami menunggu jenasah om Bram dinaikkan ke atas mobil kemudian kami juga ikut naik.
Aku melihat wajah jenasah om Bram yang sudah pucat namun di bibirnya terlukis sebaris senyum.
''Gi papa meninggal karena aku, ini semua salah ku karena papa nyelamatin aku akhirnya papa yang tertimpa tembok'' ujar Sintia kemudian menangis lagi sambil memeluk jenasah ayahnya.
''Itu semua sudah takdir Sin, ini bukan salah kamu atau salah siapa-siapa''
Aku terus memeluk dan berusaha menguatkan Sintia, aku tahu bagaiman hancurnya perassaan Sintia saat ini, karena aku tahu bagaimana rasanya hidup sebatang kara di dunia ini.
Saat sudah mendekati gerbang perumahaan aku mencoba menghubungi kak Nilam menanyakan bagaimana kesiapan di rumah untuk kedatangan jenasah om Bram.
Tut...
Tut...
Tut...
''Halo mah'' ucap Claudy dari ujung panggilan.
''Halo nak, aunty mana koq kamu yang angkat ponselnya?''
''Aunty lagi nyusuin baby Queen mah, ada apa? Apa mama sudah dekat?''
''Ia nak, ini kami sudah mau masuk gerbang perumahan apa semua sudah di siapkan nak?''
''Sudah mah, ini om mau bicara mah''
''Halo dek, udah sampai mana?''
''Ini sudah masuk di gerbang perumahan kak, apa semua sudah siap?''
''Sudah dek, kalau begitu kakak tunggu di depan dek''
''Iya kak''
Sambungan telpon ku akhiri dan kembali mengusapa air mata Sintia yang masih terus mengalir.
''Jangan menangis terus Sin, om akan sedih jika melihatmu seperti ini''
__ADS_1